
"Aku harap dia baik-baik aja," celetuk Retta. Zaim hanya membisu di tempat memandangi Serena.
Meski Zaim seharusnya mengasihani dirinya sendiri, tetapi dia lebih iba kepada Serena yang mengalami penderitaan lebih banyak.
Roti itu telah habis, tetapi rasa sedih Serena tak selesai sejak ia memakannya lima menit lalu.
Di saat itulah, orang yang tak pernah ia duga mengetahuinya di sini, sekarang memasuki ruang toko.
"Serena?" Ayahnya melangkah gesit menggapai Serena. Namun, ia dikejutkan oleh putrinya yang mendadak memeluknya dan menangis. Lantas, ia membeku.
"Maafin Rena, Pah! Rena salah," isaknya terdengar pilu di pendengaran lelaki itu. Ia heran, apa yang baru saja terjadi pada putrinya?
"Kamu kenapa? Ada yang gangguin kamu?" Ayahnya bertanya tegas.
Serena menggeleng sebagai jawaban dan mengeraskan suara tangisnya.
"Rena minta maaf! Rena minta maaf!"
Hanya itu yang bisa Serena ucapkan saat ini. Meski kepala sang Ayah dipenuhi banyak pertanyaan, ia membalas dan mengeratkan pelukan dari putri tercintanya. Ini pertama kalinya ia dipeluk lagi oleh anak semata wayangnya sejak tiga tahun lalu.
Retta ikut terharu dengan apa yang disaksikannya. Namun, Zaim justru cemburu. Serena mungkin telah kehilangan Ibunya, tetapi Ayahnya tidak menikah lagi dengan dalih agar anaknya tidak kehilangan kasih sayang Ibu.
"Yuk, pulang! Kita bicarain di rumah." Pria paruh baya itu meregangkan pelukannya dan menatap Serena penuh sayang.
Serena pikir, awalnya dia akan dimarahi atau diseret sampai ke rumah. Namun, nyatanya Ayahnya bersikap selembut ini.
Serena mengangguk samar dan berjalan bersama Ayahnya meninggalkan toko ingatan ini. Lupa berpamitan.
Belum genap lima menit, Retta berceletuk tanya pada Zaim.
"Terus, kuenya nggak dibayar?"
🍰
Jam delapan pagi waktunya buka. Masih empat jam lagi bagi Retta dan Zaim untuk menempati toko ini, karena di jam dua belas nanti mereka harus ke Sekolah.
Kemarin mereka belum sempat bilang tentang Serena pada Pak Bread. Sekarang Zaim yang memberanikan diri untuk angkat bicara karena Retta terlalu takut dimarahi.
"Pak Bread, maaf! Pelanggan yang kemarin belum bayar kuenya."
"Bukan masalah." Seperti tidak memedulikan hal itu, Pak Bread langsung menghilang ke belakang. Dan seperti biasa, ia akan menghabiskan waktunya berjam-jam berada di sana.
Belum dua menit setelahnya, orang yang dibicarakan muncul. "Hai Retta! Hai Zaim!" sapanya ramah penuh keceriaan.
"Aku baru ingat kemarin belum bayar." Serena berucap sembari melangkah mendekati Zaim. Ia merogoh tas slempangnya dan memberikan enam kertas pembayaran sah senilai seratus ribu pada Zaim.
"Oh ya, kalian kok nggak bilang-bilang, sih? Aku kan jadinya ngerasa bersalah."
Hmm ... mungkin mereka merasa tidak ingin membebani teman mereka yang tengah menghadapi masalah dengan tagihan uang.
"Cukup, 'kan?"
Zaim yang baru saja ingin memberikan kembaliannya, mendadak terurung.
"Kurang, ya?"
Retta dan Zaim hanya tatap-tatapan ketika Serena kembali merogoh tasnya dan memberikan empat kertas dengan nilai sama pada sang kasir.
"Harganya nggak semahal itu, kok." Retta memberi tahu.
"Oh." Serena mengembalikan uangnya ke dalam tas dengan perasaan malu. Sekarang ia berpikir bahwa Retta dan Zaim menganggapnya pamer.
Ia tersenyum canggung. "Aku pikir harganya mahal karena roti ajaib itu." Serena sudah sadar saja bahwa itu roti ajaib. Dan dia tidak bereaksi seperti Retta dan Zaim yang banyak tanya? Hebat sekali.
"Roti itu gratis. Aku udah bilang kan kemarin kalau itu hadiah," ujar Retta.
"Iya." Serena kembali tersenyum kikuk. "Hadiah dari siapa?
"Pemilik toko ini."
"Ohh. Om-om yang ganteng itu?"
__ADS_1
Meski Retta dan Zaim ingin tertawa, tetapi mereka tak boleh mengabaikan fakta itu.
"Iya, yang itu."
"Ohh. Kalau gitu, tolong sampein rasa terima kasih aku, ya."
"Iya. Sebenarnya orangnya ada di belakang, cuma nggak bisa diganggu karena lagi sibuk. Dia pasti ngedenger pembicaraan kita," jelas Retta.
"Oh, beneran?"
Serena menjeda sejenak.
"Makasih, om!" ungkapnya.
Meski tak dapat jawaban, Serena menganggap rasa terima kasihnya tersampaikan dengan baik. Dan tanpa diketahui siapa-siapa, Pak Bread hanya tersenyum tipis di tempatnya berada.
"Jangan kasih tahu siapa-siapa soal roti itu, ya?"
"Iya, aku nggak ada niatan ngasih tahu siapa-siapa, kok, dari awal. Nggak usah khawatir." Serena tersenyum manis.
"Ini kembaliannya."
"Buat kalian aja sebagai tip."
Serena berbalik guna meninggalkan tempat ini. Namun, sebelum keluar dari ruangan, Serena menoleh sejenak dan berkata, "Makasih udah kerja keras! Bye!"
Ia melambaikan tangan dan pergi dari toko ingatan ini. Retta dan Zaim hanya memandangi Serena sampai menghilang dari pandangan dengan harapan gadis itu tidak datang lagi untuk meminta roti yang sama.
"Aduh!" Seorang anak dengan celana biru dan seragam putih itu bergumam kala Serena menabrak tubuh kecilnya hingga tersungkur.
"Eh, maaaf. Kamu nggak apa-apa?" Serena berujar refleks. Namun, anak itu sepertinya tidak menyebalkan dan banyak protes karena memang dia yang salah telah lari-larian di trotoar.
Tanpa menghiraukan Serena, ia kembali berlari dan masuk ke dalam toko ingatan sebagai persembunyian. Sebenarnya dia itu menghindari siapa? Serena hanya geleng-geleng kepala melihat itu dan kembali melangkah tanpa berkomentar.
"Ayangku di mana?" Suara salah satu dari kedua perempuan itu sengaja dibuat-buat manja.
"Ini semua gara-gara kamu, tahu nggak? Jodoh aku jadi kabur, deh." Dan yang satunya lagi mendadak menyalahkannya.
Kaillos Jogamyin Zua, itu nama yang tertera jelas pada papan nama seragamnya. Anak SMP tampan yang diperebutkan dua cewek cantik tapi gila.
Tera dan Noaro adalah nama mereka. Meski bukan saudara, sifat dan tingkah laku mereka sangat mirip hingga sering kali disebut-sebut kembar oleh seisi Sekolah. Kaillo juga berpikir begitu.
"Kamu pergi aja sana, ngapain ngikutin aku?" Noaro yang lebih tua dari Tera memprotes gadis di sampingnya ini dengan kesal.
"Ih, aku juga mau nyariin ayang aku kali."
"Iya, tapi jangan ikutin aku!"
"Kalau aku mau ikut, emang kenapa? Kalau kamu tiba-tiba nemuin Kaillo sendirian gimana?"
"Ya berarti aku jodoh sama Kaillo."
"Ih, nggak bisa. Aku nggak terima!"
"Emang kamu siapa ngelarang-larang?"
"Aku ayangnya Kaillo."
Mereka bertengkar terus, tetapi untungnya suara mereka kian mengecil di pendengaran Kaillo. Dan pada akhirnya menghilang.
"Hai!" sapa Retta ramah dan justru malah membuat Kaillo terlonjak kaget.
"Kakak siapa?" tanyanya penuh selidik.
Bocah aneh.
"Kakak, penjaga toko ini," ungkap Retta.
"Ohh." Kaillo merubah rautnya dan menggaruk kepalanya seperti bocah.
"Ada yang perlu Kakak bantu?" tanya Retta, masih dengan ekspresi keramahan yang belum hilang.
__ADS_1
Kaillo menggeleng dengan senyuman kikuk. Tersadar akan sesuatu yang ada di toko ini, Kaillo berdiri dari tinggungannya dan melangkah maju untuk melihat lebih dalam.
Netranya menjelajahi seisi ruangan itu dengan mata berbinar-binar. Keindahan yang ditampilkan itu benar-benar tipe idealnya. Ruangan kecil dan sederhana dengan nuansa sepia yang dia impikan.
"Wah, keren!" gumamnya tanpa sadar.
"Wah, pertama kalinya aku lihat toko kue yang sebagus ini di Jakarta," puji Kaillo. Ia memandang Retta yang ada di sampingnya penuh keceriaan.
"Apa, sih? Itu pujian atau ejekan?" batin Retta. Sejujurnya, di matanya, tidak ada yang keren dari toko kue ini. Memang sedikit kejam, tetapi begitulah faktanya. Toh, selera orang kan beda-beda.
"Siapa yang punya toko ini?" tanyanya lagi.
"Oh, dia?" Ia mengajukan telunjuk pada Zaim yang tengah menjaga kasir.
"Bukan. Kita berdua pekerja."
"Ohh. Lalu siapa?" Sepertinya anak ini penasaran sekali. Memangnya apa yang akan dia lakukan jika mengetahui siapa pemiliknya?
Lama-kelamaan anak ini mengesalkan juga, ya. Retta hanya menimpali dengan wajah yang mencoba tersenyum tulus. "Bocah nggak perlu tahu, ya."
"Ish!" kesal Kaillo.
"Kak, asal Kakak tahu, ya. Umur aku ini udah 14 tahun. Dan bisa aku lihat dari muka Kakak, umur kita ini pasti nggak beda jauh."
"Bocah sok tahu," pikir Retta. Namun, sepertinya dia tak begitu terganggu akan hal tersebut. Itu artinya wajahnya masih terlihat sangat muda, 'kan?
Retta sadar itu. Saat berkaca, dia selalu berpikir wajahnya masih terlalu imut untuk remaja yang sebentar lagi lulus Sekolah.
Meski begitu, ia ingin anak ini secepatnya pergi. Ia membaca papan nama di seragam bocah SMP itu dan bertanya, "Namamu Kaillo, 'kan?"
"Nah, Kaillo. Kamu nggak ke Sekolah? Mungkin aja temen-temen cewek kamu yang tadi nyariin kamu, lho. Dan mungkin aja ada guru yang nunggu kamu buat ngasih hukuman di kelas."
Kaillo tersadar dan menilik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 08.35 am.
"Mati," gumamnya panik.
"Kak, sebenernya aku niat mau beli kue di sini, cuma aku nggak bawa uang yang pas buat bayar. Besok aku balik lagi, ya!"
Ia segera keluar dari toko dan berlari kencang mengerahkan seluruh tenaganya seusai mengungkapkan itu.
Retta melihat itu dan hanya menyunggingkan senyum. Meski akan terus dibuat kesal, keinginannya untuk mempunyai seorang Adik sangatlah bergejolak.
Memory Shop.
...Epilog...
"Em ... gimana Papa bisa tahu kalau aku ada di toko kue itu?" tanya Serena ketika dalam perjalanan menuju rumah.
Yang ditanya hanya diam menampilkan wajah gugup, tidak tahu harus menjawab apa pada putrinya.
"Em ... Papa minta maaf."
"Untuk ngawasin kamu ... Papa pasang aplikasi yang terhubung sama hp kamu supaya Papa bisa gampang nemuin lokasi kamu di mana."
"Seniat itu?"
Sang Ayah takut anak kesayangannya marah lagi, makanya ia agak berat dalam menyampaikan ini. Semenjak Serena kabur dari rumah, Ayahnya mendapatkan penyesalan yang amat mendalam.
"Iya."
"Yaudah."
"Hm?" Ayah Serena memandangi Serena penuh tanya. Kenapa anak itu bisa biasa saja? Seharusnya dia marah, 'kan?
"Mulai hari ini, aku bakal ngikutin semua yang Papa bilang dan nggak bakal ngebantah larangan Papa."
"Jadi ... Papa nggak perlu susah-susah ngawasin aku lagi."
Serena tersenyum dan mencium pipi Ayahnya yang tengah menyetir. Sang Ayah yang amat terkejut hanya bisa terdiam lalu tersenyum.
Like untuk menghargai author yang telah bekerja keras.
__ADS_1