
Tuk!
Kedua anak yang baru selesai merayakan ulang tahun itu saling memandang bingung kala menatap kedatangan Retta dengan nampan roti di tangannya.
"Ini hadiah," ucap Retta untuk yang ke sekian kalinya pada pelanggan berbeda.
Memandang raut kedua bocah yang sama sekali tidak menampilkan kebahagiaan itu membuat Retta tertawa gemas, kemudian berujar, "Nggak semua orang bisa dapet hadiah ini, lho. Seharusnya kalian senang karena kalian adalah orang beruntung yang terpilih."
Tidak ada perubahan ekspresi. Lantas Retta kembali berucap, "Tenang aja. Nggak perlu bayar, kok."
"Oh ya, pikirin orang yang paling kalian sayang sebelum makan rotinya."
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Lakuin aja, nanti juga tahu sendiri, kok."
Karena tak begitu acuh, Relio mengangguk dan menunduk sekilas kemudian ungkapan terima kasih terlontar dari mulutnya. Retta dengan senang hati kembali ke tempat setelah membalas ucapan itu.
Relio memandang sebentar roti tersebut. Timbul sesuatu dalam benaknya yang mengatakan bahwa dia dan Adiknya saat ini tengah dikasihani, sebab itulah diberikan roti gratis.
Namun, ia segera menyingkirkan pikiran itu.
"Makan aja rotinya. Makan punya Kakak juga kalau perlu." Selaku Kakak, Relio merasa bersalah karena tak dapat memberikan kado yang bagus kepada Antas. Jadi, ia menyerahkan rotinya kepada sang Adik sebagai hadiah kecil.
"Nggak. Kita makan sama-sama rotinya."
Antas menggenggam Habread, memperhatikannya sekilas. "Rotinya kelihatan enak," tambah anak itu.
Ia mengambil satu gigitan usai memikirkan seseorang dengan netra tertutup, sementara atensi Relio terpusat penuh pada satu roti di hadapannya. Kemudian, ia mengembalikan pandangan kala mendengar suara isakan.
Ia panik mengetahui Adiknya telah berderai air mata. Ia segera mempertanyakan tindakan itu seraya mengguncang tubuh si Adik dengan pelan.
__ADS_1
Sesaat ketika Antas berhenti mengunyah, netranya terbuka dan memandang sang Kakak penuh sendu kemudian berkata dengan air mata yang tak kunjung berhenti turun.
"Kak, rotinya enak. Hiks! Rotinya enak ...."
Relio kian membingung akan penuturan Antas. Seenak-enaknya makanan, tak mungkin seseorang akan sampai menangis saat mengetahui rasanya. Aneh sekali.
Tangis anak itu makin menjadi-jadi ketika ia menggigit lagi bagian roti yang hanya tersisa setengah. Rasa penasaran bergejolak dalam diri Relio, berniat ikut menikmati enaknya roti seperti yang dikatakan sang Adik.
Sementara itu, Wafaa hanya duduk termangu menyaksikan pemandangan tersebut. Retta dan Zaim tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, terbiasa akan hal yang tengah terjadi.
Tiba-tiba ....
Set!
Relio membelalak lebar kala secubit bagian roti mendarat dan menyentuh indra pengecapnya. Lantas, ingatan itu timbul, membuatnya tertegun.
Setitik cairan bening asin tanpa sadar mengalir dari netranya, langsung jatuh tanpa turun ke pipi. Sementara itu, Antas masih terisak di tempat, belum menyadari efek roti yang dimakannya.
Relio segera menyadarkan diri dan beranjak menghampiri gadis yang sebelumnya mengantarkan roti ke meja mereka.
"Itu ... roti."
"Maksudnya apa yang terjadi sama roti ini? Kenapa saya dapat mengingat masa lalu saya dengan orang tua saya?" Pria dengan tinggi badan 150 cm itu meminta penjelasan.
"Keajaiban roti."
Jawaban Retta membuatnya mengernyit. Apa maksudnya? Apa roti ini adalah roti ajaib? Melihat raut wajah yang ditunjukkan, lantas Retta melanjutkan penjelasannya.
"Roti ini dapat membuat seseorang yang memakannya teringat pada masa lalu menyenangkan. Oleh sebab itu, saya menyuruh kalian untuk memikirkan orang yang paling kalian say-"
"Tapi, bagaimana bisa?" selak Relio cepat.
__ADS_1
"Roti ini memang seperti itu. Terserah masing-masing orang ingin percaya atau tidak."
"Apa roti ini ada banyak? Bagaimana cara membuatnya?" Tidak disangka, Relio akan mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Saya tidak tahu. Saya bukanlah pembuatnya. Tapi satu catatan yang perlu kamu tahu, roti ini hanya bisa bisa dimakan satu kali dengan efek yang sama," ungkap Retta.
"Apa? Maksudnya kita hanya bisa merasakan keajaiban roti pada percobaan pertama?" Retta mengangguk, membuat Relio makin syok.
Ia hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Masih banyak orang-orang tersayang lain yang ingin ia ingat kenangannya, tetapi malah jadi begini.
"Kalau begitu, bisakah saya meminta untuk membungkus roti ini?"
Retta menggeleng. "Roti itu tidak akan bekerja bila dimakan di luar ruangan ini."
Relio tertunduk seraya meremas rambutnya. Kakinya melemas hingga menyebabkannya bersimpuh di atas lantai.
Ia menatap nanar roti di genggaman tangan kanannya dan mengembuskan napas frustrasi untuk yang ke sekian kalinya.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menghabiskan roti itu di sini.
Ia mengambil gigitan besar, mengunyahnya perlahan seraya merasakan nikmatnya roti dan ingatan tentang kedua orang tuanya.
Air matanya mengalir, membanjiri pipi dan membasahi bajunya. Ia tak kuat menahan rasa rindu pada kedua orang berarti itu hingga isakan pun dimulai.
Sakit, sesak, dan segala perasaan tak terjelaskan lain kini menyatu dalam emosinya.
Di sela-sela tangisan yang kian mengencang, ia merasakan sentuhan hangat yang mendekap dari belakang, menaruh dagu pada kepala anak laki-laki ini dan meneteskan air matanya di sana.
Relio tahu bahwa itu adalah Antas. Ia tak membuka netranya sesaatpun, memutuskan untuk terus mengunyah dan berpusat pada ingatan yang sempat terlupakan.
Ia terus menangis, menumpahkan segala kesedihannya, tak peduli apabila orang-orang yang ada di ruangan ini terus memperhatikan.
__ADS_1
Relio merasa tenang. Ia hanya ingin mengistirahatkan rasa lelahnya dengan memandang wajah kedua orang tuanya kembali ... meski hanya sebatas dalam ingatan.
Memory Shop.