
10.00 am.
Ketika Retta tengah melamun karena tidak ada pengunjung, Wafaa yang duduk di sampingnya berceletuk kepadanya.
"Sejak kapan kalian kerja di sini?" tanyanya dengan senyum ramah.
"Belum lama. Beberapa hari yang lalu." Retta tampak malas meladeninya. Ah, bukan. Dia hanya bosan dan tidak bersemangat.
"Hari-hari sebelumnya juga kayak gini?"
"Apa?" Lantas Retta bertanya balik sebab tak mengerti topik tentang apa pertanyaannya. Pandangannya tak tertuju pada Wafaa, melainkan pada lantai.
"Sepi pengunjung."
"Iya, emang selalu kayak gini, kok. Jangan heran!" balasnya.
"Oh, iya. Jangan ngomong sembarangan dalam toko ini. Pak Bread tahu apa yang kita omongin." Retta menambahkan dan Wafaa hanya mengangguk.
Gadis itu hari ini mengenakan kacamata, sementara kemarin tidak. Ia mendadak terdiam, tampak memikirkan sesuatu yang mengganjal hatinya.
Pandangan Retta beralih pada jalanan kota yang ramai. Kelihatannya panas, ia jadi malas Sekolah hari ini. Bisakah dia absen?
Retta menemukan titik fokus yang sedikit mengejutkan. Seorang anak laki-laki mengintip ke dalam sini.
Lantas Retta mengangkat kepalanya yang sedari tadi setia berdekatan dengan meja. Sang bocah yang merasa diperhatikan pun membulatkan matanya dan memutuskan menghilang dari sana.
__ADS_1
"Apa itu? Kenapa dia lari?" gumam Retta mengerutkan dagunya.
"Mungkin dia malu," sahut Zaim yang tampak memperhatikan juga.
"Omong-omong, kalian pacaran udah lama?" celetuk Wafaa setelah sadar dari lamunannya.
".... Udah," jawab Retta.
Wafaa tersenyum miris. "Aku nggak pernah pacaran karena nggak ada orang yang suka sama aku," ungkapnya seraya menunduk. Lantas Retta iba dan refleks mengusap punggung gadis itu.
"Pacaran itu menyenangkan, ya? Aku nggak pernah ngerasain," lanjutnya, terlihat sedih.
"Nggak apa-apa. Pacaran menyenangkan kalau pasangan kita sehat, tapi kalau nggak sama aja nyari penyakit." Retta mengingat kembali kejadian buruk yang menimpanya waktu itu, kemudian membuang napas.
Ting!
"Yes, libur!" gumam Retta dengan segenap kebahagiaan.
Ia bergembira sendiri sementara Zaim hanya bisa tersenyum melihatnya. Ia juga senang sebenarnya, tetapi tersenyum adalah satu-satunya cara baginya untuk mengekspresikan kebahagiaan.
Keadaan toko setelahnya baik-baik saja. Untuk pengunjung ... netral. Tidak banyak dan tak sedikit.
Juga, sudah lama mereka tidak menemui pelanggan yang memakan roti Habread.
Tidak ada cara untuk mengetahui apakah pelanggan itu butuh atau tidak, tetapi Pak Bread-lah yang menentukan.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, hanya si pemilik toko itu yang tahu.
Kondisi Retta dan Wafaa membaik. Mereka jadi lebih akrab dan banyak bertukar cerita selama tidak ada pelanggan.
Zaim yang merupakan pria satu-satunya di sana hanya menyimak pembicaraan mereka, dia juga sesekali menambahkan jikalau ada pembahasan yang menarik perhatiannya.
Tidak ada kejadian apapun yang mengagetkan hari ini, anak kecil yang tadi mengintip juga sudah tak terlihat lagi.
Sekarang pukul 19.59 pm, waktu yang tepat untuk menutup toko. Namun, hebatnya, hujan turun hari ini.
"Keren," gumam Retta seraya mendongak menatap hujan yang jatuh membasahi jalanan. Orang-orang sekitar mulai berlarian panik dan mencari tempat berteduh.
Ini adalah hujan pertama yang turun semenjak memasuki tahun 2023.
Tulisan di pintu toko yang awalnya 'open' berubah menjadi 'close' pertanda tutup. Di tengah-tengah kebahagiaan, ada juga kecemasan yang dipikirkan Retta dan Zaim sebab tak membawa payung.
Pak Bread masih belum keluar dari ruangannya. Dan Wafaa ....
Retta menoleh ke belakang dan tak mendapati siapa-siapa. Kemudian ia mendengar sesuatu dari mesin kasir.
Ia maju perlahan tanpa menimbulkan suara. Tahu apa yang Retta lihat? Yap, Wafaa.
"Apa yang kamu lakuin?" pekik Retta marah. Zaim yang masih asik memandang hujan menoleh dengan setengah terkejut.
Wafaa ... gadis polos itu ketahuan tengah memasukkan sebagian besar uang ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Memory Shop.