
Hari Minggu pagi, Akbar sedang duduk di teras rumahnya sambil membaca buku-buku bahasa Arab. Akhir-akhir ini Akbar memang sedang memperlancar dialog arab. Saat ia sedang fokus belajar tiba-tiba Furqon datang lalu ikut duduk lesehan bersama sahabat karibnya. Akbar tahu ada Furqon namun ia sengaja tidak mengajaknya bicara.
Dengan wajah kesal Furqon mengambil buku bahasa Arab dari tangan Akbar. Ia melihat sahabatnya terkejut, dan menaruh buku tersebut di samping kanannya.
"Ada perlu apa kau ke sini pagi-pagi sekali?" Tanya Akbar merebut buku dari sahabatnya.
"Kau sudah selesai PKL kan?" Furqon bertanya balik.
Akbar menganggukkan kepala, "sudah, memangnya kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa. Aku merasa kesepian saja tidak ada kawan main, selama ini kau terlalu sibuk cari uang." Jawab Furqon.
"Bukankah sejak dulu aku memang sibuk cari uang? Sebenarnya tuh apa sih yang mau kau obrolin denganku?" Tanya Akbar.
Bukannya menjawab pertanyaan Akbar, Furqon malah diam seribu bahasa, ia merebahkan tubuhnya di lantai sambil menatap langit-langit rumah Akbar.
Akbar menghela nafas, dan membiarkan Furqon sibuk dengan pikirannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, eh bu Hj Mina. Ada apa ya bu?" Tanya Akbar.
"Saya mau ketemu ibumu." Jawab Hj Mina.
"Oh, silahkan masuk bu! Ibu ada di dapur sedang masak." Ucap Akbar.
"Ya sudah kalau begitu ibu ke dalam dulu ya."
"Iya bu."
Akbar memandang Furqon yang sejak tadi masih diam. Bahkan ada bu Hj Mina pun hanya tersenyum tanpa ikut bicara, biasanya Furqon paling bisa untuk bergabung dalam pembicaraan siapapun.
"Insyaallah saya sekeluarga datang bu." Kata bu Wati.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya bu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Ucap bu Wati, Akbar dan Furqon bersamaan.
"Bu," panggil Akbar.
"Iya?"
"Bu Hj Mina ngapain?" Tanya Akbar.
"Loh kamu tidak tahu?" Bu Wati bertanya balik.
Akbar menggeleng, namun kedua mata bu Wati menyuruh Akbar bertanya pada Furqon, bukan hanya Akbar yang tahu isi hati Furqon, namun ibunya dan Khadijah tau. Karena bu Wati sudah menganggap Furqon seperti anaknya sendiri.
"Fur ada apa sih?" Tanya Akbar penasaran.
Furqon tertunduk, "lusa pernikahan Hindun bar." Jawabnya.
Akbar menyesal tidak mengetahui kabar itu, bahkan ia tidak ada saat Furqon sedang membutuhkannya karena ia terlalu sibuk PKL dan rumahsakit. Akbar bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Furqon saat ini, ia memandang Furqon yang masih tenggelam dengan kebisuannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, loh kok kamu pulang?" Tanya Akbar pada adiknya.
"Aku mau datang ke pernikahannya kak Hindun." Jawab Khadijah dengan gembira. Namun ia segera sadar bahwa ada Furqon bersama kakaknya, ia langsung segera masuk untuk bertemu ibunya.
"Aku tidak apa-apa kok bar, insyaallah aku datang." Ucap Furqon mengangkat wajahnya dan memandang lurus ke depan.
__ADS_1
Akbar merangkul sahabatnya, "kau sahabat terbaikku fur! Maaf aku sibuk akhir-akhir ini sampai-sampai aku tidak mengetahui bahwa Hindun sudah dikhitbah dengan orang lain."
"Wajar kau sibuk, bagaimana keadaan Zahra?" Tanya Furqon mengalihkan pembicaraannya.
"Masih belum sadar fur, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Semoga dia cepat sembuh." Jawab Akbar.
"Aamiin ya robb!"
"Lalu Hawa?" Tanya Furqon.
"Dia baik, sangat baik." Jawab Akbar.
"Yakin?"
Akbar menggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bar, jika suatu hari Hawa bilang, islamkan aku bar. Apa yang kau lakukan?"
Akbar menghentikan belajarnya dan menutup bukunya, ia tidak percaya bahwa Furqon akan berpikiran seperti itu kepada Hawa dan dirinya.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Tanya Akbar serius.
"Tidak apa-apa, aku cuma merasa Hawa sangat mencintaimu, bahkan dia rela datang ke pengajian hanya untuk melihatmu, dan tentunya dia sangat serius mendengarkan kisah nabi yang kau bawakan. Apa kau tidak bisa melihat dari matanya?"
Akbar menarik nafas panjang, "aku tidak pernah melihat mata perempuan fur, entah bagaimana aku merasa berat untuk menatapnya."
"Kau benar bar, jodoh sudah Allah yang gariskan, bahkan terkadang seseorang yang tidak kita sangka bisa saja menjadi pasangan kita nanti." Ucap Furqon tersenyum.
Sebenarnya ia mengatakan itu untuk merefresh hatinya pada Hindun. Ia tahu kalau ia sakit hati, ia tahu kalau hatinya sedang retak, tapi siapa sangka Furqon meyakini Allah yang lebih dalam memilihkan pasangan hidupnya dibandingkan hatinya sendiri.
"Kau tau fur, sebelum kita dilahirkan bahkan diciptakan, Allah sudah memilihkan jodoh kita. Meskipun kita berpisah diujung dunia pun, kalau memang Allah bilang dia jodoh kita insyaallah kita akan bersatu. Yakinlah pada Allah dalam keadaan apapun, karena Allah tergantung prasangka hambanya." Akbar menenangkan hati Furqon.
Mungkin sangat mudah bagi Akbar dalam memberi saran pada Furqon karena dia sedang tidak merasakan, tetapi dia juga akan selalu yakin pada kuasa Allah apapun yang terjadi pada dirinya, sepahit apapun kehidupannya nanti.
Tak lama Furqon pun pamit pulang pada sahabatnya. Akbar hanya melihat punggung sahabatnya yang menghilang dari pandangannya, ia masuk ke dalam dan duduk di ruang tv bersama Khadijah.
"Kak," panggil Khadijah.
"Hmm..."
"Maaf ya tadi aku keceplosan, aku senang banget kak Hindun menikah tapi aku lupa kalau kak Furqon mencintainya." Ucap Khadijah.
"Tidak apa-apa." Sahut Akbar.
"Emm... Kak Furqon datang?"
Akbar memandang wajah adiknya lalu menganggukkan kepalanya.
"Kamu harus sering ngobrol dengan Furqon bar, terkadang iman yang menurut kita kuat akan lemah jika berurusan dengan hati. Apalagi ibu tahu kalau Furqon sudah berniat mau mengkhitbah Hindun." Kata bu Wati menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.
"Iya bu, kemarin aku sibuk ke rumahsakit, tapi aku akan selalu ada buat Furqon kok bu." Ucap Akbar.
Mereka pun melakukan sarapan bersama sambil mengkhawatirkan Furqon yang terlihat pendiam, itu bukan sifat aslinya sebab Furqon adalah seseorang yang humoris dan selalu tertawa, jarang sekali ia terlihat diam dalam hal apapun.
...***...
"Alhamdulillah Zahra sudah siuman. Oh, iya, kamu ditanyain sama abi."
Akbar membaca sms dari Bela berulang-ulang kali meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah membaca. Dengan gembira Akbar mengucapkan syukur pada Allah karena telah memberi kesembuhan untuk Zahra. Akbar segera pamit kepada ibunya untuk berangkat ke rumahsakit menemui Zahra.
Akbar memanaskan motornya lalu menelpon Furqon dan menceritakan sms Bela pada sahabatnya. Furqon pun sampai di rumah Akbar untuk ikut bersamanya. Sesampainya di sana, Akbar dapat sms lagi dari Bela kalau Zahra sudah dipindahkan ke ruang perawatan yang berada di lantai 1.
__ADS_1
Furqon begitu senang melihat sahabatnya itu tersenyum terus sepanjang perjalanan, bahkan Akbar tidak tahu kalau ia akan merasakan sebahagia itu mendengar kabar dari Zahra.
Sesampainya di depan kamar rawat, Akbar dan Furqon memberikan salam pada keluarga Zahra. Mereka dipersilahkan masuk untuk melihat keadaan Zahra yang sedang bersama Bela dan kedua orangtuanya.
Senyuman Zahra langsung menghiasi wajahnya saat ia melihat Akbar datang di ambang pintu. Zahra berterimakasih kepada Akbar dan Furqon karena sudah menyempatkan diri datang menjenguk dirinya.
"Kamu tidak pernah cerita ke umi siapa Akbar." Ucap umi menatap kedua mata Zahra.
"Emm... Akbar kakak kelasku mi." Kata Zahra.
"Terimakasih banyak nak Akbar sudah menjenguk Zahra, saya sangat senang melihatnya, apalagi saat kamu sering baca Al-quran saat anak saya koma." Kata abi.
Zahra terkejut mendengarnya, ia berpikir kalau Akbar baru hari ini datang menemui dirinya, tetapi sudah dari hari pertama ia masuk ke rumahsakit. Ia menundukkan wajahnya dengan dalam, ia malu melihat wajah Akbar.
"Sama-sama pak kiyai." Ucap Akbar.
"Kenapa Zahra pindah sekolah umi?" Tanya Bela.
Zahra diam, Akbar dan Furqon sangat terkejut mendengar pertanyaan Bela, mereka saling pandang sebelum melihat orangtua Zahra.
"Zahra harus dekat dengan kami sayang, dan minggu depan abi sama umi harus berada di Aceh. Kamu tidak apa-apa kan tinggal bersama ibumu di rumah?" Umi menatap lembut wajah Bela.
Suasana terasa hening, tenggorokan Akbar terasa tercekat saat ia ingin bicara, Akbar tidak tahu harus bersikap bagaimana saat itu, ia canggung, ia gugup, dan ia terkejut mendengar keputusan orangtua Zahra.
"Kita bisa ketemu lagi kok Bela, insyaallah setelah lulus nanti kamu dan aku akan kuliah di universitas yang sama." Kata Zahra tersenyum sambil menggenggam tangan Bela.
Bela memeluk Zahra dan menghapus air matanya, sebab ia seperti itu karena kebaikan keluarga Zahra.
"Kamu tidak boleh pergi dari rumah ya, awas saja kalau sampai aku pulang terus aku dapati rumah kosong!" Ancam Zahra bercanda, sehingga membuat Bela tersenyum.
"Makasih ya bar, untuk semuanya." Ucap Zahra.
"Sama-sama." Kata Akbar.
Bela memandang Akbar yang terlihat sedih harus menerima bahwa Zahra pindah sekolah. Ia tahu kalau Akbar sangat mencintai sahabatnya itu.
"Kalian ngobrol lah, umi sama abi keluar dulu ya." Suruh umi.
Saat orangtua Zahra keluar ruangan, Bela dan Furqon menjauh dari mereka, karena bagaimana pun ada banyak sekali yang ingin Akbar sampaikan pada Zahra.
"Kenapa pindah?" Tanya Akbar tanpa melihat wajah Zahra.
Gadis itu menunduk, "aku perlu perawatan bar."
"Memangnya di Jakarta kenapa?"
"Aku yang ingin ke sana, urus pesantren, dan ingin dekat dengan orangtuaku."
Akbar menahan kesedihannya, ia tidak mau kalau Zahra tahu perasaannya.
"Khadijah akan ke Aceh setelah lulus, dan melanjutkan belajarnya di sana. Ku harap kamu masih ingat. Aku pulang dulu ya, assalamu'alaikum."
Zahra mengangkat wajahnya sambil menatap kepergian Akbar, "wa'alaikumsalam." Balasnya pelan.
Zahra meneteskan air matanya, dan beristigfar. Ia tahu kalau dirinya lemah tentang perasaaannya, ia pura-pura tegar, ia pura-pura kalau ia tidak mencintai Akbar, namun nyatanya saat Akbar pergi ia sudah merasa kehilangan. Cepat-cepat ia hapus air matanya dan menggantikam dengan senyuman di wajahnya saat keluarganya datang.
Bela yang tahu bahwa Zahra menangis hanya bisa menghela nafas tanpa bisa berbuat apa-apa, sebab itu semua keputusannya.
Furqon berharap Akbar tidak merasa kehilangan Zahra, karena bagaimanapun itu semua demi kebaikan Zahra dan kedua orangtuanya.
"Kuatkanlah hati hamba ya Allah, jangan buat diriku menderita hanya karena makhluk ciptaanmu. Berikan cintaMu padaku ya Allah, karena hanya engkau yang tidak pernah meninggalkan hamba." Ucap Akbar di dalam hatinya.
__ADS_1
Sekuat apapun mereka pada satu nama, pada akhirnya mereka akan tunduk pada ketetapan Allah. Mereka sedang diuji dengan cinta, apakah cinta mereka lebih besar pada seseorang? Pada dasarnya hanya Allah lah yang maha cinta. Dan sebagai makhluk harusnya tidak perlu menduakan cintaNya.