Mencintaimu Lewat Do'A

Mencintaimu Lewat Do'A
Akhir Dari Kesabaran


__ADS_3

Sudah satu Minggu Akbar ditinggal oleh ibunya, hari-hari yang biasa ia lalui dengan bahagia serta penuh semangat dari sang ibunda kini telah tiada. Do'a mustajab dari seorang ibu sudah tidak bisa ia dapatkan, tetapi dunia terus berlanjut hingga suatu hari nanti Akbar pun akan kembali ke pangkuan sang ilahi.


Kini Khadijah lah yang menggantikan peran ibunya dirumah, ia menyiapkan makanan untuk kakaknya serta tak luput ia yang pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhannya bersama Akbar.


Akbar sudah jarang tinggal di apartemen semejak sepeninggal ibunya, meskipun jarak kantor dengan rumahnya terbilang cukup jauh ia memilih tinggal bersama Khadijah dirumah yang penuh kenangan dengan orangtuanya.


Saat Khadijah sedang duduk diteras rumah bersama Akbar, Furqon datang membawakan beberapa makanan untuk sahabatnya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Furqon dari depan gerbang.


"Wa'alaikumsalam, masuk fur!" Kata Akbar.


"Aku ke dalam ya kak." Ucap Khadijah saat tahu bahwa ada Furqon.


"Tunggu dulu, siapa tau ada hal penting yang dibicarakan sama kita." Kata Akbar.


"Eh, ada Khadijah." Ucap Furqon melihat Khadijah duduk disamping Akbar.


Khadijah hanya menganggukan kepalanya sekali.


"Duduk fur, ada perlu apa kau datang kesini?" Tanya Akbar.


"Memangnya tidak boleh aku berkunjung kesini?! Nih, makanan dari ibu buat kalian." Jawab Furqon memberikan bungkusan.


"Sampaikan terimakasih dari kita buat ibumu." Kata Akbar.


"Iya." Kata Furqon.


Suasana terasa sunyi, tidak ada yang mulai bicara, Akbar hanya melirik wajah Khadijah lalu beralih melirik wajah Furqon. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing namun berat untuk mengatakannya.


"Apa yang mau kau katakan pada Khadijah fur?" Tanya Akbar.


Furqon terkejut saat Akbar dengan terang-terangan mengetahui apa yang ingin ia bicarakan dengan adik sahabatnya itu.


Khadijah hanya diam mendengar pertanyaan sang kakak.


"Emm.."


Akbar masih melihat sahabatnya yang terlihat gugup, karena tanpa Furqon sadari Khadijah melihat Hindun berbicara dengan Furqon begitu serius.


"Bicaralah kak, aku tidak apa-apa." Ucap Khadijah membuka suaranya agar Furqon tidak terlalu gugup dengan situasinya.


Furqon menundukkan kepalanya, ia menghela nafas panjang sebelum memulai pembicaraannya, "Hindun memintaku untuk kembali padanya."


Khadijah langsung beristighfar supaya hatinya tetap tenang meskipun ia tahu kalau perasaannya tidak mungkin terbalaskan. Dalam hati Khadijah menyebut nama Allah, dan tidak kecewa dengan keadaan apapun yang Allah tuliskan untuk hidupnya.


Akbar masih diam menunggu perkataan Furqon selanjutnya, ia hanya melirik adiknya.


"Kembalilah kak." Ucap Khadijah.


Furqon melihat wajah Khadijah dan Akbar secara bergantian.


"Kenapa diam fur?" Tanya Akbar.


"Tidak apa-apa." Jawab Furqon.


"Aku ke dalam dulu ya kak." Kata Khadijah pada Akbar dan dijawab dengan anggukan kepala.


Sebenarnya Khadijah ingin memberi ruang kepada Furqon agar bisa membicarakan kegelisahaan perasaannya pada Akbar. Mungkin kehadiran dirinya membuat Furqon tidak bisa mengatakan apapun.


"Kapan kau ke Arab?" Tanya Furqon.


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Apalagi yang ingin kau bicarakan?" Akbar bertanya balik.


"Aku belum jawab permintaan Hindun bar." Kata Furqon.


"Kenapa?" Tanya Akbar.


"Aku menyukai Khadijah, tapi.."


"Kau menyukai adikku, dan kau juga merasa tidak enak hati menolak permintaan Hindun." Ucap Akbar memotong ucapan Furqon.


Furqon menghela nafasnya sambil menyandarkan tubuhnya dikursi.


"Sholat istikharah fur, itu kan yang selalu kau ingatkan padaku kalau sedang dilema. Apapun pilihanmu pasti itu yang terbaik bagimu, dan tentunya pilihan dari Allah." Ucap Akbar.


"Sudah bar, sudah ku lakukan."


"Lalu apalagi yang kau khawatirkan?"


Furqon menggeleng pelan.


"Aku hanya bisa berdo'a semoga kau bahagia. Emm.. Suruh pak Beni handle kerjaanku ya fur, besok aku berangkat ke rumah Zahra." Kata Akbar.


"Iya bar, kalau begitu aku pulang dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Akbar masuk ke dalam dan melihat Khadijah sedang mempersiapkan makanan di dapur. Khadijah merasa kalau Furqon masih ragu dengan keputusannya, ia hanya merasa akan menyakiti salah satu diantara mereka.


Akbar menuang air ke dalam gelasnya lalu duduk sambil memperhatikan adiknya. Ia hanya memandang dan menebak apa yang sedang dirasakan oleh adiknya itu.


"Ada apa kak?" Tanya Khadijah menyadarkan Akbar dari lamunannya.


"Kamu menyukainya?" Tanya Akbar.


"Itu hanya perasaan anak remaja kak, lagi pula aku tidak berharap apa pun." Jawab Khadijah menundukkan kepalanya.


Akbar langsung memeluk adiknya, ia tahu rasanya mencintai seseorang secara diam-diam.


"Dengarkan aku ya, apa pun yang menjadi keputusan Furqon semoga itu yang terbaik untuknya dan tentunya untukmu. Ingat, Allah selalu bersama kita dalam keadaan apa pun." Ucap Akbar.


"Iya kak." Khadijah menahan air matanya agar tidak jatuh di dalam pelukan kakaknya.


"Ya udah kamu jangan terlalu capek ya." Akbar melepaskan pelukannya sambil menatap kedua mata adiknya.


Khadijah hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


...***...


Selepas sholat isya, Akbar sudah bersiap-siap untuk ke bandara bersama Kiyai Efendi dan Khadijah. Mereka terbang ke Arab bukan tanpa tujuan, Akbar akan melamar Zahra, setelah bertahun-tahun perasaannya dalam diam dan hanya ia katakan melalui do'a, kini Akbar siap untuk menyatakan niat baik kepada keluarga Zahra.


Sesampainya di Arab, mereka istirahat di hotel sebelum datang ke rumah Zahra. Khadijah sangat bahagia bisa melihat kakaknya berani mengatakan niat baiknya pada wanita yang selama ini ia cintai. Bahkan ia juga sudah tidak mau berharap dengan manusia, Khadijah hanya ingin seperti Zahra dan kakaknya yang selalu berharap pada takdir Allah. Apapun yang terjadi itu sudah pilihan Allah dan yang terbaik untuk dirinya sendiri.


Sehabis sholat maghrib dan mengaji, Akbar berangkat ke rumah Zahra bersama Kiyai Efendi dan Khadijah.


"Assalamu'alaikum." Ucap Kiyai Efendi di depan pintu rumah Zahra.


"Wa'alaikumsalam." Abi membuka pintu, lalu tersenyum karena melihat Akbar berada dibalik punggung kiyai Efendi.


"Mari masuk!" Ajak abi.


Di ruang tamu sudah ada umi bersama Zahra dan Bela. Akbar begitu gugup namun Khadijah menggenggam tangan kakaknya dan memastikan bahwa semua akan berjalan lancar. Khadijah duduk disamping Zahra, lalu kiyai Efendi mengutarakan maksud kedatangan Akbar kerumah Zahra.


"Bagaimana Zahra? Apa kamu menerima lamaran Akbar?" Tanya abi.


"Sebelumnya saya minta maaf, karena tidak menepati janji saya beberapa waktu lalu." Kata Akbar.


"Tapi sekarang kau kan sudah datang." Ucap abi.


"Terimakasih untuk kesempatannya." Kata Akbar.


"Bismillah." Ucap Zahra dalam hatinya.


"Minggu depan kita siapkan pernikahannya. Bagaimana nak Akbar?" Tanya abi.


"Saya setuju." Jawab Akbar.


"Alhamdulillah." Kata mereka serempak.


...***...


Acara pernikahan sudah dipersiapkan, H-1 teman-teman Akbar datang untuk menghadirinya, begitupun dengan Furqon yang datang bersama Hindun dan keluarga. Saat itu Khadijah hanya tersenyum melihatnya, ia akan bahagia jika mereka bahagia dengan keputusan mereka masing-masing, urusan perasaannya pada Furqon ia kesampingkan terlebih dahulu.


Untuk yang kesekian kalinya Akbar memperhatikan Khadijah, ia memandang wajah adiknya saat melihat keluarga Furqon dan Hindun. Ia menghela nafas lalu menghampiri Khadijah yang sibuk dengan persiapan pernikahan.


"Jangan terlalu sibuk, sudah ada yang atur." Akbar berbisik sambil ikut melihat undangan miliknya.


"Alhamdulillah ya kak, namamu dan nama kak Zahra tertulis diundangan." Ucap Khadijah.


"Aku selalu berdo'a kalau nama Zahra ada didalam lauhul mahfuzku." Kata Akbar tersenyum.


"Aamiin. Aku selalu berucap Aamiin untuk do'a baik kau dan kak Zahra." Kata Khadijah.


"Temui keluarga Furqon yuk, tidak enak sama ibu Heni."


"Apa masih ada kak Hindun disana?" Tanya Khadijah.


Akbar mengangguk. Namun Khadijah langsung terdiam, ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan hati dan perasaannya.


"Hei! Ingat ada Allah, tidak perlu khawatir." Kata Akbar tersenyum pada adiknya.


"Baiklah." Ucap Khadijah berjalan menemui keluarga Furqon.


"Kamu yang menyiapkan semua makanan ini Khadijah?" Tanya bu Heni.


Khadijah mengangguk, "Iya bu."


"Harusnya kamu panggil ibu, biar ibu bantu." Ucapnya lagi.


"Masa tamu saya suruh siapkan makanan, tidak sopan bu."


Kata Khadijah.


"Apa kabar Khadijah?" Tanya Hindun.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, ustadzah bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik juga. Jangan panggil ustadzah dong panggil kakak saja ya, aku kan sedang tidak dipesantren." Jawab Hindun tersenyum.


"Iya kak."


"Padahal aku sering loh kerumahmu tapi tidak pernah bertemu." Kata Hindun.


"Maaf kak, karena sekarang ini aku menggantikan peran ibuku untuk kak Akbar, setelah dia menikah barulah aku bisa melepaskannya." Kata Khadijah melirik Akbar yang sedang tersenyum memandanginya.


"Emm.. Apa kamu mengabdi dipesantren?"


"Aku masih belum tau kak." Jawab Khadijah.


"Oh, tapi kamu harus datang kepernikahan aku dan Furqon ya." Kata Hindun.


Khadijah tersedak saat sedang minum, ia kembali melihat Akbar dan menyikapi bahwa ia baik-baik saja didepan keluarga Furqon.


"Alhamdulillah, kapan acaranya?" Tanya Khadijah menaruh gelasnya di meja.


"Masih 2 Minggu lagi kok, makanya aku kasih tau kamu dari jauh hari." Jawab Hindun.


"Insyaallah kak, aku akan datang." Kata Khadijah tersenyum.


Furqon melihat wajah Khadijah yang sudah tidak nyaman berada ditengah-tengah keadaan seperti itu. Sesekali Khadijah melihat jam dinding agar semuanya cepat berlalu.


Akhirnya Furqon bersama keluarganya pamit pulang, Khadijah segera masuk kamar lalu menguncinya dari dalam. Akbar tahu kalau adiknya kecewa dengan perasaannya saat tahu Furqon segera menikahi Hindun.


"Khadijah." Panggil Akbar.


"Aku mau istirahat kak." Sahut Khadijah menahan tangisnya.


"Khadijah, bukankah kau tau kalau mencintai seseorang tidak boleh berharap pada seseorang itu sendiri? Aku dan Zahra tidak berharap satu sama lain, aku meminta yang terbaik untukku dan juga Zahra, semua sudah ada yang atur dan kita cuma bisa menjalaninya dengan sabar dan ikhlas." Kata Akbar.


"Kamu tidur ya, aku juga mau istirahat. Jangan lupa ambil wudhu dulu." Kata Akbar lagi lalu masuk ke dalam kamarnya.


Khadijah menyesal kenapa harus mencintai sahabat kakaknya meskipun ia tahu kalau Hindun adalah cinta pertama Furqon sejak sekolah. Air matanya tidak bisa dibendung, kini Khadijah menangis sambil memeluk foto ibunya. Ia ingin menceritakan perasaannya pada ibunya dan merindukan pelukan hangat darinya.


Keesokan paginya Khadijah sudah siap untuk mengantar Akbar kepernikahannya, ia terlihat sangat cantik dengan polesan makeup yang natural serta gamis yang diberikan Akbar untuknya. Ia tersenyum melihat kakaknya yang begitu tampan keluar dari kamarnya. Khadijah melupakan semua yang terjadi semalam dan tidak akan pernah terpikirkan lagi olehnya.


Diruang tamu sudah ada keluarga Furqon dan teman-teman Akbar yang hadir untuk menyaksikan pernikahan Akbar. Mereka pun berangkat menuju kerumah Zahra, disana mereka disambut dengan penuh hangat selayaknya keluarga.


Acara berjalan dengan khidmat, Akbar juga dengan lancar mengucapkan ijab qobul. Kini semua mata tertuju pada Zahra yang keluar dari rumahnya, mereka berdecak kagum pada kecantikan istri Akbar. Zahra terlihat sangat anggun, bahkan Akbar dan Zahra tersipu malu saat keduanya harus berdekatan.


Kedua mata Khadijah melihat Hawa sedang duduk menyaksikan sahabatnya, bahkan teman-teman kantor Akbar yang sempat ia kenal saat magang pun ikut hadir menyaksikan. Khadijah menghampiri Hawa, karena dia adalah ustadzah dipesantren Zahra.


"Assalamu'alaikum ustadzah." Ucap Khadijah.


"Wa'alaikumsaalam, Khadijah!" Balas Hawa.


Mereka pun berpelukan karena sudah lama sekali tidak bertemu setelah pernikahan Hawa.


"Sini duduk!" Ajak Hawa.


"Terimakasih ustadzah. Ustadzah apa kabar?" Tanya Khadijah malu-malu.


"Alhamdulillah baik, kamu?"


"Alhamdulillah baik juga." Jawab Khadijah.


"Kamu bahagia?" Tanya Hawa.


"Sangat ustadzah, melihat kak Akbar menikah dengan wanita yang dia cintai. Aku sangat bahagia melihat kakakku bahagia." Jawab Khadijah memandang Akbar yang tengah berbincang dengan Zahra dari kejauhan.


"Jadi, apa rencanamu?"


"Aku belum tau apa aku harus mengabdi dipesantren atau kuliah umum ustadzah."


"Kalau begitu kamu harus diskusikan dulu bersama kakakmu dan Zahra nanti." Kata Hawa.


"Iya ustadzah."


Mereka pun berbincang-bincang cukup lama sampai akhirnya Khadijah dipanggil untuk melakukan sesi pemotretan bersama kakaknya.


Wajah Khadijah, Akbar dan Zahra sangat bahagia saat itu, mereka akhirnya mendapatkan buah hasil kesabaran mereka.


Siapa sangka Akbar dan Zahra akan menjadi sepasang suami istri setelah perjalanan kisah serta rintangan hidup mereka masing-masing. Mereka menjalankannya penuh keikhlasan, mereka tidak berharap akan seperti apa nantinya, karena mereka yakin jika Allah sudah menakdirkan mereka bersatu, sejauh apapun mereka terpisah akan bersama kembali.


Zahra yang secara diam-diam menyukai Akbar sejak sekolah hanya pasrah pada do'a yang ia langitkan. Tanpa berharap pada Akbar sendiri, sebab ia tidak punya kendali atas hati Akbar kecuali sang pencipta. Begitu pula dengan Akbar yang harus melewati cobaan dengan ikhlas tanpa menyesal dengan pilihan, karena ia tahu bahwa Allah akan selalu bersamanya mendengarkan setiap do'anya.


..."Janganlah berputus asa pada rahmat Allah jika do'a-do'amu belum terkabul, sebab jika kamu mampu bersabar, Allah akan memberikan hadiah terindah melebihi permintaanmu selama ini." ~Mencintaimu lewat do'a~...


....Tamat....


••Terimakasih buat kalian yang sudah meluangkan waktu untuk baca cerita-cerita yang saya tulis. Terimakasih pula buat kalian yang sudah memberikan like dan komentar pada saya, semoga cerita yang akan saya buat selanjutnya lebih baik lagi. Terimakasih banyak ya :)


•• Zahra, Akbar, Hawa, Khadijah, dan Furqon pamit dulu ya☺ eh penulisnya  pamit juga deh, sampai ketemu dicerita selanjutnya🤗

__ADS_1


__ADS_2