Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Pegawai Baru?


__ADS_3

Zaim mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan menyeka bibir Retta yang basah akibat liur Livei.


Sementara Livei sendiri telah melarikan diri dari tempat kejadian.


"Harusnya aku nggak biarin kamu ngomong sama dia. Maaf."


Retta memandangi Zaim yang tengah fokus membersihkan bibirnya. Jantungnya berdebar tak karuan, tetapi ia akan semakin bertambah gugup lagi ketika Zaim membalas tatapannya.


Retta memutuskan menjauhkan jarak wajah mereka dengan mundur perlahan dan menepis pelan tangan Zaim yang menyentuh bibirnya.


"Kenapa minta maaf? Ini keputusan aku. Aku cuma pengen negasin aja ke dia kalau aku udah nggak punya perasaan lagi sama dia."


Zaim menatap Retta lekat-lekat, kemudian tanpa mengatakan apapun Zaim maju dan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.


Netra Retta membulat, tubuhnya seketika membeku dan jantungnya kini berpacu tiga kali lebih cepat dari sebelumnya.


Retta tidak memberontak sama sekali ketika Zaim ******* pelan bibirnya. Ia justru menutup mata dan membalasnya.


Beberapa detik setelahnya, Zaim melepas tautan bibir mereka dan menatap Retta. "Pembersihan," katanya santai.


"A-apa? Pembersihan?"


Maksudnya adalah Zaim membersihkan bekas air liur di bibir Retta dengan bibirnya. Hal itu dilakukan agar dia lebih mudah menghilangkan jejak liur Livei.


"Ayo!" Zaim menggenggam tangan Retta dan membawanya pergi dari tempat ini.


Apapun itu, bagaimana bisa dia berucap demikian dengan begitu mudah setelah melakukan ciuman bersama seorang gadis? Apa dia tidak malu atau merasakan sesuatu yang berbeda? Dasar Zaim!

__ADS_1


🍰


Sepanjang hari usai kejadian 'itu', Retta menjadi lebih pendiam dan tampak tak bersemangat kerja. Ia duduk di kursinya seraya memandang jalan raya kota Jakarta yang teramat padat.


"Retta." Sang pemilik nama memutar kepala sekaligus wajahnya menghadap Zaim selaku orang yang memanggil.


"Ya," sahut Retta malas.


"Kalo kamu mau makan kue, kamu bisa pilih kue manapun yang kamu mau. Nanti aku bayarin."


"Males ngunyah."


"Tanda-tanda orang yang udah deket sama ajalnya, nih." Retta protes mendengar ledekan itu dan Zaim hanya tertawa kecil dengan raut yang ditunjukkan gadis di hadapannya.


Mereka tak terlihat canggung sama sekali setelah melewati adegan ciuman itu. Jalan pikiran yang tak berbeda menyuruh mereka untuk, 'lupakan saja kejadian tadi'.


Hingga pada waktunya tutup toko di pukul 17.40 pm, seorang gadis cantik dengan tubuh sedikit lebih tinggi dari Retta memasuki toko.


Ia membawa amplop cokelat di tangannya dan tampak gugup bagai anak yang baru pertama kali masuk Sekolah.


Tatapannya polos dan kosong, amat menggambarkan pribadi yang baik dan menyenangkan serta tokoh utama dalam sebuah drama.


"Permisi." Dia sopan dan juga lembut.


"Ya?" Retta tersenyum manis kepadanya.


"Apa Anda perlu sesuatu?" lanjutnya, bersikap ramah.

__ADS_1


"Eum ... saya melihat kertas yang tertempel di luar. Apa benar toko ini sedang mencari pegawai?"


Retta menghilangkan senyumannya dengan sengaja. "Tidak bisa. Sudah ada kami berdua yang bekerja di sini, kami hanya lupa mencabut kertasnya," bohongnya.


"Oh, begitu, ya?"


"Iya, silakan pergi jika tak ingin membeli sesuatu." Zaim menyenggol lengan Retta dan menggeleng padanya seolah mengatakan, "Tidak boleh seperti itu".


"Eum ... tapi di kertas tertulis sedang mencari pegawai tetap. Kalian mengenakan seragam Sekolah, jadi aku pikir kalian hanya pekerja paruh waktu."


"Ini cuman style, aslinya kita udah tamat Sekolah, kok." Hampir saja Zaim dibuat tertawa oleh Retta yang bertingkah demikian.


"Ohh. Baiklah." Ketika hendak berbalik, Pak Bread lantas keluar dari ruangan. Mereka jadi teringat perkataan pria itu yang selalu mengawasi mereka.


"Apa yang kalian lakukan?" Pertanyaan ini jelas tertuju pada Retta dan Zaim. Nada suara Pak Bread yang mengintimidasi membuat mereka hanya terdiam menunduk.


"Eum ... saya ingin melamar kerja, tetapi mereka bilang tidak bisa. Jadi ...." Gadis ini jadi ikutan takut juga.


"Masih Sekolah?" tanya Pak Bread pada gadis itu.


"Tidak, saya sudah selesai. Umur saya delapan belas Tahun," balasnya gesit.


"Masuklah! Kita lakukan wawancara," kata Pak Bread, lantas gadis itu bahagia mendengarnya. Sementara Retta dan Zaim hanya bisa pasrah di tempat.


Dengan raut tidak enak, dia melewati dua pekerja paruh waktu itu menuju Pak Bread. Ia tersenyum penuh keceriaan memandang pria paruh baya di hadapannya dan tampak sangat berantusias.


Wawancara pun dimulai.

__ADS_1


Memory Shop.


__ADS_2