
Sudah satu minggu saat Hawa mengutarakan isi hatinya pada Akbar ia masih merasakan bagaimana Akbar terlihat mencintai orang lain dari sorot matanya. Hawa tahu perempuan itu adalah Zahra, namun ia terus mengelaknya dan berpura-pura tidak merasa patah hati karena mengetahuinya.
Sore itu Hawa akan mengucap syahadat yang di dampingi oleh pak Heru di salah satu masjid dekat rumahnya. Pak Heru terus meyakinkan putrinya perihal keputusannya tersebut. Sebab dia tidak mau kalau Hawa masuk islam hanya karena manusia.
Hawa sudah resmi menjadi mualaf, ia bahagia bisa memeluk agama yang sama dengan papahnya, tapi ia merasa tidak enak hati pada Akbar yang tidak ada kabar karena ucapannya malam itu. Hawa menghela nafas sambil melihat nomor ponsel dengan nama Akbar, ia ingin memberitahukan bahwa ia sudah menjadi seorang muslim namun ia menghapus kembali pesannya dan mengurungkan niatnya.
Gadis cantik itu merebahkan tubuhnya di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya, Hawa masih berkutat tentang Akbar dan perasaannya. Ia membuka intagram lalu mencari Zahra dan ia menemukannya, namun hanya ada tulisan-tulisan di postingannya.
Suara ketukan pintu kamar membuat Hawa tersadar dalam lamunannya, ia berjalan untuk membukakan pintu kamarnya. Kedua matanya terkejut melihat Feri tersenyum padanya lalu menerobos masuk.
Feri menatap wajah sepupunya itu dengan serius, kemudian ia melihat-lihat seisi kamar Hawa.
"Ada apa sih?" Tanya Hawa.
Feri duduk diatas kasur,"lo masuk islam?"
Hawa mengangguk.
"Karena siapa?" Tanya Feri, kini wajahnya lebih serius.
"Karena diri gue sendiri lah, kenapa sih emangnya?" Hawa sedikit jengkel pada sepupunya itu.
"Sorry, gue cuma takut lo ikut-ikutan doang." Kata Feri.
"Maksud lo?"
"Yah.. Takutnya lo naksir cowok muslim terus lo pindah agama biar lancar hubungan lo."
"Sejak dulu gue gak pernah mainin keyakinan ya fer! Jadi lo ke sini ngapain sih?!"
"Marah-marah mulu ih! Gue mau ke Aceh, pamit sama lo dan om Heri."
"Aceh?! Ngapain?"
"Kuliah di sana, biar deket sama cewek gue." Jawab Feri.
"Kapan berangkatnya?" Tanya Hawa lagi.
"Besok pagi, lo mau ikut?"
Hawa mengangguk mantap.
"Gila kali! Gak ah gue bercanda, lo di sini aja belajar bisnis sama bokap lo."
"Ayolah! Gue pengen belajar islam fer, gue pengen datengin tempat-tempat sejarah islam di Indonesia. Dan menurut gue Aceh tempat yang bagus untuk gue datengin pertama." Kata Hawa sedikit memohon.
Feri memicingkan kedua matanya, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Hawa.
"Apa ada yang mau lo temui di sana?" Tanya Feri.
"Tidak ada." Jawab Hawa tegas.
"Oh, yaudah kalau begitu lo bilang sendiri deh sama bokap lo." Ucap Feri keluar dari kamar Hawa.
"Okeh."
Selain belajar islam, Hawa memang ingin melepas kenangannya dengan Akbar, ia ingin melupakan semuanya agar dirinya fokus belajar agama. Hawa mengambil foto bersama Akbar dan teman kantor lainnya saat mereka magang dulu, ia tersenyum memandang wajah Akbar lalu ia menarik nafas panjang dan menaruh foto tersebut ke dalam laci.
Malam itu Hawa masuk ke dalam ruang kerja papahnya lalu meminta izin untuk pergi ke Aceh.
"Ada apa sih? Tumben sekali kamu pergi ke Aceh apalagi bareng Feri." Tanya Pak Heri.
"Tidak ada apa-apa pah, aku mau belajar benyak tentang islam." Jawab Hawa.
"Kamu mencintai Akbar?"
Hawa langsung menatap wajah papahnya dengan serius, lalu mengalihkan pandangannya ke depan dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Papah tau semuanya nak." Ucap pak Heru mengelus lembut rambut anaknya.
Hawa memandang papahnya dan segera memeluknya, tak terasa air matanya mengalir di pipinya.
"Akbar men.. Men.. Akbar mencintai perempuan lain pah." Kata Hawa dibarengi dengan isakan tangisnya.
__ADS_1
Pak Heru mengeratkan pelukannya agar Hawa tidak merasa kesepian.
"Apa ini alasannya kamu mau ke Aceh?" Tanya pak Heru.
"Aku mau belajar ikhlas pah, jika jarak memisahkan mungkin aku dengan cepat bisa melupakan Akbar." Jawab Hawa menghapus air matanya.
"Baiklah kalau begitu, tapi tetap jalin silaturahim ya nak." Kata pak Heru.
"Iya pah."
Hawa kembali memeluk papahnya dengan erat, meskipun pak Heru bukanlah ayah kandungnya tetapi Hawa sangat menyayanginya.
Di dalam kamar, sebelum Hawa berangkat ke Aceh bersama Feri, Hawa menuliskan surat untuk Akbar, karena selepas ia sampai Aceh, Hawa akan menonaktifkan semua sosmed nya dan ponselnya. Ia hanya akan menelepon papahnya menggunakan telepon rumah milik Feri.
...Assalamu'alaikum bar,...
...Kalau kamu membaca suratku ini berarti aku sudah tidak ada lagi di Jakarta. Aku pergi untuk mencari ilmu, jangan tanyakan kemana diriku pergi ya......
...Oh, iya, aku minta maaf dengan ucapanku malam itu. Aku tidak bermaksud membuatmu canggung bertemu dengan orang-orang disekitarku....
...Terimakasih sudah mau mengenalku bar, terimakasih atas kebaikanmu padaku. Aku pergi ya, assalamu'alaikum....
...~Hawa~...
Selesai menulis surat, Hawa menyuruh salah seorang asisten rumah tangganya untuk memberikan kepada Akbar. Sebenarnya ia ingin meminta tolong papahnya, namun Hawa takut kalau Akbar tidak akan datang menemui papahnya. Hawa mengemasi barang-barangnya dan segera pergi tidur karena besok pagi ia akan langsung ke bandara bersama Feri.
...***...
Pagi itu Akbar memimpin karyawannya untuk briefing, selain menegaskan tujuan perusahaannya ia juga memberikan motivasi agar ia selalu memiliki karyawan yang penuh dengan semangat dan percaya diri. Dan tentunya Akbar dan Furqon ingin menjadi rekan kerja mereka bukan sekedar bos.
Selesai baca do'a bersama Akbar mempersilahkan seluruh karyawannya untuk kembali bekerja. Sedangkan Akbar langsung berjalan ke dalam kantornya yang diikuti oleh Furqon. Akbar duduk sambil memejamkan kedua matanya, ia masih mengingat jelas bagaimana Hawa mengatakan persaaannya pada Akbar, ia masih ingat tatapan Hawa yang penuh harap kepada Akbar.
"Aarrgghh." Akbar mengerang sedikit sambil memegang kepalanya dan membuka kedua matanya.
Furqon hanya memandanginya tanpa menanyakan apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu. Di dalam kantor mereka memang rekan kerja meskipun seluruh karyawan tahu bahwa mereka sahabat sejak kecil.
"Bagaimana perekrutan karyawan untuk kafe kita di Bogor fur?" Tanya Akbar seolah dirinya baik-baik saja.
"Sedang berjalan, kenapa?" Furqon bertanya balik.
Furqon menelepon pak Joni dan menyuruhnya masuk ke ruangan mereka.
"Permisi pak." Kata pak Joni masuk ke dalam.
"Silahkan duduk pak!" Suruh Akbar tersenyum.
"Terimakasih pak."
"Apa bapak sudah menemukan kandidat yang akan menjadi karyawan untuk kafe kita?" Tanya Akbar.
"Sudah pak, tapi... Baru sebagian saja pak." Jawab pak Joni ragu, dia takut Akbar dan Furqon marah padanya.
"Kenapa baru sebagian?" Kali ini Furqon ikut bersuara.
"Kebanyakan yang melamar lulusan baru semua pak, sedangkan kita membutuhkan yang pengalaman dibidang FNB." Jawab pak Joni menjelaskan.
Akbar menyeruput kopinya, "pak, mereka tidak akan punya pengalaman selama perusahaan tidak memberi kesempatan mereka untuk mencoba." Ucapnya, dan Furqon hanya menanggapi ucapan sahabatnya itu dengan senyuman serta anggukan kepala.
"Tapi pak..."
"Pak Joni, buat 50% berpengalaman dan 50% lagi yang belum berpengalaman. Perusahaan kita harapan bagi mereka yang belum punya pengalaman kerja sama sekali. Dan untuk usia jangan max 23thn, max 30 thn, yang sudah menikah boleh melamar." Furqon memotong ucapan pak Joni.
"Karena usia 24thn ke atas sedang semangatnya mencari kerja. Perusahaan ini dibangun untuk memberikan harapan mereka bukan malah menyusahkan." Kata Akbar.
"Ba.. Baik pak, saya akan kerjakan sesuai perintah kalian. Kalau begitu saya permisi dulu." Pak Joni keluar ruangan sambil membawa berkas catatannya ke ruangannya.
Furqon melihat Akbar menghela nafas panjang lalu memutar ponselnya diatas meja kerjanya seolah sedang menunggu pesan atau telepon dari seseorang.
"Nanti malam kita datang ke pengajian bar, pak Kyai kangen katanya." Ucap Furqon.
Akbar mengangguk setuju, "kita tidak boleh lupa darimana kita berasal fur." Ujarnya dengan tatapan kosong.
"Betul bar, kita berdua cuma anak masjid tapi dengan ketulusan hati kita Alhamdulillah Allah angkat derajat kita diusia kita yang masih muda ini." Ucap Furqon mengingat ia berada di masjid, sejak kecil ia bermain-main di masjid saat anak kecil lain pergi ke warnet dan lain sebagainya. Sedangkan mereka berdua dituntun oleh orangtua mereka untuk bermain di rumah Allah.
__ADS_1
"Aku rindu masa kecil kita fur, saat aku belum jatuh cinta pada perempuan selain ibu dan Khadijah. Aku merasa saat itu aku manusia paling bahagia, karena tidak pernah tahu rasanya patah hati seperti apa." Kata Akbar terlihat sedih.
"Kita dibuat kecewa karena Allah ingin menolong kita bar. Emm.. Bagaimana kabar Zahra?"
Akbar tersenyum kecil, "baik, Alhamdulillah dia kirim pesan padaku untuk mengatakan kalau dia ingin menikah."
Furqon terkejut mendengar perkataan Akbar, akhirnya ia melihat sahabatnya untuk menceritakan apa yang sedang dirasakan dalam beberapa hari ini.
"Apa Zahra sudah menerima lamarannya?" Tanya Furqon.
Akbar menggeleng pelan, "setelah lulus kuliah, dia menerima lamaran laki-laki itu. Yang membuatku merasa bersalah adalah dia menungguku fur."
Kini kedua mata Akbar berkaca-kaca mengingat percakapannya dengan Zahra.
"Zahra tahu kalau kau mencintainya?" Tanya Furqon.
Akbar diam sejenak, lalu terkejut sendiri karena Zahra tahu perasaan Akbar padanya, sebab Zahra pernah membaca diary Bela, dan yang Akbar tahu Bela menceritakan hari saat Akbar menolaknya dan mengatakan bahwa perempuan yang dia cintai selama ini adalah Zahra.
Lamunan Akbar hilang saat salah seorang karyawannya memberikan surat dari kantor pos untuk Akbar.
Furqon melihat surat tersebut lalu Akbar membacanya dalam hati, ia semakin tidak menyangka kalau surat itu dari Hawa.
"Sebenarnya ada apa sih bar antara kalian?" Tanya Furqon penasaran sambil memegang surat Hawa.
"Dia memintaku untuk mengislamkannya, dan mengajari banyak hal tentang ilmu agama fur." Jawab Akbar.
"Lalu?"
"Hawa mencintaiku, aku tidak mengatakan apa-apa saat dia ingin belajar ikhlas. Kau tahu? Aku sendiri belum bisa ikhlas." Akbar menyandarkan tubuhnya dikursi.
"Kurasa ini cara Hawa untuk belajar ikhlas darimu, dia pergi untuk melupakan semuanya tentang kau bar. Aku yakin Hawa akan jadi muslimah baik dengan hati yang bersih dimana pun dia berada." Kata Akbar.
"Aamiin."
Saat jam makan siang, Akbar hanya berdiam diri di kantor sedangkan Furqon pergi ke kantin bersama para karyawannya.
Akbar tidur sejenak untuk menenangkan pikirannya, namun getaran ponselnya membangunkannya dan melihat pesan dari Zahra.
Assalamu'alaikum Akbar,
Beberapa waktu lalu, aku kirim pesan padamu dan mengatakan bahwa aku menunggumu kan? Sebenarnya yang kirim pesan itu adalah Bela bukan aku.
Kamu tidak perlu berpikir macam-macam, karena yang dikatakan Bela benar. Alasan aku tidak langsung menerima lamaran calonku adalah kamu...
Aku membaca diary Bela untuk kesekian kalinya dan aku berharap aku tidak salah baca tentang ucapanmu pada Bela. Hanya saja saat ini kamu sedang bekerja keras seperti dulu sehingga mengabaikanku sejenak. Tidak apa bar, aku tetap menunggumu... Sampai... Hatiku berkata 'cukup'.
Terimakasih sudah mau membaca pesanku yang panjang ini:) assalamu'alaikum.
Dengan tangan gemetar Akbar membalas pesan Zahra.
"Wa'alaikumsalam Zahra, jangan menyakiti dirimu sendiri karenaku, aku tidak mau mengecewakanmu Zahra. Aku juga tidak tahu nantinya, aku yang lebih dulu menemuimu atau surat undanganmu."
Akbar menyeka air matanya, kini ia tahu kalau Zahra memang mencintainya. Akbar hanya bisa memandangi isi pesan Zahra sampai waktu makan siang berlalu.
...***...
Di perpustakaan Zahra sedang membaca buku dengan serius tetapi tanpa sadar sudah ada Bela di hadapannya sambil tersenyum manis menatap wajahnya. Zahra menoleh ke belakang, sebab ia mengira Bela sedang memberikan senyum pada pengunjung perpustakaan tersebut.
"Apa kabar?" Tanya Bela membuka buku tentang bisnis.
"Alhamdulillah ba..."
"Hatimu." Potong Bela.
Zahra tersenyum kecil, "kamu tuh kenapa sih bel, bertanya tentang hatiku terus?"
Bela menceritakan tentang pesan yang ia kirim pada Akbar tanpa sepengetahuan sahabatnya itu. Zahra terkejut, tetapi dia penasaran dengan jawaban Akbar saat itu. Mendengar apa yang dikatakan Bela, Zahra merasa sedih lalu tertunduk dalam.
"Kamu mencintainya Zahra?" Tanya Bela lembut.
Zahra mengangguk pelan.
"Katakan pada Akbar tentang perasaanmu Zahra." Kata Bela.
__ADS_1
Dengan perasaan takut, akhirnya Zahra mengirim pesan tentang hatinya pada Akbar. Untuk selanjutnya Zahra menyerahkan semuanya pada Allah, karena jodoh tidak akan kemana. Semuanya rahasia Allah dan hanya Dia yang maha tahu.