Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Nama Roti


__ADS_3

18.30 pm.


Seusai Sekolah, Zahar dipertemukan dengan mantan kekasihnya dan berakhir bercakap berdua di tempat yang jarang dikunjungi orang-orang.


"Mau ngomong apa?" tanya Lia, gadis berambut pendek, tinggi dengan perawakan dewasa.


"Kamu masih mau berhubungan sama cowok itu?" tanya Zahar hati-hati.


"Iya. Emang kenapa?"


"Setelah mukulin dia sampai babak belur, sekarang kamu mau mukul aku juga?" lanjutnya.


Zahar tertegun untuk sejenak sebelum melontarkan sebuah kalimat yang mungkin dapat membuat si pendengar geleng-geleng kepala.


"Kalau kamu mau mutusin hubungan sama dia, aku bakal maafin kesalahan kamu dan balik pacaran lagi."


Gadis itu menyeringai tipis. "Zahar."


"Ya?"


"Kamu sebodoh ini, ya?"


"Maksud kamu?"


"Kamu belum ngerti juga?"


Lia maju selangkah mendekati wajah Zahar yang dipenuhi banyak pertanyaan.


"Kamu pikir alasan aku pacaran sama kamu itu apa?"


".... Karena uang."


Zahar mengepalkan tangannya kuat.


"Jadi, setelah aku dapet yang lebih kaya, kamu aku tinggalin, deh."


Lia melihat kepalan tangan Zahar dan lantas mengatakan, "Marah? Kamu mau apain aku sekarang?"


"Hm?" Lia maju lebih dekat dan tidak menyisakan jarak di antara kedua wajah mereka.


"Apa? Matre?" Gadis itu tertawa pelan.


"Oh ayolah, saling nguntungin aja. Kamu suka aku karena aku cantik, 'kan? Dan aku suka kamu karena kamu kaya. Udah. Jadi, nggak ada yang paling tersakiti di antara kita."


Zahar tidak menyangka, Lia akan mengatakan hal itu. Ia hanya membeku di tempat.


"Nggak apa-apa, Za. Kamu juga pasti bakal nemuin yang lebih cantik dari aku," ujarnya santai menepuk bahu Zahar sebelum akhirnya pergi menjauhi pria itu.


Zahar mengembuskan napas pasrah seraya meratapi nasibnya yang menyedihkan.


Zahar semakin tak berminat untuk nongkrong di mana pun. Terlebih lagi, ia tak punya teman baik akibat sikap kasarnya. Semua mendekatinya demi uang. Seperti yang terjadi pada Zaim. Sebab itulah Zaim tak pernah berniat berteman dengan siapapun di Sekolah selain Retta.


Benak Zahar dengan tiba-tiba mengarah ke toko ingatan milik Pak Bread. Di sana juga ada Retta dan Zaim, mungkin saja kedua sejoli itu berniat mengajaknya berbincang.


Kalaupun tidak, setidaknya dia tak akan merasa sendiri sebab ada orang yang dikenalnya menemani.


Zahar menuju ke sana dan tanpa berpikir memasuki ruangan toko tersebut. Retta dan Zaim sudah berada di sana, masih dengan pakaian Sekolah mereka.


"Selamat datang di toko kue kami!" sambut Retta, bahkan setelah mengatauhui kedatangan Zahar.


Tetap bersikap profesional.


Retta melangkah maju menghampiri Zahar yang telah duduk di salah satu kursi dari sembilan yang kosong di toko ini. "Apa ada yang bisa dibantu?" tanyanya lembut.


"Saya pesan kue yang paling tidak enak di toko ini," ucap Zahar. Kini kepalanya berada di atas meja dengan lengan sebagai alasnya. Tampak tak bersemangat.


Retta mengeluarkan raut bingung. Kue yang tidak enak? Memangnya ada? Dan ... untuk apa seseorang menciptakan kue tidak enak?

__ADS_1


Pak Bread secara tiba-tiba keluar dari ruang rahasianya dengan membawa kue tar putih, persis seperti yang dipesan Zahar sebelumnya.


"Ini adalah kue paling tidak enak yang pernah saya buat," katanya sebelum meletakkan kue bulat tersebut di atas etalase.


"Bagaimana bisa?" tanya Zaim heran.


".... Saya selalu mengawasi kalian." Sehabis berucap demikian, Pak Bread kembali menghilang ke belakang.


Retta memandang Zaim penuh tanya dan segera mengangkat kue tersebut setelah memutuskan untuk tidak peduli.


Diletakkannya kue tar tersebut ke atas meja Zahar, tepat di hadapannya yang sedang murung.


"Tolong potongkan!" pintanya lirih sedikit memohon pada Retta.


Retta mengambil pisau seusai mengembuskan napas pasrah. Ia mulai memotong kue yang mungkin tak akan pernah ia ketahui rasanya dengan hati-hati dan rapi.


Zaim sedikit muak melihat kejadian ini di depan matanya. Namun, wajahnya sedikitpun tidak menunjukkan raut tersebut.


"Silakan dimakan!" Retta meletakkan pisau di tepi roti. Ia berbalik dan kembali duduk pada tempatnya.


Zahar mengambil sepotong, masih dengan wajah tak berantusiasnya dan memasukkan kue tersebut ke dalam mulut.


Ekspresi yang dikeluarkannya adalah hal yang wajar dan tidak jarang ditemukan ketika merasakan sesuatu yang tidak enak. Lantas Zahar mengeluh.


"Nggak enak banget, sih."


Ha, apa dia sadar apa yang dia katakan? Dia sengaja atau apa?


Retta hanya geleng-geleng kepala sementara Zaim memutuskan tak peduli. Zahar pun kembali menaruh kepalanya di atas meja, membelakangi kue dan memandang jalanan padat Jakarta.


Jakarta sangat panas akhir-akhir ini, tetapi Zahar sama sekali tidak merasakan suhunya dalam ruangan toko ini.


Andaikan tempat ini lebih besar, pengunjungnya pasti banyak.


Zahar mengangkat kepala, kembali merasakan kue itu dengan tenang. Ia hanya bisa mengembuskan napas pasrah.


Kue itu bagaikan hidupnya. Hambar dan tidak enak dirasakan.


Sebuah nampan berisi roti mendarat tepat di hadapannya. Retta tersenyum menatap Zahar, kemudian berkata, "Ini hadiah dari si pemilik toko."


"Habread?"


Zahar membaca tulisan di kertas yang seharusnya berisi peraturan sebelum memakan roti.


"Sebelum makan roti ini, Anda diharapkan untuk memikirkan seseorang yang paling Anda sayangi," ucap Retta disertai senyum.


"Kok, tiba-tiba?"


"Nggak usah heran. Ini gratis, kok." Retta mengedipkan sebelah matanya, kemudian berbalik menjauhi meja Zahar.


Zahar memperhatikan dengan detail roti tersebut, kemudian bertanya, "Apa isi rotinya?"


"Oh-"


"Roti itu nggak ada isinya. Makan aja!" Zaim menyela perkataan Retta dengan gaya pengucapan yang sedikit lebih kasar.


Retta yang melihat Zahar tampak ragu akan rasa rotinya itu pun berkata, "Rotinya tetap enak, kok. Aku sama Zaim pernah nyobain, roti itu lebih enak dari roti lainnya." seraya tersenyum hingga hal itu berhasil membuat Zahar percaya.


Zahar mengambil roti tersebut. Seperti yang dikatakan Retta, ia harus memikirkan orang yang paling disayangi.


Tidak perlu dipertanyakan lagi, jelas jawabannya adalah Neneknya.


Zahar mulai memikirkan Neneknya. Mulai dari cara beliau tersenyum, menasihati, dan gaya berbicaranya yang masih melekat jelas dalam benak Zahar.


Pria itu menggigit kecil bagian rotinya. Benar apa kata Retta, roti itu lebih enak dari yang lainnya.


Bersamaan dengan gigitan tersebut, Nenek Zahar muncul dalam pikirannya, memenuhinya hingga tak terdapat ruang bagi orang lain.

__ADS_1


Zahar begitu menikmati kenangan yang muncul hingga tak sadar rotinya habis dan sempat menggigit jarinya sendiri.


"Apa rotinya masih ada?" Zahar memandang Retta setelahnya. Penuturannya mendadak lembut.


Sudah Retta duga, ini pasti akan terjadi. Namun, yang bisa ia jawab hanyalah, "Nggak."


"Bisa dibuat lagi? Rotinya enak soalnya," ujar Zahar.


Jelas, bukan itu alasannya. Sepertinya dia memang belum sadar.


"Aku bakal bayar lebih kalau emang bisa."


"Menyenangkan?" celetuk Zaim.


Atensi Zahar beralih menatap pria dengan raut datar itu. "Apanya?"


"Mengingat orang yang kamu sayang."


Ruangan itu diam beberapa detik akibat kebingungan Zahar yang tampak terus berpikir.


"Roti itu bisa bikin kamu ingat sama orang yang kamu sayang. The magic bread," kata Zaim.


Zahar tertegun menatap Zaim. Kemudian dia berdiri dan menghampiri pria itu.


"Berapa banyak yang bisa dibeli?" Netranya tajam memandang Zaim. Ia sungguh serius sekarang ini.


"Kamu bisa beli sebanyak yang kamu mau. Tapi kamu nggak akan pernah ngerasain efek yang sama."


Dahi Zahar mengerut keheranan.


"Peraturannya emang gitu. Nggak ada yang bisa kita lakuin. Aku sama Zaim juga mau makan roti itu buat yang kedua kalinya, tapi nggak bisa."


Zahar hanya bisa menunduk pasrah mengetahui kenyataan pahit yang Retta lontarkan.


"Yaudah," katanya lima belas detik kemudian. Ia mengeluarkan uang untuk membayar kuenya dan pergi tanpa mengambil uang kembalian.


Zahar sedikit kecewa karena tidak lagi dapat merasakan efek roti Habread. Namun, ia senang karena roti tersebut membangkitkan semangatnya kembali.


Akibat kebahagiaan yang diberikan roti itu, Zahar jadi bersyukur karena pernah merasakan pengalaman menyenangkan makan roti sekali seumur hidup.


Memory Shop.


...Epilog...


10.25 am.


Pak Bread keluar dari ruangannya dengan membawa beberapa roti di atas nampan. Asap dari roti tersebut mengepul dan terlihat sangat lezat untuk dicicipi.


Namun, Retta dan Zaim sama sekali tidak berminat. Sedikit lagi mereka akan pulang untuk berganti pakaian dan mengambil tas kemudian Sekolah.


"Bagaimana cara membuat roti tersebut? Apa campurannya?" Zaim berceletuk tanya.


"Rahasia," kata Pak Bread. Zaim hanya membuang napas.


"Roti itu selalu aja bikin aku penasaran," celetuk Retta.


"Rasanya, aku kepengen tahu semua yang ada di roti itu," lanjutnya.


"Berhenti memanggilnya dengan sebutan 'roti itu'. Dia juga punya nama."


"Apa?" Retta mengernyitkan dahi.


"Mulai sekarang, panggil roti ini dengan sebutan 'Habread'."


"Itulah namanya."


Pak Bread menulis 'Habread' pada kertas dan menggantungnya pada tusukan di atas roti, menggantikan posisi kertas yang seharusnya berisi aturan makan.

__ADS_1


"Saya meletakkan nama roti tersebut di sini, saya harap kalian tidak melupakan namanya," kata Pak Bread sebelum menyimpan roti tersebut dan kembali ke ruang rahasianya.


Retta dan Zaim hanya saling pandang, kemudian memutuskan untuk tak peduli. Toh, punya nama ataupun tidak roti tersebut tetaplah sama, 'kan?


__ADS_2