
Seseorang dengan wajah familier masuk ke dalam toko tujuh menit setelah kepergian Kaillo. Wajahnya datar untuk kali ini, tampaknya dia datang bukan untuk mengacau.
"Zahar?" heran Retta kala pria itu berdiri di hadapannya.
"Ngapain ke sini?" Zaim bertanya datar, keberatan akan kedatangan Zahar yang tiba-tiba.
"Aku nggak mau basa basi," katanya, "Kalian punya kue ulang tahun putih dengan tambahan strawberry di tepi permukaannya?"
"Eu ...." Retta memandang Zaim bingung.
"Ad-"
"Kue yang bidangnya datar dan lumayan besar. Kue ulang tahun tapi nggak ada tulisan 'Selamat Ulang Tahun'."
Tunggu. Kenapa dia malah melakukan permintaan kue?
"Ada," timpal Retta. Untunglah.
"Tolong bungkus satu."
"Iya." Retta mengangguk tersenyum kemudian bergerak. Profesional sekali dia.
Di sela-sela itu, entah Zaim berniat mencari masalah atau apa, dia bertanya, "Kenapa kamu beli kue di sini?" dengan nada dingin.
"...." Zahar terdiam dan melempar pandangannya ke lantai.
Zaim melanjutkan, "Ada banyak toko kue di Jakarta, kenapa datangnya ke sini?"
Retta yang merasa arah pembicaraan sudah tidak lagi benar, mulai panik dan memutuskan menyelak.
"Eh ... mungkin aja kue yang Zahar cari nggak ada di toko lain, makanya datang ke sini." Gelagatnya sangat kikuk dan lucu. Seperti tokoh gadis di dalam anime.
"Bener," sahut Zahar, kemudian terdiam lagi.
Retta memberikan kue seperti yang diinginkan Zahar setelah melalui proses pembungkusan. "Silakan bayar di kasir!" Retta menggunakan kedua tangannya untuk menunjuk ke arah Zaim.
Zahar menuju ke sana dengan kue di tangan kirinya.
"Harganya 150 ribu," ungkap Zaim datar.
Zahar merogoh sakunya dan mengeluarkan uang dengan nilai yang pas setelah itu pergi dengan terburu-buru.
"Dia kenapa?" Melihat keadaan Zahar hari ini, Retta jadi terheran-heran. Lelaki itu benar-benar jauh dari kepribadian Zahar yang sebenarnya.
"Apa dia lagi punya masalah?" Retta memandang Zaim setelah memperhatikan kepergian Zahar.
"Mungkin," sahut Zaim datar, lalu memasukkan uang yang ada di tangannya ke dalam mesin kasir.
"Ish, dingin banget."
🍰
__ADS_1
Zahar menelusuri lorong rumah sakit menuju suatu ruangan di mana keluarganya berkumpul. Ia membuka sebuah pintu di antara banyaknya pintu di sini.
Seorang wanita tua terbaring dengan mata tertutup di ranjangnya. Sementara di sekitar, orang-orang yang ia sebut 'keluarga' tengah saling berpelukan dengan suka cita.
"Mah!" panggilnya pelan pada seorang wanita cantik yang sedang tersenyum bahagia.
"Oh, Zahar? Kamu udah datang?" Wanita itu menghampiri Zahar dan merangkulnya masuk ke dalam ruangan.
"Kita ketemu Nenek, yuk!" ajak wanita itu sembari menuntunnya berjalan ke sisi kanan sang Nenek.
"Nek, Zahar datang ke sini bawain Nenek kue, lho. Tapi Nenek malah meninggal duluan." Wanita itu tertawa kecil.
Zahar menatap Ibunya tak percaya. Matanya terbelalak dengan pupil yang memerah serta berkaca-kaca. Ia memandangi Neneknya yang amat tragis dan mengenaskan ini. Apa yang sudah mereka lakukan?
"Zahar." Sang Ibu menepuk pundaknya. "Kalau tahu kayak gini, kamu nggak perlu susah-susah nyari kue itu lagi, 'kan? Sayang banget. Tapi tenang aja, habis ini ... semua harta Nenek bakal jadi milik kita."
Wanita itu menepuk pelan bahu Zahar yang masih membeku di tempat, lalu melangkah menjauhinya.
"Apa yang sudah ... orang-orang ini lakukan terhadap Nenekku?" Zahar memandangi seluruh anggota keluarga yang berbahagia di ruangan ini dengan netra tajamnya seolah ingin membunuh.
Hari ini Zahar izin tidak masuk Sekolah dikarenakan Neneknya yang meninggal. Ia sekarang hanya bisa memandang foto sang Nenek di atas nakas. Orang yang paling ia sayangi telah meninggalkannya.
Zahar tidak tahu lagi bagaimana harus menjalani hidup tanpa Neneknya. Neneknya selalu menasihatinya tentang kebaikan dan menolongnya jika hendak dipukul Ayah.
Namun, sepertinya nasihat yang diberikan itu tidak ada yang masuk ke dalam pikirannya. Justru sifat kejam Ayahnya-lah yang lebih mendominasi dirinya.
Zahar menilik jam di tangan kirinya dan baru saja menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul enam dua puluh pm.
"Cepet banget," gumam Zahar kesal. Dia belum lama berbaring dan sudah disuruh bangun.
Ia keluar dari rumah menuju toko ingatan Pak Bread.
"Apa ada yang salah dari kuenya?" cemas Retta ketika melihat Zahar masuk dengan membawa kue yang sama.
Zahar meletakkan bungkusan kuenya di hadapan Retta, kemudian memandangnya datar dan berkata, "Itu belum dipegang, terserah kalian mau dimakan atau mau dijual lagi." sebelum berlalu meninggalkan toko.
Retta dan Zaim saling melempar pandang penuh tanya. Retta berceletuk, "Dia kenapa?"
Dan hanya dibalas gedikkan bahu oleh Zaim.
Zaim menunduk menatap kembali uang logam yang belum selesai dihitung. "Biarin aja," katanya.
"Lalu ... kue ini mau kita apain?" tanya Retta sembari memperhatikan kondisi kue.
"Kamu makan aja," sahut Zaim tanpa adanya kepedulian terhadap kue tersebut.
Retta tersenyum bahagia. Ia akan dengan senang hati melahap kuenya sampai habis.
Setelah toko ditutup, Retta dan Zaim berjalan bersama menuju rumah. Tidak ada topik bagus yang dapat dibahas, jadi mereka hanya memandangi jalan dengan mulut terkunci sampai Retta mulai berceletuk.
"Zaim, kamu pernah lihat rumahnya Pak Bread nggak?"
__ADS_1
"Nggak," balas Zaim seraya menggeleng pelan.
"Kira-kira, rumah Pak Bread di mana, ya?" tanya Retta lagi.
Jika ada sesuatu yang menjadi pertanyaan dan mengganjal di hati Retta, maka ia akan langsung mengungkapkannya. Lain hal dengan Zaim, ia sudah lama memikirkan hal ini dan dia menyimpannya sendiri serta membiarkan itu bersarang di dalam otaknya.
"Nggak tahu, biarin aja. Kita nggak perlu tahu tentang itu," balasnya cuek.
Dan Retta tidak mengidahkan kata-kata Zaim.
"Hm ... kira-kira Pak Bread punya istri nggak, ya? Punya anak nggak, ya? Nggak mungkin 'kan, kalau Pak Bread yang udah setua itu nggak pernah nikah?"
Retta sibuk bergumam sendirian sebab manusia di sebelahnya tidak berniat mengetahui apapun seputar kehidupan.
"Terus kalau punya, kira-kira mereka di mana? Kok, nggak bantu pekerjaan Pak Bread di toko? Apa mereka ada di rumah? Atau ... udah men-"
"Retta," tegur Zaim pelan.
"Aku kan cuma nebak," katanya.
" .... Katanya kamu nggak peduli." Retta memandang Zaim bertanya-tanya.
"Nggak usah penasaran sama hidup orang lain! Itu kehidupan pribadinya dan kita nggak perlu tahu. Kalau ada orang yang berusaha buat cari tahu kehidupan kamu, kamu pasti bakal terganggu."
Retta hanya mengangguk samar kemudian menunduk memikirkan kesalahannya.
Zaim merangkul Retta. "Gimana sama si Livei?"
" .... Dia masih sering nelpon aku, sih. Cuma aku selalu matiin teleponnya."
"Kenapa nomornya nggak diblokir aja, sih?"
Retta mendongak memandang Zaim yang lebih tinggi 10 cm dari tinggi badan Retta dengan bibir yang sedikit maju, kemudian menggeleng polos seperti anak kecil yang enggan memberikan permennya.
"Kamu masih suka sama dia?"
Retta terdiam dan kembali menunduk, Zaim lantas menyimpulkan jawabannya.
"Diam berarti iya."
Zaim mengembuskan napas pasrah menghadapi jalan pikiran sahabatnya ini. Padahal sudah jelas-jelas bahwa pacarnya berselingkuh dan dia sendirilah yang memutus hubungan dengan lelaki itu, tetapi sekarang kenapa perasaannya belum hilang?
Oh ayolah, apa Retta sebodoh itu?
"Aku nggak tahu kenapa, tapi aku masih punya perasaan sama dia," jelas Retta bernada sendu seolah mengerti pikiran Zaim.
Sudah seminggu sejak Livei dan Retta putus hubungan dan Zaim baru saja mengetahui hal itu hari ini? Sebal, marah, kecewa, semuanya bercampur aduk dalam emosi Zaim.
Dan Zaim hanya bisa menghela napas lalu diembuskan dengan pelan.
"Maaf," sesal Retta.
__ADS_1
"Nggak apa-apa."
Memory Shop.