
Aneh, janggal, tak biasa, hanya itu yang dapat menggambarkan perasaan Retta. Melihat sahabatnya yang seperti ini, ia merasa ada sesuatu yang tidak benar dan itu terletak pada roti di hadapannya.
Namun, alih-alih menaruh prasangka buruk, ia justru dibuat penasaran dan berniat mencicipinya.
Roti mengembang dengan panjang 10 cm itu melayang di udara dan memasuki goa yang bertugas memproses makanan sebelum diteruskan ke sistem pencernaan lain.
Retta melepaskan tusuk dan kertas ke piring tanpa membaca isi perintahnya. Bersiaplah, penyesalan yang teramat besar akan menghampirinya.
Satu gigitan diambilnya. Bukan orang tersayang yang ia bayangkan, melainkan orang paling menyebalkan yang ingin dia hapuskan dari dunia.
Bayang-bayang tentang Retta dan Livei-mantannya-mulai muncul. Saat-saat di mana pertemuan pertama mereka hingga menjadi pacar.
Semua yang ditampilkan hanyalah kenangan bahagia dan adegan tangis seolah tak pernah terjadi, serta ada beberapa adegan yang menurut Retta terpotong.
Retta tahu ia tak menyukai ini, tetapi tanpa disangka-sangka cairan bening menyembul keluar dari pelupuk matanya yang terpejam.
Zaim dikejutkan Retta yang sudah menangis tersedu-sedu. Kenapa Retta tiba-tiba menangis saat menggigit rotinya? Itu yang ada di pikiran Zaim.
Setelah berpikir lebih panjang, ia menyimpulkan bahwa terdapat sesuatu yang mengganjal pada rotinya.
Ia pikir tadi dirinya menangis hanya karena mendadak teringat Ibunya, rupanya roti itulah yang menjadi penyebabnya.
Pantas saja.
Semua terasa tidak nyata hingga Zaim pikir itu hanyalah hayalan biasa yang muncul tiba-tiba karena merindukan sang Ibu. Namun, ternyata itulah efek dari keajaiban roti ini.
"Roti itu ajaib."
Ia pernah melihat yang seperti ini sebelumnya di drama atau film. Namun, pertama kalinya ia merasakannya di dunia nyata.
Lalu Zaim mulai berpikir apakah mereka hidup di dunia komik? Atau malah novel? Semua hal tentang kehidupan fantasi seketika melintasi pikirannya.
Retta tersadar ketika rotinya telah dicerna tenggorokan. Ia benci ini, hati yang masih sedikit menyukai mantan pacarnya itu.
Bagaikan awan yang yang tidak berhenti mengeluarkan hujan karena menampung banyak air, begitulah kondisi netra Alvaretta Laiz yang tak bisa berhenti menangis dikarenakan sakit hati membuat banyak cairan terus terbendung pada lubuk matanya.
"Kamu nggak apa-apa? Siapa yang ada di ingatan kamu?" tanya Zaim cemas. Pasalnya, dia yang mengingat kenangannya dengan sang Ibu saja tidak menangis separah itu.
"Livei." Tangisannya semakin pecah mengingat orang yang namanya ia sebutkan pernah berselingkuh darinya.
"Buat apa nangisin dia?" Zaim mengkesal, ingin rasanya ia menjitak dahi gadis di depannya ini sampai sadar.
"Kamu masih suka sama dia?" tukasnya setelah paham bahwa tidak ada lagi yang perlu dijelaskan Retta. Semuanya jelas.
Zaim hanya mengembuskan napas frustrasi lalu mendorong rambutnya dari dahi ke belakang. Ia berdiri dan duduk di kursi samping gadis itu kemudian mengusap punggungnya.
"Kita pulang aja, yuk!" Zaim menggenggam lengan Retta dan menuntunnya berdiri. Sekarang, ia tak peduli lagi soal keajaiban roti itu.
__ADS_1
Mereka kembali ke rumah masing-masing. Namun, sepertinya pikiran mereka masih tertinggal di toko kue tersebut.
Zaim yang tidak fokus belajar dan Retta yang tak bisa makan dengan tenang.
"Zaim, yuk makan!" Wanita yang lebih muda dan lebih pantas dipanggil 'tante' daripada 'Ibu' itu menampakkan tubuhnya setelah diberi izin masuk ke dalam kamar oleh Zaim.
Tidak ingin mengeluarkan banyak kata, Zaim membereskan buku dan pulpennya ke ujung meja. Ia bangkit dari kursi dan berjalan beriringan bersama sang 'Ibu tiri' menuju meja makan.
Hidangan paling enak yang disiapkan Ibu tirinya ada di sini. Zaim yang awalnya tak berniat makan jadi berselera.
Ia duduk dan makan bersama Ibunya dan Ayah yang telah berada di meja makan. Dia anak tunggal, jadi bisa dibilang dia kesepian sebelum bertemu dengan sahabatnya yang sekarang.
"Kamu di Sekolah baik-baik aja, 'kan?" celetuk sang Ayah.
"Iya, Pah!" Zaim tersenyum tipis memandang sang Ayah sebelum kembali berpusat pada makanannya.
"Zaim anak yang baik. Dia pasti nggak akan buat masalah di Sekolah." Ibunya berceletuk.
Tidak ada yang palsu dari Ibu tiri Zaim, ia tahu itu sejak awal. Ibunya ini tulus menyayanginya sedari pertama mereka bertemu hingga sekarang.
Ketika sang Ibu kandung meninggal, Zaim sama sekali tidak memerlukan Ibu pengganti dan berharap Ayahnya tak menikah lagi. Namun, inilah akhirnya.
Alhasil, pria itu terpaksa menerima semuanya.
Ia tak membenci Ibu tiri maupun Ayahnya, hanya saja ia tak terlalu menyukai takdir yang telah digariskan untuknya.
🍰
Retta tidak tahu bagaimana harus mengatur posisi tidurnya. Miring, salah. Telentang, salah. Tengkurap, salah. Semuanya sudah ia coba agar dapat masuk ke dalam dunia mimpinya. Namun, gagal.
Huh, pikirannya terus melayang memikirkan roti dan ingatan tentang Livei. Ini semua tidak disengaja, itulah yang menyebabkannya sulit tidur.
"Pokoknya, aku harus balik ke toko kue itu dan makan roti lagi."
Retta membulatkan tekadnya.
Keesokan harinya setelah pulang Sekolah, Retta dan Zaim kembali mengunjungi toko kue tersebut. Ada sedikit perubahan pada bagian depan.
'Mencari pekerja tetap. Yang berminat silakan memasuki toko dan melakukan wawancara.' Itu tulisan di atas kertas yang mereka temukan pada tembok kanan toko.
Memutuskan untuk tidak peduli, mereka pun masuk dan langsung menemui Bread di tempat kasir.
"Kami mau makan roti yang kemarin!" Retta memulai pembahasan.
"Baiklah, silakan duduk!"
Retta dan Zaim menuruti dan menunggu roti mereka diambilkan. Belum sempat nampan berisi roti itu mencapai meja, kedua sejoli itu langsung merampasnya.
__ADS_1
Namun, tidak seperti yang kemarin, roti itu tidak memunculkan keajaibannya.
Tidak ada yang salah dan berbeda dari roti tersebut menurut mereka, tetapi kenapa malah jadi begini?
"Pak Bread!" panggil Zaim.
"Roti itu tidak bisa dimakan dua kali," ujar pria itu enteng seolah mengetahui reaksi dan pertanyaan yang akan dikeluarkan.
"Maksudnya?" Varetta bingung dengan kalimat ambigu Pak Bread.
"Kalian tidak akan bisa merasakan efeknya."
Varetta terhubung, begitu pula Zaim. Mereka paham maksudnya, jadi roti itu tidak bisa dimakan untuk yang kedua kalinya dengan efek yang sama.
Mereka bisa kembali memakan roti tersebut, tetapi tidak akan ada lagi efek yang ditimbulkan.
"Kenapa? Kok, bisa gitu?" protes Retta kesal. Efek penyesalan sudah mulai terlihat.
"Begitulah peraturannya."
Tidak ada yang bisa dilakukan lagi sekarang. Namun, mereka bersikeras ingin menemukan cara agar bisa mendapatkan kembali efek tersebut.
"Gimana caranya biar kita bisa dapetin kembali efeknya?" Jika Zaim turut campur, artinya dia memiliki tujuan di baliknya.
"Tidak ada." Pak Bread hanya membalas dengan santai sepanik apapun lawan bicaranya.
"Oh ayolah, pasti ada cara," desak Retta.
"Tidak ada."
Itu kalimat terakhir yang terucap sebelum Pak Bread kembali ke belakang untuk meletakkan nampan kosong.
"Oh ya, kemarin kalian belum bayar." Di tengah kebingungan dua pelajar itu, timbul masalah yang belum terselesaikan. Mereka seketika ingat kemarin langsung pulang setelah makan roti.
Zaim mengembuskan napas kemudian beranjak ke meja kasir guna membayar. Pak Bread telah siaga menerima uang yang tak ia dapatkan kemarin.
"Terus gimana?" Zaim bertanya seusai memberikan uangnya.
"Tidak tahu."
Zaim menunduk pasrah dan berbalik dengan niat mengajak Retta pulang saja karena tidak ada gunanya juga tetap ada di sini.
Namun, sesuatu yang mengejutkan menembus bagian terdalam telinganya.
"Saya mau kerja paruh waktu di sini!"
Memory Shop.
__ADS_1