Mencintaimu Lewat Do'A

Mencintaimu Lewat Do'A
Aceh


__ADS_3

...Sejak dulu tidak pernah satu hari pun aku tidak memikirkanmu. Bagaimana keadaanmu? Apakah senyuman itu masih terus menghiasi wajahmu? Semuanya selalu ku pikirkan....


...Mungkin caraku memang salah, seharusnya aku tidak berhak untuk memikirkan seseorang yang belum halal bagiku, tetapi aku hanya manusia biasa yang terus menahan nafsu didiriku....


...Jika kau bahagia di sana, aku pun akan bahagia, meskipun awalnya ku lakukan dengan kepura-puraan....


...Zahra, apa kabar? Sudah lama sekali tidak bertemu, apa kau masih sanggup untuk menungguku? Atau memang sebenarnya aku yang menunggu undanganmu dengan pria lain....


...Maafkanlah diriku yang tidak bisa jujur sejak bertemu denganmu dulu. Karena bagiku, kau dekat denganku tetapi rasanya jauh sekali untuk ku gapai....


Tangan kanan Akbar melihat foto dirinya bersama teman-temannya waktu sekolah, ia juga menemukan foto Zahra saat sedang berada di musholah, foto itu diambil oleh teman sekelasnya karena mengagumi Zahra sejak pertama kali menjadi murid di sekolahnya. Dan foto terakhir yang Akbar lihat adalah foto saat ia bersama Hawa dan teman kantor lainnya.


Senyuman Akbar terlihat tipis melihatnya, didalam hatinya Akbar selalu meminta pada Allah untuk membimbing Hawa menjadi muslimah sejati.


Tak terasa sudah tiga tahun Akbar lulus sekolah, dan semuanya hanya menjadi kenangan indah baginya. Bertemu dengan teman-temannya dulu sungguh akan membuatnya bahagia, karena bagaimanapun Akbar menjadikan teman sekolahnya sudah seperti saudara baginya.


Sudah tidak ada kabar dari Zahra semenjak pesan yang Akbar terima dikantor. Ternyata itu adalah pesan terakhir dari Zahra yang menegaskan bahwa Zahra akan menunggunya. Akbar membuka pesan teks dari Zahra, dan membacanya ulang, ia hanya berharap bahwa Zahra sabar menunggu dirinya.


"Akbar, makan dulu nak!" Suruh bu Wati mengetuk pintu kamar anaknya.


Akbar segera sadar dengan khayalannya di masa lalu, ia hendak memasukkan foto-foto itu dilaci, namun ia malah memajang foto tersebut diatas meja belajarnya dan tersenyum sebelum ia keluar menemui ibunya yang sudah menunggu Akbar di meja makan.


"Maaf lama menungguku ya bu." Ucap Akbar duduk dihadapan ibunya.


"Tidak lama kok." Kata bu Wati menyendok nasi ke piring Akbar.


Akbar melihat ibunya, ia menatap wajah ibunya karena seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan olehnya.


"Ada apa bu?" Tanya Akbar lembut.


"Ibu kangen Khadijah, sudah 3 tahun ibu tidak melihatnya." Jawab bu Wati menahan air matanya.


"Besok pagi kita ke sana ya." Kata Akbar.


"Tidak perlu nak, ibu tau kamu sibuk bekerja, minta izin sama ustadzah buat video call dengan Khadijah saja itu sudah buat ibu bahagia." Sahut bu Wati.


"Bu, aku kerja keras buat ibu sama Khadijah, masa seorang ibu kangen sama anaknya aku tidak turuti kemauannya sih."


"Ya sudah kalau begitu."


"Nah gitu dong, ya sudah lanjut makan ya bu. Aku izin nelepon Furqon dulu." Akbar pergi ke teras rumahnya dan menceritakan pada Furqon.


Furqon yang tahu bahwa Akbar hendak ke Aceh segera meminta dirinya untuk ikut bersamanya. Perusahaan ia percayakan kepada seluruh karyawannya.


Lusa mereka sudah siap untuk pergi ke Aceh, bu Wati terlihat gugup saat memasuki pesawat, Akbar langsung menggenggam tangan ibunya dan mengatakan bahwa akan baik-baik saja. Sang ibu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.


Tak lama mereka pun telah sampai di Aceh dan segera ke pesantren milik keluarga Zahra. Kali ini Akbar lah yang terlihat gugup karena ia akan bertemu dengan orang-orang kepercayaan Zahra dan keluarganya. Dalam lubuk hati Akbar ia bergumam supaya bertemu Zahra di sana, meskipun mustahil.


Mereka berjalan masuk ke dalam pesantren, salah seorang santriwati memanggil Khadijah untuk menemui mereka yang sudah berada di aula. Furqon melihat Akbar yang terasa gelisah saat itu, sahabatnya hanya menunjukkan senyuman terpaksa pada ibunya.

__ADS_1


Kedua mata Furqon terkejut melihat yang datang, ia tidak bisa berkata-kata saat Khadijah datang bersama Hindun dan memberi salam kepada mereka. Keluarga Akbar berbincang-bincang, sedangkan Furqon menanyakan kabar Khadijah selama di pesantren. Hindun masih berdiri melihat Furqon bersama keluarga Akbar, dia menghela nafas panjang sebelum akhirnya keluar dari aula.


"Sudah hampir dua tahun ustadzah Hindun mengajar di sini kak." Ucap Khadijah. Furqon salah tingkah mendengar ucapan Khadijah, sedangkan Akbar dan bu Wati hanya memandang Furqon yang sejak tadi diam bermain dengan pikirannya sendiri.


"Lalu suaminya? Bukankah Hindun ikut dengan suaminya?" Tanya bu Wati.


"Memangnya kalian tidak tahu?" Khadijah bertanya balik.


Mereka pun saling tatap menunggu perkataan Khadijah selanjutnya.


"Suaminya sudah meninggal 1 tahun lalu bu, awalnya sih tidak aktif mengajar di pesantren, namun setelah suaminya meninggal ustadzah Hindun semakin giat mengajar di sini." Jawab Khadijah.


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un." Ucap mereka terkejut.


Diam-diam Khadijah memandang Furqon yang tampak kaget mendengar kabar darinya, lalu senyuman kecil terukir di wajah Khadijah yang semakin cantik.


"Aku ke toilet sebentar ya." Kata Furqon segera keluar ruang aula.


"Kak Akbar," panggil Khadijah.


"Iya?"


"Kak Zahra titip salam." Kata Khadijah.


Bu Wati menatap Akbar yang tersipu malu mendengarnya dan menjadi salah tingkah.


"Ada hubungan apa kamu nak sama Zahra?" Tanya bu Wati.


"Kita hanya teman bu, tidak lebih." Jawab Akbar.


"Apa benar kak Zahra akan segera menikah?" Tanya Zahra lagi penasaran.


"Menikah?!" Bu Wati terkejut mendengarnya.


"Tidak perlu kaget seperti itu bu, toh pada akhirnya yang dibilang kak Akbar kan benar, bahwa kita tidak boleh berkhayal." Kata Zahra lagi menghembuskan nafasnya.


"Padahal ibu ingin sekali punya menantu seperti Zahra." Ucap bu Wati.


Akbar menatap kedua perempuan yang ia sayangi itu secara bergantian, bahkan ia juga tidak bisa bicara banyak tentang pernikahan Zahra.


"Do'akan saja yang terbaik untuk semuanya ya bu, Khadijah." Kata Akbar tersenyum.


"Aku selalu berdo'a kakak menjadi jodohnya. Ayo bu! Khadijah ajak keliling pesantren."


Akbar hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap adiknya yang seperti itu, tanpa sadar Khadijah sudah menjadi perempuan dewasa yang bisa berbagi cerita asmara dengannya. Akbar merebahkan tubuhnya di lantai aula sambil menunggu Furqon.


Saat hendak berjalan menuju aula, Furqon berpapasan dengan Hindun.


"Assalamu'alaikum." Ucap Hindun.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Balas Furqon.


Hindun tersenyum sebentar lalu melanjutkan jalannya.


"Aku turut berduka cita." Kata Furqon menghentikan langkah kaki Hindun.


"Kamu sudah tau?" Tanya Hindun tanpa menoleh ke belakang.


"Aku tau dari Khadijah. Kenapa keluargamu satupun tidak ada yang memberitahu kami? Bahkan kenapa kamu menyembunyikan selama ini?" Furqon bertanya balik.


Hindun menarik nafas dengan dalam, "supaya aku tetap mencintai suamiku. Aku takut saat kamu mendengar kabar ini, ada harapan kecil untukmu hadir kembali dihidupku."


Furqon terasa lemas di kakinya sama seperti ia melihat Hindun bersanding di pelaminan dulu, sebenarnya ia masih menyimpan perasaan untuk Hindun meskipun tidak sebesar dulu.


"Saat kamu mengatakan bahwa kamu menerima lamaran laki-laki lain, saat itu pula aku memutuskan untuk mengikhlaskanmu apapun nantinya, seperti apa jalan hidupmu dan hidupku, dan aku sudah tidak mau berbelok arah hanya untuk bertamu dihatimu. Hindun, kamu perempuan pertama yang aku cintai karena Allah, dan kamu perempuan pertama yang mengajarkan aku arti kecewa." Kata Furqon menahan kesedihan dalam dirinya selama ini.


"Terimakasih fur, dan maafkan aku telah mengecewakanmu." Kata Hindun meneruskan jalannya sambil menyeka air matanya mendengar kata-kata Furqon.


Furqon duduk di bangku taman sambil mengingat kejadian saat ia mengatakan akan melamar Hindun setelah lulus sekolah di depan Kiyai dan ustadz di pengajian beberapa tahun lalu. Tangan Furqon menggenggam dengan keras karena merasa kecewa mendengar alasan Hindun. Bahkan ia tidak tahu kalau selama ini dirinya tidak diharapkan oleh Hindun sama sekali.


Dari kejauhan Khadijah melihat Furqon dengan perasaan khawatir, apalagi ia sempat melihat Hindun seperti habis menangis. Khadijah menghela nafas memandang sahabat kakaknya itu, ada bahagia menyelimuti hatinya bisa melihat Furqon, tapi ia juga merasa bersalah telah menceritakan masalah Hindun pada Furqon. Saat langkah kakinya hendak menghampiri Furqon, Khadijah tersadar karena ada Akbar lebih dulu menghampiri. Senyuman Khadijah mengembang lalu pergi meninggalkan kedua sahabat itu di taman pesantren.


"Aku melihat Hindun menangis saat dia masuk ke kantor. Ada apa fur?" Tanya Akbar duduk di samping sahabatnya.


Furqon berkaca-kaca menoleh ke Akbar, "apa Khadijah sudah punya calon suami bar?" Furqon bertanya balik.


Akbar tidak mengerti dengan pertanyaan Furqon, "maksudmu?"


Furqon tersenyum tipis, "bolehkah aku melamarnya bar?"


Akbar terkejut mendengar sahabatnya, sebab Akbar tahu kalau Furqon tidak bercanda menyangkut urusan lamaran pada perempuan.


"Kalau kau menjadikan adikku sebagai penutup lukamu, aku tidak akan mengizinkan kau melamarnya. Kau sedang bercanda bukan?"


"Kehadiranku selama ini tidak pernah diharapkan oleh Hindun, dan aku terlihat seperti laki-laki bodoh berharap dia membalas lamaranku. Aku memyukai Khadijah saat Hindun mengatakan bahwa menerima lamaran laki-laki lain." Jawab Furqon.


"Apa yang adikku katakan pada kau sampai kau berani menyukainya?" Tanya Akbar serius.


Furqon tersenyum tipis mengingat kejadian dimasa lalu.


"Katanya, aku itu laki-laki pemberani, tidak pengecut seperti kau yang ragu untuk menyampaikan niat baiknya. Dan Khadijah kagum padaku karena masih bisa tersenyum bahagia meskipun Hindun tidak bersamaku. Entah mengapa ucapan Khadijah menguatkanku, dan dia bilang, "aku selalu berdo'a agar kak Furqon kuat untuk lulus ujian perasaan." itu yang adik kau bilang padaku." Jawab Furqon panjang lebar.


Akbar tidak menyangka kalau adiknya berani bicara dengan Furqon seperti itu. Kini Akbar merasa tertampar karena selama ini Khadijah memperhatikan sikapnya, bahkan Khadijah tahu kalau dirinya memiliki perasaan pada Zahra sejak sekolah dulu.


"Sampaikan niatmu pada Zahra bar sebelum terlambat." Lanjut Furqon menepuk bahu Akbar dan meninggalkan sahabatnya.


Kini Akbar memandang Furqon yang menghampiri Khadijah sedang tertawa bersama. Akbar mengeluarkan ponselnya dan mengirimi pesan pada Zahra agar dia masih sabar untuk menunggunya.


Kemudian Akbar pun gabung bersama keluarganya sambil memperhatikan sikap Khadijah pada sahabatnya itu. Ia melihat jelas bahwa adiknya sesekali memandang Furqon dengan penuh kekaguman.

__ADS_1


__ADS_2