
"Aku nggak ngelakuin apa-apa," sanggah Wafaa kesal. Kelakuannya terbongkar? Secepat ini? Benar-benar menyebalkan.
Awalnya dia tidak berniat mengambil uang secara terang-terangan seperti ini, tetapi ucapan Retta tentang, "Pak Bread nggak pernah ngebawa pulang uang yang ada di kasir. Aku nggak tahu kenapa, tapi Pak Bread berani-berani aja ngasih kepercayaan penuh sama pegawainya-Zaim-buat ngelola uang." membuatnya berubah pikiran.
Ia berencana untuk mengambil uang-uang tersebut sekarang dan membuat sang penjaga kasir-Zaim-tertuduh sebagai pencuri tanpa mengetahui seberapa kaya cowok itu.
Sebelum Pak Bread melihat, ia segera memasukkan kembali uang tersebut ke tempatnya.
"Kamu mau ngambil, 'kan?" tukas Retta.
"Eh, kamu jangan asal nuduh! Buat apa aku kayak gitu?" Wafaa berusaha membela diri dengan nada suara yang sama tingginya.
"Jelas-jelas tadi aku lihat kamu masukin uang ke dalam saku celana kamu. Kamu masih mau nyangkal?"
"Zaim, kamu juga lihat, 'kan?" Retta memandang Zaim yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang kelewat datar.
Ia mengangguk pelan seraya memberikan tatapan intimidasi pada gadis yang awalnya ia anggap polos itu.
"Ih, apaan? Aku cuma ngehitung penghasilan yang didapat hari ini," bohong Wafaa.
Pintu ruangan Pak Bread terbuka, menampilkan sosok dewasa dengan raut tak berbeda dari sebelumnya. Mereka bertiga serempak menoleh.
"Ada apa ini?" Suara yang tegas nan tinggi itu lantas membuat Wafaa merinding dan jadi takut duluan.
"Pak," Retta maju ke arah Pak Bread. "Pegawai baru bapak itu dengan beraninya ngambil uang tanpa sepengetahuan bapak."
Atensi Pak Bread beralih dari Retta ke Wafaa. Wafaa menggeleng sebagai pembelaan diri pada Pak Bread.
"Nggak usah nyangkal. Aku sama Zaim udah lihat dengan jelas," ketus Retta.
Pandangan Pak Bread lurus, memandangi Wafaa yang terus melakukan pembelaan diri. Namun, akhirnya gadis itu berhenti karena merasa Pak Bread tidak mempercayainya dan lebih percaya pada mereka berdua.
__ADS_1
Seakan melakukan telepati, Pak Bread dan Wafaa saling melempar pandang tanpa kata.
"Biarkan saja!" titahnya final usai melewati sepuluh detik.
Retta dan Zaim tak percaya atas apa yang didengar barusan. Tunggu! Apa Pak Bread akan membiarkannya begitu saja? Tanpa hukuman? Ini tidak masuk akal.
Pak Bread melangkah maju mendekati Wafaa. "Ikut saya!" titahnya, kemudian berbalik dan berjalan menuju ruangannya. Yap, pria itu menyuruh Wafaa memasuki ruang rahasia, padahal sebelumnya ia sendiri yang melarang.
Wafaa ragu pada awalnya, ia hanya memandang Retta dan Zaim bergantian. Namun, ia jadi takut karena Pak Bread terus menatapnya dengan dingin.
Alhasil, ia terpaksa memasuki ruangan tersebut.
Luas, lebar, bagus dan lumayan berantakan adalah kata-kata yang dapat menggambarkan kondisi ruangan tersebut.
Untuk lebih jelasnya, ruangan itu dipenuhi dengan kue dan roti serta tepung berserakan di mana-mana. Tidak ada yang spesial dari tempat itu menurut Wafaa, lantas mengapa Pak Bread melarang seluruh pegawainya memasuki ruangan ini?
Ada sebuah meja dengan empat kursi di sudut ruangan yang tak tersentuh apapun, masih terlihat bersih dan baru.
Wafaa menurut dan duduk pada salah satu kursi yang ada. Pak Bread turut menempati kursi di depannya.
Wafaa tak berani menatap mata pria itu hingga ia menundukkan kepala dan menatap jari-jari tangannya sendiri. Cantik dan panjang, tetapi suka mengambil.
"Apa Anda sangat membutuhkan uang?" celetuknya dan Wafaa diam saja.
Di luar ruangan, Zaim bersedekap dada dan bersandar di dinding sembari memperhatikan Retta yang berusaha menguping dengan menempelkan telinganya ke pintu ruangan Pak Bread.
Namun, tanpa mereka ketahui ruangan itu kedap suara.
"Jawab saya! Apa Anda sangat membutuhkan uang hingga berani mencuri seperti ini?" titah Pak Bread memaksa lawan bicaranya untuk bersuara.
"Iya. Lebih dari sekadar butuh," sahut Wafaa santai.
__ADS_1
Pak Bread membuang napas pasrah bercampur lelah. "Apa Ibu Anda tidak mengajarkan hal baik kepada Anda hingga harus mencuri demi mendapatkan uang?" tanyanya lagi.
"Ibu saya sudah meninggal," jawab Wafaa seadanya usai membuang napas. Dia sama sekali tidak terlihat berat atau sedih ketika mengatakannya seolah ia sudah tak punya hati. Justru mata Pak Bread-lah yang berkaca-kaca.
Sebuah cairan yang mengucur keluar dari lubuk mata Pak Bread membuat Wafaa bingung. Apa dia salah bicara hingga dapat membuat Pak Bread menangis?
Pak Bread kenapa?
"Maaf, saya hanya terbawa perasaan." Pak Bread mulai menghapus air matanya dan mengendalikan emosinya agar tak terlalu terlihat.
"Bagaimana dengan Adik Anda? Keluarga Anda lengkap atau tidak?"
Wafaa lagi-lagi dibuat tidak nyaman. Topik-topik seperti ini adalah yang paling dibencinya selama ini. Berusaha menahan kesedihan itu sulit, sangat sulit. Tetapi Wafaa bisa melakukannya.
"Tidak ada siapapun. Ayah saya meninggalkan saya sejak balita, Ibu saya meninggal karena menolong Adik saya dari kecelakaan mobil. Dan Adik laki-laki saya yang berumur lima tahun meninggal karena kekurangan makanan."
"Saya dibawa ke panti asuhan oleh keluarga saya yang tak ingin bertanggung jawab merawat saya. Saya diadopsi dan sekarang tinggal bersama seorang perempuan yang menyuruh saya melakukan ini. Anda puas?"
Pak Bread membeku di tempat, ia mendadak mengalami kesulitan bicara dan kesulitan menahan emosi hingga tangisnya pecah saat itu juga.
Wafaa memandang Pak Bread dengan raut datar. "Terima kasih, Pak, atas simpatinya, tapi saya rasa saya harus segera pergi dari sini karena saya tahu Anda akan memecat saya."
Wafaa berdiri dan hendak berbalik menuju pintu ruangan. Namun ....
"Aku adalah Ayahmu."
Crash!
Langkah Wafaa terhenti, jantungnya berdebar tak karuan, napasnya terasa sesak untuk berembus. Bahkan kata 'kaget' tak dapat menggambarkan perasaannya saat ini.
Ia sedih, kesal, marah, menyesal, dan puluhan emosi tak terjelaskan lain bergabung dalam satu hati kecilnya.
__ADS_1
Memory Shop.