
Hari ini, meski sudah berada di toko selama satu jam, Retta masih belum mendapatkan tanda-tanda kehadiran Kaillo. Bahkan dua anak perempuan ribut yang menggemari bocah itu sudah lebih dahulu lewat dengan seragam Sekolah.
"Kecil-kecil aja udah pinter ngelanggar janji," gumam Retta kesal.
"Siapa?" tanya Zaim yang kebingungan melihat Retta.
"Anak SMP yang waktu itu, Kaillo. Dia bilang dia bakal balik ke sini buat beli kue. Nyatanya?" Retta bertambah kesal.
"Dia nggak pernah janji."
Dagu Retta mengerut. "Iya, sih. Tapi kan dia bilang dia bakal balik."
"Kenapa kesel? Kamu kangen dia?" Zaim menyunggingkan senyum setipis tisu.
"Ih." Retta menatap Zaim dengan raut kecut, tak percaya lelaki itu berpikir demikian.
"Nggak kenal, juga," lanjutnya.
"Kamu tahu namanya, artinya kamu kenal, dong."
"Nggaklah. Kenal itu berarti kita udah tahu nama, tempat tinggalnya, kepribadiannya, dan lain-lain. Kalau cuma sebatas tahu namanya, itu bukan kenal," koreksi Retta.
"Setidaknya kamu kenal mukanya."
Retta mengembuskan napas pasrah. Ia tak bisa menang semudah itu ketika beradu mulut dengan Zaim.
Benar juga kata Zaim, kenapa Retta harus kesal atas ketidakhadiran Kaillo? Lagipula anak itu bukanlah siapa-siapa, hanya sebatas bocah yang tidak sengaja singgah ke toko ini.
Namun, meski begitu, entah mengapa Retta tetap sebal. Ia merasa dikhianati dan dibohongi. Mungkinkah, pertemuan singkat itu telah membuat bekas yang tak terhilangkan pada hati Retta?
Retta tanpa sadar mengharapkan pertemuan ke dua dengan Kaillo. Mungkin saja gadis itu berniat lebih dekat dengan Kaillo dan menjadikannya sebagai Adik.
Sampai mereka pergi dari toko pun, Kaillo tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Kata Zaim, mungkin saja bocah itu tidak pergi ke Sekolah.
Retta dan Zaim berjalan bersama menuju Sekolah mereka. Jaraknya tidak terlalu jauh dan tak perlu membuang banyak waktu hingga sampai.
Dikarenakan telah mandi sebelum berangkat ke toko, Retta dan Zaim hanya perlu mengganti pakaian dan menyemprot parfum untuk Sekolah.
Setibanya mereka di sana, ada sesuatu yang mengejutkan terjadi. Salah satu pelakunya adalah Zahar. Dia menghantam seorang pria yang terlihat tidak asing di pandangan Retta dan Zaim.
__ADS_1
Separuh siswa laki-laki berupaya menghentikannya. Namun, tidak bisa. Tenaga Zahar sudah dikeluarkan sepenuhnya hingga ia sulit dicegah.
Ada sebagian lagi yang merekam sebagai bahan candaan untuk beberapa menit kemudian.
Retta dan Zaim selaku siswa tidak tahu apa-apa hanya diam tak bergeming menyaksikan itu hingga selesai.
Pada akhirnya, Zahar puas memukul dan meninggalkan sang korban-yang juga laki-laki-di tempat dengan keadaan wajah yang telah mendapat lebam di hampir seluruh bagian.
"Itu kenapa, sih? Kok, Zahar mukul orang itu?" Retta bertanya pada salah satu orang sekitar tanpa sepengetahuan Zaim.
"Ohh, itu. Jadi, pacarnya Zahar ketahuan selingkuh sama cowok yang luka-luka habis kena pukul itu."
"Zahar yang mergokin sendiri?" tanya Retta lagi. Kali ini Zaim sadar dan hanya menghela napas pelan sebab sahabatnya itu tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Iya. Katanya, sih, pacarnya Zahar langsung minta putus habis itu. Makanya Zahar marah banget," jelas gadis tidak dikenal itu dan Retta mengucap terima kasih seraya tersenyum karena telah menjawab pertanyaannya.
"Udah?" tanya Zaim ketika Retta melempar pandang padanya. Retta tersenyum dan mengangguk.
"Yaudah. Yuk, ke kelas!" Zaim membawa Retta menuju kelas dengan bergandengan tangan.
Tidak ada yang tahu Zahar ke mana. Yang pasti adalah hingga pelajaran dimulai, pria itu tidak menampakkan diri. Banyak yang menduga bahwa Zahar membolos demi menenangkan pikirannya yang tengah kacau.
Sebab itulah, Retta dan Zaim selalu berhati-hati agar tak pernah terlibat dalam masalah sekecil apapun.
🍰
Zahar memandangi lingkungan Sekolah bersih nan luasnya itu dengan raut seolah tak memiliki semangat dalam hidup.
Ia tak berniat bunuh diri, tetapi dia berani duduk pada pembatas atap bangunan tinggi ini. Hanya tinggal maju sedikit dan Zahar akan jatuh.
Angin meniup pelan rambutnya. Jidat terbukanya kini tertutupi poni yang setelahnya sengaja ia seret ke samping.
Tidak ada yang melihatnya di sini, tetapi para siswa tahu bahwa dia sedang ada di sini dan tak berani mengganggu.
Untuk sesaat, ia pikir menghilang dari dunia itu menyenangkan. Namun, ia sadar masih banyak orang yang harus ia balas perbuatannya.
Setelah kehilangan sang Nenek, Zahar merasa tidak ada lagi yang menyanginya dan orang-orang tercintanya perlahan menghilang.
Menyakitkan.
__ADS_1
Namun, bukankah seharusnya ia tak hidup seperti ini? Pikiran seperti itu terbesit dalam benaknya dan ia merasa terdapat secuil harapan yang menghampirinya.
Ya, yang dilakukannya saat ini salah. Membolos bukanlah hal yang tepat.
Zahar bangkit dari duduknya dan melompat menapak lantai dan bukannya tanah. Ia berlari keluar dari tempat ini menuju kelas.
"Kamu dari mana?" Guru laki-laki pengajar Biologi itu bersuara dengan nada lantang dan tegas.
Lantas perhatian para murid yang sibuk mengerjakan tugas teralih. Zahar hanya menunduk tak bergeming.
"Jawab!" titahnya.
"Dari atap, Pak." Zahar yang masih ada di depan pintu itu sepertinya tidak berniat disuruh masuk oleh Pak Biologi.
"Ngapain di sana?"
Zahar tidak bersuara selama lima puluh detik hingga Pak Biologi berseru, "Mulai hari ini, jangan ikut mata pelajaran saya lagi!"
"Iya, Pak." Setelah dengan berat berkata demikian, Zahar menjauhi kelas menuju tempat singgah sebelumnya.
Retta dan Zaim yang duduk bersebelahan meski berbeda meja itu hanya bisa bertukar kata dengan suara pelan.
"Kasihan, ya," iba Retta.
"Biarin aja," ujar Zaim yang mungkin masih menyimpan dendam pada pria itu.
"Ish." Retta menatap Zaim sinis.
Ia tahu, Zahar memang pembuat masalah dan Zaim pernah menjadi korban atas kenakalannya, tetapi haruskah ia berucap hal tak mengenakkan seperti itu?
"Jangan kayak gitu! Senakal-nakalnya orang juga pasti punya masalah." Retta membela. Zaim hanya ber "hm" mendengar tuturan itu tanpa adanya kepedulian.
Zahar kembali duduk ke tempat semula. Ia hanya perlu menunggu di sini sampai jam pelajaran Biologi selesai dan masuk ke kelas.
Hanya tersisa beberapa menit lagi. Untunglah pelajaran Biologi hanya berlangsung selama empat puluh lima menit, jadi ia tak perlu menunggu terlalu lama. Zahar amat mensyukuri hal itu.
Sepulang Sekolah nanti, Zahar berniat untuk pergi ke tempat lain dan bukannya rumah. Entah kenapa ia sudah sangat malas menatap wajah para penghuni rumahnya.
Soal tempat yang akan dikunjunginya nanti, akan ia pikirkan.
__ADS_1
Memori Shop.