
Selesai sholat ashar Akbar dan Furqon sedang duduk bersama di salah satu kafe dekat kantor mereka. Mereka sedang membicarakan rencana mereka yang akan membuka kafe di wilayah Bogor. Namun sekitar pukul 5 sore Furqon mendapat telepon dari orangtuanya untuk menyuruhnya pulang karena ada hal yang mendesak sehingga menyudahkan obrolan mereka.
Akbar sendirian sambil meminum kopi, tangan kirinya hanya melihat ke layar hp seperti berharap ada notif dari seseorang. Saat ia hendak pergi tiba-tiba Hawa datang sambil tersenyum ramah padanya.
Hawa duduk di hadapan Akbar, sudah sekitar setengah jam mereka dalam keadaan hening tidak ada yang mulai dalam pembicaraan. Bahkan Hawa sejak tadi hanya memainkan ponselnya sambil sesekali melirik wajah Akbar yang tampak serius.
Notifikasi yang Akbar tunggu, dengan wajah sumringah Akbar membuka pesannya. Ya, pesan itu dari Zahra yang jauh di sana.
"ada seseorang yang menunggu jawaban dariku, laki-laki itu telah membicarakan niat baiknya pada umi dan abi. Bagaimana menurutmu bar?"
Senyuman yang tadi menghiasi wajah Akbar langsung menghilang seketika mendapat pesan dari Zahra. Entah apa yang sedang dirasakan oleh perempuan yang ia cintai itu, bagaimana bisa Zahra membicarakan hal seperti itu dengannya. Akbar hendak membalasnya, namun ia urungkan niatnya, ia harus memikirkan balasan yang tepat.
Kali ini kedua mata Akbar melihat Hawa yang entah sejak kapan memandanginya.
"Kamu kenapa bar?" Tanya Hawa.
Akbar tersenyum kecil, "tidak apa-apa, kamu biasa ke sini?"
Hawa diam sejenak, ia tahu kalau laki-laki yang sedang di hadapannya itu menyembunyikan sesuatu darinya.
"Iya, hampir setiap hari aku ke sini. Papah kirim salam untukmu." Kata Hawa menyeruput kopinya.
"Papah ajak kamu makan malam di rumah. Bagaimana?" Lanjut Hawa menatap Akbar secara terang-terangan.
"Kapan?" Tanya Akbar.
"Besok malam, apa kamu bisa?"
"InsyaAllah aku akan datang."
Hawa menghela nafasnya lalu tersenyum pada Akbar, "aku tunggu kedatanganmu, kalau begitu aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum."
Akbar melihat Hawa dengan terkejut, "wa... Wa'alaikumsalam."
Akbar meraih ponselnya lagi dan membaca pesan dari Zahra berulang-ulang, ia merasa dirinya sudah kalah, ia seperti pecundang yang pesimis sebelum berperang. Bahkan yang ada dipikirannya selama ini hanya sukses baru mengkhitbah Zahra. Tapi ternyata ia salah, seharusnya ia berbicara apa adanya pada orangtua Zahra.
Kedua mata Akbar berkaca-kaca, ia merasa menyesal dengan sikapnya selama ini. Ia membuka instagram dan melihat postingan Zahra tadi malam.
..."Jika Allah berkata dia jodohku, maka yang tak ku kenal, yang tak saling sapa akan menjadi imamku. Dan yang sudah dekat bahkan dikenal baik oleh keluargaku, jika Allah berkata bukan jodohku, maka dia akan pergi."...
Akbar langsung beranjak pergi dari kafe tersebut dan pulang ke apartemennya. Ia ingin sekali menelepon Bela menanyakan apa yang telah terjadi, namun Akbar kembali mengurungkan niatnya. Ia duduk di lantai sambil melihat pemandangan kota Jakarta.
Dalam setahun Akbar dan Furqon memang bisa dibilang sukses dalam merintis perusahaannya. Telepon Akbar berdering sejak tadi, melihat panggilan dari Furqon ia mengabaikannya. Akbar ingin menyendiri dan memikirkan jawaban yang ditanyakan oleh Zahra.
Jari jemari Akbar mulai membalas pesan dari Zahra.
"Apa alasanmu tidak menjawabnya?"
^^^"Aku ingin menyelesaikan sekolahku dulu."^^^
"Lalu?"
^^^"Aku akan menerima lamarannya."^^^
"Aku akan datang ke pernikahanmu."
Zahra terdiam di dalam kamarnya sambil membaca balasan pesan Akbar, ia tidak menyangka dengan ucapan Akbar. Diary Bela masih ada padanya, dan Bela sempat menuliskan bahwa Akbar mencintai Zahra. Tetapi sekarang saat Zahra mengatakan hal tersebut, Akbar hanya bilang akan datang ke pestanya, Zahra berpikir bahwa Akbar memang tidak pernah mencintainya.
__ADS_1
Saat Bela masuk ke dalam kamarnya, Zahra langsung menghapus air matanya dan menghapus semua pesan dari Akbar. Lalu ia keluar kamar dengan alasan lapar dan ingin masak makanan kesukaannya. Bela bingung dengan sikap sahabatnya seolah menyembunyikan sesuatu darinya.
Di Jakarta, setelah Akbar mengatakan hal tersebut ia menahan kesedihannya, ia memang dari awal harusnya tidak memiliki perasaan pada Zahra. Karena baginya, Akbar tidaklah pantas untuk bersanding dengan Zahra.
Furqon menerobos masuk ke dalam apartemen sahabatnya, ia melihat Akbar sedang duduk di lantai sambil mendekap kedua lututnya. Furqon menghampiri Akbar dengan perlahan, namun yang mendengar suara isakan tangis.
Dengan rasa khawatir Furqon langsung mendekatinya dan melihat Akbar yang menangis. Akbar segera menghapusnya lalu berdiri, dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kau tunggulah dulu, aku mau mandi." Kata Akbar masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Akbar sedang di dalam, Furqon melihat ponsel Akbar yang masih menyala dan tidak terkunci. Ia membaca semua percakapan dirinya dengan Zahra, namun ia tidak menyangka kalau sahabatnya akan mengatakan hal tersebut. Karena Furqon yakin Akbar sangat mencintai Zahra, bahkan kerja keras selama ini, tidur yang tidak lebih dari 4 jam hanya untuk Zahra.
Furqon langsung berencana akan mencari tahu calon suami Zahra, ia hanya ingin tahu dan membantu sahabatnya percaya diri. Furqon segera keluar dari apartemen Akbar tanpa memberitahunya.
...***...
Malam itu Akbar terlihat sangat tampan, ia bercermin melihat pantulan dirinya, ia tersenyum beberapa detik sebelum akhirnya senyuman itu menghilang dari wajahnya. Akbar tarik nafas panjang lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang bahwa ia akan pergi malam itu.
Sesampainya di depan rumah yang mewah dan megah, Akbar turun dari mobilnya disambut dengan senyuman manis oleh Hawa, tatapan mata Hawa tidak lepas dari sosok Akbar. Dengan dress selutut serta rambut yang bergelombang menambah cantik seorang Hawa.
Pak Heru menyambut tamu spesialnya dengan pelukan hangat, dia mengajak Akbar untuk berbincang-bincang mengenai bisnis yang Akbar sedang jalankan bersama Furqon. Pak Heru bangga dengan kegigihan Akbar yang masih muda, bahkan Akbar harus menjadi contoh karyawannya agar terus semangat untuk mewujudkan mimpinya.
Mereka pun berjalan ke ruang makan, Hawa lagi-lagi tersenyum melihat papahnya bersama Akbar lalu ia mempersilahkan Akbar duduk dan menikmati masakan yang sudah Hawa hidangkan bersama asisten rumah tangganya.
Akbar merasakan gugup saat berada ditengah-tengah pak Heru dan Hawa, ia bingung harus bersikap seperti apa, karena ia sadar kalau dirinya sedang tidak bersemangat malam itu. Pikiran Akbar terus melayang pada Zahra, bahkan Akbar berharap Zahra mengatakan sesuatu kepadanya.
"Bagaimana makanannya bar? Enak?" Tanya Hawa semangat.
Akbar mengangguk pelan, "enak." Jawab Akbar.
"Hawa yang siapkan semuanya bar." Ucap pak Heru lagi tersenyum melihat Akbar dan putrinya bergantian.
Pak Heru ikut tertawa, sedangkan Hawa hanya senyum-senyum menatap Akbar.
"Katanya ada tamu spesial yang akan makan malam di sini." Kata pak Heru melirik Hawa.
"Papah! ish, jangan bicara begitu, malu tau." Sahut Hawa cemberut.
Akbar hanya senyum canggung menanggapi perkataan pak Heru.
Tiba-tiba satu pesan dari Zahra membuat Akbar terkejut.
"Aku akan tunggu..."
Merasa dirinya sedang ditatap oleh Hawa, Akbar langsung menaruh ponselnya di saku jas lalu tersenyum kecil pada Zahra.
"Apa kau sudah punya calon istri bar?" Tanya pak Heru.
"Emm... Saya tidak tau harus jawab apa pak, hehehe." Jawab Akbar.
"Kamu sudah punya pacar bar?" Tanya Hawa.
Akbar menghentikan makannya karena sudah terasa tidak nyaman dengan pertanyaan seperti itu, apalagi dengan situasi hatinya yang sedang hancur.
"Aku tidak pacaran Hawa, kau tau itu kan?" Jawab Akbar.
Hawa langsung terdiam dan menunduk menyudahi makan malamnya. Kini makan malam itu menjadi hening, Akbar menenggak habis minumannya lalu permisi pulang oleh pak Heru jika sudah selesai. Pak Heru mengizinkan jika Akbar segera pulang, karena ia tahu Akbar sedang sibuk karena pekerjaannya.
__ADS_1
Melihat Akbar berjalan keluar rumahnya, Hawa langsung berlari menghampiri Akbar dan memanggil namanya. Akbar berhenti menoleh ke belakang, Hawa berdiri di hadapannya dengan perasaan cemas.
"Ada apa Hawa?" Tanya Akbar.
Hawa menelan air liurnya karena menatap wajah laki-laki yang sudah ia cintai lebih dari satu tahun itu. Dengan ragu-ragu Hawa memegang tangan Akbar, namun Akbar langsung menolaknya dan menanyakan kembali apa yang akan Hawa bicarakan dengannya.
"Bar, tolong islamkan aku." Ucap Hawa pelan.
Akbar terkejut mendengarnya, ia tidak tahu apa yang baru saja ia dengar. Namun wajah Hawa memandangnya dengan serius, bahkan kedua matanya menyorotkan penuh harapan bahwa Akbar bisa membantunya.
"Pasti kamu kaget kan? Sebenarnya.. Sudah lama aku ingin memeluk islam. Tenang saja bar, ini semua bukan karena nafsuku, dan bukan karena kamu aku ingin pindah keyakinan. Tapi aku ngerasa nyaman dengan agama baruku." Kata Hawa.
"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Akbar.
"Ajari aku tentang ikhlas, ajari aku tentang semuanya. Karena aku.. Karena aku.. Maaf bar, aku mencintaimu." Jawab Hawa sambil berkaca-kaca.
Akbar mundur satu langkah mendengar perkataan Hawa. Memori Akbar kembali teringat ucapan Furqon dulu yang seandainya Hawa meminta dirinya untuk mengajari semuanya dan menaruh hati padanya karena kebaikan yang ia lakukan pada semua orang.
"Jangan salah paham bar! Sebelum aku kenal kamu, aku sudah berniat untuk masuk islam, dan papah menyetujuinya, aku disuruh untuk mencari tahu lebih dalam ilmunya. Dan.. Setelah aku mengenalmu, mengenal Zahra, dan mengenal keluargamu, sepertinya yang sulit bagiku adalah menerima kenyataan untuk belajar keikhlasan dalam hidupku. Kamu mau kan mengajariku?"
Akbar diam tidak berkutik sedikit pun, ia bingung harus menjawab apa karena ia juga belum tahu apa itu ikhlas, ia juga masih berharap pada manusia. Akbar menarik nafas panjang lalu menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih bar, kamu hati-hati di jalan ya. Aku masuk ke dalam dulu, assalamu'alaikum." Ucap Hawa.
"Wa'alaikumsalam." Balas Akbar pelan.
Akbar masih melamun dengan semua yang dibicarakan oleh Hawa. Namun getaran ponsel dari sakunya menyadarkan Akbar, ia segera masuk ke dalam mobilnya lalu membuka pesan masuk dari Zahra.
"Aku menunggumu."
Dengan perasaan sedih, senang, Akbar membacanya. Ia senang kalau Zahra menunggu dirinya, tapi sisi lain ia tahu bahwa Hawa mencintai dirinya, bahkan ia juga tidak bisa mengatakan dengan pasti kapan akan menemui Zahra karena ia harus mengurus pekerjaannya sampai benar-benar sukses.
Akbar ragu untuk membalas pesan Zahra, bukannya ia tidak mencintai Zahra hanya saja ia tidak mau membuat kecewa Zahra dengan tidak mengatakan apapun dari pesan tersebut.
^^^"Terimakasih sudah menungguku Zahra. Tapi.. Aku tidak tau kapan pasti datang menemui orangtuamu, kalau hatimu lelah menungguku terimalah pinangan laki-laki yang dipilihkan orangtuamu."^^^
Akbar meneteskan airmatanya, ia menundukkan kepalanya sebelum ia pergi dari rumah Hawa.
Di dalam kamar Bela termenung sambil menggenggam hp Zahra, ia berkaca-kaca saat membaca pesan yang ia kirimkan pada Akbar karena tidak mungkin Zahra berani mengatakan perasaannya pada Akbar.
Bela tahu apa yang sedang dirasakan oleh sahabatnya itu, ia tahu kalau Zahra yakin Akbar masih mencintainya sejak SMA, namun ia tidak tahu mengapa Akbar seolah tidak berjuang demi perempuan yang dia cintai. Zahra tersenyum bahagia saat masuk ke dalam kamarnya meskipun hp nya ketinggalan saat mengajar.
"Kamu rindu Akbar tidak?" Tanya Bela.
Senyuman Zahra langsung menghilang saat Bela menanyakan perihal tentang Akbar.
Zahra diam sesaat lalu menggeleng pelan tanpa melihat wajah sahabatnya.
"Kamu bohong Zahra! Kenapa kamu tidak bilang sama umi dan abi sih kalau kamu menyukai Akbar?!" Tanya Bela.
"Kalau aku bilang, apa Akbar akan datang menemui umi dan abi? Apa Akbar akan bilang kalau dia ingin meminangku? Itu semua hanya khayalan Bela, dan aku hanya menerima yang sudah ada di hadapanku." Jawab Zahra.
"Apa kamu bahagia?" Tanya Bela lagi.
"Iya! Aku sangat bahagia." Jawab Zahra lalu keluar dari kamarnya menuju dapur.
Zahra menghapus air matanya saat berada di meja makan, ia menuang air putih lalu meminumnya sambil mengingat momen saat ia pertama kali bertemu dengan Akbar. Senyumannya terukir kecil namun ia langsung beristigfar dan kembali pada masa sekarang dan masa depan. Ia yakin bahwa Allah akan membuatnya bahagia dari sebelumnya.
__ADS_1
Zahra selalu yakin kalau Allah tidak pernah mengkhianati dirinya, ia selalu yakin kalau Allah akan memberikan yang terbaik untuknya dan hatinya. Zahra hanya menyandarkan keyakinannnya kepada sang pemilik hati bukan kepada seseorang yang dititipkan hatinya.
"Terimakasih untuk semuanya ya Allah." Ucap Zahra dan Akbar bersamaan namun berbeda tempat sambil melihat ke atas.