
Hari itu Zahra memutuskan untuk menjenguk Bela ke rumahnya, karena sudah tiga hari dia tidak masuk sekolah. Namun saat Zahra menelepon dan mengatakan bahwa ia akan ke rumah, Bela selalu menolak kehadirannya dan berbicara bahwa dia baik-baik saja.
Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya itu. Saat jam istirahat tiba, Zahra melihat Akbar sedang berada di lapangan basket. Kedua mata mereka bertemu, lalu Zahra memutuskan untuk turun dan melihat pertandingan basket tersebut.
Sebenarnya Zahra ingin menanyakan tentang Bela pada Akbar, karena sejak ucapannya beberapa hari lalu dia tidak masuk sekolah. Selesai main basket Akbar menghampiri Zahra lalu duduk di sampingnya dan membuat jarak di antara keduanya.
"Tidak PKL?" Tanya Zahra memulai obrolan keduanya.
"Lagi libur. Tumben kamu turun?" Tanya Akbar meminum air mineralnya.
"Ada yang mau aku tanyakan sama kamu." Jawab Zahra.
Akbar mengernyitkan dahinya, "apa?"
"Kamu kenal Bela?" Tanya Zahra.
"Bela sahabat kamu?"
Zahra mengangguk, "iya."
"Kenapa dengannya?" Tanya Akbar.
"Beberapa hari lalu, waktu kamu ke ruang osis, Bela mau bicara sama kamu. Emm..."
Zahra kebingungan menyampaikannya, sedangkan Akbar masih diam mendengarkan ucapan Zahra.
"Dia bilang... Dia.. Men..."
"Mencintaiku?" Potong Akbar.
Zahra terkejut lalu mengiyakannya.
"Bela memang bilang ke aku, tapi aku tidak pacaran Zahra. Dia mengajakku untuk berkencan dan pacaran, aku tidak bisa seperti mereka, aku hanya ingin berada di jalanNya."
"Lalu Bela?" Tanya Zahra yang mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.
"Bela perempuan pintar, dia mengerti dengan apa yang aku ucapkan. Dia tidak memohon seperti perempuan lain untuk menjadikan aku sebagai pacarnya." Jawab Akbar.
"Sejak saat itu Bela sakit. Dia tidak masuk sekolah tiga hari, setiap kali aku mau ke rumahnya, dia bilang, dia baik-baik saja." Ucap Zahra.
"Maksud kamu... Bela sakit karena aku menolak cintanya?" Tanya Akbar lagi.
"Aku juga tidak tau. Tapi, aku ke inget Mika yang begitu mengharapkan kamu supaya jadi pacarnya. Sampai melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri." Jawab Zahra.
"Mika dan Bela berbeda Zahra. Bela perempuan yang mengerti setiap kali mendengar ucapan orang lain meskipun itu menyakitinya. Sedangkan Mika, dia perempuan ambisius dan rela melakukan apapun demi mendapatkan keinginanya." Ujar Akbar.
Zahra terdiam beberapa saat tak lama hujan pun turun, Zahra segera permisi pada Akbar untuk kembali ke dalam kelas. Namun ia tidak langsung masuk ke dalam kelas, Zahra berdiri di depan kelas sambil memikirkan Bela. Ia menarik nafas panjang lalu mengatakan pada ketua kelasnya untuk pergi ke rumah Bela bersama-sama. Mungkin dengan cara itu, Bela tidak menolak kedatangannya.
Selesai jam pulang sekolah, Hamid sebagai ketua kelas memutuskan untuk mengajak beberapa temannya menjenguk Bela di rumahnya. Saat sampai di depan rumah Bela, semua teman-teman kelasnya tidak menyangka kalau itu adalah rumah Bela. Karena rumah tersebut sangat sederhana, tidak ada dinding batu melainkan dinding yang terbuat dari kayu, serta hanya ada bangku panjang di depan rumahnya yang terbuat dari kayu juga.
Zahra meyakinkan teman-temannya bahwa yang dilihat mereka memang benar rumah Bela. Mereka langsung merasa iba pada Bela, karena selama ini mereka tidak peduli padanya, karena Bela tidak sepintar mereka dan tentunya dia hanya mengandalkan beasiswa dari sekolah.
"Assalamu'alaikum." Hamid mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."
Seorang ibu-ibu membukakan pintunya dan terkejut melihat para remaja itu berdiri di depan rumahnya.
"Ada yang bisa dibantu nak?" Tanya ibu tersebut sambil membenarkan kerudunganya.
"Apa benar ini rumahnya Bela bu?" Tanya Nia.
__ADS_1
"Oh, kalian temannya Bela! Iya betul ini rumahnya, saya bu Asti ibunya Bela. Mari masuk nak!" Jawab ibu itu dengan semangat.
"Makasih bu."
Lalu mereka duduk di meja makan dan diberi teh manis oleh ibunya Bela.
"Bu, apa Bela sudah baikan?" Tanya Zahra lembut.
Ibu itu menatap wajah Zahra lalu menangis tersedu-sedu. Semua orang panik, mereka tidak tahu di mana salah dari ucapan Zahra.
"Bu." Panggil Zahra, namun si ibu langsung memeluk Zahra dengan penuh haru. Teman-teman Zahra masih bingung dengan tangis ibunya Bela.
"Be... Be... Bela tidak ada di rumah, sudah tiga hari yang lalu." Jawab ibu.
Semuanya saling menatap satu sama lain, mereka masih bingung mengapa Bela tidak ada di rumahnya dan meninggalkan ibunya yang sering batuk. Zaki langsung berdiri dari kursinya dan mencari Bela di dalam rumahnya bahkan Zaki membuka pintu kamarnya meskipun itu tidaklah sopan, namun ia hanya ingin tahu apa alasan Bela pergi.
Saat Zaki melihat ke dalam kamar Bela, ia hanya berdiri tanpa bisa berkata-kata. Teman-temannya yang lain langsung menghampiri Zaki dan melihat isi kamar Bela. Kasur Bela dipenuhi oleh kapuk dari dalam bantal yang sudah robek. Nia menemukan kertas di atas meja belajarnya, itu tulisan tangan Bela.
"AKU MENCINTAINYA SEJAK LAMA, AKU BISA GILA TANPA DIRINYA!!!"
Bahkan ada bercakan darah yang di kertas tersebut, Nia langsung memberikan kertas tersebut pada Zahra.
Hari semakin sore tetapi tidak ada tanda-tanda kepulangan Bela. Ibunya tertidur diatas kursi dengan wajah ia taruh diatas meja dan tangan sebagai alasnya. Melihat raut wajah ibunya, teman-teman Bela merasa kasihan bahkan Nia meneteskan air matanya.
"Kalian pulanglah duluan, sudah sore juga. Biar aku yang menemani bu Asti." Ucap Zahra pada teman-temannya.
"Tapi Zahra..."
"Aku tidak apa-apa, kalian pulang duluan ya." Kata Zahra.
"Kalau ada apa-apa tolong kabari kami ya ra." Ucap Hamid.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatu."
Mereka pun meninggalkan Zahra di dalam rumah Bela.
Saat Zahra sedang memasak, bu Asti bangun karena mendengar suara berisik dari dapurnya. Namun Zahra tersenyum melihat ibu itu telah bangun dan membantunya untuk duduk.
"Ibu kira Bela nak." Ucap bu Asti pelan.
"Anggap saja saya anak ibu." Ucap Zahra lagi dengan senyuman.
Bu Asti menggeleng, "kalian bagaikan bumi dan langit."
Zahra menghentikan sebentar masaknya lalu melanjutkannya lagi, ia membiarkan bu Asti bercerita tentang sikap Bela. Tiba-tiba bu Asti batuk terus, Zahra dengan cekatan memberikan air minum padanya.
Selesai masak Zahra mengajak bu Asti makan. Namun melihat lauknya, bu Asti sedih karena ia sudah tidak lagi memakan-makanan enak seperti yang Zahra hidangkan. Zahra mengambil piring lalu menyendok nasi serta daging dan lauk lainnya untuk bu Asti.
"Kamu tidak makan nak?" Tanya bu Asti saat sedang menyuap makanannya.
Zahra menggeleng pelan, "nanti saya makan bu. Ibu makan duluan ya. Oh iya, ibu sudah berobat?"
"Kalau ibu ada uang, lebih baik ibu belikan makanan kesukaan Bela daripada harus ibu pakai untuk berobat." Jawabnya tersenyum.
Sejak tadi Zahra menahan tangis, karena ia melihat bu Asti mengingatkan ia pada uminya yang masih berada di Mesir. Setelah makan mereka duduk berdua di depan teras rumahnya.
"Bu, kenapa saya dan Bela berbeda?" Tanya Zahra.
"Bagaimana sikap Bela di sekolah?" Bu Asti bertanya balik.
__ADS_1
"Dia anak yang baik, terlihat ceria setiap hari. Aku salah satu sahabatnya bu." Jawab Zahra.
"Ibu berharap di rumah pun dia bersikap sama nak, namun nyatanya... Dia meninggalkan ibu dan berteriak pada ibu jika keinginannya tidak ia dapatkan." Jawab bu Asti mengingat kejadiannya.
"Bela meneriaki ibu?" Tanya Zahra tidak percaya dengan sikap sahabatnya yang berbalik 180 derajat.
Ibunya mengangguk lalu meneteskan air mata, "Bela pernah bilang kalau dia iri sama teman barunya yang berasal dari Mesir, kenapa dia tidak lahir dari rahim seorang ibu yang seperti ibu temannya itu."
Zahra terkejut mendengarnya, ternyata selama ini Bela iri dengan kehidupan dirinya. Zahra benar-benar menyesal dengan sikap sahabatnya yang seperti itu pada ibunya sendiri.
"Apalagi yang Bela ucapkan ke ibu?" Tanya Zahra.
"Setiap pulang sekolah tidak ada raut kebahagiaan di wajahnya, kalau ibu bertanya kenapa, pasti dia marah-marah dan meneriaki ibu lagi sampai tetangga datang ke rumah."
Zahra memeluk ibu dengan penuh kasih sayang, ia merasakan bagaimana perasaan seorang ibu diperlakukan tidak baik pada anaknya sendiri.
"Apa Bela tidak pernah sekali pun tersenyum di depan ibu?"
"Itu sudah lama sekali nak, waktu itu dia bilang, dia sedang jatuh cinta pada laki-laki di sekolahnya, namun keesokan harinya, ia menjadi anak yang lebih kasar lagi. Belum sempat ibu bertanya, dia menyalahkan ibu dan bapaknya yang tidak kaya, yang tidak seperti teman-temannya. Dia iri dengan kehidupan teman-temannya yang kaya raya. Katanya, laki-laki itu mencintai perempuan yang kaya, semua laki-laki tidak akan ada yang suka dengannya karena dia lahir dari keluarga miskin."
Zahra meneteskan air matanya dan segera menghapusnya. Sudah masuk waktu maghrib, Zahra mengajak ibu untuk sholat maghrib di masjid, namun ibu menolaknya, ia sholat di rumah saja takut sewaktu-waktu Bela pulang ke rumah dan mencari ibunya.
Bu Asti memasukkan buku diary Bela ke dalam tas Zahra saat ia hendak mengambil air wudhu di rumahnya.
Selesai sholat maghrib, Zahra kembali ke rumah Bela dan melihat sahabatnya sedang mencaci maki ibunya, dari kejauhan ia melihat sikap Bela pada ibu kandungnya sendiri. Bu Asti jatuh tersungkur saat bela membawa tas besar dari dalam rumahnya.
"Jangan pergi Bela! Jangan pergi nak!" Bu Asti menahan Bela bahkan memeluk kaki anaknya.
"Aku sudah tidak mau lagi tinggal di rumah reot ini!!! Gara-gara kamu dan suamimu aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan!!! Lepaskan aku!!!" Teriak Bela lalu menendang ibunya sampai jatuh.
Zahra melihat Bela berjalan dengan cepat menuju mobil mewah tanpa peduli orang-orang melihatnya, bahkan Bela tidak tahu ada Zahra sedang memperhatikannya.
Semua orang langsung menolong ibu, Zahra mengambil tasnya lalu menelpon sopirnya untuk menjemput dirinya dan membawa bu Asti ke rumah sakit.
Zahra menatap bu Asti dengan penuh kasih sayang, hatinya tidak menyangka kalau Bela memperlakukan ibunya seperti itu. Ia mengambil tasnya, lalu ada buku diary milik Bela yang ditaruh oleh bu Asti. Ia membuka lembaran pertama, Bela menuliskan curahan hatinya saat ia mendapatkan beasiswa di sekolah As-Sobirin, Zahra tersenyum membacanya karena ia tahu bagaimana rasa bahagia sahabatnya.
Lembaran demi lembaran Zahra baca, sampai pada lembaran Bela menuliskan isi hati pada kakak kelasnya, Akbar.
"Hatiku merasa berdebar-debar saat melihat dirinya, sepertinya aku mencintainya. Tapi... Aku tidak tahu ke mana hatinya nanti berlabuh. Padaku atau orang lain? Namun yang pasti aku sangat mencintai kakak kelasku itu." Bela.
Tangan Zahra membalik lembaran selanjutnya.
"Ada murid baru di sekolahku, namanya Zahra. Dan dia menjadi teman pertamaku di sekolah. Dia cantik, pintar, dan banyak dikagumi oleh murid lain. Aku iri padanya, dia besar di Negara yang ingin sekali aku kunjungi. Ya, Negara itu adalah Mesir. Setiap kali aku bertanya, aku semakin iri padanya. Terlebih dia berasal dari keluarga yang kaya raya. Sungguh berbanding terbalik denganku :(" Bela.
Isi diary tersebut hanya menggambarkan bagaimana Bela iri pada Zahra dari segala hal sampai hati Zahra ragu untuk membuka lembaran terakhir dari buku diary sahabatnya, namun ia ingin tahu apa yang terjadi pada Bela sebelum ia pergi meninggalkan ibunya.
"Hari itu aku mengatakan cinta pada kakak kelasku. Dengan perasaan gugup aku memberanikan diri mengungkapkannya berharap dia memiliki perasaan yang sama padaku. Namun nyatanya, aku DITOLAK olehnya, dia berdalih dengan mengatakan bahwa dia tidak pacaran.
Aku mencoba memahaminya, dan siap menunggu untuknya. TETAPI... dia bilang... Kalau dia telah mencintai perempuan lain. Aku bertanya siapa perempuannya? Meskipun aku sudah tahu dari tatapan kedua matanya. "Zahra", suara lembut Akbar mengatakannya di depanku tanpa merasakan apa yang aku rasakan hari itu.
Aku hanya diam terpaku, tanpa mau lagi mendengarkan apa yang Akbar katakan. Aku langsung berlari menuruni anak tangga dan pulang ke rumah. Aku sadar bahwa tidak akan pernah ada seseorang yang mencintaiku dengan keadaan diriku seperti ini. Aku dan Zahra bagaikan bumi dan langit, dia kaya raya sedangkan aku? MISKIN, dia pintar sedangkan aku BODOH. Aku tidak mempercayai siapa pun lagi bahkan keluargaku sendiri. Aku BENCI mereka! Karena mereka aku seperti ini! Aku juga BENCI Zahra! Dia merebut laki-laki idamanku selama ini!" Bela.
Ada beberapa tetes darah dan tentunya bekas air mata Bela saat menulisnya.
Zahra menutup buku diary tersebut, tangannya gemetar memegangnya, hatinya sakit karena membaca curahan hati Bela. Ia tahu bahwa sahabatnya saat ini sedang kecewa, tetapi sayangnya Bela tidak mensyukuri apa yang dia punya di hidupnya. Seorang ibu yang begitu menyayanginya, kesederhanaan yang dia punya, dan kemampuan lainnya yang ada di dalam dirinya sendiri bahkan Zahra tidak memilikinya.
Zahra menelepon Bela namun tidak diangkat, ia mencoba berkali-kali namun tetap saja tidak ada jawaban. Akhirnya Zahra memutuskan untuk merawat ibu Bela dengan penuh cinta.
Akbar mengirimkan pesan pada Zahra dan menanyakan kabar Bela. Ia tahu dari Nia, Zahra mengatakan yang sebenarnya. Dan ia juga mengatakan bahwa ia akan berada di rumahsakit sampai ibu Bela sadar dan sembuh.
Sepanjang malam, Zahra duduk di samping bu Asti sambil membacakan ayat-ayat suci Al-qur'an supaya Allah sadarkan beliau dan kembali tersenyum. Seorang suster menyuruh Zahra untuk istirahat, namun Zahra hanya mengangguk dan melanjutkan bacaannya sampai ia tertidur.
__ADS_1