Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Terungkap


__ADS_3

Wafaa berbalik menghampiri Pak Bread, membuka tasnya dan mengambil beberapa lembar uang ratusan untuk diletakkan ke atas meja.


"Saya mengembalikan sebagian uang yang telah saya ambil. Saya keluar!" Suaranya bergetar dengan mata yang telah memerah nan berair. Wafaa berbalik hendak meninggalkan ruangan. Namun, sebuah kata memancing amarahnya.


"Maaf."


Brak!


Tendangan keras. Kursilah yang menjadi korban dari amarah Wafaa saat ini. Ia menggebrak meja, mendekatkan wajah pada mantan bosnya dan melayangkan tatapan layaknya elang.


"Apa? Maaf?" Wafaa menyeringai tidak suka.


"Setelah semua yang terjadi di masa lalu, Anda dengan mudahnya mengatakan maaf?"


Wafaa menjauhkan wajahnya dari pria itu. Ia juga menyapu rambutnya ke atas dan tertawa selayaknya orang tidak waras.


Pak Bread hanya bisa membeku di tempat dengan air mata yang sesekali berjatuhan. Ia dihantam perasaan menyesal untuk ke sekian kalinya, tidak ada lagi yang dapat dilakukannya sekarang. Semua terlambat.


Andaikan waktu bisa diputar kembali, ia ingin memperbaiki semua dan menjaga keluarganya tetap utuh. Sayangnya, itu tak bisa dilakukan.


Wafaa melepas kacamatanya, membantingnya ke tanah dengan kasar lantas keluar dari ruangan itu.


Retta yang ketahuan menguping jadi malu sendiri. Namun, Wafaa tak peduli dan melanjutkannya langkahnya hendak keluar dari toko.


Set!


Entah apa yang tengah merasuki anak itu. Namun, secara tiba-tiba Zaim menahan tangan Wafaa dan bertanya, "Anda baik-baik saja?"


"Anda harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah Anda lakukan," lanjut Zaim serius.


Wafaa mengempas genggaman tangan Zaim dan berlari keluar tanpa mengucap sepatah katapun. Cowok yang barusan membuat hatinya tambah sakit hanya bisa menggaruk tengkuknya.


Sebenarnya Zaim berniat peduli karena melihat Wafaa tampak kacau. Hanya saja, ia sadar bahwa gadis yang dia cintai memperhatikan mereka.


Meski begitu, jujur saja Retta sama sekali tak merasa terganggu.


Sepertinya anggapan 'Adik kecil' pada Retta sudah tak berlaku lagi bagi Zaim.


Di detik berikutnya, entah apa yang sedang terjadi di antara keduanya, mendadak Pak Bread keluar dari ruang rahasianya.


"Tolong jaga toko!"

__ADS_1


Setelah bertitah demikian, ia berlari keluar meninggalkan toko demi menyusul Wafaa di tengah derasnya hujan dan petir yang saling bersahutan.


Retta khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di dalam ruangan tadi. Mendadak pikirannya menjadi negatif. Sekarang ia hanya dapat berharap apa yang dia takutkan tak menjadi kenyataan.


Zaim dengan sigap menutup pintu ruang rahasia yang belum sempat ditutup Pak Bread sebelumnya akibat terburu-buru, takut Retta akan mengintip dan mengetahui isinya.


Ia adalah salah satu manusia langka yang amat menghormati privasi orang lain.


Jalanan kota tampak tak begitu ramai saat ini, tetapi Pak Bread tak memedulikan itu. Ia justru lega dapat melihat punggung sang anak yang jaraknya belum terlalu jauh darinya.


Ia mempercepat langkah kejarnya menyusul sang putri, berharap bisa memperbaiki segalanya dan memulai hidup baru bersama.


Pak Bread turun ke jalan raya untuk menyebrang. Namun, sepertinya ia lupa untuk melihat sekeliling sebelum melaju. Fokusnya hanya tertuju pada Wafaa yang memperkilat langkah kakinya setelah mengetahui sang Ayah sedang mengejar.


"Aku ingin ... berbaikan dengan anakku."


Brak!


1 Februari adalah hari ini. Tanggal di mana hujan pertama turun di tahun baru, sekaligus tanda akan kenaikan usia Pak Bread yang semakin menua.


Hari yang seharusnya bahagia bagi pria paruh baya itu, justru berujung malapetaka untuknya.


Pak Bread terjatuh ke tanah, darah mengucur keluar dari bagian-bagian tubuh yang terluka, tetapi tidak dengan kepala. Mobil yang seharusnya bertanggung jawab tak pernah menghentikan laju mobilnya seakan tak terjadi apapun.


Isak tangisnya tak tertahan, ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan perasaannya.


Ia bangkit dan berlari terhuyung-huyung menuju kumpulan orang yang mengerumuni Ayahnya.


Ia mengangkat kepala sang Ayah yang tak sadarkan diri ke pangkuannya. "Ayaah baguuun!" perintahnya kasar menatap wajah sang Ayah yang seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Ia mengguncang lebih kuat tubuh tinggi sang Ayah dan menangis lebih kencang. Di sekelilingnya, orang-orang berpayung itu memperhatikan mereka dengan tatapan sendu, hampir saja menangisi nasib menyedihkan orang lain.


Retta dan Zaim turut prihatin meski memperhatikan dari depan toko. Mereka ingin ke sana, tetapi mereka tengah mengenakan seragam Sekolah yang masih harus dipakai besok.


Seragam Sekolah itu pasti tak akan mudah kering jika dijemur, apalagi dalam keadaan hujan yang mereka perkirakan akan sampai besok.


Wafaa menghentikan isak tangisnya kala Pak Bread membuka matanya dengan sempurna. Ia tersenyum menatap sang anak yang tampak mengkhawatirkan kondisinya.


Namun, dia baik-baik saja.


"Ayah baik-baik aja?" Wafaa terheran-heran, kenapa ayahnya bisa bangun lagi setelah ditabrak?

__ADS_1


"Duh, badan Ayah sakit, nih," keluh Pak Bread. Pertama kali dalam beberapa tahun lamanya, Pak Bread menggunakan bahasa yang tidak kaku.


Keren. Wafaa seharusnya merasa istimewa.


Orang-orang sekitar pun mulai bubar seusai menanyakan keadaan Pak Bread yang ternyata baik-baik saja. Mereka kembali sibuk dengan urusan masing-masing.


"Jadi, Anda pura-pura pingsan?" Wafaa kesal, merasa dibohongi. Ia memasang wajah cemberut, berdiri dari duduknya dan berniat kembali melarikan diri.


Namun ....


"Jangan pergi!" Pak Bread menahan pergelangan tangan Wafaa guna mencegah anak itu meninggalkannya.


"Tolong jangan tinggalkan Ayah!" titahnya lembut.


Mereka berdua sampai di dalam toko dan duduk pada salah satu meja tiga kursi. Wafaa masih memandang Pak Bread dengan tatapan tajam, berharap mendapat penjelasan atas kejadian tadi.


"Ayah nggak pura-pura, kok. Tadi badan Ayah sakit, terus Ayah juga susah napas makanya nggak bisa bangun," jelas Pak Bread, tetapi sepertinya belum berhasil menjawab semua pertanyaan putrinya.


"Ayah nutup mata buat nahan sakit," lanjutnya. Wafaa hanya mengangguk samar.


Sementara di sisi lain, ada dua orang lainnya yang berharap diberi kejelasan atas suasana baru ini. Dalam pikiran mereka, Pak Bread mendadak pakai bahasa yang nggak kaku? Kenapa Pak Bread menjelaskan menggunakan kata 'Ayah' pada Wafaa? Apa yang sebenarnya terjadi?


Wafaa menengok kiri dan mendapati dua orang itu tengah memperhatikan mereka. Ia mengerti dan mengungkap, "Aku anaknya."


Hampir saja mata Retta keluar akibat terlalu kaget akan fakta mengejutkan ini. Zaim pun begitu, hanya saja caranya menunjukkan emosi berlawanan dengan Retta.


"Serius?" Retta menggebrak meja di hadapan mereka.


Wafaa mengangguk santai menanggapinya, kemudian beralih menatap Pak Bread dan mengajukan sedikit pertanyaan.


"Kenapa Anda baru bilang hari ini? Kenapa-"


"Masih formal? Panggilan Ayah, dong. Kenapa pakai 'Anda'?" Pak Bread meminta dihargai sebagai seorang Ayah.


Yah, Wafaa mengerti. Ia membuang napas sebelum berkata, "Ayah ...."


"Ayah kenapa baru bilang hari ini kalau Wafaa anak Ayah? Kenapa Ayah harus nyuruh Wafaa kerja? Padahal kan di toko ini Ayah punya dua pegawai. Kenapa Ayah sama sekali nggak kaget waktu Wafaa dateng ke sini dan nyebutin nama lengkap Wafaa?" Jujur saja dari nada dia bicara, gadis ini mulai bersikap manja.


Pak Bread hanya tersenyum menghadapi tumpukan pertanyaan itu. "Nanti Ayah jelasin, tapi bukan sekarang," sahutnya.


Pria itu baru saja sadar, bahwa yang beberapa menit lalu dia alami bukanlah malapetaka, melainkan sebuah hadiah berharga dari tuhan.

__ADS_1


Dan pemberian itu bukan dia dapatkan karena hari ini adalah ulang tahunnya, melainkan karena ketulusan dan perasaan yang kuat dalam keinginannya.


Memory Shop.


__ADS_2