Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Semua Baik-baik Saja


__ADS_3

Wafaa dapat memaafkan semua kesalahan-kesalahan yang diperbuat sang Ayah di masa lalu meski terasa sulit baginya. Ia bisa melihat kesungguhan dalam perkataan yang keluar dari mulut pria itu hingga mempercayainya.


Pak Bread dahulu adalah seorang pria brengsek yang rela meninggalkan istri dan anak-anaknya demi menikahi perempuan lain.


Namun, bukannya bahagia, perempuan yang dia nikahi itu justru mengambil seluruh uangnya dan lari bersama pria lain. Toko ini adalah satu-satunya yang dia punya sekarang.


Setelah mendapat balasan setimpal dari yang maha kuasa, pria malang itu berusaha mencari istri dan anak-anaknya dengan niat memperbaiki semuanya. Namun, terlambat.


Ia mendengar Istri dan anak bungsunya meninggal sementara anak sulungnya berada di panti asuhan. Seusai mengunjungi kuburan dua orang tersayangnya, ia memutuskan mencari putri satu-satunya yang katanya berada di panti asuhan terdekat.


Namun, sia-sia. Anak yang dicarinya telah diadopsi oleh orang lain dan memiliki keluarga baru. Sadar akan nasib malangnya yang mungkin saja tak mampu membiayai hidup putrinya, jadi ia memutuskan untuk tak mencari Wafaa lagi dan membiarkan orang lain merawatnya. Semua dia lakukan demi kebahagiaan sang putri.


Ia belajar membuat roti sesuai yang tertera pada buku warisan keluarganya. Di generasi ini, saudara-saudara ataupun sepupunya tak ada yang berniat mengelola toko kue itu karena mereka sukses dengan bisnisnya masing-masing.


Pak Bread adalah satu-satunya yang bersiap meneruskan warisan turun-temurun keluarganya. Dan setelah ini, ia akan menyerahkan semuanya pada anak semata wayangnya, yaitu Wafaa.


Semua dijelaskannya pada sang putri tanpa ada satupun yang tertinggal dan Wafaa perlahan mengerti. Ia juga menceritakan pada Pak Bread bagaimana kehidupannya di panti asuhan dan setelahnya.


Mereka saling bertukar cerita sepanjang malam. Wafaa juga telah menelepon Ibu angkatnya dan berbohong bahwa ia harus menginap di tempat kerja.


Ia akan memberi tahu Ibu angkatnya tentang ini nanti.


Sejauh ini, semua baik-baik saja.


Hari ini, pada pukul 08.00 am, lagi-lagi Wafaa lebih dahulu tiba di toko dibanding kedua pegawainya. Sekarang dia adalah bosnya.


Namun, tidak seperti biasanya, saat ini Pak Bread belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Retta dan Zaim pun dibuat heran sekaligus terkejut karenanya.


"Orang yang biasanya tepat waktu, ternyata bisa terlambat juga, ya!" celetuk Retta pada Zaim, hal itu dapat didengar oleh Wafaa yang hendak memasuki ruangan pribadi Ayahnya untuk dibersihkan.

__ADS_1


"Apa? Siapa?" Ia lantas bertanya.


"Pak Bread. Biasanya Pak Bread-"


"Ayah bakal dateng jam sepuluh," selanya cepat.


"Ayah aku masih butuh istirahat," tambahnya.


"Ohh." Retta dan Zaim mengangguk mengerti.


"Sebenernya aku udah nyuruh Ayah buat nggak dateng hari ini, biar aku yang ganti ngawasin toko, tapi Ayah nggak mau dan tetap pengen datang. Yaudah, aku nyuruh dia buat dateng jam sepuluh aja," jelasnya lebih detail.


Dan sebelum benar-benar memasuki ruangan sang Ayah, ia berkata, "Ingat! Sekarang saya bos kalian. Bersikap lebih sopan. Mengerti?"


Belum sempat menjawab, Wafaa sudah lebih dahulu masuk dan mengunci pintu dari dalam. Rasa canggung melanda mereka. Orang yang awalnya dianggap sebaya, sekarang telah berubah peran menjadi bos.


Mengingat apa yang Retta telah lakukan pada Wafaa selama ini, ia jadi malu.


Retta pikir tidak ada salahnya bersikap demikian. Toh, dia berusaha mencegah sesuatu yang buruk terjadi. Justru Wafaa-lah yang bersalah karena dari awal dia memang memiliki niat buruk.


🍰


Pria itu hanya dapat mengubah-ubah gaya tidurnya guna menemukan posisi yang nyaman untuk terlelap.


Namun, usahanya tak pernah berhasil karena di jam-jam seperti ini dia selalu melakukan kegiatan biasanya yaitu membuat kue dan roti.


Pak Bread mengembuskan napas lelah. Tubuhnya masih sakit, tetapi dia sangat berkeinginan untuk bertemu dengan adonan-adonan dan panggangan. Jujur, ia rindu.


Tidak ada yang bisa dilakukannya. Ini semua adalah perintah putrinya dan dia tidak bisa menolak.

__ADS_1


Pak Bread memutuskan berdiri dan keluar dari ruang tidurnya. Rumah yang ditempati pria paruh baya itu mungkin tidaklah besar, tetapi siapapun yang melihatnya akan merasa nyaman dan punya keinginan kuat untuk tinggal di sini.


Pak Bread memasak makanannya sendiri. Jika dilihat dari postur dan tinggi badan Pak Bread yang menjulang, semua orang dapat memastikan bahwa dia adalah tipikal yang suka makan sayur. Ah, bukan. Terbiasa makan sayur.


Begitu pula kali ini.


Sembari menunggu hingga pukul sepuluh, pria itu membuka buku-buku pengetahuan yang selalu ia baca jika punya waktu luang.


Membaca adalah hobinya. Membuat kue dan roti adalah kebiasaannya. Ia butuh waktu bertahun-tahun untuk mempelajari cara pembuatan seluruh kue yang dipajang di toko.


Namun, sebuah buku yang tak sengaja ia temukan memudahkan prosesnya. Di dalam sana, berisi resep rahasia dari seluruh kue yang ada di muka bumi.


Dan pada buku itulah ... ia tahu bagaimana cara membuat Habread-roti pendatang ingatan.


10.00 am.


"Selamat ulang tahun!" Kedatangan Pak Bread disambut meriah oleh pegawai toko dan anaknya.


Ia lantas tersenyum dan terharu akan kejutan tersebut. Di hadapannya saat ini, Wafaa memegang kue dengan sederet lilin ulang tahun di atasnya.


"Tiup lilinnya! Tiup lili-"


Musiknya belum habis, tetapi Pak tua itu langsung mengembuskan napasnya dan mematikan lilin. Wafaa dan dua lainnya merubah ekspresi wajah menjadi cemberut.


"Ayah," tegur Wafaa kesal.


Pak Bread tak peduli dan hanya tertawa kecil, ia melangkah melewati anak-anak itu menuju ruangannya dan berucap, "Kembali bekerja!" sebelum terbenam di balik pintu dan menutupnya.


Dasar Pak Bread! Dia kembali ke bentuk semulanya.

__ADS_1


Memory Shop.


__ADS_2