
"Saya ingin kerja paruh waktu di sini!"
Retta berdiri dan melangkah menuju pak Bread, tetapi ada sesuatu yang mencengkeram lengannya.
"Kamu serius? Buat apa?" tanya Zaim penasaran.
"Nanti aku jelasin." Retta tersenyum dan perlahan meregangkan sentuhan mereka. Ia lanjut melangkah hingga dapat melihat wajah tampan Pak Bread dengan jelas.
"Tidak. Saya tidak menerima pekerja paruh waktu. Saya hanya-"
"Tolong izinin saya kerja di sini sampai Bapak dapat pegawai penuh waktu," pinta Retta memohon.
Pak Bread menghela napas pasrah.
"Jika tujuanmu adalah menemukan cara mengembalikan efek kuenya, itu tak akan pernah berhasil."
"Iya, saya ingin bekerja di sini karena saya mau." Retta tak lupa melengkungkan sudut bibirnya.
Zaim tak tahu jalan pikiran gadis itu. "Saya juga ingin bekerja di sini." Akhirnya ia juga memutuskan ikut.
"Baiklah." Pak Bread telah memutuskan. "Lima juta sebulan jika kalian bisa membagikan brosur dan menarik pelanggan agar datang ke sini."
"Em, baiklah." Retta setuju-setuju saja. Bagaimana dengan Zaim yang berasal dari keluarga kaya? Akankah ia rela kepanasan demi bekerja?
"Iya, kita sanggup bagiin brosur. Kami bakal pastiin toko ini rame pelanggan." Zaim memutuskan pada akhirnya.
Namun, sepertinya tidak. Justru hasilnya tak berjalan baik. Aksi memang tak semudah kata-kata, ya.
"Pak, ada toko kue yang baru buka di sana ...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Zaim langsung ditolak mentah-mentah.
Sudah sekitar tiga puluh menit mereka berdiri di ujung penyebrangan ini dan tidak ada perubahan. Brosur yang seharusnya sampai ke tangan orang-orang, kini masih ada pada genggaman mereka.
Pak Bread mengintip mereka yang terus berusaha meski tak berhasil. Ia tersenyum tipis lantas kembali masuk.
Zaim sekarang menyesal karena telah percaya diri tadi. Retta juga hampir mati kepanasan. Huh, sudah lama tidak turun hujan semenjak memasuki tahun 2023.
"Retta, kenapa pengen kerja di sana, sih?"
"Mau makan roti itu," balas Retta tanpa beralih fokus dari orang yang ingin ia berikan brosur.
"Kan udah dibilangin nggak ada lagi efeknya." Huh, ia pikir sahabatnya ini punya alasan lain yang lebih baik, tetapi ternyata sama saja dengan yang ada di pikirannya.
"Bisa. Pasti bisa. Gue yakin setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," kata Retta enteng.
"Terserah, deh."
Mereka terus mencoba tanpa henti hingga lima belas menit kemudian. Lalu mendengar suara dari Pak Bread yang menyuruh mereka kembali ke toko.
Akhirnya penderitaan mereka berakhir. Dengan senang hati, mereka berlari menghampiri Pak Bread yang sudah tak terlihat lagi wujudnya.
"Capek?" tanya Pak Bread kala ketiganya berhadapan.
Mereka menggeleng spontan dan Retta menjawab, "Panas." sebagai perwakilan dari keduanya.
Mata Pak Bread turun memeriksa brosur yang hanya sedikit berbeda dari awal ia memberikannya.
"Kalian diterima."
__ADS_1
Zaim dan Retta saling melempar pandang tak percaya. Padahal kerja keras mereka tak membuahkan hasil, tetapi Pak Bread tetap menerima mereka?
Hebat sekali.
"Kenapa kita diterima?" tanya Zaim menyelidik.
"Kalau kalian tidak mau ...."
"Eh, mau." Retta menyela gesit sebelum menyikut lengan Zaim.
"Yasudah, kalian bisa mulai bekerja hari ini."
"Baiklah, terima kasih!"
Mereka sekarang benar-benar seperti pelajar berkekurangan yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Setelah mendengar penjelasan tentang apa yang harus dilakukan dari Pak Bread, mereka akhirnya mengerti dan memulai tugas masing-masing.
Varetta bertugas melayani pelanggan sementara Zaim sebagai kasir yang mengatur keuangan. Pak Bread terlalu berani.
Apa yang dilakukan Pak Bread? Ia membuat kue. Terdapat ruang khusus pembuatan kue di belakang, yang mana hanya bisa dimasuki oleh dirinya sendiri.
Pak Bread juga telah melarang anak-anak itu dan memberikan serangkaian peraturan terhadap mereka yang harus dipatuhi. Jika tidak, mereka akan dikeluarkan dari tempat ini.
Tiga puluh menit berlalu. Ya, banyak orang yang berlalu lalang di luar tetapi tidak satu pun memandang ke sini seolah bangunan ini tak terlihat.
Jujur, Retta dan Zaim bosan.
Ting! Tong!
"Oh? Zahar?" Retta menaikkan alisnya mengetahui pria yang dikenalnya ada di sini.
Pria itu menjengkelkan, terlihat dari ekspresi yang ia pasang.
"Kalian di sini? Kalian kerja?" Jelas, dia berniat mengejek.
"Zaim? Ini kamu? Ayah kamu tahu?"
Zaim hanya menunduk kesal berharap Zahar segera menghilang dari bumi.
"Wah, keren!" Ia menyeringai senang sembari berkacak pinggang.
Ia melangkah maju seraya melihat-lihat kue yang ada. "Di sini sepi, ya."
"Zahar, jangan bikin kekacauan, deh." Retta kesal, entah apa lagi yang terlintas dalam benak pria ini. Retta harap dia tidak berniat mencari masalah.
"Aku cuma penasaran, soalnya tadi aku dikasih tahu sama temen kalau ada temen sekelas aku lagi bagiin brosur."
Serius, dia ke sini hanya untuk itu? Menyebalkan sekali.
"Rasa penasaran gue terjawab." Zahar berbalik, melontarkan kalimat perpisahan dan keluar dari ruangan.
Untunglah Pak Bread sibuk di belakang. Mereka berdua tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Zahar jika Pak Bread mendengar ucapan tadi.
Entah karena dunia ini sempit atau sebuah kebetulan yang ditakdirkan tuhan. Beberapa menit setelahnya, datanglah Serena yang merupakan siswa di Sekolah dan kelas yang sama.
Ting! Tong!
__ADS_1
"Hai!" sapanya ramah. Zaim dan Retta rasa ucapan selamat datang tidak diperlukan.
"Aku dengar kalian kerja di sini, ya. Wah, hebat," ujarnya dengan senyum menawan.
Gadis dengan tinggi badan 167 cm itu tentunya datang bukan hanya untuk berbasa-basi. Tampilan kaya-nya akan meyakinkan orang bahwa ia datang dengan tujuan yang jelas.
"Iya, mendadak kepengen kerja." Oh ayolah, jawaban konyol macam apa yang Retta lontarkan itu?
"Kalian mau mulai belajar mandiri, ya." Dia tersenyum manis.
"Oh ya, aku mau beli-"
Sesuatu bernada merdu bersuara dari dalam ransel hitam Serena. Serena buru-buru mencari ponselnya, takut yang menelepon adalah sang Ayah.
Ternyata ketakutan itu menjadi kenyataan. Mau tidak mau ia harus mengangkatnya.
"Halo!"
"Kamu di mana? Kok, belum pulang?" Ayahnya terdengar marah.
"Lagi di rumah temen, Pah. Ngerjain tugas."
Bisa berbahaya bagi dirinya sendiri jika harus berkata jujur. Retta dan Zaim pun tampak tak terkejut mendengar hal itu. Mereka pastinya sudah tahu.
Sama seperti Retta dan Zaim, Serena juga belum mengganti seragamnya. Yap, toko kue ini tidak menyediakan seragam khusus pekerja, jadi Retta dan Zaim bebas mau pakai apa saja.
Sebagian orang mungkin akan berkata, "Sekolah satu hari".
Sang Ayah lantas menyuruh Serena pulang ke rumah dengan tegas. Sepertinya proses pembelian kue tidak akan berlanjut, untung saja ia belum sempat memesan.
"Aku pergi dulu, ya Retta"
Retta mengangguk tanpa perlu penjelasan. Zaim diam bukan berarti tidak peduli, dia menyimak seluruh pembicaraan, kok.
"Zaim." Zaim hanya mengangguk dengan lengkungan tipis di bibir. Setelah berpamitan, Serena berlari kecil keluar ruangan.
🍰
"Kenapa pulang Sekolah nggak langsung pulang?" Serena berdiri menunduk, bersiap menghadapi wawancara dadakan yang dilakukan sang Ayah.
"Tugas banyak, Pah. Jadi-"
"Pulang dulu! Ganti baju, izin sama Papa baru pergi!" Serena sungguh merasa terintimidasi akibat suara tinggi sang Ayah.
"Iya, Pah. Maaf!"
Serena sama sekali tidak berbohong sebenarnya. Dia pergi ke rumah teman terdekatnya guna mengerjakan tugas dan ketika selesai ia pergi ke toko kue untuk membeli kue.
Ia hanya sedikit berbohong tentang letak keberadaannya.
"Masuk kamar, ganti baju, makan, terus belajar!" Tidak ada yang berani membantah titahan pria paruh baya itu, termasuk Serena.
Serena pun bergerak gesit sebelum Ayahnya mengatakan hal-hal tidak diinginkan yang akan membuatnya menderita hingga bulan-bulan ke depan.
Tidak diberi uang jajan misalnya.
Memory Shop.
__ADS_1