Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Kakak-Adik


__ADS_3

08.00 am.


Tuk! Tuk! Tuk!


Bunyi sepatu menyeruak ke dalam rungunya dengan tempo cepat dan jelas. Benda itu tidak terlihat baru, justru sangat usang.


"Relio!" panggil seseorang dari arah berlawanan dengan jarak lima meter. Anak laki-laki yang tampak seperti Kaillo itu mendekat pada Relio.


Dan ternyata dia benar-benar Kaillo.


"Hai!" sapa Kaillo ramah. Senyuman tipis adalah satu-satunya balasan yang dapat diberikan lawan bicaranya.


"Kamu nggak pergi Sekolah?" tanya Kaillo. Pasalnya, anak di depannya ini tidak mengenakan seragam Sekolah sama sekali.


Mereka bukanlah teman satu Sekolah. Namun, takdir mempertemukan mereka secara tidak sengaja di suatu tempat yang membuat mereka memutuskan menjadi sobat.


"Aku ... mau ke toko kue," katanya ragu-ragu, berpikir bahwa Kaillo akan malu memiliki teman yang tidak niat Sekolah sepertinya.


"Aku lupa kalau kemarin ulang tahun Adik aku," lanjutnya bernada sendu.


"Oh, kemarin aku beli kue. Ini buat kamu." Kaillo menyodorkan kue dalam bungkusan yang belum tersentuh apapun.


"Kamu beli kue ini buat aku?" tanyanya memastikan seraya menerima sodoran kue dari Kaillo.


"Nggak. Sebenernya aku beli kue ini buat diri aku sendiri, tapi aku baru ingat kalau hari ini ulang tahun Adik kamu. Jadi, aku mutusin buat kasih kuenya ke kamu aja," jelas Kaillo.


Relio menerima penjelasan dari satu-satunya teman yang dia punya itu dengan baik, kemudian menunduk malu. Dalam hati ia merasa menjadi Kakak yang buruk karena tak mengingat hari ulang tahun Adiknya sendiri.


"Justru malah temanku yang ingat," batinnya kesal.


"Kenapa? Kamu baik-baik aja? Nggak perlu menyesal, itu kan nggak disengaja. Lagipula Antas pasti tahu kalau kamu sibuk kerja."


Yap, Relio bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan sang Adik sebab mereka tak punya siapa-siapa lagi.


Juga, Relio setahun lebih tua dari Kaillo karena dia sudah berada di bangku kelas satu Sekolah menengah atas. Namun, karena mereka berteman, jadi tak ada embel-embel 'Kakak' dalam panggilannya.


"Iya," sahut Relio. Ia tersenyum penuh makna kemudian memajukan tangannya, lebih tepatnya kue yang tadi diberikan.


"Makasih udah berbaik hati ngasih kue ini ke aku, tapi aku nggak bisa terima," katanya, lantas membuat kerutan di kening Kaillo.


"Kok, gitu? Kenapa? Nggak suka, ya?" Kaillo ingin tahu alasan di baliknya. Ia merasa tak enak jika temannya tidak menerima pemberiannya karena kurang suka.


Dalam hati, Kaillo bertanya-tanya apakah yang diberikannya saat ini tidak memenuhi persyaratan kue yang Relio inginkan? Jika begitu, artinya ia memberikan sesuatu yang bukan merupakan hal bagus. Ah, Kaillo pusing.


"Bukan gitu. Hanya ... aku mau beli kue buat Antas pake uang aku sendiri."

__ADS_1


Jujur, Kaillo lega.


"Gitu, ya." Kaillo akhirnya dapat mengambil kembali kuenya dengan hati yang tidak berat.


"Yaudah. Kalau gitu, aku ke Sekolah dulu. Oh ya, kirim salam buat Antas, ya. Mudah-mudahan umurnya lebih panjang dari pada kamu," kelakar Kaillo berniat mencairkan suasana. Relio hanya tertawa kecil.


"Bye!" Kaillo menepuk pundak Relio layaknya lelaki dan berjalan cepat melewatinya.


Relio melanjutkan langkahnya yang sempat tertahan beberapa menit menuju toko terdekat. Ia masuk ke dalam toko ingatan.


"Selamat datang di toko kami!" sapa Retta ramah.


Ketika melihat anak yang hampir seumuran dengan Kaillo, Retta menjadi waspada. Namun, dia tetap tidak melupakan tugasnya yaitu bersikap ramah.


"Ada yang bisa dibantu?"


"Eum ... kue yang harganya lima puluh ribu ada nggak, Kak?" tanyanya ragu-ragu, takut dipandang rendah oleh orang yang mendengar.


"Ada." Retta mengeluarkan daftar menu kue dan menunjukkan pada Relio.


"Ini daftarnya. Ini kue-kue yang harganya lima puluh ribu. Yang di bawahnya juga ada." Retta sibuk menerangkan, sementara Relio tengah berpikir apakah Adiknya-Antas-akan menyukainya atau tidak.


"Saya beli yang ini, ya." Pria itu menunjuk salah satu kue dan Retta mengangguk sebagai jawaban.


"Mau bungkus atau dimakan di sini?"


"Sebentar, ya."


Selagi menunggu proses pembungkusan, Relio mengedarkan pandangan ke punjuru toko dan tak sengaja mendapati Adiknya mengintip dari luar ruangan.


Anak bernama Antas yang ketahuan pun segera berlari menjauhi toko, tetapi tidak dengan gerakan gesit sang Kakak yang mengejar dan berhasil menangkapnya.


"Kenapa lari? Kakak udah beliin kamu kue. Yuk, masuk!" Relio menarik tangan Antas dan membawanya masuk ke dalam toko.


"Kak, nggak jadi dibungkus. Makan di sini aja."


"Ternyata mereka Adik-Kakak, ya?" batin Retta, rasa penasarannya terjawab.


Sekarang ia mengerti kenapa anak itu selalu mengintip ke dalam toko, dia ingin membeli kue tetapi tak punya uang. Saat inilah keinginan itu berhasil tercapai, meski bukan kue yang diidamkan.


Retta membawakan kuenya, lengkap dengan pisau dan dua piring. "Silakan!"


Ketika hendak berbalik, Retta tak sengaja mendengar perbincangan mereka.


"Maaf, Kakak lupa beli lilin."

__ADS_1


"Nggak apa-apa."


"Ini kue murah. Kalau Kakak punya uang lebih, di tahun depan Kakak beli yang lebih bagus dari ini."


"Ini aja udah cukup, kok. Makasih, Kak."


Hampir saja, air mata Retta terjatuh dari lubuk matanya. Ia berbalik dan menghampiri mereka.


"Kakak punya lilin ulang tahun yang udah dipake. Kalian mau?"


".... Bo-leh," balas Relio.


"Sebentar, ya." Retta berbalik guna mengambilkannya.


"Kamu mau ngapain?" Wafaa bertanya ketika Retta mencabut lilin yang dimaksud dari kue ulang tahun Pak Bread kemarin.


"Kamu mau ngasih itu ke mereka? Lilin bekas?" Wafaa memandang Retta tak percaya. Retta hanya diam tak bergeming di tempat menyadari kesalahannya.


Wafaa berdiri dari duduknya usai menggeleng atas kelakuan anak SMA yang belum labil itu dan mengambil beberapa langkah untuk memeriksa sesuatu di dalam laci. Dapat.


"Kasih ini ke mereka." Wafaa menyodorkan lilin ulang tahun tersebut dan lantas menerbitkan senyuman bahagia pada bibir Retta.


"Makasih, Kak!" Ia tersenyum penuh arti pada Wafaa dan hanya dibalas "Hm." oleh sang empu.


Retta melangkah antusias mendekati meja Kakak beradik itu. "Nih, Kakak punya yang baru."


Relio mendongak, memandang Retta dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan. Seperti bahagia, terharu, dan sedih bercampur menjadi satu. Ia menerimanya dengan baik dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Jangan terima kasih ke aku, tapi ke Kakak yang itu." Retta menunjuk Wafaa yang menoleh sekilas padanya tanpa ekspresi, kemudian atensi gadis itu kembali ke titik awal, yaitu ponsel.


"Makasih banyak, Kak!" ungkap Relio mengeluarkan rasa syukurnya.


Sang Adik hanya terdiam tanpa mengucap sepatah kata pun dari mulutnya. Ia hanya menunduk, entah apa yang terus melintasi pikirannya.


Wafaa tak membalas ucapan itu hingga Retta-lah yang menyahut. Ia kemudian berbalik dan kembali pada tempatnya.


Sedetik kemudian, pintu ruangan Pak Bread terbuka. Kedua tangannya ia gunakan untuk menopang nampan berisi roti yang telah siap saji. Dapat terlihat dari asap yang mengepul di atasnya, roti tersebut baru saja matang.


Retta segera memeriksa tempat penyimpanan roti mereka. Benar dugaannya, stok roti Habread sudah habis. Dan kebetulan, Pak Bread membawa dua di atas nampan, pas sekali dengan jumlah pelanggan pertama mereka hari ini.


"Berikan ini pada mereka!" titah Pak Bread. Retta tahu, Pak Bread akan mengatakan itu. Sebab itulah ia tersenyum riang dan mengambil alih nampan tersebut.


Wafaa telah mengetahui semuanya, termasuk keajaiban roti Habread. Sejujurnya, ia tak pernah sepenuhnya percaya. Namun, ia berpura-pura sebab Ayahnya-lah yang berbicara.


Ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan semuanya.

__ADS_1


Memory Shop.


__ADS_2