Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Wafaa


__ADS_3

"Nama?"


"Wafaa."


"Nama lengkap." Pak Bread menegaskan.


"Oh. Dawafa Arlianta Zia."


"Umur?"


"Eh? Delapan belas." Tadi kan sudah diberitahu.


"Alasan ingin bekerja di sini?"


"Eum ... saya ingin mendapatkan banyak uang," jawabnya tegas seraya mengepalkan kedua tangannya bertekad. Pak Bread dapat melihat dengan jelas hal tersebut.


"Jawaban apapun, tuh?" bisik Retta pada Zaim di sebelahnya.


Pak Bread melakukan wawancara secara terang-terangan pada ruang terbuka, tepat di hadapan Retta dan Zaim yang menyaksikan.


"Anda tidak bisa menjadi kaya dengan bekerja di sini," kata Pak Bread sejujurnya. Yah ... tahulah kondisi toko ini yang tak banyak diminati dan dikunjungi orang.


"Eum ... yang penting bisa dapat uang." Wafaa tersenyum tulus dan malu-malu. Jujur, itu sedikit lucu bagi Pak Bread, tetapi sebisa mungkin ia mengendalikan ekspresinya untuk tetap tegas.


"Apa Anda tidak bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain, makanya datang ke sini?" Pertanyaan jebakan.

__ADS_1


Lantas Wafaa dibuat membeku dengan otak yang terus berputar mencari jawaban tepat atas pertanyaan yang diajukan. Dan pada lima detik kemudian, ia berbicara ....


"Itu salah satu alasannya, tetapi itu bukanlah alasan utama saya."


"Apa alasan utama Anda?"


"Kenyamanan. Saya melihat tempat ini dan saya merasa saya akan nyaman jika harus bekerja di sini. Berapapun gajinya, saya tidak peduli."


Pak Bread masih dengan ekspresi datarnya yang sama sekali tak bergerak untuk berubah. "Diterima."


"Eh? Bapak tidak ingin melihat berkas-berkas saya?" Wafaa tertegun di tempat. Secepat ini? Semudah ini?


"Tidak perlu." Pak Bread berdiri dari duduknya.


Wafaa mengangguk bahagia, dan di tengah-tengah itu ada Retta dan Zaim yang tercengang tidak bergeming di tempat mereka berdiri. Apa yang mereka lihat barusan ini ... sungguhan?


Huh, bahkan mereka berdua harus panas-panasan dulu baru diterima. Dan gadis ini diterima begitu saja?


"Dan kalian ...." Pak Bread berdiri di hadapan mereka, bersiap mengucapkan kalimat yang tak diinginkan.


"Kalian bisa berhenti bekerja karena saya telah mendapatkan pegawai yang dapat membantu saya selama toko ini beroperasi."


"Tapi Pak, kita masih mau kerja." Retta memelas guna meluluhkan hati Pak Bread agar tidak didepak dari toko. Ia juga menyikut Zaim sebagai kode untuk melakukan hal yang sama seperti dirinya.


"Iya, Pak. Tolong jangan usir kami!" pinta Zaim kaku, tanpa ada tatapan memelas sedikitpun.

__ADS_1


"... Silakan tetap bekerja jika kalian mau."


Pak Bread berjalan melewati mereka dan keluar dari toko. Namun, ia menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan untuk beberapa detik hanya untuk berkata, "Kalian bertiga tidak ingin pulang?"


"Jika tidak, maka tidur saja di sini," lanjutnya, lantas membuat kedua anak perempuan yang masih di dalam panik dan segera menuju luar ruangan. Zaim hanya mengikuti pergerakan yang ada.


"Kamu ngerasa ada yang aneh sama cewek itu?" Retta memulai perbincangan pada perjalanan pulang.


"Wafaa? Nggak juga. Kenapa?"


"Aku ngerasa gerak-geriknya tuh aneh, kayak dibuat-buat," ungkap Retta memikirkan kembali pergerakan polos Wafaa yang menurutnya dapat menipu banyak insan.


"Nggak aneh. Biasa aja."


Huh, Retta hanya dapat menghela napas pasrah. Tidak ada lagi yang dapat mengerti pikiran Retta jika sahabatnya sendiri yang selalu berpikiran sama juga tidak paham.


"Yaudah, deh."


"... Omong-omong, Kaillo si bocah SMP itu udah nggak pernah lewat lagi di depan toko buat pergi ke Sekolah. Aku pikir dia bakal dateng hari ini, ternyata nggak." Retta murung ketika mendadak mengingat anak itu. Ia jadi kangen.


"Dia ke mana, ya? Apa jangan-jangan pindah?" Retta menerka-nerka asal, semua yang ada di pikirannya ia keluarkan.


Dan Zaim hanya mendengarkan itu tanpa mengeluh hingga mereka berpisah dan belok ke jalan masing-masing.


Memory Shop.

__ADS_1


__ADS_2