
Sudah satu Minggu Akbar mengingkari janjinya pada Zahra dan keluarganya. Meskipun begitu Zahra tahu kalau ada alasan yang membuat Akbar tidak datang menemuinya, bahkan sampai ponsel Akbar mati. Sejak SMA hingga sekarang Akbar memang tidak berubah, dia sangat menjauh dari perempuan. Itulah alasan mengapa Zahra jatuh hati padanya.
Zahra sedang duduk diteras rumah sambil membaca buku Fatimah Az-Zahra, dalam diam Zahra tersenyum sendiri membacanya sebelum senyuman itu hilang saat Bela datang menemaninya.
"Sudah satu Minggu, tapi tidak ada kabar sama sekali! Sesibuk apa sih dia!" Umpat Bela.
"Istigfar bel. Siapa yang kamu maksud?" Tanya Zahra menutup bukunya.
"Akbar lah Zahra, memangnya siapa lagi!"
"Hush! Tidak boleh marah-marah seperti itu ah, Akbar pasti punya alasan sendiri kenapa dia membatalkan kesini." Ucap Zahra.
"Dia tidak membatalkan melainkan mengingkari ya Zahra! Kamu tidak marah padanya?" Tanya Bela.
"Untuk apa aku marah? Lagipula semuanya sudah takdir Allah." Jawab Zahra dengan tenang.
"Kamu kecewa 'kan karena Akbar membuat kamu terus menunggu sehingga timbul rasa dilema dalam hatimu. Jujur Zahra!" Pinta Bela menatap Zahra dengan serius.
"Kalau aku berharap pada Akbar pasti aku akan kecewa, dan pastinya aku akan bersikap sama seperti kamu sekarang ini. Tapi Alhamdulillah aku gantungkan semua harapanku ke Allah, biar Allah saja yang ngatur. Aku terima saja, karena itu pemberian dariNya, dan yang pasti terbaik untukku." Kata Zahra.
"Aku banyak belajar darimu Zahra, kalau aku diposisi kamu memendam perasaan selama lebih dari 3 tahun, sepertinya aku tidak kuat." Ujar Bela senyum.
"Mencintai seseorang dalam diam sama saja mengikhlaskannya, ikhlas apa yang akan terjadi pada kehidupan masing-masing. Kalau memang jodoh, meskipun tidak saling mengatakan rasa maka akan disatukan oleh Allah." Kata Zahra.
"Aaah Zahra..." Bela menyeka air matanya yang tak terasa jatuh membasahi pipinya, ia langsung memeluk sahabatnya dengan sangat erat.
"Sudah ah, kok jadi nangis sih!" Kata Zahra melepaskan pelukan Bela.
"Hehehe terharu tau." Bela melepaskan pelukannya.
Abi datang ikut duduk bersama Zahra dan Bela. Wajah abi begitu serius memandang wajah putrinya, tangannya mengambil buku yang sedang Zahra baca.
"Abi mau bicara serius boleh?" Tanya abi.
Bela menjadi gugup saat abi hendak bicara seperti itu pada Zahra.
"Boleh abi." Jawab Zahra.
"Kenapa kamu membaca buku ini?" Tanya abi memperlihatkan buku Fatimah pada Zahra.
"Karena aku menyukainya abi, aku suka pada buku-buku seperti itu." Jawab Zahra.
"Apa cintamu sama seperti Fatimah kepada Ali?" Tanya abi lagi.
"Abi.."
"Jawab saja nak, abi ingin tau apa yang sedang dirasakan oleh putri abi."
"Aku ... Aku ... menyukai laki-laki itu sejak hari pertama pindah sekolah hingga hari ini. Akbar hanya tau aku akan menunggunya tetapi sepertinya dia tidak tau kalau aku mencintainya selama itu. Sebenarnya ada apa abi?"
"Kalau begitu suruh Akbar datang kesini lagi, sebisa dia kapan akan menemui abi." Kata abi.
"Abi tidak kecewa padanya?" Tanya Zahra.
"Kalau anak abi memberikan kesempatan padanya, abi pun sama. Karena abi yakin Akbar bukan laki-laki yang suka mengingkari janjinya." Jawab abi, lalu masuk kedalam rumah.
Zahra hanya terdiam tidak tahu apakah ia harus mengatakan permintaan abinya pada Akbar. Bela menggenggam tangan Zahra dan akan membantunya, bahkan kalau bisa Bela datang ke Indonesia untuk menjemput Akbar dan memastikan bahwa dia terbang ke Arab.
Bela masuk ke dalam kamar mengambil ponselnya untuk mencari tahu Akbar. Namun paman Efendi menelepon Zahra sudah 5 kali tapi tidak terjawab karena ponselnya berada di ruang tv.
"Telepon balik paman Efendi Zahra sepertinya ada hal penting yang mau dibicarakan olehmu." Ucap Bela memberikan ponsel sahabatnya itu.
Panggilan tak terjawab dari paman Efendi.
__ADS_1
Zahra langsung menelepon pamannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, ada apa paman?"
Wajah Zahra langsung terkejut, ia segera menutup telepon dari pamannya lalu bergegas ke dalam kamar untuk mengambil tasnya. Bela langsung menghampirinya dan menanyakan apa yang telah terjadi pada paman Efendi sampai membuat Zahra panik seperti itu.
"Aku harus ke Indonesia sekarang bel." Ucap Zahra.
"Ada apa sih Zahra?" Tanya Bela menahan Zahra pergi.
"Ibunya Akbar meninggal, aku harus kesana, kamu temani abi sama umi ya." Jawab Zahra.
"Ada apa nak?" Tanya umi yang bergegas keluar kamar saat mengetahui anaknya hendak ke Indonesia.
"Iya kamu kenapa buru-buru sekali?" Tanya abi.
"Umi, abi, ibunya Akbar meninggal. Aku harus kesana, mungkin ini alasan Akbar tidak bisa datang kesini bi." Jawab Zahra menahan kesedihannya.
"Innalilahi wa inailaihi roji'un." Ucap abi dan umi.
"Pergilah nak! Bela temani Zahra!" Suruh umi.
"Iya umi." Ucap Bela.
Zahra memeluk kedua orangtuanya, lalu pergi menuju bandara bersama Bela.
...***...
Suasana rumah Akbar sudah dipenuhi para pelayat, bahkan seluruh keluarga besar dari bapak dan ibunya sudah hadir untuk mendo'akan jenazah ibunya. Akbar menenangkan Khadijah yang terus menangisi kepergian ibunya, bahkan Khadijah sampai jatuh pingsan. Akbar segera menggendong adiknya dan ia baringkan di tempat tidurnya.
"Kau jaga Khadijah sampai siuman bar, biar saya yang urus ya." Kata om Surya, adik dari bapaknya Akbar.
"Iya om, terimakasih."
Khadijah kembali menangis melihat Akbar lalu memeluknya dengan erat. Ia sangat merasa kehilangan ibunya dan ia tahu kalau kakaknya pun sama dengan perasaannya, namun Akbar menyembunyikannya agar Khadijah bisa tenang dari sebelumnya.
"Kau tidak sedih kak ditinggal ibu?" Tanya Khadijah sambil sesegukan.
"Anak mana yang tidak sedih ditinggal oleh orangtuanya?"
"Kenapa kau tidak menangis?" Tanya Khadijah.
"Aku menyayangi ibu karena Allah, dan Allah lebih menyayangi ibu dariku, aku ikhlas karena ibu adalah milik Allah." Jawab Akbar.
Khadijah hanya menatap wajah kakaknya, bagaimanapun ia tahu kalau Akbar menyembunyikan kesedihan darinya.
"Bar, ibu sudah siap untuk disholati." Ucap Furqon membuka pintu kamar.
Akbar mengangguk, ia meminta Khadijah untuk mengikhlaskan ibunya meskipun ia tahu tidak semudah perkataan.
Selesai menyolati, Akbar bersama dengan saudaranya pergi ke pemakaman keluarga untuk mengantar ibunya ke peristirahatan terakhirnya. Sang ibu dimakamkan tepat disamping suaminya karena itu adalah permintaannya kepada Akbar.
Semua proses sudah Akbar lakukan, ia hanya memandang batu nisan bertuliskan nama ibunya. Tangis Khadijah kembali pecah sambil memeluk makam ibunya, Akbar menenangkan Khadijah bahkan kedua mata Akbar juga terlihat sembab dari balik kacamatanya.
Malam harinya, Khadijah merapihkan rumah setelah tahlilan. Akbar menghampirinya dan menyuruh adiknya istirahat, namun Khadijah menolaknya karena dengan melakukan aktifitas ia akan bisa menahan kesedihannya. Dari jauh Khadijah melihat Furqon sedang berbincang dengan Hindun.
"Assalamu'alaikum."
Akbar tertegun mendengar suara itu, ia diam seperti patung tanpa membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa tamu yang memberinya salam.
"Wa.. Wa'alaikumsalam, kak.. Itu kak Zahra." Ucap Khadijah yang terkejut melihat Zahra di ambang pintu.
__ADS_1
Lalu Akbar berbalik melihatnya, "wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."
Zahra dan Bela berjalan masuk, mereka berdiri dihadapan Akbar dan Khadijah.
"Aku turut berduka cita ya, semoga ibu diampuni dosa-dosanya, diterima amal ibadahnya, dan berada ditempat terindah disisi Allah." Ucap Zahra.
"Aku juga turut berduka cita ya bar." Kata Bela.
"Aamiin" Ucap Akbar.
"Aamiin. Emm.. Silahkan duduk kak, aku ambil minum dulu." Kata Khadijah langsung berjalan ke dapur.
Akbar masih berdiri, lalu tersadar saat kiyai Efendi masuk ke dalam dan memeluk Akbar. Akbar segera mencium tangan kiyai Efendi.
"Silahkan duduk pak kiyai." Ucap Akbar.
"Terimakasih bar, kau juga duduk." Kata kiyai Efendi.
Khadijah datang membawakan beberapa gelas air minum, ia duduk menemani kakaknya yang tampak gugup berhadapan dengan Zahra.
"Apa ada amanah dari abi untuk Akbar?" Tanya kiyai Efendi.
Zahra terkejut saat ditanya oleh pamannya.
"Emm.. Ada paman." Jawab Zahra melirik Akbar.
"Katakanlah nak!" Suruh kiyai Efendi.
"Bismillah." Gumam Zahra dalam hatinya.
"Apa kau ada rencana untuk menemuiku kembali bar?" Tanya Zahra.
Akbar terdiam sesaat, ia memikirkan sebelum menjawab pertanyaan Zahra, sebab ia tahu bahwa itu pertanyaan pribadi darinya.
"Sebelumnya aku minta maaf Zahra karena sudah berani menyuruhmu untuk menungguku. Aku memang berencana untuk pergi menemui, namun Allah berkehendak lain, Dia membuatku untuk memilih kedua wanita yang berada di depan mataku. Aku tidak datang ke rumahmu karena aku harus memenuhi kewajibanku sebagai anak untuk berbakti pada ibuku. Dan ku yakin kau lebih mengerti tentang hal itu Zahra." Kata Akbar.
"Kalau aku jadi dirimu, aku akan melakukan hal yang sama. Tapi setidaknya, kau beritahu wanita yang sudah lama menunggu kehadiranmu agar dia dan keluarganya tidak terlalu berharap." Ucap Zahra.
Akbar berjalan ke kamar ibunya lalu membawa tas yang berisi sajadah untuk Zahra.
"Itu sajadah dari ibu untukmu, dan saat itu pula ibu mengalami kecelakaan, saat ia hendak menyeberang jalan. Beliau hanya ingin aku membawanya ke rumahmu dan menceritakan bagaimana perjalanannya saat membelinya dipasar. Ibu sangat menyayangimu Zahra, sejak pertama kali beliau bertemu denganmu." Kata Akbar menahan kesedihannya.
Zahra menangis sambil menatap sajadah tersebut, Bela mengelus lembut punggung sahabatnya.
"Abi menyuruhmu untuk datang ke rumah bar, karena menurutnya kau bukan laki-laki yang suka mengingkari janji. Kapanpun kau ada waktu datanglah bar, temui abi." Ucap Zahra menghapus air matanya.
"Insyaallah aku akan datang."
"Saya akan temani kamu ke sana bar." Ucap kiyai Efendi.
"Terimakasih pak kiyai." Ucap Akbar.
Setelah Zahra dan pamannya pamit pulang, Akbar masuk ke dalam kamarnya untuk membaca Al-quran. Khadijah mendengarkan dari balik pintu kamar kakaknya, ia tahu sikap Akbar, jika merasa gugup dia akan langsung mengambil Al-quran.
Khadijah kembali duduk bersama bibinya yang bermalam untuk menemaninya dan Akbar sampai acara tahlilan selesai. Mengingat percakapan kakaknya, Khadijah merasa senang karena Akbar kini berani untuk datang menemui keluarga Zahra, wanita yang sangat diidam-idamkan oleh almarhumah ibunya untuk menjadi menantunya.
Selesai membaca Al-quran, Akbar keluar kamar untuk melihat adiknya. Ia tersenyum menatap wajah cantik Khadijah yang tertidur diruang tamu bersama bibinya, Akbar mencoba untuk membangunkannya namun Khadijah sudah sangat pulas. Akbar pun kembali ke dalam kamarnya untuk istirahat. Namun Akbar menatap foto ibunya sedang tersenyum ke arah kamera yang diambil oleh Furqon. Ia menghela nafas panjang lalu menaruh di atas meja kamarnya. Dengan tangan gemetar, Akbar membuka surat yang ditulis oleh ibunya sebelum kepergiannya.
...Nak, kalau kamu baca surat ibu, artinya tugas ibu sudah selesai di dunia ini. Jangan larut dalam kesedihan ya, kamu anak laki harus kuat dalam menghadapi ujian dari Allah, karena ada Allah bersamamu....
...Sesibuk apa pun kamu dalam dunia ini, kamu tidak boleh meninggalkan Sholat, dan beri waktu dalam hidupmu untuk selalu ada di samping adikmu ya, karena kamu tau kan Khadijah suka memendam semuanya sendirian, maka dari itu kamu harus lebih peka terhadapnya....
...Jujur ibu senang mendengar bahwa kamu mencintai Zahra, beliau wanita baik-baik dari keluarga yang baik, dan ibu harap kamu berani datang kepada ayahnya untuk meminang putri cantiknya. ...
__ADS_1
...Nak, ibu sangat ingin hadir menyaksikan pernikahanmu dengan wanita pilihan hatimu, tapi jika nanti memang ibu sudah tiada sebelum kamu menikah ibu ikhlas. Ingat nak, ibu meridhoi mu sejak kamu dalam kandungan sampai nafas terakhir ibu. Dan semoga itu membuka ridho Allah kepadamu dan keluargamu nanti. Aamiin....
Akbar menutup suratnya dan menyeka air matanya, ia bahkan tidak tahu sejak kapan ibunya menulis surat untuknya. Ia menaruh surat itu didalam laci bersama fotonya.