
Sudah satu tahun Zahra berada di Arab, ia bersekolah di sana serta membantu pekerjaan abinya untuk mendirikan perpustakaan islami di sana. Semua terlihat sama, dari luar Zahra masih sama seperti dulu, perempuan cantik yang sangat sopan pada orang lain. Namun dibalik itu semuanya Zahra masih menyimpan rapat sosok Akbar di dalam ingatannya.
Sudah tidak ada komunikasi antara mereka, bahkan terkadang Zahra menanyakan kabar Akbar dari Bela. Dan Bela hanya menjawab sebisanya, karena sekarang Bela sudah tidak sering datang ke pengajian yang Akbar pimpin.
Di dalam kamar Zahra membuka kembali surat dari Akbar serta Al-quran yang diberikan darinya. Ingatan Zahra kembali sewaktu ia masih bersekolah di Indonesia, kejadian di sekolah serta senyuman Akbar masih teringat jelas di benaknya. Zahra pasrah dengan semuanya, ia hanya berharap pada Allah yang terbaik untuknya dan Akbar.
Setelah kelulusan Zahra akan melanjutkan kuliah di sana bersama Bela yang hari itu akan datang menemuinya. Bahkan Zahra juga ingin mendengar cerita tentang Akbar dari sahabatnya itu. Semenjak pertemuannya di pesantren, mereka sudah benar-benar hilang kontak, bahkan nomor telepon Akbar sudah ganti.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Zahra menoleh lalu tersenyum sumringah melihat Bela yang sudah berdiri di hadapannya dengan koper.
Zahra langsung memeluk Bela dan mengajaknya untuk pergi ke rumah. Sesampainya di rumah mereka langsung menemui abi yang berada di ruang kerjanya.
"Bagaimana kabarmu bel?" Tanya abi.
"Alhamdulillah baik abi, umi mana?" Jawab Bela.
"Umi lagi ngisi pengajian, kamu istirahat dulu lah sana, nanti diantar Zahra ya." Kata abi.
"Iya abi." Bela keluar dari ruang kerja abi dan berjalan menemui Zahra yang berada di ruang tamu.
"Dimana kamarku Zahra? Aku mau istirahat ah!" Kata Bela dengan wajah yang ia buat lelah.
Zahra hanya tersenyum lalu berjalan ke lantai dua menunjukkan kamar Bela. Namun Bela hanya menaruh koper di kamarnya lalu dia masuk ke dalam kamar sahabatnya.
"Katanya mau istirahat?" Tanya Zahra menutup laptopnya.
"Aku cuma mau tau kabar sahabatku bagaimana." Jawab Bela tiduran diatas kasur Zahra.
"Kamu bisa lihat 'kan kalau aku baik-baik saja." Ucap Zahra memandang Bela.
"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" Tanya Bela serius menatap Zahra.
Zahra langsung memalingkan wajahnya saat ditatap oleh sahabatnya sendiri, "tidak ada." Jawabnya.
"Apa kamu tidak rindu padanya Zahra?" Tanya Bela membuka hp dan melihat instagramnya.
Zahra tersenyum kecil, "pada siapa?"
Bela menghembuskan nafasnya kasar, "pada kak Akbar! Apa kamu tidak rindu padanya?"
Zahra terdiam sesaat dengan wajah yang menunduk saat Bela menanyakan hal seperti itu.
"Sudah satu tahun Bela, kurasa semuanya akan terlihat baik-baik saja." Jawab Zahra.
Bela tahu bahwa sahabatnya memiliki sesuatu yang ingin sekali dia sampaikan, namun Zahra tidak tahu cara mengatakan padanya. Bela mencoba meyakinkan Zahra dan tidak akan terjadi apa-apa jika dia berbicara mengenai perasaannya.
"Aku kira kamu menyembunyikan perasaanmu pada kak Akbar." Kata Bela.
"Aku tidak tau, apa itu cinta. Aku cuma menyukainya saat dia berada di masjid untuk menunaikan sholat." Ujar Zahra.
"Bukan cuma Zahra, tapi saat itu kamu sudah menyukainya. Terakhir kali ku dengar, kak Akbar sedang mendirikan perusahaan bareng sahabatnya, dan katanya sih berjalan lancar. Tapi aku tidak tahu bergerak di bidang apa. Emm... Dan kurasa, mereka saling komunikasi." Bela memperlihatkan postingan instagram milik Hawa yang ngetag instagram Akbar.
__ADS_1
"Tenang saja, kak Akbar tidak menaruh foto perempuan di instagramnya kecuali foto Khadijah dan ibunya." Sambung Bela.
"Boleh ku lihat?" Tanya Zahra.
Bela mengangguk. Kedua mata Zahra berkaca-kaca melihat Khadijah yang tumbuh menjadi gadis remaja, dan ia tidak bisa menampik pada hatinya kalau memang Zahra merindukan keluarga Akbar, ia rindu pada ibu yang begitu sederhana dan sangat lembut memperlakukannya. Zahra tersenyum lalu memberikan ponsel itu pada Bela.
Suara pintu diketuk, dan seorang asisten rumahtangga memberitahukan pada mereka kalau nanti malam ada sesuatu yang dibicarakan oleh umi saat selesai makan malam bersama.
Zahra langsung berdehem salah tingkah, ia mengambil minumannya dan menenggak habis. Kedua mata Zahra menyiratkan ada sesuatu yang mengganjal sejak asisten rumah tangga itu bicara mengenai hal yang sepertinya serius. Bela menatap Zahra dengan dalam supaya sahabatnya bisa berkata jujur mengenai hatinya, namun hanya senyuman paksaan yang Zahra tampilkan.
Zahra meraih ponselnya di meja belajar untuk menelepon seseorang, namun ia memutuskan untuk membatalkannya, ia menghela nafas panjang dan terdiam.
"Apa ada sesuatu Zahra?" Tanya Bela lembut.
Zahra menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu terlihat gelisah?" Tanya Bela khawatir.
"Nanti kamu akan mendengarnya bel, rapihkan bajumu yuk! Aku bantu." Kata Zahra menggenggam tangan Bela untuk keluar dari kamarnya.
Sehabis sholat maghrib, Zahra bersama Bela turun ke ruang makan. Mereka sudah melihat abi dan umi menunggu mereka, umi tersenyum melihat Zahra. Selesai makan, Zahra tidak langsung masuk ke dalam kamar untuk belajar, ia harus mnedengar apa yang akan dikatakan oleh uminya.
"Zahra, ada pemuda yang ingin mengkhitbah kamu, umi dan abi suka dengannya, dia berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam, dia juga pemuda yang sopan, serta pandai dalam berpikir." Ucap umi.
Keterkejutan Bela sangat terlihat saat ia memandang Zahra yang menundukkan wajahnya, Bela tidak tahu apa yang berada dipikiran sahabatnya, sebab tanpa Zahra bicara padanya ia tahu kalau Zahra mencintai Akbar. Saat Zahra memperlihatkan wajah cantiknya, kedua mata indahnya menatap orangtuanya dengan senyuman.
"Apa umi dan abi sudah menerima lamarannya?" Tanya Zahra.
Bela hanya terpaku di meja makan, ia ingin berteriak pada orangtua Zahra bahwasanya putri mereka mencintai laki-laki yang sedang merintis usahanya di Indonesia. Bela menahan semua ucapannya, meskipun ia tidak tahu mengapa Zahra sangat sabar untuk urusan hati dan perasaan.
"Emm... Zahra tidak tahu bi, karena Zahra ingin lulus kuliah lebih dulu setelah itu baru Zahra akan memutuskan." Kata Zahra takut orangtuanya kecewa dengan sikapnya.
"Maksudmu, pemuda itu harus menunggu kamu sampai lulus kuliah?" Tanya abi.
Zahra mengangguk, "kalau memang beliau tidak sanggup, tidak apa-apa beliau meminang perempuan lain."
"Zahra, tapi..."
"Sudah mi, tidak apa-apa. Itu keputusan Zahra," abi memotong ucapan istrinya, "abi akan bicarakan padanya dan keluarganya." Sambung abi tersenyum pada anak semata wayangnya.
Mereka pun pergi ke kamar untuk melaksankan sholat isya, Bela yang telah selesai menunaikan sholat lebih dulu langsung masuk ke kamar Zahra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia duduk di atas kasur sambil melihat Zahra yang sedang berdo'a sangat khusyu. Bela hanya bisa menampilkan senyumnya melihat keadaan sahabatnya saat ini.
Bela ingin menanyakan kabar Akbar melalui instagram, namun ia ragu, ia takut kalau Akbar tidak mengenalinya. Tapi hati Bela bertekad kuat, dan ia tidak peduli dengan hal itu setidaknya ia mencoba.
"Assalamu'alaikum kak, apa kabar? Ini aku Bela sahabatnya Zahra."
"Sedang apa kau?!"
"Allahu akbar!" Bela terkejut mendengar suara Zahra.
"Kamu tuh! Kirain belum selesai berdo'a." Ucap Bela.
"Kamu lagi ngapain sih? Dari tadi terlihat khawatir gitu sambil lihat hp." Tanya Zahra melipat sajadahnya.
__ADS_1
"Lagi cari seseorang di instagram. Siapa tau dia ingat aku, hehehe." Jawab Bela tertawa memaksa.
Bela hanya mengernyitkan dahinya melihat sahabatnya seperti itu.
Satu notif terdengar di ponsel Bela, dengan wajah sumringah ia membukanya.
"Alhamdulillah baik, kau apa kabar?"
^^^"Alhamdulillah baik juga. Sibuk apa kak sekarang? Emm... Boleh aku minta nomor kakak?"^^^
Tak lama Akbar memberikan nomor ponselnya. Akbar berharap Bela memberikan informasi yang membuat hatinya tenang dengan keadaan Zahra di Arab sana. Bela merebut hp Zahra dan memasukkan nomor Akbar tanpa sepengetahuannya. Zahra sibuk dengan buku-buku agama, sedangkan Bela bingung dengan brosur-brosur universitas yang akan ia masuki, sebenarnya Bela hanya ingin kursus bahasa Arab lalu memulai bisnisnya, tapi ia tahu pemikirannya tidak akan diterima oleh Zahra.
Bela menaruh brosur tersebut di sampingnya lalu ia memainkan ponselnya sambil mendengarkan tausiyah di instagram, Zahra hanya tersenyum sendiri melihat sikap sahabatnya yang sudah seperti saudara baginya. Tak lama bu Asti menelepon dan menanyakan kabar kedua gadis tersebut, dia berharap Bela bisa bersikap sopan dan baik hati pada keluarga Zahra yang sudah menaikkan derajat keluarganya.
Selesai belajar, Zahra ikut duduk di atas kasurnya bersama Bela yang tersenyum padanya.
"Apa arti senyumanmu bel?" Tanya Zahra.
"Aku selalu tersenyum padamu, ibu titip salam untukmu, katanya aku harus bersikap baik padamu karena kamu sudah mengangkat derajat keluargaku." Jawab Bela.
Zahra melihat Bela dengan serius, "itu semua karena Allah, bukan aku ataupun keluargaku. Berhentilah tidak enak hati padaku!"
"Maaf."
Zahra menoleh lalu membalas senyuman Bela dan memeluknya.
"Tanya kabarnya, aku sudah simpan di hp mu. Jangan banyak pikiran ya, aku istirahat dulu." Bela pergi dari kamar Zahra.
Zahra tidak mengerti dengan ucapan sahabatnya, ia membuka ponselnya dan melihat kontak teleponnya. Tangannya gemetar, jantungnya kembali berdegup kencang membaca nama 'Akbar' di layar ponselnya. Zahra dilema antara ingin tahu kabarnya dan ucapan umi tentang lamaran tersebut. Tiba-tiba Bela kembali ke dalam kamar Zahra lalu merebut ponsel Zahra dan menelepon Akbar, saat suara Akbar terdengar Bela segera memberikan ponsel itu pada pemiliknya dan berlari keluar kamar Zahra.
Dengan gugup Zahra menaruh ponsel dintelinganya, ia mendengar suara Akbar lagi setelah sekian lama tidak mengetahui kabarnya.
"Assalamu'alaikum," Ucap Zahra gugup.
"Wa'alaikumsalam." Balas Akbar.
Akbar terkejut mendengar suara perempuan itu, ia menahan perasaannya untuknya dan keluarganya.
"Apa kabar bar? Aku... Aku Zahra."
Sambungan telepon itu terasa hening, Akbar terduduk di kasurnya sambil memikirkan nama perempuan yang baru saja ia dengar.
"Alhamdulillah baik, kamu?"
"Alhamdulillah baik juga. Bagaimana kabar ibu?"
"Alhamdulillah baik juga."
"Titip salam untuknya ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Zahra menitikkan air matanya, ia tidak bisa menahan perasaannya hampir 4 tahun. Ia hanya manusia lemah yang kalah dengan cinta, ia sadar kalau dirinya telah gagal dalam membangun cintanya sendiri. Zahra tidak ingin mengejar cintanya Akbar, ia hanya akan mengejar cinta Allah sehingga Allah akan datangkan Akbar untuknya.
__ADS_1
Begitupum dengan Akbar yang menahan tangis sambil menggenggam ponselnya, ia berpikir bahwa ia tidak akan bisa mendengar suara perempuan yang ia cintai lagi. Namun hari itu ia mendengarnya, bahkan ada terasa getaran saat Zahra memberikan salam, ia berharap Zahra baik-baik saja.