
Pagi itu Zahra datang ke sekolah diantar oleh bibinya, saat ia berjalan menuju ke kelas semua murid memperhatikan dirinya, melihatnya sama seperti saat foto tersebut tersebar. Perasaan Zahra menjadi tidak enak, ia takut kejadian itu terjadi lagi. Walaupun dalang dari masalahnya belum terungkap namun Zahra sudah memaafkannya. Ia sudah ikhlas dan membiarkan teman-temannya menilai dirinya seperti apa.
Satu sekolah seperti sedang memusuhi dirinya. Ternyata benar ungkapan orang yang mengatakan bahwa "satu keburukan bisa menghapus semua kebaikan seseorang." Namun sayangnya itu bukan keburukan Zahra, itu hanyalah fitnah yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Jam pertama dikelas Zahra adalah bahasa Arab, dalam satu tahun ini Zahra memang terlihat tidak menonjol dalam hal percakapan dengan teman-temannya. Namun hari itu, ia menunjukkan bahwa dirinya sangat mahir dalam berbicara menggunakan bahasa Arab, karena baginya bahasa Arab adalah bahasa sehari-harinya bersama sepupunya.
Semua teman-temannya tercengang saat Zahra mampu menjawab semua ucapan yang dilontarkan oleh bu Zidah. Sedangkan bu Zidah tidak kaget melihatnya, karena ia tahu bahwa Zahra hanya berpura-pura selama ini. Dan kali ini bu Zidah tersenyum bangga pada Zahra karena sudah menunjukkan kemampuannya dan menjadi contoh bagi teman yang lainnya.
"Zahra mau titip minuman tidak? Aku mau ke koperasi." Ucap Bela, saat jam istirahat.
Zahra menghela nafasnya sambil memandang sahabatnya, "tidak, terimakasih."
Ia melanjutkan menjawab soal paket bahasa Arab.
Bela berjalan keluar merasa bersalah karena selama ini ia memilih orang lain dibanding sahabatnya sendiri. Dan ia merasa wajar jika Zahra marah pada dirinya.
Rutinitas Zahra seperti biasa, jam istirahat ia akan pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dhuha. Pagi itu masjid terlihat sepi, biasanya ada saja beberapa orang yang menunaikan sholat sunnah, bahkan Akbar pun tidak terlihat sejak pagi.
"Kak Akbar itu PKL sendiri. Dia menolak untuk ikut bersama yang lain, padahal resikonya besar loh."
Zahra mendengar salah satu siswi sedang membicarakan Akbar. Pantas saja Akbar tidak kelihatan, ternyata dia sedang PKL (Pelatihan Kerja Lapangan), dan sepertinya Zahra tidak akan bertemu selama 2 bulan dengannya. Ia hanya penasaran di mana Akbar PKL.
Tak lama nama Zahra dipanggil oleh salah seorang adik kelas. Ia pun menghentikan langkahnya dan mengikuti adik kelasnya itu ke mading. Di sana ia membaca bahwa pelaku penyebaran foto dirinya telah diserahkan ke pihak kepala sekolah dan guru. Dan ternyata menurut penuturan pelaku, bahwa foto tersebut bukanlah Zahra melainkan dirinya sendiri, dia mengganti wajahnya agar terlihat seperti Zahra.
"Itu kak Mika kak." Ucap adik kelas.
"Mika? Siapa dia?" Tanya Zahra.
"Kelas XII Akuntansi. Dia yang ngedit foto itu." Jawab Mika.
Zahra tertarik dengan kelas XII Akuntansi, kelas itu adalah kelas Akbar. Alasan mengapa Mika melakukan hal seperti itu hanya dirinya sendiri yang tahu.
"Maaf ganggu waktunya kak." Ucap adik kelas itu lagi membuyarkan lamunan Zahra.
"Tidak kok, makasih ya."
"Sama-sama kak, aku ke kelas dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."
Dengan rasa penasaran Zahra berjalan ke kantor. Di sana ada kepala sekolah dan wali kelas XII Akuntansi dengan seorang murid yang mengenakan seragam hitam putih.
"Zahra!"
Zahra terkejut saat bu Erina memergokinya sedang mengintip ke dalam kantor.
"Assalamu'alaikum bu." Zahra kelagapan saat ketahuan menguping pembicaraan guru.
"Wa'alaikumsalam, kamu sedang apa?" Tanya bu Erina ikut melihat ke dalam kantor, lalu menatap Zahra dengan tersenyum kecil.
"Kamu sudah tau ya?" Tanya bu Erina lagi.
Zahra mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu kita masuk!" Ajak bu Erina.
"Ta ... Tapi bu."
Bu Erina menatap Zahra lagi lalu menuruti perintahnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Semua guru terkejut melihat bu Erina bersama Zahra masuk ke kantor.
"Zahra ingin tahu siapa Mika, iya kan nak?"
"Emm... I.. Iya bu." Jawab Zahra gugup.
"Kamu duduk di sini!" Pinta kepala sekolah.
"Mika, ini Zahra, katanya kamu mau ketemu dengannya." Ucap bu Hindun selaku kepala sekolah dan bertanggung jawab atas masalah yang sedang dihadapi oleh As-sobirin.
Mika menatap Zahra dengan penuh benci, ia melotot ke wajah Zahra yang tampak lugu serta polos, sebab dia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Apalagi Zahra hanya siswi pindahan di sekolah tersebut.
"Aku benci kamu!!!" Pekik Mika pelan namun membekas di pikiran Zahra.
Semua guru terdiam, mereka tidak tahu maksud dari ucapan Mika. Karena antara Mika dan Zahra tidak saling kenal.
Zahra langsung istigfar di dalam hatinya. Ia meminta ampun kepada Allah karena kesalahan yang ia lakukan sampai membuat orang lain terluka karenanya.
"Kamu murid pindahan tapi kamu sudah mendoktrin semuanya!!! Sekolah, guru, serta teman-temanku!!!" Ucap Mika lagi penuh amarah.
Apa yang salah dengan sikap Zahra selama bersekolah? Apa yang salah dengan kebiasaan dirinya mengucap salam pada sesama muslim? Rasanya semua itu salah di mata Mika. Ia merasa iri karena kehadiran Zahra satu sekolah hanya terpusat pada Zahra, seorang siswi solehah yang besar di Mesir.
"A... Aku tidak bermaksud seperti itu Mika, hanya saja... Itu kebiasaanku, di rumah, pesantren, maupun di..."
"Mesir!!! Itu yang selalu kamu banggakan Zahra! Semua orang harus tau bagaimana kehidupan di Mesir, bahkan sampai-sampai lulusan terbaik dari sekolah ini, akan ke Mesir. Aku muak denganmu Zahra!!!" Mika memotong ucapan Zahra dan berteriak kencang, hingga murid-murid berdatangan ingin melihat reaksi Zahra dan kemarahan Mika.
__ADS_1
Zahra memandang Mika dengan penuh kasih sayang, ia tidak membenci Mika dengan apa yang sudah di lakukannya, justru ada sesuatu yang membuat Mika sampai kecewa dengannya. Mika seolah hilang kasih sayang dari keluarga, sampai-sampai ia cemburu sosial dengan kehidupan orang lain.
"Astagfirullah hal adzim. Aku tidak seperti itu Mika. Aku tidak pernah membanggakan Mesir di depan siapa pun termasuk sahabatku sendiri, Bela. Dia sering bertanya padaku, bagaimana kehidupan di Mesir? Bagaimana orang-orangnya? Apa aku pernah jawab? Tidak Mika. Karena aku tahu, banyak negara yang kalian impikan dengan prestasi agama kalian." Ucap Zahra membantah semua pikiran buruk Mika padanya.
"Ada hal lain yang ingin kamu katakan lagi padaku?" Tanya Zahra saat melihat Mika menunduk menahan tangisnya.
"Kamu merebut dia dariku!" Ucap Mika pelan lalu meneteskan air matanya.
Sepertinya saat ini Mika bercerita tentang seseorang yang ia cintai, lalu Zahra meminta izin pada bu Hindun dan guru yang lain untuk mengajak Mika ke taman sekolah tanpa ada siapa pun yang menguping pembicaraan mereka. Zahra takut Mika menjadi bahan gunjingan jika mengatakannya secara umum.
Setelah sampai di taman belakang, Zahra mengelus anak kucing yang sedang menyusu dengan induknya.
"Sekarang kamu bebas untuk bicara apa pun padaku." Kata Zahra tersenyum.
Mika merasa bersalah pada Zahra, karena Zahra tidak seperti yang dipikirkannya.
"Kamu merebut laki-laki yang aku cintai lebih dari tiga tahun!" Ucap Mika menghapus air matanya.
"Siapa laki-laki itu?" Tanya Zahra.
"Akbar." Jawab Mika.
Zahra langsung terpaku dan tidak tahu harus mengatakan apa pada Mika, karena ia memang mencintai Akbar. Namun ia tidak merebut siapa pun untuk masuk di hidupnya.
"Apa yang membuat kamu berpikir bahwa aku merebut Akbar dari kamu?" Tanya Zahra.
"Sebelum ada kamu, Akbar sangat dekat denganku, ke mana pun selalu bareng. Tapi... Setelah dia kenal kamu, semua berubah, dia menjauh dariku. Bisa kamu menjauhi Akbar?" Air mata Mika kembali menetes saat kedua matanya saling bertatapan dengan Zahra.
Zahra menghela nafasnya, "Akbar tau soal perasaan kamu?"
Mika menggeleng, "aku takut dia tidak mencintaiku."
"Kamu bilang lah padanya, apa alasan kamu melakukan ini semua. Aku sudah memaafkanmu, sekarang aku harus ke kelas." Ucap Zahra.
Saat Zahra hendak berjalan meninggalkannya, Mika langsung memegang pergelangan tangan Zahra dan memandang wajahnya.
"Katakan padaku bahwa kamu tidak mencintai Akbar!" Ucap Mika.
"Tolong lepasin aku Mika." Kata Zahra mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Mika.
"Cepat katakan!!!"
Zahra berusaha keras untuk melepaskan tangannya, dan akhirnya Mika melepaskan genggamannya sendiri dan membiarkan Zahra pergi dari hadapannya.
"Kamu mencintainya kan?! Tapi kamu malu karena Akbar hanya murid beasiswa!!! Kamu munafik Zahra! Kamu cewek munafik!!! Kamu berlindung dari pakaianmu sendiri!!!" Teriak Mika.
Zahra menahan tangis, ia tidak mau mendengarkan kata-kata yang dilontarkan oleh Mika. Karena baginya yang diucapkan oleh kakak kelasnya itu tidaklah benar. Ia membenarkan jika dirinya memang mencintai Akbar sejak satu tahun lalu, tapi ia memilih untuk diam dan berdo'a pada Allah tanpa ada yang tahu isi hatinya.
Zahra ingin bertemu dengan Mika namun pak Syaiful menolak Zahra keluar dari jam pelajarannya, karena ia takut Mika akan memaki dan meneriaki Zahra seperti di kantor. Pak Syaiful tidak ingin semuanya menjadi rumit, karena itu perbuatan Mika yang tidak bisa ditoleransi oleh pihak sekolah.
Saat jam pelajaran selesai, Zahra mengambil ponselnya lalu mengirimi pesan pada Akbar.
"Assalamu'alaikum Akbar, ini aku Zahra. Aku mau kasih kabar ke kamu kalau Mika dikeluarkan dari sekolah gara-gara foto tersebut."
^^^"Wa'alaikumsalam Zahra. Mika pantas mendapatkannya."^^^
"Aku sudah memaafkannya."
^^^"Iya, tapi tidak ada toleransi bagi murid yang menyebarkan fitnah ke sesama murid. Do'akan saja semoga Mika menjadi manusia yang lebih baik lagi."^^^
"Kamu tidak sedih mendengar temanmu dikeluarkan?"
^^^"Untuk apa bersedih? Mika yang memulai dan dia sendiri yang harus bertanggungjawab."^^^
"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum."
^^^"Wa'alaikumsalam."^^^
Saat Zahra berjalan menuju parkiran, suara Bela menghentikan langkahnya.
"Maafin aku ya Zahra." Ucap Bela memeluk sahabatnya itu.
"Kamu kenapa?" Tanya Zahra kebingungan.
"Kemarin aku sudah jahat sama kamu, aku menjauhi kamu. Tapi kamu tetep bilang ke guru kalau aku ini sahabat kamu." Jawab Bela. Air matanya sudah berada dipelupuk matanya.
Zahra tersenyum, "aku tau itu bukan kamauan kamu, lagi pula sekarang kan sudah selesai Bela."
"Kamu baik banget." Bela memeluk Zahra lagi.
"Sudah ah, aku pulang duluan ya. Sudah dijemput. Assalamu'alaikum."
"Hati-hati ya Zahra, wa'alaikumsalam."
...***...
Sore itu Akbar pulang kerja lebih awal karena harus datang ke sekolah untuk tugas osisnya. Ia datang sekitar pukul satu siang, hanya beberapa siswi yang berada di sekolah karena sedang haid dan tidak melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Bela yang saat itu sedang berada di depan kelasnya melihat Akbar berjalan di koridor sekolah, pertama kalinya bagi Bela melihat Akbar memakai baju biasa dan membuat kagum dirinya.
Tak heran hampir semua siswi menyapa Akbar dan bersikap ramah padanya. Meskipun Akbar hanya membalasnya dengan senyuman tapi itu sudah membuat hati mereka berbunga-bunga.
__ADS_1
Saat Akbar masuk ke ruang osis dia melihat ke kelas Zahra, hanya ada Bela di sana. Akbar tersenyum lalu masuk ke dalam ruang osis langsung duduk sambil membuka catatannya. Ia memang harus menyusun pemilihan ketua osis baru dari kelas XI dan merencanakan siapa saja yang pantas menggantikannya.
Jari jemari Akbar terhenti saat suara Zahra terdengar dari ruang osis, ia mendengar tawa perempuan yang selama ini ia rindukan. Akbar tersenyum sambil menarik nafas lalu berdiri keluar ruangan saat Zahra sudah melewati ruang osis.
Entah mengapa langkah Zahra terhenti, ia merasa ada sesuatu yang menyuruhnya untuk menoleh ke belakang. Saat ia menoleh, Akbar sedang berdiri memandangnya lalu tersenyum. Zahra pun langsung membalas senyuman itu, ia merasa bahagia bisa melihat Akbar berada di sekolah setelah hampir satu bulan mereka tidak bertemu karena Akbar sedang melaksanakan PKL.
Zahra meneruskan langkahnya menuju kelas untuk membereskan beberapa buku yang masih berada di kolong mejanya.
"Ada kak Akbar." Ucap Bela.
"Aku tau." Kata Zahra.
"Kamu tau darimana?" Tanya Bela.
"Tadi aku lihat dia ada di depan ruang osis." Jawab Zahra.
"Zahra." Ucap Bela ragu-ragu.
"Iya?"
Zahra masih sibuk membereskan buku pelajarannya.
"Aku mencintainya." Kata Bela.
Buku paket Matematika seketika terjatuh dari tangan Zahra. Bela langsung mengambilnya.
"Kamu cemburu tidak?" Tanya Bela lagi.
Zahra hanya diam, ia tidak tahu jawaban apa yang harus ia katakan pada Bela. Karena ia takut membuat Bela kecewa, ia tidak mau Bela sekecewa Mika karena tidak mendapat respon dari Akbar.
"Zahra!" Panggil Bela membuat Zahra terkejut.
"Maaf Bela aku melamun. Maksudku... Bukankah kamu memang mencintainya?" Zahra berusaha untuk tidak salah tingkah di depan sahabatnya.
"Kak Akbar itu kakak kelas aku sejak SMP, dan sejak saat itu aku sudah mencintainya." Jawab Bela.
"Lalu?" Tanya Zahra.
Bela menundukkan kepalanya, "aku merasa tersiksa setiap kali melihat wajahnya Zahra dengan perasaan yang aku pendam bertahun-tahun."
"Katakan padanya kalau kamu mencintainya, tapi kalau kamu tidak berani, kamu bawa namanya di dalam do'amu." Zahra memberikan saran meskipun sebenarnya ada rasa cemburu di dalam hatinya.
"Serius?" Bela memandang wajah Zahra dengan penuh pengharapan pada sahabatnya itu.
Zahra mengangguk mantap.
"Aku akan bilang sekarang! Makasih Zahra, kamu sahabat terbaikku." Bela memeluk Zahra dengan erat sebelum pergi meninggalkannya.
"Ya Allah kenapa dengan hatiku? Kenapa dadaku terasa sesak saat Bela mengatakan hal seperti itu? Apa aku benar-benar mencintainya?" Ucap Bela dalam hati.
Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia menghapus air matanya lalu keluar dari kelas yang sudah tidak ada seorang pun selain dirinya. Zahra pun berjalan sendiri menuju parkiran sambil memikirkan Bela dengan berbagai perasaannya terhadap Akbar.
...***...
Suara pintu diketuk, dengan wajah yang terlihat kesal Akbar membukakan pintu. Ia terkejut melihat Mika berdiri di hadapannya sambil menatap wajahnya dengan serius.
"Boleh aku masuk ke dalam?" Tanya Mika.
"Maaf kamu tidak boleh ke dalam, tidak ada siapa-siapa, takut terjadi fitnah." Jawab Akbar menolaknya.
Mika menyunggingkan senyumnya pada Akbar lalu memukul lengan Akbar.
"Ada apa Mika?" Tanya Akbar kebingungan dengan sikap Mika yang seperti itu.
"Jangan pura-pura bodoh kamu bar!" Jawab Mika.
"Aku memang tidak tau alasan kamu datang menemuiku." Ucap Akbar.
"Kamu tau aku di keluarkan dari sekolah?"
Akbar diam.
"Kamu sudah tau kan?!"
"Iya Mika, terus apa masalahnya?"
"Kamu tau alasan aku melakukan hal itu pada dia?"
Akbar tahu yang dimaksud dia oleh Mika adalah Zahra.
"Tidak tau."
"Akbar, aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak dulu, tapi kenapa kamu malah milih dia." Kata Mika.
"Kamu mencintaiku? Dan gara-gara itu kamu memfitnah Zahra?" Akbar tidak terkejut mendengar ungkapan cinta dari Mika, namun yang ia kesal mengapa Mika tega melakukan hal itu pada Zahra.
"Aku mengedit foto, agar kamu menjauhi dia, tapi ternyata kamu malah semakin dekat dengannya!" Ujar Mika.
"Istigfar Mika! Aku mengenalmu apa adanya, justru aku tidak mengenal siapa kamu saat memfitnah Zahra, kamu membodohi dirimu sendiri hanya karena cinta pada manusia." Akbar tidak menyangka teman yang ia kenal sejak dulu rela menukarkan segalanya hanya demi cinta.
__ADS_1
"Aku rela melakukan apa pun agar kamu tetap bersamaku!" Mika berteriak lalu berlari menuruni anak tangga sambil menyeka air matanya.
Akbar membiarkan Mika pergi dari hadapannya. Otaknya berusaha fokus kembali setelah kejadian itu, ia mulai mengetik sambil meminum air mineral yang berada di meja osis. Selesai melaksanakan tugasnya, Akbar segera pulang ke rumah dan menenangkan pikirannya.