Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Makan Bersama


__ADS_3

Zaim menginjakkan kakinya ke dalam rumah setelah melepas sepatu.


"Eh, Zaim udah dateng?" Tia berdiri dari posisi ternyamannya dan berjalan menghampiri anaknya.


"Kamu pasti capek, Mama udah siapin makanan kesukaan kamu, lho." Tia hendak meraih tas Zaim agar anaknya itu dapat langsung menuju meja makan.


"Nggak usah, Mah. Biar aku aja," kata Zaim menolak.


Ia tersenyum sekilas pada Ibunya sebelum menambahkan, "Aku ganti baju dulu baru makan." Dan kemudian pergi menghampiri kamarnya di lantai atas.


Tia memandang punggung anak semata wayangnya dan tersenyum maklum. Meski sudah menjadi Ibunya selama setahun lebih, sikap Zaim masih tak berubah terhadapnya.


Lima menit kemudian Zaim keluar dari kamarnya menuju meja makan. Dibukanya tudung saji guna mengetahui lebih jelas apa isinya.


Makanan-makanan menggugah selera berdampingan dalam jumlah banyak. Ditambah, terdapat asap-asap yang mengepul di atasnya. Artinya masih hangat.


Tia menghampiri Zaim yang bersiap makan dan duduk di hadapannya.


"Papa bilang bakal pulang larut malam, jadi Mama siapin bekal buat Papa makan di kantor. Mama juga tadi udah makan, tinggal kamu." Ungkapan itu membuat Zaim tercengang. Hanya dia yang belum makan dan lauk di meja ini masih banyak?


Secara tidak langsung, Ibunya menyuruhnya untuk menghabiskan semuanya.


Tia tertawa kecil. "Makan aja sebisa kamu," ucapnya sebelum akhirnya meninggalkan meja makan.


"Eum, Mah!" panggil Zaim ragu-ragu. Tia menoleh dan mengangkat kening.


"Boleh nggak aku ajak temen aku buat ikut makan di sini?"


Tia tidak pernah berekspektasi Zaim akan menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya. Padahal dia sama sekali tidak perlu mempertanyakan hal itu.


"Boleh, dong. Ini kan rumah kamu," balas Tia seadanya sebelum berbalik menaiki tangga ke lantai atas.


"Makasih, Mah!"


"Ya."


Zaim membuka ponselnya dan menelepon Retta guna menanyakan keadaannya.


"Halo!"


"Halo, Ret. Kamu baik-baik aja?"


"Nggak. Hari ini aku cuma makan mi instan." Retta terdengar menyedihkan, ia kemudian menangis dengan suara yang dibuat-buat.


"Datang ke rumah aku. Mama lagi masak banyak."


"Beneran?" Semangat Retta menggebu-gebu.


"Iya."


"Makasih!"


"Iya. Cepet sebelum aku abisin."


Telepon dimatikan Zaim. Ia memutuskan menunggu kedatangan Retta agar bisa makan bersama.


Retta girang mendengar kabar baik ini. Ia segera membawakan mi instan yang belum sempat dicicipinya pada sang Kakak.


"Kak, ini buat Kakak." Retta menyerahkan semangkuk penuh mi goreng pada Zim-Kakaknya.


Zim yang tengah ngambek-ngambekkan dengan Retta pun enggan menoleh ataupun menyahut dan lebih tertarik pada benda pipih menyala di telapaknya.


Pasalnya, ia juga minta dibuatkan mi tadi, hanya saja Retta meledeknya dengan perkataan, "Masak aja sendiri".


"Maafin aku, Kak. Tadi cuma bercanda, kok. Ini aku buatin buat Kakak."


Zim menoleh sekilas pada gumpalan mi yang tampak menggiurkan tersebut dan memutuskan tak peduli padahal sebenarnya dia mau.


"Yaudah kalau nggak mau." Zim lantas mengambil mangkok tersebut ketika Retta hendak berbalik menjauhinya.


Ia menyeruput mi tersebut dan merasa puas dengan rasanya. Mi buatan orang lain adalah yang terenak.


"Kamu udah makan?" tanya Zim, tidak berniat peduli. Hanya penasaran saja karena dia tak melihat gadis itu makan.


"Aku mau makan di rumah Zaim," ungkap Retta dengan gelagat ledek.


"Dih, nggak tahu malu."


"Ih, dia yang ngajak. Lagipula buat apa malu? Dia kan sahabat aku." Retta mengempas rambutnya bangga.


"Kakak ngomong gitu karena nggak pernah punya sahabat. Iya, 'kan?"


"Dih! Ada, kali. Lo aja yang nggak tahu."


"Oh, ya? Mana? Aku nggak pernah lihat."

__ADS_1


"Karena Kakak nggak pernah tunjukkin. Udahlah, pergi sana! Kakak mau makan dengan tenang," usir Zim.


"Ih, udah dikasih juga. Bukannya terima kasih malah diusir," gerutu Retta seraya melangkah meninggalkan pria itu.


Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Retta hingga tiba di depan rumah Zaim. Rupanya anak si pemilik rumah telah menunggunya di depan gerbang.


"Kenapa lama?" tanyanya datar.


"Habis adu mulut sama Zim," sahut Retta lantas menerobos masuk ke halaman rumah Zaim.


"Yuk, masuk!" ajak Retta. Oh, ayolah! Harusnya Zaim yang berkata demikian.


Zaim hanya menghela napas, terbiasa akan kelakuan sahabatnya itu. Ia ikut masuk, sekaligus mengunci gerbang agar tidak ada penyusup.


Ini bukanlah pertama kalinya bagi Retta, bahkan tak terhitung lagi berapa kali gadis itu mengunjungi rumah Zaim. Untungnya tidak ada yang marah.


"Wah, Tante Tia hebat banget! Jadi, dia yang masak semuanya?" tanya Retta antusias.


"Hm." Zaim malas 'ngomong'. Ia duduk mengambil makanan dan dimasukkan ke mulut.


Retta juga ikut duduk dan makan bersama Zaim. Selesai makan, Retta membantu Zaim mencuci peralatan makan.


Asisten rumah tangga di rumah sebesar ini hanya ada dua, tetapi mereka bekerja dua puluh empat jam sesuai perintah. Namun, Zaim malah memilih mencuci peralatan makannya sendiri.


"Papa kamu belum pulang?" celetuk Retta.


"Lembur," sahut Zaim.


"Ohh, terus Mama Tia?"


"Di kamar."


"Ohh."


"Nanti, mau aku anter pulang?" tawar Zaim.


"Nggak usah."


🍰


Tidak ada yang berbeda dari Zahar hari ini di Sekolah. Ia masih suka mengganggu satu sama lain. Namun, satu hal yang tidak lagi dia lakukan adalah membolos kelas.


Orang tua Zahar juga datang ke sini hari ini setelah jam makan siang. Banyak desas-desus yang bilang bahwa wanita dan pria paruh baya tersebut memarahi kepala Sekolah sebab Anaknya yang diusir dari kelas oleh salah satu guru.


"Kamu ngelapor sama orang tua kamu?" Retta berceletuk. Zaim yang ada di sampingnya spontan mengikut lengan gadis itu.


"Aku kan cuma-"


"Bukan." Retta dan Zaim refleks menoleh pada Zahar yang baru saja bicara.


"Bukan aku," lanjutnya, "Aku nggak tahu kenapa orang tuaku bisa tahu hal ini. Yang pasti aku nggak pernah ngomong apa-apa."


Zahar berlalu seusai berujar demikian. Retta dan Zaim hanya melempar pandang penuh tanya. Kemudian masuk ke kelas.


Serena yang waktu itu pernah memakan roti Habread di toko ingatan juga menyampaikan keinginannya untuk merasakan roti itu lagi. Namun, seperti biasa, jawaban yang didapat tidaklah memuaskan.


Retta dapat melihat kekecewaan dalam rautnya sepanjang kelas hari ini. Ia jadi merasa bersalah.


Mata pelajaran hari ini tidak begitu bagus. Matematika, Fisika dan Kimia bergabung dalam satu hari. Oleh sebab itu, semua siswa di kelas XII-IPA 2 menjadi lega mendengar bunyi bel pulang.


Tetapi Guru tidak pernah lupa untuk memberi tugas.


Retta dan Zaim buru-buru karena Pak Bread sendirian di toko. Ia tidak bisa membuat kue di ruangannya ketika kami tidak ada. Takutnya ada pelanggan.


"Hai!" Seseorang yang Retta dan Zaim harap tidak pernah terlihat, kini mendadak muncul dan parahnya mereka bertemu di depan gerbang Sekolah.


"Ngapain kamu ke sini?" geram Zaim. Ia menggenggam tangan Retta dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.


"Aku mau ngomong sama Varetta," ungkap Livei.


"Aku sebagai pacarnya nggak pernah ngebolehin dia deket-deket sama cowok lain, apalagi mantannya," timpal Zaim dengan wajah super dingin. Retta hanya menunduk di belakang Zaim.


Sekarang mereka telah menjadi pusat perhatian banyak siswa. Namun, karena mereka tidak begitu populer, orang-orang itu memutuskan tidak peduli.


"Ret, aku tahu kamu masih suka sama aku. Ayo bicarain semuanya dan balikan kayak dulu! Tinggalin cowok kaku ini-"


"Dia nggak mau," sela Zaim seraya memasang mata rubah.


"Ini urusan kita berdua, kamu nggak usah ikut campur-"


"Aku pacarnya, dan kamu bukan siapa-siapa."


Zaim merasakan Retta menggenggam balik tangannya. Ia menoleh dan mendapati Retta sedang menatapnya serius.


Mereka tidak saling bicara, hanya bertatapan beberapa detik dan Zaim akhirnya melepaskan tautan tangan mereka.

__ADS_1


"Ikut aku!" titah Retta pada Livei lantas berjalan lebih dahulu. Livei tersenyum penuh kemenangan pada Zaim dan mengekori Retta di belakang.


Mereka berhenti pada tempat yang tidak terdapat terlalu banyak orang.


"Apa yang mau kamu bicarain?"


"Gini, aku mau kita balikan."


"Tapi aku udah pacaran sama Zaim," sahut Retta datar.


"Okay. Aku nggak tahu kenapa kamu bisa jadian sama temen kamu itu, tapi tolong putusin dia dan balikan sama aku! Aku janji, kok, bakal setia sama kamu."


"Nggak."


"A-aku nggak bakal ngelarang kalian berdua buat temenan lagi, asalkan hubungan kalian-"


"Nggak!" Retta menolak mentah-mentah ajakan itu.


"Kenapa?" kesal Livei.


"Aku cinta sama dia. Dan kamu ... jangan pernah deket-deket aku lagi!" lanjutnya.


"What the f**k!" umpat Livei.


Livei maju mendekati Retta dan menciumnya secara paksa. Retta memberontak dengan berusaha mendorong tubuh pria itu tetapi sayangnya kalah tenaga.


Zaim yang mengawasi mereka sedari tadi tengah berlari menghampiri. Tangannya sudah ia kepalkan tetapi bukan tinju yang ia layangkan, melainkan tendangan.


Zaim menarik kerah seragam Livei yang amat berbeda dengan seragam Sekolah miliknya. Ia menghajar pria itu habis-habisan.


Bahkan Zaim berhenti akibat pergerakan Retta yang dengan sigap memisahkan mereka.


"Jangan muncul lagi di hadapan kita!"


Memory Shop.


Epilog


"Nanti, mau aku anter pulang?" tawar Zaim.


"Nggak usah."


Zaim memandang Retta intens, kemudian membuang pandangannya. Ia tersenyum. "Harusnya aku nggak nanya."


"Aku bakal anterin kamu pulang," lanjutnya.


"Nggak usah. Aku bisa sendiri, kok," tolak Retta tanpa tahu waktu.


"Kamu tahu ini jam berapa? Sepuluh."


"Lalu? Apa masalahnya? Rumah kita kan deket."


Zaim menoleh pada Retta. "Kalau ada orang jahat?"


"Tinggal lawan."


"Bisa teriak."


"Tendang bagian vitalnya."


Enak sekali bicaranya. Dia pikir semudah itu?


"Kalau orang jahatnya Livei?"


Pergerakan Retta terhenti. Zaim sedang menjebaknya sekarang.


"Lawan," jawab Retta tenang.


"Aku udah ngeblokir nomornya," tambahnya.


"Oh, ya. Dari kapan?"


"Belum lama ini."


"Kamu udah mulai ngelupain dia, ya?" Zaim menyunggingkan senyum tipis


"Perasaan aku mendadak hilang ke dia," balas Retta.


Zaim menoleh untuk yang kesekian kalinya pada Retta.


"Oh, ya? Kenapa?"


"Aku mulai punya perasaan sama orang lain."


Zaim terdiam. Perasaannya mulai tidak enak. Ia lantas bertanya, "Siapa?" untuk memastikan tebakannya tidak salah.

__ADS_1


"Kamu."


__ADS_2