
"Terus, sekarang kamu mau ke mana?"
"Aku juga nggak tahu harus ke mana, makanya aku ke sini," sahut Serena bernada sendu.
Retta mengembuskan napas lelah. Bukan pekerjaan, tetapi keadaan inilah yang membuatnya lelah.
"Aku nggak tahu harus gimana?"
"Kamu nginep di rumah aku aja," saran Retta.
"Emang boleh?"
"Boleh, kok. Nanti aku bakal izin sama orang tua aku."
"Makasih, Ret!"
"Iya sama-sama. Eh, tapi kita pulangnya nunggu toko tutup dulu, ya?"
"Iya, nggak apa-apa." Timbul perasaan bahagia sebab ia tak perlu lagi khawatir soal hari esok. Ponselnya mati saat ini, sengaja ia lakukan agar tak perlu lagi menerima pesan atau panggilan dari sang Ayah.
Ibu? Serena tak punya. Dia tidak memiliki Ibu maupun saudara karena keduanya telah meninggal ketika ia masih balita.
Serena hanya punya Ayahnya.
Retta menjauhkan diri dari Serena dan kembali ke tempatnya kala seorang pelanggan mendatangi toko. Serena yang tak punya kegiatan apa-apa itu menaruh kepalanya di atas meja, memandangi jalan gelap Jakarta serta orang yang berlalu lalang.
Tanpa sadar, kelopak matanya mengatup. Serena ketiduran.
Setelah melayani pelanggan yang berhasil menemukan kue incarannya, Retta beralih fokus pada Serena yang sudah tak sadarkan diri di tempatnya.
Retta tak berniat membangunkannya. Mungkin ini adalah cara Serena mengistirahatkan diri dari setiap masalah yang dihadapi.
Tidak ada lagi pelanggan yang datang berkunjung setelahnya. Bahkan tadi adalah pelanggan pertama sejak dimulainya aktivitas toko.
Sekarang pukul delapan tepat. Saatnya mengubah tulisan 'open' menjadi 'closed' di pintu masuk toko yang terbuat dari kaca.
"Bangunin dia!" Zaim mengingatkan Retta. Oh ya, Retta tersadar bahwa Serena masih tertidur pulas.
"Tidak perlu," celetuk Pak Bread. Apa maksudnya itu? Apa pria itu ingin mereka meninggalkan Serena sendirian di toko?
"Tidak perlu bangunkan dia. Biarkan saja!" ucapnya enteng.
"Kenapa? Aku udah bilang sama dia kalau dia bakal nginep di rumah aku." Retta tak bisa membiarkan itu.
"Dia akan bangun keesokan harinya ketika kita membuka toko," kata Pak Bread, "Dia terlihat nyenyak saat tidur. Biarkan saja dia. Bahkan dia masih bisa tidur dengan nyaman meski kita bicara di dekatnya."
Meski ada sesuatu yang tidak biasa dalam hatinya, Retta tetap menuruti perintah si bos dan pulang bersama Zaim. Lampu toko dimatikan begitu saja dan Serena dikunci dari luar oleh Pak Bread.
Pak Bread pun berbalik menuju rumahnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah bahkan sampai pada waktunya tidur, Retta dihantui rasa gelisah. Banyak timbul pertanyaan dalam benak yang mencemaskan hatinya.
Bagaimana jika Serena terbangun pada tengah malam? Bagaimana jika dia ketakutan dan menangis? Bagaimana jika ... ada sesuatu yang merayap di lantai? Oh tidak, yang terakhir itu tidak mungkin ada. Retta yakin.
Namun, dengan semua kekhawatiran itu, dia sama sekali tak dapat membantu apa-apa. Ia jadi menyesal karena telah meninggalkan Serena sendirian di sana.
"Aku harap dia baik-baik aja," gumamnya, lalu perlahan menutup mata dan berusaha tertidur.
Toko ingatan buka jam delapan pagi. Sebelum ke sana, Retta dan Zaim harus melakukan rutinitas mandi. Hari ini adalah hari Minggu, jadi mereka dapat bekerja penuh waktu.
Besok pada hari senin, Retta dan Zaim berganti jadwal masuk Sekolah. Jika minggu lalu mereka masuk pagi dan pulang siang, maka mulai besok mereka akan Sekolah siang dan pulang sore.
Zaim selesai pertama dan lantas mengetuk pintu rumah Retta dengan niat menjemput.
Awalnya ia kira yang akan membuka pintu adalah Ibu atau Ayah Retta, ternyata Retta sendirilah dengan tampilan siap berangkat.
"Tumben cepet." Zaim tersenyum menggoda. Retta hanya tertawa kecil. Tidak peduli itu pujian atau bukan, ia tetap senang.
"Oh ya, kamu udah ngasih tahu orang tua kamu soal kerja paruh waktu itu?"
"Udah," sahut Retta enteng.
__ADS_1
"Terus, gimana reaksi mereka?"
"Biasa aja. Mereka malah seneng waktu aku ngasih tahu jumlah gajinya." Zaim hanya membulatkan mulutnya seraya mengangguk samar.
"Kamu?"
"Udah. Yah, mereka setuju walaupun awalnya aku dinasehatin," ungkap Zaim dengan senyum tipisnya.
Retta tertawa kecil. "Nggak apa-apa, yang penting diizinin."
"Yaudah, yuk!" ajak Retta penuh senyuman.
Mereka pun berangkat bersama. Setelah teringat Serena, Retta memutuskan untuk menggesitkan langkah. Zaim hanya mengikuti tanpa banyak protes. Ia paham bahasa tubuh Retta yang menandakan adanya kecemasan.
Setelah sampai, untunglah apa yang dipikirkan Retta tadi malam itu tidak benar. Namun, Pak Bread belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya.
Setelah menilik jam tangan milik Zaim, ia paham bahwa mereka mungkin tiba lebih awal dari apa yang dikatakan Pak Bread sebelumnya.
Mereka menetapkan akan menunggu Pak Bread di depan toko. Ada semacam dua anak tangga kecil di sana. Menit kemudian, Pak Bread datang dengan pakaian yang sama seperti sebelumnya. Ia pasti punya banyak pakaian seperti itu di rumahnya.
"Pas," gumam Zaim seraya menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 08.00 am.
Pak Bread memutar kunci dan terdengar sedikit bunyi. Retta masuk dan menyalakan lampu bersamaan dengan Zaim yang menggerakkan tubuh Serena.
Namun, Serena tak berniat bangun.
"Serena, bangun!" Retta berkata seraya menghampiri Serena, tetapi anak itu tak kunjung bangun juga hingga Retta mengguncang tubuh Serena dengan kuat.
"Apa, sih?" Karena tidak sadar, ia menggertak Retta dan matanya membelalak seketika sebab merasa bersalah.
"Eh, aku nggak tahu. Aku pikir tadi aku ada di rumah. Sorry banget!" Serena menggenggam lengan Retta dan menunduk padanya. Ia bangkit dari posisinya dan memeluk korban kebiasaannya dengan tulus.
"Nggak apa-apa."
Retta meregangkan pelukan mereka dan menyusul Zaim yang telah lebih dahulu menjalankan pekerjaannya.
Serena bangkit dan menelusuri seluruh isi etalase. Ia sadar bahwa kemarin ditinggalkan sendirian di toko ini, tetapi sepertinya gadis itu tidak merasa kesal. Mungkin karena tak ingin merepotkan Retta.
Apa dia mampu membelinya? Tentu, tetapi untuk kemarin. Sekarang ia tak punya uang untuk membayar, perutnya juga berbunyi karena lapar.
"Kamu mau kue itu?" Bukan Retta atau Zaim, melainkan Pak Bread-lah yang bertanya.
Serena mengangguk sekejap, kemudian menunduk sendu. "Nggak punya uang."
".... Retta, tolong ambilkan kue tar cokelat itu untuknya!"
Untuk sekejap, Retta berpikir bahwa ternyata Pak Bread sebaik itu, ya. Ia menjalankan perintah.
"E-eh, nggak usah." Serena menggeleng cepat sebagai penolakan karena tidak enak mengambil barang gratis.
"Kau bisa membayarnya nanti," pungkas Pak Bread sebelum menghilang ke belakang.
"Oh iya." Betapa malunya Serena menganggap pria itu akan memberinya kue gratis. Ia hanya menunduk sembari tersenyum kikuk. Meski begitu, ia amat berterima kasih karena saat ini diberi makanan.
"Silakan!" Retta meletakkan kue itu di hadapan Serena dengan senyum mekar seakan Serena adalah pelanggan terhormat.
"Terima kasih!" Begitu pula sebaliknya.
Dengan pisau plastik yang tersedia, Serena mulai memotong dan mencicipi kuenya. Dia sangat senang. Entah kenapa rasanya ingin menangis.
Setelah menyalakan ponselnya yang telah mati semalaman, Serena mendapati dua ratus panggilan tak terjawab dan 50 pesan yang menanyakan keberadaannya.
Wah, pasti Ayahnya cemas sekali.
Dan ... Serena mendapati panggilan ke dua ratus satu pada ponselnya detik ini. Penelepon adalah orang yang sama.
Ia memutuskan untuk menolak panggilan itu dan kembali mendekatkan kue pada indra pengecapnya.
Panggilan ke 202 masuk. Diabaikan.
Panggilan ke 203 masuk. Diabaikan.
__ADS_1
Panggilan ke 204 masuk. Diabaikan.
Panggilan ke 205 masuk. Diblokir.
Baiklah, sekarang ketenangan mendatanginya.
Pak Bread menyembulkan kepalanya dan menyuruh Retta membawakan roti yang menjadi tujuannya bekerja di sini.
Retta mengangguk dan meninggalkan tempatnya. Ia menuju bagian penyimpanan tersembunyi yang telah Pak Bread beritahukan.
Ada dua jenis roti di sana, roti yang mereka ketahui dan roti berbentuk panjang yang masih belum jelas asal-usulnya.
Retta mengangkat dan menerbangkan roti yang dimaksud Pak Bread ke meja Serena.
"Ini apa?" Serena bertanya.
"Roti."
"Bukan, maksudnya kenapa roti ada di sini? Kan ini toko kue. Aku juga nggak mesen roti." Serena memperlihatkan raut herannya.
"Ini hadiah," jelas Retta mengedipkan sebelah matanya pada Serena.
"Hadiah buat?"
"Udah, makan aja," kata Retta sebelum berbalik meninggalkan meja.
"Oh ya, jangan lupa baca perintahnya, ya." Retta menoleh kembali hanya untuk memperingati. Setelahnya ia benar-benar kembali ke tempat.
"Perintah?" Serena memperhatikan roti di hadapannya dengan saksama. Ia mendapat sebuah kertas perintah di atas tusukan kayu kecil yang terhubung dengan roti.
"Pikiran orang yang paling kau sayangi!" Setelah membaca, bola mata Serena naik ke atas, memikirkan siapa orang yang paling dia sayangi.
Kehidupannya sudah terlalu suram hingga hampir tidak ada orang baik yang berani menghampiri hidupnya.
Tunggu! Rei? Oh, tidak. Meski lelaki itu disuruh Ayahnya untuk putus hubungan, setidaknya ia harus menelepon atau mengirim pesan untuk memberi kabar. Serena pikir, pacarnya itu hanya berpura-pura agar dapat menghindari amarah sang Ayah.
Nyatanya tidak.
Ayahnya mungkin adalah seorang pengatur hidup yang handal dan menyebalkan, tetapi Serena tidak dapat menutup fakta bahwa ia amat menyayanginya.
Ayah adalah pilihan yang tepat.
Serena mengambil secubit roti dan melahapnya pelan.
"Eh?" gumamnya refleks. Ada sesuatu yang terputar di kepalanya sekilas, kemudian menghilang bagai angin lalu bersamaan dengan ditelannya roti di mulut Serena.
"Apa itu?" Netranya membelalak bingung sekaligus kaget. Sulap? Sihir? Hanya itu yang terbayang dalam pikirannya.
Ia mengambil keseluruhan roti dan memakannya. Namun, yang terjadi setelahnya menyebabkan Serena syok berat.
Apa ini? Kenapa tiba-tiba Serena menyaksikan hal yang tak pernah dirasakannya sebelumnya?
Ayahnya yang merupakan seorang CEO itu menggendongnya penuh sayang dari ranjang bayi rumah sakit. Air mata pria itu menetes, kala senang dan sedih bercampur secara bersamaan.
Ibu Serena yang terbaring di ranjang rumah sakit telah kehilangan nyawa, sementara anak yang telah ditunggu-tunggunya sejak lama datang ke dunia.
Serena dapat mengingat kembali momen-momen terlupakan atau yang tak mampu ditampung lebih lama dalam pikirannya.
Ketika ia terjatuh dari sepeda dan kemudian disuruh bangkit oleh Ayahnya.
Ketika dia diajari Ayahnya menyebut kata 'Bunda' dan 'Ayah'.
Ketika ia bermain bersama Ayah.
Dan ... bahkan saat-saat di mana dirinya tumbuh perlahan-lahan dengan baik di bawah pengawasan tegas sang Ayah.
Serena dapat merasakan semuanya melalui bayangan ini. Ingatan yang tidak pernah dikenalnya muncul terus-menerus seiring dengan kunyahan roti.
Meski sadar bahwa dirinya menangis, air mata itu tak dapat dia kendalikan dan terus jatuh bagaikan hujan yang mengguyur bumi.
Memory Shop.
__ADS_1