
Setelah melaksanakan ujian praktek serta ujian nasional, Akbar sudah siap untuk mendapatkan hasilnya pagi itu, ia sudah terlihat rapih dan tampan saat keluar dari kamarnya, bahkan senyuman yang dulu sempat hilang karena kepergian Zahra kini sudah kembali hadir. Akbar lebih ceria dari sebelumnya, ia seperti telah bersiap diri dengan apa yang terjadi pada hidupnya.
Selain Akbar, Khadijah pun akan menerima pengumuman kelulusan di pesantrennya pada hari yang sama, mereka saling mendo'akan agar mendapatkan hasil yang memuaskan dirinya.
"Bu do'akan Akbar ya, semoga lulus dengan hasil yang terbaik." Kata Akbar mencium tangan ibunya.
"Iya nak, do'a ibu tidak pernah putus untuk kalian, nanti kalau Khadijah sudah pulang dari pesantren, kita ke makan bapak ya bar, tiba-tiba saja ibu kangen bapakmu." Ujar bu Wati mengelus rambut anaknya.
Akbar mengangguk, "iya bu, kalau begitu Akbar berangkat dulu ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Karena motor bapaknya sedang berada di bengkel, Akbar pergi ke sekolah bersama Furqon. Mereka terlihat bahagia, sebab mereka akan lulus hari itu, dan tentunya mereka akan memulai hidup yang sebenarnya.
Sesampainya di sekolah, Akbar langsung berjalan menuju aula, di sana ia sudah melihat banyak teman-temannya yang telah datang. Mereka was-was akan hasilnya nanti, mereka takut dengan hasil yang tidak memuaskan, lain halnya dengan Akbar yang tampak tenang hari itu. Saat ia hendak duduk bersama temannya, ia melihat sms dari pak Heru, dan menawarkan untuk bekerja di kantornya setelah hasil pengumuman.
Akbar langsung teringat Hawa, ia merasa menjadi canggung pada pak Heru serta kebaikannya, bahkan pak Heru berharap Akbar dan putrinya bisa bekerjasama dalam membangun perusahaan kecilnya. Akbar mengira bahwa selama ini Hawa salah mengartikan kebaikan yang ia berikan, Akbar memang selalu perhatian pada teman-temannya, namun justru ia tidak bisa memulai pembicaraan dengan orang yang ia cintai.
"Kak Akbar!" Panggil Bela.
"Ada apa bel?" Tanya Akbar menghentikan langkahnya menuju aula.
"Zahra bilang, semoga kakak lulus dengan nilai terbaik." Jawab Bela.
"Aamiin terimakasih, sampaikan salamku untuknya." Ucap Akbar senyum lalu masuk ke dalam aula.
Bela merasa bahwa Akbar masih ada rasa kehilangan semenjak Zahra pergi, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun. Zahra tidak pernah mengirim pesan pada Akbar, jika dia ada sesuatu yang ingin dibicarakan maka dia akan meminta tolong pada Bela untuk menyampaikannya pada Akbar.
Di podium sudah ada kepala sekolah yang hendak memberikan motivasi singkat sebelum beliau akan mengumumkan hasil ujian kepada seluruh muridnya. Dan kepala sekolah memberitahukan kepada para seluruh muridnya bahwa mereka lulus semua tanpa terkecuali.
Mereka mengucap syukur yang terdalam kepada Allah SWT. Lalu mereka mengucapkan selamat kepada sesama murid, bahkan ada yang menangis bahagia karena 3 tahun telah berlalu, kini saatnya mereka akan menjalani kehidupan yang sesungguhnya.
Akbar menolak tawaran pak Heru dengan sangat sopan, bahkan ia datang ke perusahaannya untuk mengatakan alasan mengapa ia menolak, karena bagaimanapun pak Heru sangat berjasa selama ini untuk dirinya. Akbar hanya ingin berusaha untuk mencari pekerjaan yang cocok pada dirinya, ia tidak bisa terus-terusan mengandalkan orang lain.
Keesokan paginya Khadijah pulang ke rumah dengan senyuman bahagia di wajahnya, ia langsung memeluk ibu serta Akbar yang sedang duduk di teras rumah. Akbar dan ibu saling pandang melihat Khadijah, saat Akbar melepas pelukannya, dia bilang bahwa dia lulus dengan nilai terbaik, dia menjadi salah satu santriwati dengan nilai tertinggi. Bu Wati tak henti-hentinya mengucap syukur pada Allah SWT, begitu pun dengan Akbar yang ikut senang mendengar kabar dari adiknya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Furqon.
"Wa'alaikumsalam." Balas bu Wati, Akbar dan Khadijah bersamaan.
"Wuih! ada berita nih bu?! Kayaknya pada sumringah banget." Tanya Furqon.
"Khadijah lulus fur." Jawab Akbar.
"Dengan nilai tertinggi, hehehe." Ucap Khadijah memberikan cengiran kudanya.
"Alhamdulillah." Kata bu Wati tersenyum pada putrinya.
"Iya bu, Alhamdulillah ya Allah." Kata Khadijah.
Furqon dan Akbar tersenyum melihat tingkah Khadijah. Namun lirikan Khadijah tidak bisa disembunyikan dari Furqon, ia merasa bahagia bisa melihat sahabat kakaknya sudah move on dari Hindun.
"Kalian juga lulus kan?" Tanya Khadijah.
"Alhamdulillah lulus." Jawab Furqon.
"Mau minum apa kak? Nanti Khadijah buatin." Tanya Khadijah pada Furqon.
"Air putih saja lah." Jawab Furqon.
"Sudah kamu ikut ngobrol saja, biar ibu yang buatin." Bu Wati pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum pada mereka.
"Khadijah jadi ke Aceh?" Tanya Furqon.
"Emm... Insyaallah kak." Jawab Khadijah ragu.
"Kok kayak ragu gitu sih, kenapa?" Tanya Furqon lagi.
Tatapan Khadijah melihat ke Akbar yang menjadi pendengar saja.
"Nanti aku antar ya ke pesantrennya." Ucap Furqon melirik Akbar.
"Kakak bicara dong! Jangan diam saja!" Kata Khadijah menepuk lengan Akbar.
"Kapan kamu mau ke sana? Kita ke alamat ini." Akbar membuka kartu nama pesantren Ar-Rahman.
"Kakak dapat darimana?" Tanya Khadijah.
"Ini pesantren milik keluarganya Zahra." Jawab Akbar.
"Jadi aku akan masuk ke pesantren mana kak? Kalau kakak ragu, aku tidak perlu masuk ke sana, masih banyak kok pesantren yang lain." Kata Khadijah memandang kakaknya, ia tahu kalau Akbar sempat galau karena Zahra.
__ADS_1
"Aku coba telepon Zahra dulu ya." Akbar masuk ke dalam kamar dan mencoba menghubungi Zahra.
"Assalamu'alaikum" Suara Zahra terdengar dari sambungan telepon. Akbar terpaku sejenak sebelum akhirnya ia sadar.
^^^"Wa'alaikumsalam."^^^
"Apa kabar?"
^^^"Alhamdulillah baik. Kamu?"^^^
"Alhamdulillah baik juga, emm... Ada apa bar?"
^^^"Adikku mau daftar di pesantren kamu, bagaimana caranya?"^^^
"Oh, kamu datanglah ke sini! Nanti aku yang urus, bawa perlengkapan Khadijah juga ya. Kalau bisa besok atau lusa kamu datang ke sini ya."
^^^"Paling lambat lusa?"^^^
"Bukan, maksudku... Aku akan berangkat ke Arab lusa untuk lanjut sekolah di sana."
Akbar kembali diam, ia bingung harus mengatakan apa. Ia hanya menyadarkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
^^^"Baiklah, nanti aku bicarakan sama Khadijah ya. Emm... Sudah dulu ya Zahra, assalamu'alaikum."^^^
"Wa'alaikumsalam."
Akbar menutup teleponnya lalu menaruh ponselnya diatas meja belajarnya. Ia duduk sebentar diatas kasur dan menarik nafas panjang mendengar bahwa Zahra akan pergi ke Arab. Sepertinya memang sudah tidak ada harapan lagi bagi Akbar untuk bertemu dengan Zahra, apalagi keinginan untuk mengkhitbahnya.
Ia keluar kamar lalu membicarakannya pada Khadijah dan Furqon, lalu Khadijah menginginkan secepatnya ke Aceh, ia tidak sabar untuk ke sana meskipun hari itu ia baru pulang. Akbar mengirimkan sms pada Zahra, ia memberitahukan bahwa lusa ia akan datang bersama Khadijah dan juga ibunya.
Saat Khadijah masuk ke dalam rumah, Akbar kembali diam. Furqon tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh sahabatnya itu.
"Zahra akan pergi ke Arab fur." Ucap Akbar terdengar lemas, lalu merebahkan tubuhnya di lantai teras rumahnya.
Furqon melihat sahabatnya, "lalu?"
"Hmmm... Entahlah fur, aku bingung menjelaskannya." Jawab Akbar.
"Kau benar-benar mencintainya bar?" Kali ini Furqon memandang serius Akbar.
Akbar diam.
"Maaf kalau aku salah bar, tapi kurasa kamu bekerja keras selama ini selain untuk uang kuliahmu, kamu bekerja untuk melupakan Zahra dari ingatanmu." Kata Furqon.
"Apa kau bisa melupakannya bar?" Tanya Furqon.
Akbar menggeleng pelan.
"Zahra sudah menjadi kenangan buatmu, sulit rasanya untuk melupakannya. Apalagi semakin lama tanpa kau sadari, kau malah mencintainya." Ujar Furqon.
"Aku berusaha ikhlas fur." Ucap Akbar.
Hawa mendengar semua yang mereka katakan, tanpa mereka sadari ada Hawa sedang berdiri tidak jauh dari sana. Hawa merasakan cemburu, kini dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Akbar, dia tahu siapa yang berada di hatinya. Saat Hawa hendak pergi, bu Wati memanggilnya sehingga Akbar dan Furqon terkejut dengan kedatangan Hawa. Akbar yang sedari tadi tiduran langsung bangkit duduk karena ada Hawa di rumahnya.
Akbar hanya melirik Hawa yang terlihat menjadi pendiam, bahkan ia tidak berkata sepatah katapun kecuali diajak bicara oleh Furqon.
"Maaf aku ganggu obrolan kalian, tadinya aku mau menelepon cuma... Karena aku sedang berada disekitar sini, jadi aku mampir sebentar." Ucap Hawa.
"Tidak apa-apa kok, kamu sendiri?" Tanya Akbar.
Hawa mengangguk.
"Kenapa kamu tidak mau kerja di kantor papahku?" Tanya Hawa pada Akbar.
"Emm... Aku ... Aku..."
"Akbar dan aku akan mulai usaha mendirikan rumah makan." Potong Furqon membantu sahabatnya yang terlihat gugup.
"Oh, semoga kalian sukses ya, aku pamit pulang." Kata Hawa berdiri lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa buru-buru?" Tanya Akbar.
"Aku sudah tahu jawabannya." Jawab Hawa lalu beranjak pergi dari rumah Akbar.
"Apa dia dengar semua ya bar?" Tanya Furqon.
"Tidak tahu." Jawab Akbar.
Malam itu Akbar membantu adiknya untuk melakukan persiapan sebelum berangkat ke Aceh, besok pagi mereka akan pergi untuk mengurus data serta administrasi di pesantren keluarganya Zahra. Namun sebelum ke Aceh, mereka menyempatkan untuk ziarah ke makan bapaknya.
Keesokan paginya, Akbar bersama ibu, Khadijah serta Furqon berangkat ke Aceh untuk datang menemui Zahra di pesantrennya. Akbar mengirim pesan pada Zahra bahwa sebentar lagi mereka akan sampai ke sana. Di bandara mereka sudah dijemput oleh mobil milik keluarga Zahra, sampai-sampai Khadijah kagum dengan Zahra. Sebab mereka tidak menyangka akan dijemput seperti itu.
__ADS_1
Mobil sudah masuk ke pekarangan pesantren Ar-Rahman, jantung Akbar berdetak kencang bahkan ia sudah mulai salah tingkah. Furqon tahu bahwa sahabatnya terlihat gugup, seolah Akbar ingin menghindar dari semuanya. Setelah sampai mereka disambut oleh security pesantren dan mengajaknya ke ruangan Zahra.
"Silahkan masuk! Sekitar 10 menit lagi bu Zahra datang. Oh, iya, beliau suruh saya untuk kasih ini," security itu memberikan formulir data diri, "kalau mau baca-baca buku silahkan saja ya pak, bu." Sambungnya.
"Iya pak terimakasih."
"Ya sudah saya permisi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Mereka melihat-lihat ruangan tersebut yang dipenuhi oleh hadits, Akbar memandang kursi kosong tempat Zahra duduk menemui calon santriwati. Furqon memanggilnya sehingga Akbar berhenti menatap kursi itu dan melupakan apa yang ia pikirkan.
Tak berapa lama pintu ruangan terbuka, "assalamu'alaikum." Ucap Zahra.
"Wa'alaikumsalam." Balas mereka.
Zahra mencium tangan bu Wati, serta menjabat tangan Khadijah. Lalu tersenyum pada mereka, Akbar memandang Zahra melalui rak buku sebelum akhirnya mereka melihat satu sama lain. Zahra meminta bu Wati dan Khadijah untuk duduk bersamanya dan menanyakan motivasi Khadijah untuk masuk ke lingkungan pesantren tersebut.
Selesai berbincang-bincang, Akbar menghampiri Zahra dan menanyakan biaya masuk untuk adiknya. Zahra tersenyum menanggapinya.
"Khadijah mendapatkan beasiswa selama sekolah nanti, karena dia lulusan terbaik." Jawab Zahra.
"Pasti ada biaya untuk ujian praktek dan lain sebagainya 'kan?" Tanya Akbar lagi dengan penasaran.
"Semua ditanggung pihak pesantren, tugas Khadijah hanya belajar sampai lulus nanti." Jawab Zahra.
Akbar masih tidak percaya bahwa Khadijah akan mendapatkan beasiswa gratis selama 3 tahun ke depan.
"Kamu masih tidak percaya ya? Ini kartu nama abi, selaku ketua pesantren, kamu bisa bertanya padanya." Ucap Zahra.
"Jadi aku bisa tinggal di asrama ustadzah?" Tanya Khadijah.
Zahra tersenyum manis pada Khadijah karena memanggilnya dengan sebutan 'ustadzah'.
"Kamu mau tinggal sekarang boleh, karena ada pengurusnya meskipun liburan sekolah. Lagi pula ada beberapa santriwati yang tidak pulang ke kampung halamannya. Dan ku harap kamu bisa berteman baik ya Khadijah." Jawab Zahra menjelaskan.
"Iya ustadzah, terimakasih."
"Sama-sama."
"Ada lagi yang mau kamu tanyakan bar?" Tanya Zahra.
Bu Wati, Furqon dan Khadijah berjalan keluar ruangan untuk mengantar Khadijah ke asrama putri.
"Ini, maaf Zahra aku tidak bisa menyimpannya." Akbar menaruh surat Zahra diatas meja.
Zahra menatap suratnya lalu mengambilnya.
"Tidak apa-apa, aku akan ambil kembali yang bukan hak mu." Ucap Zahra.
Keadaan di ruangan hening sesaat.
"Jadi besok kamu ke Arab?" Tanya Akbar.
"Insyaallah, aku akan bersekolah di sana." Jawab Zahra memasukkan surat tersebut ke selipan buku catatannya.
"Ini surat dariku, maaf aku tidak bisa bilang langsung. Aku permisi dulu ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Zahra memandang pintu ruangannya saat Akbar telah keluar dari dalam.
Zahra merasa sesak di dadanya melihat surat Akbar, ia juga merasakan ada hal aneh yang terjadi pada hatinya saat ia akan pergi ke Adab meninggalkan semuanya. Zahra memulai hidup baru di Arab, sedangkan Akbar akan selalu berada di Indonesia, dia akan kuliah di tanah airnya sampai dirinya sukses.
Zahra membuka surat tersebut dan membacanya di dalam hati.
...Assalamu'alaikum,...
"Wa'alaikumsalam."
...Aku terlalu pengecut untuk mengatakan secara langsung padamu bahwa aku senang bisa kenal denganmu, aku senang bisa berbagi kenangan denganmu. Terimakasih untuk semuanya....
...Zahra, di manapun kamu berada semoga kamu selalu dalam lindungan Allah SWT. Dan semoga kita bisa bertemu di lain waktu dengan keadaan sehat....
...Aku tidak tau harus menulis apalagi tentangmu, karena bagiku, apa yang aku jalani sekarang adalah tentangmu....
...Assalamu'alaikum......
...Akbar....
Zahra menenangkan hatinya, ia memasukkan surat tersebut ke dalam tasnya lalu ia berjalan keluar ruangan menemui keluarga Akbar yang akan pulang ke Jakarta. Itu pertemuan terakhir bagi Akbar dan Zahra, setelahnya mereka hanya bisa mendo'akan satu sama lain. Ada perasaan berat di hati Zahra saat melihat mobil pesantren keluar dari parkiran untuk mengantar mereka ke bandara. Ia tidak bisa mencegah Akbar untuk pulang karena ia bukan mahramnya.
Setelah mobil itu menjauh dan menghilang dari pandangannya, Zahra duduk di bangku taman untuk mengingat sedikit kenangannya saat bersekolah dulu. Tanpa ia sadari memang Akbar selalu ada saat dirinya membutuhkan seseorang.
__ADS_1
"Ya Allah kuatkan hambamu, jangan buat ragu hatiku untuk melangkah pergi darinya." Ucap Zahra dalam hati memandang hamparan bunga di hadapannya.