
Keesokan paginya, Zahra meminta suster untuk menemani ibunya Bela, karena ia harus segera berangkat ke sekolah. Saat Zahra turun dari angkot ia melihat Bela sedang tertawa bersama temannya di depan gerbang. Saat itu Bela juga melihat ke arah Zahra namun menolehkan wajahnya seolah dia tidak melihat sahabatnya yang baru saja datang.
Zahra berjalan masuk ke dalam kelas dengan perasaan khawatir terhadap Bela, ia khawatir keadaan Bela yang terlihat seperti orang yang tidak fokus, dan make up nya pun terlihat tebal hari itu.
"Gimana keadaan ibunya Bela ra?" Tanya Nia.
"Do'akan saja ya semoga cepat sadar." Jawab Zahra.
Nia pun ikut mengkhawatirkan keadaan ibu temannya. Saat Bela masuk ke dalam kelas ia langsung duduk di samping Zahra dengan sikap acuh, sedangkan Nia beranjak pergi ke tempat duduknya.
"Kamu udah sehat bel?" Tanya Zahra.
Bela membuka tas make up dan tidak menghiraukan pertanyaan Zahra.
Zahra hanya menarik nafasnya, lalu menyandarkan punggungnya di kursi sambil sesekali melirik Bela yang sedang memakai bedak. Bahkan Bela mengeluarkan hp baru yang ia letakkan diatas meja agar Zahra dapat melihatnya. Zahra tahu itu adalah hp mahal, tapi ia tidak tahu Bela bisa membeli barang mewah setelah ia melihat keadaan keluarganya.
"Astagfirullah hal adzim." Ucap Zahra dalam hati, sebab ia hampir saja memikirkan hal buruk pada sahabatnya sendiri.
Bel istirahat sudah terdengar, Zahra mengajak Bela ke kantin namun ditolaknya. Akhirnya Zahra pergi ke masjid untuk sholat dhuha bersama Nia.
"Kenapa Bela jadi kayak gitu ya ra?" Tanya Nia.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Zahra melepaskan sepatunya dan segera mengambil air wudhu.
Selesai sholat dhuha, Nia pergi ke kantin, sedangkan Zahra duduk termenung di masjid, pikirannya masih melayang pada Bela dan ibunya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sontak saja Zahra tersadar dari lamunannya dan melihat Akbar sudah ada di hadapannya dengan baju hitam putih yang ia tutupi dengan jaket.
"Aku sudah selesai PKL makanya aku ke sini untuk menemuimu, emm... Lebih tepatnya, ingin menjenguk ibunya Bela." Kata Akbar menjelaskan kedatangannya.
Zahra merasa akhir-akhir ini Akbar semakin dekat dengannya, bahkan Akbar selalu mengingatkan kebaikan pada Zahra, entah apa alasannya tetapi Zahra senang pada Akbar yang sekarang ini, karena ia tidak merasa Akbar menjauhi dirinya.
"Nanti pulang sekolah kita ke rumahsakit ya, ibunya Bela belum siuman." Kata Zahra berkaca-kaca.
"Apa yang membuatnya seperti itu?" Tanya Akbar.
"Bela memarahi ibunya dengan suara keras, dia tidak terima dengan kenyataan hidupnya. Bela... Bela iri padaku dan kehidupanku, terutama dia merasa aku.. aku merebut kamu darinya." Jawab Zahra menahan tangis mnegingat kejadian malam itu.
"Merebut?" Tanya Akbar yang heran dengan ucapan Zahra.
"Aku juga tidak mengerti apa maksudnya, tapi itulah yang aku tau." Jawab Zahra.
"Kamu tenang saja ya, semoga ibunya Bela cepat sadar. Dan Bela kembali menjadi Bela yang kita kenal." Ujar Akbar.
"Emm... Aku kelas dulu ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."
Saat Zahra sedang berjalan di koridor sekolah yang sudah sepi, tiba-tiba Zahra terjatuh karena kakinya dijegal oleh Bela. Bukannya membantu Zahra, Bela malah tertawa sambil memandang sinis pada sahabatnya itu, bahkan telapak tangan kanan Zahra dia injak, lalu dengan perasaan bahagia dia berjalan meninggalkan Zahra yang sedang merasakan sakit ditangannya.
Di dalam hati, Zahra terus mengucap istighfar, mungkin perubahan Bela karena dirinya sehingga ia terus memohon ampun kepada Allah karena kesalahan yang ia lakukan tanpa sengaja hingga menyebabkan Bela sakit hati padanya.
Di warung Zahra melihat Akbar sedang duduk bersama teman-temannya, sekuat tenaga ia menahan sakit serta menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan Akbar.
"Assalamu'alaikum." Ucap Zahra.
"Wa'alaikumsalam, eh neng Zahra." Jawab pak Slamet.
"Apa kabar pak?" Tanya pak Slamet.
"Alhamdulillah sehat neng." Jawab pak Slamet.
"Alhamdulillah." Ucap Zahra.
Zahra memegangi telapak tangannya yang terlihat merah dan bengkak akibat injakan sepatu Bela.
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Akbar memandangi tangan Zahra.
Zahra langsung mencoba biasa saja agar Akbar tidak curiga padanya, "tidak apa-apa kok."
"Astagfirullah! Tangan neng Zahra bengkak itu, jatuh atau kenapa itu neng?" Tanya bu Wati istri pak Slamet sambil menaruh teh manis di meja Zahra dan Akbar.
"Tidak apa-apa kok bu, tangan saya memang terlihat bengkak, hehehe." Jawab Zahra.
"Bohong dosa loh!" Kata Akbar.
"Yang bilang bohong dapat pahala siapa bar." Sahut Zahra meminum teh manis miliknya.
Akbar menghela nafasnya dengan kasar, ia tahu bahwa gadis yang sedang bersamanya itu sedang berbohong.
Setelah 20 menit Zahra mengajak Akbar untuk ke rumahsakit.
Pak Slamet tersenyum melihat Akbar mulai berani pada perasaannya, begitupun Zahra yang membuka hati untuk kakak kelasnya tersebut.
"Pak, kita pamit dulu ya, assalamu'alaikum." Kata Akbar.
"Wa'alaikumsalam, kalian hati-hati ya." Ucap pak Slamet.
"Iya pak."
Di dalam angkot, Zahra duduk di samping sopir, sedangkan Akbar berada dibelakang. Mereka tetap jaga jarak serta pandangan masing-masing. Meskipun Akbar tahu kalau ia mencintai Zahra, tetapi ia tidak akan mengajak Zahra pacaran. Ia hanya ingin menjaga Zahra saat itu, setelah Bela pergi meninggalkannya. Urusan hati itu adalah urusan Allah, karena sekuat apapun pada satu nama, maka hanya akan tunduk pada ketetapanNya.
Sesampainya mereka di rumahsakit, Zahra langsung berjalan masuk ke dalam ruang ibunya Bela. Namun ia masih sedih karena bu Asti belum juga siuman. Zahra melihat Akbar langsung duduk disisi kanan bu Asti lalu membaca ayat-ayat suci Al-qur'an.
Senyuman tipis terlihat di wajah cantik seorang Zahra, ia sadar bahwa dirinya menyukai kakak kelasnya itu, hanya saja ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan isi hatinya. Ia juga tidak tahu ending dari hidupnya bagaimana, jadi untuk saat itu Zahra memilih mencintai Akbar lewat do'a.
Gadis cantik itu keluar ruangan karena umi menelepon dirinya, ia tidak mau mengganggu Akbar yang sedang khusyu membaca Al-qur'an.
"Assalamu'alaikum umi." Ucap Zahra duduk di depan ruangan bu Asti.
^^^"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu, apa kabar kamu nak?" Tanya umi.^^^
Zahra menahan tangisnya mengingat kejadian Bela padanya, apalagi ia masih merasakan sakit pada tangannya.
"Alhamdulillah baik umi. Umi jaga kesehatan ya, abi juga. Jangan terlalu khawatirkan Zahra." Jawab Zahra.
^^^"Iya sayang, sekolahmu bagaimana? Lancar kan?"^^^
"Alhamdulillah lancar juga umi. Zahra sedang di rumahsakit umi, lagi jaga ibunya Bela."
^^^"Ibunya Bela kenapa nak?"^^^
"Sakit umi, Zahra minta do'anya ya semoga bu Asti cepat siuman umi."
^^^"Iya nak iya, kamu jaga bu Asti baik-baik ya."^^^
__ADS_1
^^^"^^^
Iya umi, kalau begitu sudah dulu ya umi, assalamu'alaikum."
^^^"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabatokatu."^^^
Gadis cantik itu menyandarkan punggungnya pada kursi rumahsakit lqlu memejamkan kedua matanya berharao semuanya baik-baik saja. Ia berdo'a supaya bu Asti siuman dan Bela menjadi sahabat yang baik seperti awal mereka kenal. Suara langkah kaki membuat Zahra membuka kedua matanya dan melihat siapa yang datang, ternyata mereka adalah asisten rumahtangga Zahra yang merasa khawatir pada anak majikannya itu.
Bi Juju dan pak Warto langsung menghampiri Zahra dan menanyakan keadaannya, mereka datang ke rumahsakit karena disuruh oleh umi, beliau tidak mau anaknya menjaga bu Asti seorang diri.
"Emm.. Bibi bisa ngurut tidak?" Tanya Zahra memandangi bi Juju.
"Bisa non, siapa yang kseleo?"
"Saya bi, tangan saya bengkak, sakit sekali rasanya." Zahra mengulurkan tangannya sehingga mereka bisa melihatnya.
"Astagfirullah! Ini mah udah bengkak banget, bibi Juju coba urut ya non. Tapi maaf kalau agak sakit." Kata bi Juju memegang tangan Zahra.
"Iya bi, semoga bisa hilang bengkaknya. Oh, iya, jangan bilang ke umi atau abi ya, ini rahasia kita, hehehe" Ucap Zahra tersenyum pada asistem rumahtangganya tersebut.
"Sekarang sudah mulai ada rahasia ya." Goda pak Warto.
"Hehehe baru sekali ini kok pak." Sahut Zahra.
Pak Warto memberikan minyak kepada bi Juju dan mulai ngurut tangan Zahra. Sekitar sepuluh menit, Akbar keluar dan duduk di antara mereka, Zahra memperkenalkan Akbar pada mereka. Sedangkan Akbar melihat raut wajah kesakitan Zahra yang sedang diurut. Ternyata benar gadis itu berbohong, ia hanya ingin tahu apa yang terjadi pada Zahra. Karena saat ia bertemu di masjid, Zahra masih baik-baik saja.
"Namanya juga musibah ya bar, tidak ada yang tau." Ucap Zahra.
Akbar tahu kalau sebentar lagi ia akan bertanya mengapa tangannya bisa seperti itu. Dan Zahra langsung mengutarakan pernyataan bahwa semuanya hanyalah musibah serta ujian yang diberikan Allah kepadanya. Ia hanya tersenyum tipis di dalam hatinya sambil memainkan pulpen.
"Pak Warto mau masuk ke dalam?" Tanya Akbar.
"Iya den." Jawab pak Warto.
"Jangan panggil den, panggil Akbar saja pak." Kata Akbar.
"Sudah terbiasa den." Sahut pak Warto lalu masuk ke dalam ruang bu Asti.
"Pasti sakit." Ucap Akbar melihat Zahra meringis kesakitan.
"Jelas sakit lah den, tangan non Zahra sudah bengkak seperti ini." Seru bi Juju menyudahi urutnya.
"Alhamdulillah, makasih ya bi." Ucap Zahra tersenyum.
"Iya non sama-sama, bibi jenguk bu Asti dulu ya." Ucapnya.
"Iya bi."
"Sebenarnya tangan kamu kenapa?" Tanya Akbar.
"Jatuh, tapi Alhamdulillah udah enakan kok." Jawab Zahra.
"Jatuh dimana? Biasanya sih kaki yang kseleo kalau jatuh, tapi kok kamu tangan ya." Kata Akbar menaruh curiga pada jawaban Zahra.
"Di toilet."
"Zahra, kamu mau bilang atau tidak itu hak kamu, dan aku punya hak buat cari tahu penyebabnya." Ucap Akbar.
"Iya, kamu punya hak itu bar." Kata Zahra tanpa memandang wajah Akbar.
"Ya sudah, aku pamit pulang dulu ya, kalau ada kabar apapun mengenai kondisi bu Asti kamu telepon aku ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."
...***...
Pagi itu Akbar datang ke sekolah untuk bermain basket bersama teman-temannya, karena mereka sedang libur PKL. Sebelum ia ke lapangan basket, Akbar menyempatkan diri untuk ke warung pak Joni dan duduk bersama Ijul, salah satu teman sekelasnya.
"Pak pesan teh hangatnya ya." Ucap Akbar duduk di depan Ijul yang sedang maengunyah roti.
"Iya bar." Sahut pak Joni.
"Tumben lo ke sekolah?" Tanya Ijul menyeruput kopinya.
"Kangen." Jawab Akbar.
"Kangen sekolah apa kangen seseorang bar, hehehe." Kata Ijul.
"Kangen semuanya, hahahaha." Sahut Akbar.
"Ini tehnya bar." Kata pak Joni menaruh teh hangat diatas meja.
"Makasih pak." Ucap Akbar.
"Sama-sama." Pak Joni kembali ke dalam warung.
"lo tau Bela tidak bar?" Tanya Ijul.
"Bela?" Akbar berpikir nama perempuan tersebut.
"Anak kelas XI. Ah, sahabatnya Zahra." Kata Ijul memperjelas.
"Oh, iya, kenapa dengan dia?" Tanya Akbar pura-pura tidak tahu tentang Bela.
"Kemarin kata adik gue, dia injak tangan Zahra. Lo tau gara-gara apa?"
Akbar langsung menggeleng.
"Cuma karena dia cemburu sama kehidupan Zahra. Yah mungkin ada hal lain kali yang bikin dia jadi kasar sama sahabatnya sendiri." Kata Ijul.
Adik Ijul kelas X dan satu sekolah dengannya, bahkan adiknya sangat menyukai kepribadian Zahra.
Akbar terdiam, saat tahu penyebab tangan Zahra bengkak. Ia tahu kalau Ijul tidak mungkin berbohong karena dia terkenal orang yang jujur selama sekolah di As-Sobirin. Ia ingin marah pada Bela namun ia tahu kalau Zahra akan kecewa dengan sikapnya, akhirnya Akbar mengirim pesan pada Bela dan menunggunya di kantin saat pulang sekolah.
"Ada apa lo diam aja!"
"Hah, ah tidak apa-apa. Yuk ah kita ke lapangan!" Ajak Akbar menghabiskan teh nya, lalu membayar dan pergi meninggalkan Ijul sendirian.
Hari itu Zahra tidak masuk sekolah karena sakit. Akbar tahu kalau selama ia bermain basket kedua mata Bela memandangnya dan meneriaki namanya, ia hanya membalasnya dengan tatapan dingin.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Akbar sudah menunggu Bela, dari jauh ia melihat Bela tersenyum sumringah padanya. Namun entah mengapa Akbar menjadi seseorang yang dingin, cuek terhadap adik kelasnya itu.
"Assalamu'alaikum kak Akbar." Ucap Bela duduk di hadapan laki-laki yang ia cintai.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Akbar tanpa memandang wajah Bela.
"Ada apa kak?" Tanya Bela dengan lembut dan senyuman yang selalu terukir di wajahnya.
"Apa kabar?" Akbar bertanya balik.
__ADS_1
"Aku? Emm... Alhamdulillah baik. Memangnya kenapa?" Bela bingung karena Akbar menanyakan kabar tentang dirinya.
"Kata Zahra kamu sakit." Ucap Akbar lagi.
"Oh, aku udah sembuh kok. Liat aja sendiri, aku udah sehat kan. Kak Akbar tidak perlu khawatir dengan keadaanku." Ujar Bela.
"Makasih loh kak udah peduli padaku." Kata Bela lagi tersenyum.
Akbar menghela nafasnya lalu melirik sebentar wajah Bela sebelum mengalihkan pandangannya ke jalan raya.
"Jangan makasih ke saya, makasih ke Zahra, sebenarnya dia yang begitu peduli padamu." Kata Akbar.
Bela menyunggingkan senyumnya, "hari ini Zahra tidak masuk sekolah, katanya sih sakit. Tapi aku tidak peduli tanpa adanya dia itu lebih baik buatku."
Akbar terkejut mendengar apa yang dikatakan Bela. Ia menahan amarah karena perempuan yang ia cinta dikhianati oleh sikap sahabatnya sendiri.
"Bela, apa benar kamu yang injak tangan Zahra?" Tanya Akbar.
"Sudah ku duga kamu akan tau. Itu akibatnya kalau mencintai laki-laki yang aku cintai!" Jawab Bela.
"Zahra hanya mencintai Allah dan Rasulnya. Dia tidak mencintai laki-laki manapun sebelum adanya ijab qobul, dan saya rasa kamu salah sangka padanya. Kamu menyia-nyiakan sahabat terbaikmu Bela, kamu tidak tahu bagaimana keadaan ibumu saat ini kan? Kamu tidak pernah mendengar kabarnya lagi kan, setelah kamu teriaki beliau di depan umum?" Ujar Akbar menekankan setiap ucapannya agar Bela sadar bahwa sikapnya salah.
"Tau apa kamu tentang keluargaku?!" Teriak Bela, sampai orang-orang meliriknya.
"Kamu yang memberitahu saya semuanya lewat sikap dan tutur katamu."
"Aku mencintaimu! Dan aku tidak rela ada yang mencintaimu juga meskipun itu Zahra perempuannya!" Kedua mata Bela berkaca-kaca, dadanya penuh dengan amarah, namun hatinya teringat oleh ibunya yang ia tinggal sendiri di rumah reot tersebut.
"Istigfar Zahra! Jangan kamu jual imanmu hanya karena mencintai saya, kamu lepas sahabat terbaik disisimu yang membuat orang lain menyayangkan sikapmu."
"Kamu tidak mencintaiku karena aku berasal dari keluarga miskin kan?! Karena aku tidak secantik Zahra! Iya kan?!" Bela menangis di hadapan Akbar.
Sebenarnya Akbar sangat tidak tega melihat perempuan menangis di hadapannya, namun untuk saat itu ia memberanikan diri menasihati Bela agar kembali pada ibundanya.
"Bela yang saya kenal dulu sangat pintar bahasa Arab, Bela yang saya kenal dulu bertutur kata sopan pada sesama temannya bahkan orang yang lebih tua, dan setidaknya saya mengenal Bela yang memiliki keimanan pada dirinya dan selalu bersyukur apa yang dia punya. Itu yang saya kenal, dan yang dihadapan saga sekarang ini, saya tidak tahu siapa." Jawab Akbar dengan penuh lembut, ia tidak mau membuat hati Bela tergores karena ucapannya.
Untuk beberapa saat Bela terdiam dan hanya menangis.
"Maafkan saya Bela karena tidak bisa mencintaimu, maafkan saya karena sudah membuat hatimu terluka karena ucapan saya. Jangan berubah hanya karena apa yang kamu inginkan tidak terwujud, berubahlah demi keluargamu dan orang-orang di sekitarmu." Ucap Akbar lagi.
"A... A... Aku... Aku... Aku belum bisa ikhlas kak dengan kehidupanku sendiri." Ucap Bela dalam tangisnya.
"Jangan terlalu lihat orang-orang yang berada diatasmu, tapi coba sesekali kamu lihat orang yang berada dibawahmu. Insyaallah kamu bisa ikhlas dengan keadaanmu dan bersyukur dengan pemberian Allah padamu." Kata Akbar.
"Sekali lagi saya minta maaf karena sudah membuatmu menangis, ini alamat rumahsakit, ibumu ada disana dan belum siuman hingga sekarang. Datanglah menjenguknya, dia rindu pada gadis kecilnya." Akbar memberikan alamat rumahsakit tempat bu Asti dirawat.
Dengan tangan gemetar Bela menerima alamat rumahsakit tersebut.
"Saya pulang dulu ya. Assalamu'alaikum." Ucap Akbar.
"Wa'alaikumsalam."
Bela memandangi alamat rumahsakit tanpa melihat Akbar pergi meninggalkannya. Ia masih menangis, dadanya terasa sakit sekali mendengar kabar ibunya masuk ke rumahsakit. Ucapan Akbar sedikit demi sedikit bisa dicerna oleh Bela, ia hanya bisa menangisi keadaannya karena sikapnya yang berubah seperti monster untuk seorang Zahra.
...***...
Saat Zahra sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-quran, tiba-tiba ia melihat pergerakan tangan bu Asti, ia menghentikan bacaannya lalu memanggil suster yang merawat bu Asti. Zahra mengucap syukur menatap kedua mata bu Asti yang mulai terbuka dan berkedip beberapa kali.
Senyuman bu Asti mengembang melihat Zahra sedang tersenyum padanya. Lalu meminta untuk mendekat di sisi kanannya.
"Te... Terimakasih nak, sudah merawat ibu." Ucap bu Asti dengan suara yang masih menahan sakit.
"Sama-sama bu. Sekarang ibu banyakin istirahat ya, biar semakin sehat." Kata Zahra membelai lembut tangan bu Asti.
Bu Asti mengangguk pelan.
Zahra mengirim pesan pada Akbar dan memberitahukan keadaan bu Asti kepadanya.
Satu jam kemudian, Akbar datang bersama sahabatnya dan menjenguk kondisi bu Asti setelah siuman.
"Assalamu'alaikum Zahra." Ucap Akbar melihat perempuan itu sedang duduk sambil membaca buku-buku tentang istri Nabi.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu." Zahra menutup bukunya lalu melihat ke Akbar.
"Emm... Kenalkan ini sahabat aku, namanya Furqon."
"Assalamu'alaikum." Ucap Furqon.
"Wa'alaikumsalam." Balas Zahra.
"Emm..."
"Kamu sudah masuk menemui bu Asti?" Tanya Zahra memotong ucapan Akbar yang terlihat gugup padanya.
"Sudah, Alhamdulillah kata suster banyak perkembangan." Jawab Akbar.
"Alhamdulillah."
"Aku tau penyebab tanganmu bengkak." Ucap Akbar.
Zahra diam.
"Kenapa kamu berbohong?" Tanya Akbar, sedangkan Furqon menjadi pendengar antara sahabatnya dan Zahra.
"Aku memang terjatuh." Jawab Zahra.
"Lalu diinjak oleh Bela kan?" Tanya Akbar memastikan.
"Ini semua musibah bar, aku tidak bisa menyalahkan Bela karena sikapnya yang berubah padaku. Aku ikhlas menerimanya." Jawab Zahra.
"Aku minta maaf Zahra."
Suara perempuan dengan isakan tangis memandang Zahra. Gadis itu langsung menoleh dan melihat haru pada Bela yang sedang berdiri dibelakangnya. Zahra bangkit dari duduknya lalu memeluk Bela dengan penuh kasih sayang. Ia berharap Bela seperti dulu lagi, menjadi Bela menyenangkan baginya dan orang lain.
"Aku minta maaf sama kamu, maafin aku Zahra." Ucap Bela lagi.
Zahra menghapus air mata Bela, "aku sudah maafin."
Bela memeluk Zahra dengan erat lalu kedua matanya melihat Akbar dan tersenyum. Akbar membalas senyuman Bela yang mau datang untuk kembali pada ibunya.
"Karena dia aku sadar ra." Kata Bela melepaskan pelukannya.
Zahra melihat ke belakang.
"Itu semua karena Allah Bela, saya cuma menyampaikan apa yang menurutku baik buat kamu." Ucap Akbar.
"Boleh aku lihat ibuku?" Tanya Bela pada Zahra dan Akbar.
"Tentu." Jawab Zahra dengan senang hati.
__ADS_1
Bela pun berjalan masuk ke dalam kamar ibunya, air mata Bela sudah tidan bisa dibendung lagi, ia menangis disisi kanan ibunya sambil meminta maaf karena sikapnya selama ini.
Zahra pun ikut terharu melihat mereka, bahkan Akbar yang baru masuk ikut larut dalam kesedihan Bela dan bu Asti. Mereka pun sudah saling memaafkan, Bela sudah tidak menaruh benci pada Zahra, sehingga semuanya kembali berbahagia atas izin Allah.