Memory Shop

Memory Shop
Memory Shop: Noaro dan Tera


__ADS_3

07.40 am.


Wafaa duduk di depan toko, menunggu kedatangan si pemilik. Hari ini adalah hari pertama bekerja, jadi dia tidak boleh terlambat. Bahkan dia bangun jam setengah enam untuk berjaga-jaga.


Lima menit kemudian, Pak Bread sampai. "Kamu datang lebih awal dari saya? Bagus," pujinya. Wafaa bangun dan tersenyum malu. Ini pujian pertama yang dia dapatkan dari bosnya di tempat kerja baru.


Pak Bread membuka pintu toko dan mereka pun masuk bersama. Pak Bread memberitahu padanya tentang apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Wafaa mengerti dengan baik dan hanya menganggukkan kepalanya.


"Mulai bekerja!" Pak Bread masuk ke dalam ruangannya yang tak dapat ditembus siapapun dan memulai kinerja pembuatan kue.


Sehari, Pak Bread hanya keluar tiga kali-bisa kurang dari ini, itupun sekadar meletakkan kue jadi ke dalam etalase yang bagiannya kosong.


Wafaa mulai mengambil lap dan mengusap seluruh meja dan kursi di sana. Ia juga menyapu dan membersihkan seluruh bagian yang terasa kotor.


Di tengah-tengah itu, tepat pukul 08.00 am, Retta dan Zaim sampai dan menyaksikan semuanya.


"Huh, akhirnya selesai juga," gumamnya lega.


Wafaa berbalik dan menyapa, "Hai!" sembari melambaikan tangan dengan ramah.


"Kamu ngerjain semuanya? Sendiri?" tanya Retta setengah terkejut. Pasalnya, ia dan Zaim yang bekerja berdua saja sudah kelelahan, apalagi sendiri.


"Iya." Wafaa tersenyum penuh arti.


"Oh, selamat datang!" Ia juga menundukkan kepala pada pelanggan pertama pagi ini. Ia melayani pengunjung dengan baik sekaligus mengelola uang kasir.


Retta dan Zaim hanya berdiri di pojokan seraya menatapnya. Posisi mereka kini telah benar-benar tergantikan.


Karena tidak ingin diam saja, Retta dan Zaim membantu akan kedatangan pelanggan berikutnya.


Sikap yang ditunjukkan Retta pada Wafaa itu terlalu kasar. Ia selalu memandang sinis ke arah gadis itu yang hanya menoleh sekilas padanya.


Sepanjang waktu, Retta menghabiskan tenaganya untuk memikirkan gadis itu dan mencurigainya yang tidak-tidak.


09.08 am.


Anak-anak yang sebelumnya mengaku sebagai pasangan hidup Kaillo datang. Yap, datang dan memasuki toko.


"Selamat datang!" ucap Zaim, Retta dan Wafaa secara bersamaan.


Dua bocah rok biru itu tak memedulikan mereka dan sibuk berbincang.


"Katanya dia juga sering muntah-muntah," ujar Noaro khawatir.


Mereka terlihat ... akur.

__ADS_1


"Hah? Kasihan banget, Kaillo," iba Tera.


"Hai Adik-adik, ada yang bisa kami-"


"Kalian barusan ngomongin Kaillo, ya?" sela Retta terhadap ucapan Wafaa.


Anak-anak itu menatap Retta dari atas sampai bawah. Apa mereka berniat melakukan diskriminasi?


"Lumayan cantik," bisik Tera pada Noaro. Retta dapat mendengar semuanya dan hampir tersipu.


"Kakak ada hubungan apa sama Kaillo?" Gadis bernama lengkap Noaro Algajusia itu bersedekap dada dan menatap tajam Retta.


"Oh? Kakak cuma pernah ketemu aja, kok." Memutuskan untuk tidak bermasalah dengan bocah labil, Retta hanya menjawab seadanya.


"Dia sakit, ya?"


"Iya," sahut Tera malas.


"Kalau boleh tahu, sakit apa?"


"Ih, Kak. Nggak usah penasaran, deh," balas Tera kesal. Ia ikut bersedekap dada seperti Noaro.


"Kita mau beli kue di sini, bukan mau ngobrol," tambahnya. Retta hanya mengembuskan napas pasrah nan kesal.


"Yaudah, mau beli kue apa?" Suaranya berusaha dia lembutkan.


"Kue ukuran sedang satu, yang ada strawberry di atasnya," aju Tera.


"Eh, Kaillo kan nggak suka Strawberry." Noaro mengingatkan.


"Oh, iya. Hampir aja." Tera menepuk pelan keningnya.


"Ketahuan kan sekarang siapa yang paling ngenal Kaillo?" Jelas, Noaro memancing keributan.


"Ih, nggak usah terlalu percaya diri, kali. Tadi aku cuma lupa, kok." Tera membalas sinis, tak ingin kalah dari saingan terberatnya.


"Oh, ya?" Noaro mengangkat alis, meremehkan cewek di sampingnya ini.


"Iyalah, aku lebih tahu tentang Kaillo daripada siapapun."


Pertengkaran mereka berakhir sampai di situ dan Noaro selaku lebih tua hanya membuang napas. Noaro tidak ingin banyak omong.


"Eu ... kita pesan kue tar ukuran sedang rasa cokelat." Wafaa mengangguk dan tersenyum pada Noaro, kemudian bergerak menuju etalase letak kuenya berada.


"Orang sakit, masa dijenguk pakai kue? Aneh," batin Retta.

__ADS_1


Ya, suka-suka mereka.


"Omong-omong, kalian nggak Sekolah?" tanya Retta.


"Pulang. Soalnya guru lagi rapat," balas Noaro. Retta hanya mengangguk mengerti.


"Kirain bolos," pikir Retta.


"Ini kuenya." Wafaa memberikan kue yang telah dibungkus kepada mereka berdua, tetapi Noaro dengan sigap mengambilnya.


"Biar aku yang pegang," katanya.


"Ish." Tera hanya memandang sinis Noaro seraya mengangkat bagian kanan bibir atasnya.


"Bayarnya di sana, ya." Wafaa menunjuk kasir dan penjaganya di sisi kanan dengan lima jari agar terkesan lebih sopan.


"Iya, mbak. Terima kasih."


Mereka ini bocah labil, tentu saja. Bahkan mereka sudah tersenyum malu-malu sebelum sampai pada kasir. Yang diperhatikan hanya diam dan tak peduli.


"Harganya 80 ribu," kata Zaim memberitahu.


Ketika Noaro tengah merogoh tasnya, Tera berceletuk hal yang menurut Zaim amatlah tidak penting.


"Kakak udah punya pacar?"


Zaim membuat senyum paksa dengan memperlihatkan giginya yang putih dan rapi berderet. Jarang-jarang Zaim tersenyum lebar seperti ini, momen yang seharusnya diabadikan.


Lesung pipi yang tersembunyi itu akhirnya terlihat jelas juga. Biasanya hanya muncul sedikit karena senyum yang sering ditunjukkan Zaim itu setipis tisu.


"Cewek cantik yang ada di sana itu pacar Kakak." Zaim menunjuk Retta dengan bangga. Retta hanya sedikit tersipu sembari menangkup mulut di tempat.


"Ohh, baguslah," gumam Noaro dan Tera bersamaan seusai menoleh.


"Ini uangnya, Kak." Noaro memberikan uang tersebut ke Zaim dan mengajak Tera keluar dari Toko.


"Besok, ganti uangku, ya." Noaro berceletuk sebelum pada akhirnya membuka pintu.


"Iya."


Mereka pun menghilang ketika berbelok ke kiri.


Retta yang melihat kepergian mereka hanya menaruh harapan semoga bocah yang dirindukannya selama ini segera sembuh dari apapun penyakitnya.


Memory Shop.

__ADS_1


__ADS_2