
Sekitar pukul 7 pagi Akbar sudah sampai di kantor pak Heru untuk mengatur file-file yang akan ia kasih ke pak Heru untuk bahan meeting nanti. Akbar memang sangat pintar, sehingga pak Heru tidak salah menempatkan dirinya sebagai asisten pribadinya, selain itu Akbar memang mempunyai kepribadian yang menyenangkan.
Setelah selesai menyusun file, Akbar menaruh diatas meja pak Heru, namun saat ia ingin keluar ruangan ia melihat foto Hawa sedang tersenyum bersama pak Heru. Ada senyum kecil di wajah Akbar saat memandangnya sebelum ia memutuskan untuk kembali ke dalam ruangannya.
Sebelum menjalankan aktifitas seperti biasa, Akbar memimpin briefing pagi para karyawan, dan melakukan do'a bersama sesuai kepercayaannnya masing-masing. Doni tersenyum bangga melihat sahabatnya menjadi orang kepercayaan pak Heru, dan yang membuat dirinya bangga, Akbar tidak tinggi hati mendapatkan hal seperti itu. Bahkan menurut Doni, Akbar masih sama seperti dulu saat ia bekerja sebagai office boy di kantor tersebut.
Akbar sedang serius menyelesaikan tugas-tugasnya, lalu ia melihat Doni masuk ke ruangannya.
"Mau kopi pak Akbar?" Tanya Doni senyum meledek.
Akbar menghentikan kerjaannya, "pak? Kau kira aku sudah setua itu don, kau panggil pak Akbar?"
"Hehehe, serius sekali. Mau kopi tidak? Sekalian aku buatkan."
"Hmmm..." Akbar sedikit berpikir, "tidak usah lah, yuk kita buat kopi bareng." Akbar merangkul Doni dan berjalan menuju dapur kantor.
"Kenapa kau tidak menyuruhku saja bar? Kenapa kau selalu buat kopi sendiri padahal karyawan lain menyuruhku? Itu pekerjaanku." Tanya Doni memasukkan kopi ke dalam gelas.
"Aku tau itu pekerjaan kau, tapi aku juga tau kau sibuk. Lagi pula aku tidak biasa minta tolong pada orang lain." Jawab Akbar menyeruput kopinya.
Doni mengernyitkan dahinya, "kau bohong lagi bar."
"Hahahha, sudah lah tidak akan habis kita bahas kopi. Aku lanjut kerja ya, kau kasih lah kopi itu." Tunjuk Akbar pada kopi buatan Doni.
"Ini buat Hawa." Kata Doni.
"Oh, ya sudah sini, sekalian aku yang kasih."
"Eh... Eh... Tidak usah." Tolak Doni.
"Tidak apa-apa, sini!" Akbar langsung mengambil nampan dan membawa kopi Hawa dan kopinya.
Doni menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sahabatnya seperti itu.
Akbar mengetuk pintu ruangan Hawa, ekspresi Hawa menyuruh Akbar masuk ke dalam. Gadis itu tersenyum manis saat laki-laki yang ia cintai datang ke kantornya untuk memberikan kopi pesanannya.
"Nanti malam ada acara tidak?" Tanya Hawa saat Akbar hendak keluar.
"Nanti malam aku mengisi pengajian di dekat rumahku, memangnya ada apa?"
"Oh, emm... Boleh aku datang ke pengajianmu?" Tanya Hawa lagi, meskipun ia ragu untuk mengatakannya.
Akbar terkejut mendengarnya, karena yang ia tahu Hawa seorang non muslim.
"Tentu! Datanglah ba'da isya." Jawab Akbar senyum, lalu menyudahi obrolannya dan melanjutkan pekerjaannya.
Hawa tersenyum sumringah saat ia diperbolehkan datang, ia tidak tahu kalau Akbar akan setuju dirinya ada di masjid.
Saat jam makan siang, Akbar duduk bersama Doni di kantin kantor. Mereka berbincang mengenai rencana Akbar setelah lulus sekolah, sampai Doni menanyakan kabar gadis bernama Zahra.
"Alhamdulillah dia baik." Jawab Akbar.
"Sampai kapan kau sembunyi dengan rasa cintamu itu bar?" Tanya Doni.
"Sampai... Imanku mengalahkan hawa nafsuku." Jawab Akbar.
Doni mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Saat aku jatuh cinta pada seseorang, ada hawa ***** dariku untuk memilikinya, apalagi naudzubillah sampai mengajaknya pacaran." Kata Akbar.
"Lalu?" Tanya Doni lagi.
"Aku akan melamarnya don, mungkin setelah aku..."
"Sukses?" Potong Doni.
__ADS_1
Akbar tersenyum mengangguk pelan.
"Apa kau yakin bahwa perempuan itu tidak ada yang mengkhitbah? Apa kau yakin perempuan itu mencintai kau dalam diam? Bar, hanya mengungkapkan cinta apa salahnya?!" Kata Doni.
"Tidak ada yang salah don dengan ucapannya, aku cuma takut hawa nafsuku lebih besar dari imanku sehingga terjerumus dalam lembah dosa. Biarkan lah aku do'akan untuknya, jika memang digariskan bersama, sejauh apapun aku berpisah akan bersatu juga." Ucap Akbar.
Tanpa sadar Hawa mendengarkan pembicaraan mereka, seluruh tubuh Hawa terasa kaku, suara indahnya tercekat ditenggorokan. Apalagi mendengar bahwa Akbar sedang mencintai seorang perempuan. Tangan kanan Hawa masih setia memegang gelas air dingin, ia tidak bisa merasakan dinginnya es karena hatinya cemburu mendengar setiap ucapan yang terlontar dari Akbar.
Nella datang ke meja Hawa dan mengagetkannya sehingga lamunannya buyar seketika, dan senyuman diwajahnya hanya terpaksa untuk menutupi kecemburuannya.
Akbar menoleh ke belakangnya dan ia melihat ada Hawa sedang makan siang, Akbar membalas senyuman Hawa dan melanjutkan obrolannya dengan Doni.
...***...
Malam harinya, Akbar telah siap untuk melaksanakan sholat isya berjama'ah, ia berjalan bersama Furqon sahabatnya yang rumahnya bersebelahan dengannya. Selesai sholat, Akbar mengaji sambil menunggu kedatangan pemudi untuk memulai pengajiannya.
Dibaris depan Akbar melihat Hawa yang terlihat serius mendengar kisah tentang Nabi yusuf as. Dan Akbar terkejut melihat ada Bela di baris paling belakang bersama perempuan bercadar, yang ia tahu itu adalah Zahra. Setelah kejadian di rumah sakit Akbar tidak tahu lagi kabar Bela dan ibunya, bahkan saat mereka keluar dari rumahsakit ia tidak ada untuk menemani karena sedang melaksanakan PKL.
Setelah kajian Zahra tanpa sengaja melihat Hawa duduk di sana, ia menarik nafas dalam lalu melihat Akbar yang sedang duduk bersama para Kiyai. Bela langsung mengajak pulang, Akbar menghampiri Hawa dan mereka saling tersenyum. Zahra menundukkan pandangannya lalu berjalan pulang bersama Bela. Di dalam pikiran Zahra, Akbar tidak mengetahui ada dia dan Bela di masjid tersebut.
Namun setelah Zahra pergi, Akbar mencari-cari keberadaannya, ia keluar masjid dan melihat mobil Zahra sudah pergi. Ia hanya bisa melihatnya dari kejauhan, lalu ia kembali duduk di teras masjid dan menyandarkan tubuhnya. Furqon datang dan menanyakan siapa gadis yang bersama sahabatnya itu.
"Dia anak dari bosku fur." Jawab Akbar.
"Lalu itu apa?" Tanya Furqon melihat Akbar memegang gantungan kunci bertuliskan huruf "A".
"Namanya Hawa, tadi aku berterimakasih karena dia mau datang ke pengajianku, lalu dia memberikanku ini. Dia seorang non muslim." Jawab Akbar.
"Masya Allah! Lalu kau dilema?"
Akbar menoleh ke Furqon dan membenarkan posisi duduknya.
"Tidak, aku hanya berteman dengannya." Jawab Akbar.
"Bar, kalau perempuan memberikan hal seperti ini, dia memiliki perasaan padamu. Maaf bar bukannya aku su'udzon, tapi apakah dia datang untuk menerima ilmu di pengajian kita, atau hanya ingin melihatmu?"
"Aku harus bagaimana fur?"
"Berikan kepastian!"
"Aku tidak enak hati fur."
"Aku tau, dia pasti merasa sakit hati. Tapi lambat laun dia akan menerima keputusanmu. Aku cuma menyarankan saja, selebihnya terserah kau."
Furqon memang sahabat terbaik bagi Akbar, dia mengerti keadaan yang sedang dirasakan oleh sahabatnya. Bahkan ia tidak segan-segan menegur Akbar jika melakukan kesalahan. Dan ia selalu menyarankan yang baik untuk hati Akbar agar tidak terus menerus berada di pikirannya.
"Aku percaya sejauh apapun jarak di antara aku dengan dia, kalau Allah sudah menggariskan berjodoh, pasti akan berjodoh fur. Tapi sebaliknya, dan aku hanya ingin mencoba kenyataan pahitnya." Ucap Akbar memandang lurus jauh ke depan.
"Kau percaya dengan itu semua, tapi kau juga sedang mencoba pahitnya. Itu sama saja kau tidak percaya pada kuasa Allah bar!"
"Astagfirullah! Maksud kau?" Tanya Akbar tidak mengerti dengan ucapan Furqon.
"Pasrahkan semuanya ke Allah, jangan mencoba hal yang kita sendiri belum tahu." Furqon dengan sabar menyarankan pada sahabatnya.
"Hmmm... Iya fur. Jangan bahas asmaraku terus dong! Kau sendiri bagaimana dengan Hindun?" Tanya Akbar, ia tahu bahwa Furqon menaruh hati pada perempuan yang sedang menimba ilmu di pesantren.
"Lulus sekolah aku ingin mengkhitbahnya bar. Aku cuma pasrah ke Allah, aku dan kau sama-sama seperti Ali bin Abi Thalib, mencintai dalam diam." Jawab Furqon.
"Insyaallah hajatmu terkabul fur."
"Aamiin ya robb!" kata mereka serempak sambil menengadahkan kedua tangannya ke langit.
"Hayulah tidur! Nanti tidak bangun tahajud." Kata Furqon.
Akbar mengangguk lalu masuk ke dalam masjid.
__ADS_1
Ucapan Furqon yang ingin mengkhitbah Hindun terus menggelayuti pikiran Akbar, ia bukan seperti Furqon yang berasal dari keluarga kaya raya. Bahkan masjid yang mereka pijak adalah milik kakek Furqon yang di wakafkan untuk masyarakat sekitar. Dan Furqon masuk sekolah elite tanpa beasiswa meskipun ia termasuk siswa yang cukup pintar.
Pikiran Akbar dibawa dalam suasana yang berandai-andai, logikanya membandingkan dirinya dengan kehidupan Furqon yang serba ada. Akbar langsung beristigfar, dan menyudahi pikiran-pikiran seperti itu, sebab ia tahu jika itu terjadi, Akbar tidak akan bisa bersyukur dengan kehidupannya.
...***...
Hari itu Akbar datang ke sekolah untuk bertemu dengan teman-temannya, ia hanya meluangkan waktu ke sekolah bermain basket meskipun selain itu ia ingin memastikan bahwa Zahra baik-baik saja. Namun sampai jam istirahat Akbar tidak melihat Zahra, bahkan biasanya perempuan itu akan berdiri di depan kelas dan melihat ke lapangan basket bersama Bela atau temannya yang lain.
Akbar meraih ponselnya dari dalam tas, ia ingin menelepon Zahra namun tidak jadi. Akhirnya ia menaruh ponselnya lagi lalu berjalan ke kantin bersama temannya.
Saat Akbar sedang berdiri di depan gerbang, ia melihat Bela berlari tergesa-gesa. Akbar segera memanggilnya untuk menanyakan Zahra.
"Assalamu'alaikum kak." Ucap Bela.
"Wa'alaikumsalam, Zahra tidak masuk sekolah bel?" Tanya Akbar.
"Emm... Zahra kecelakaan kak, keadaannya kritis." Jawab Bela.
"Apa! Kecelakaan?!"
Bela mengangguk, "ini alamat rumahsakitnya kak, aku permisi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Kaki Akbar terasa lemas setelah mendengarnya, ia menggenggam alamat rumahsakit serta ruangan icu yang diberikan oleh Bela. Ia menahan tangis di hadapan teman-temannya. Namun ia pamit untuk segera pulang ke rumah.
Dengan perasaan sedih, Akbar langsung datang ke rumahsakit. Namun sebelumnya ia minta izin pada pak Heru untuk tidak masuk PKL besok, sebab ia ingin menemani Zahra. Sesampainya di sana Akbar segera berlari untuk sampai ke depan ruang icu tempat Zahra berada.
Sudah ada umi, abi, bu Asti, dan Bela di ruang tunggu depan ruang icu. Akbar berjalan pelan sambil memandang umi yang tengah menangis di dalam pelukan suaminya. Bela langsung berdiri saat Akbar datang, dia mempersilahkan Akbar duduk di samping ibunya.
"Ya Allah kuatkan anakku, sadarkanlah Zahra ya Allah!" Umi terus-menerus meratapi anak semata wayangnya sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Kamu mau lihat Zahra?" Tanya Bela menghapus air matanya.
Akbar menundukkan kepalanya, ia menangis dalam diamnya tanpa menjawab pertanyaan Bela. Keadaan Zahra masih kritis, dan itu membuat semua orang merasa sedih dan khawatir dengan Zahra.
"Zahra kecelakaan waktu mau ke masjid, ia hendak nyebrang jalan. Namun tiba-tiba ada mobil dengan kencang menabrak dirinya." Ucap Bela pada Akbar. Meskipun ia tahu bahwa Akbar akan diam, tapi Bela tahu kalau laki-laki itu menanyakan penyebab kecelakaan Zahra di dalam hatinya.
Sekitar pukul 19:00 malam, Akbar meminta izin pada kedua orangtua Zahra untuk melihat kondisi Zahra saat mereka sudah mulai tenang. Akbar masuk ke dalam ruangan, ia tidak bisa menahan kesedihannya lagi, ia menangis saat memandang perempuan yang ia cintai terbaring lemah di rumahsakit. Akbar duduk di samping kanan Zahra, ia berdo'a supaya Zahra kembali sehat, dan tidak lupa ia membacakan ayat-ayat suci Al-quran.
"Semua orang khawatir padamu, cepatlah sadar Zahra." Ucap Akbar pelan, ia menghapus air matanya lalu keluar ruangan.
Mereka masih menunggu Zahra pulih, mereka tidur diruang tunggu, sedangkan Akbar berjalan ke musholah rumahsakit untuk tadarus di sana. Selesai sholat isya Furqon menelepon Akbar, sebab ibu menanyakan kabarnya. Akbar lupa memberitahukan ibunya kalau ia tidak pulang hari itu karena sedang menemani Zahra bersama keluarganya.
Semalaman Akbar tadarus, ia tidur sebentar lalu bangun untuk melaksanakan sholat tahajud, dan kembali mengambil Al-quran untuk membacanya.
...***...
Sudah satu minggu Zahra di rumahsakit, namun belum ada tanda-tanda ia akan membuka mata dan berkumpul bersama keluarganya lagi. Akbar tidak konsentrasi dalam melaksanakan pekerjaannya, ia minta maaf pada pak Heru karena tidak maksimal dalam bekerja saat hari-hari terakhir ia bekerja di kantor.
Baik Hawa dan teman Akbar lainnya merasakan kegelisahan Akbar, biasanya dia akan berlama di kantor meskipun sudah selesai melaksanakan pekerjaannya, kali ini dia langsung pulang tanpa bicara sepatah katapun pada teman-temannya.
Hari itu Akbar ingin ke rumahsakit melihat kondisi Zahra, dan ternyata Hawa berniat mengikuti Akbar. Dia ingin tahu apa yang dilakukan Akbar akhir-akhir ini, Hawa penasaran tentang Akbar dan kehidupannya.
Hawa mengikuti motor Akbar yang melaju dengan kecepatan tinggi, ia merasa khawatir apa yang sedang terjadi pada laki-laki yang ia cintai, saat ia melihat motor Akbar masuk ke parkiran rumahsakit, akhirnya Hawa pun segera mengikutinya.
Diam-diam Hawa berjalan di belakang Akbar, saat Akbar menoleh Hawa segera sembunyi. Jantung Hawa semakin berdetak kencang melihat Akbar semakin cepat melangkah, kemudian berhenti di salah satu ruang icu.
Saat itu belum ada siapa-siapa yang menunggu Zahra, akhirnya Hawa mengintip dari jendela dan melihat siapa yang Akbar temui. Ia terkejut melihat Akbar menangis, dan yang membuat dadanya terasa sesak adalah, Akbar menangisi kondisi Zahra. Hari ini Hawa tahu kalau dia benar-benar mencintai Akbar. Dia cemburu melihat sikap Akbar yang terkesan biasa saja hari ini, tidak ada senyuman yang seperti biasa Akbar tunjukan kepada teman-temannya.
Hawa langsung duduk di kursi ruang tunggu, kakinya terasa lemas dan ia memegang dadanya yang terasa sesak serta air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi.
Bela datang menggunakan seragam sekolah, ia melihat dari kejauhan ada seorang perempuan seumuran dengannya sedang duduk di depan kamar Zahra. Bahkan yang membuatnya heran mengapa perempuan itu menangis. Saat Bela duduk di sebelahnya, Hawa hanya menoleh sebentar menghapus air matanya lalu pergi meninggalkan Bela di ruang tunggu sendirian.
Dengan rasa penasaran Bela mengintip ke dalam kamar Zahra, ternyata sudah ada Akbar di sana sedang membaca Al-quran untuk sahabatnya. Siapa perempuan itu? Kenapa dia menangis? Pikir Bela di dalam hatinya. Ia hanya menghela nafasnya lalu membuang pikiran tentang Hawa.
Setelah hampir 3 jam Akbar di dalam ruangan Zahra, ia pun melangkahkan kakinya dengan berat hati keluar dari pandangan perempuan yang ia cintai. Di ruang tunggu Akbar terkejut sudah banyak keluarga Zahra yang menunggu, Bela menghampiri Akbar dan mengatakan bahwa seluruh keluarga Zahra berterimakasih padanya karena sudah menemani Zahra.
__ADS_1
Akbar pamit pulang kepada orangtua Zahra dan ia meminta maaf karena terlalu lama membaca Al-quran untuk Zahra. Abi menepuk bahu Akbar dan menyuruh Akbar untuk sering datang menjenguk putrinya. Dengan perasaan lega akhirnya Akbar pulang ke rumah dan langsung istirahat tanpa mempedulikan getaran ponselnya.