Mencintaimu Lewat Do'A

Mencintaimu Lewat Do'A
6. Pertemuan


__ADS_3

Hari itu adalah hari terakhir Akbar kerja, karena lusa ia harus masuk sekolah seperti biasa. Gaji yang diberikan oleh pak Heru pun cukup untuk biaya keperluannya sehari-hari. Akbar datang ke kantor untuk mengucapkan banyak terimakasih kepada pak Heru dan teman-temannya yang lain, begitu pun dengan Doni yang merasa kehilangan.


Pak Heru berharap suatu hari nanti setelah Akbar lulus ia mau bekerja di perusahaannya lagi. Hawa sangat kehilangannya, ia memandang Akbar tak henti-hentinya, apalagi ia dan Akbar belum terlalu dekat. Bahkan Akbar tidak tahu bahwa Hawa seorang non muslim. Akbar berjalan ke meja kerja Hawa dan berterimakasih karena sangat perhatian padanya selama ini. Dan Hawa berharap ia tetap berkomunikasi seperti biasa dan bisa bertemu.


Akbar tidak mau memutus silaturahim dengan teman-teman di kantornya itu. Karena bagaimana pun mereka sudah dianggap seperti saudaranya sendiri. Jadi setiap kali Akbar ada waktu senggang, ia kumpul bersama mereka terutama dengan Doni.


Akbar bersama Hawa, Doni dan dua teman lainnya pergi ke salah satu cafe dekat kantornya. Awalnya Akbar menolak ajakan Doni namun saat Hawa memaksa Akbar pun mengiyakannya.


Saat mereka sedang ngobrol asyik, kedua mata Akbar bertatapan dengan kedua mata yang sering ia lihat di pengajiannya. Ya, kedua mata itu adalah Zahra. Akbar langsung berubah salah tingkah dan berharap Zahra tidak berpikiran macam-macam tentangnya.


Setelah membayar pesanannya, Zahra duduk di belakang tempat Akbar duduk bersama teman-temannya. Zahra membuka laptopnya dan mulai merevisi tulisannya. Sesekali Zahra memandang satu persatu teman-teman Akbar yang bukan teman sekolahnya. Namun yang membuat Zahra penasaran adalah cewek yang berada di sebelah Akbar.


Kali ini obrolan sudah tidak menarik bagi Akbar, ia hanya memandang Zahra yang begitu serius dengan laptopnya. Hawa melirik Akbar dan ikut memandang Zahra. Kini hati Hawa gelisah dengan tatapan Akbar pada Zahra. Ia merasa ada sesuatu di antara mereka.


"Kamu kenal cewek itu?" Tanya Hawa membuat obrolan mereka terhenti dan menoleh ke Zahra.


"Dia teman sekolahku. Sebentar ya." Akbar permisi lalu menghampiri meja Zahra.


"Assalamu'alaikum." Ucap Akbar.


Zahra menghentikan tulisannya,


"Wa'alaikumsalam."


"Boleh aku duduk?" Tanya Akbar.


Zahra mengangguk sebagai jawabannya.


"Ada apa?" Tanya Zahra.


"Emm... Kamu sering ke cafe?" Akbar bertanya balik.


"Hampir setiap hari aku ke sini. Kamu belum jawab pertanyaanku." Jawab Zahra melihat wajah Akbar yang sedikit bingung.


"Aku... Aku... cuma ingin menyapa kamu. Kebetulan kita ketemu di sini." Ucap Akbar menggaruk belakang kepalanya meskipun tidak gatal.


"Nanti malam kamu datang ke pengajian?" Tanya Zahra.


"Insyaallah datang." Jawab Akbar.


Hawa penasaran apa yang sedang diobrolin oleh Akbar dan Zahra. Sebenarnya Doni tahu kalau Hawa menyukai Akbar, namun ia belum bertanya apa pun tentang Hawa. Doni menoleh ke belakang saat Hawa berjalan menghampiri Akbar, ia tertegun sejenak saat melihat Zahra. Ia hanya menerka-nerka apakah dia yang namanya Zahra. Kalau memang betul, Akbar sangat beruntung mengenalnya dan tidak salah kalau dia mencintainya.


Wajah Zahra sangat cantik dan tatapannya teduh, seolah menunjukkan bahwa ia perempuan yang baik. Bagi siapa yang melihatnya akan tertegun kagum padanya, tidak aneh jika Doni diam begitu saja melihatnya. Di sekolah pun hampir seluruh murid mengagumi Zahra karena sikapnya ke sesama temannya.


"Hai! Aku Hawa, kamu temannya Akbar ya?" Hawa mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Zahra.


Zahra melirik Akbar sebentar, "iya, aku Zahra teman sekolahnya." Jawabnya tersenyum ramah.


Doni yang mendengarnya langsung tersenyum gembira, entah mengapa ia bersyukur akhirnya bisa mengetahui perempuan yang sedang dicintai oleh temannya itu.


"Cantik ya temannya si Akbar." Bisik Dewi pada Doni dan Hendri.


"Banget!" Seru Hendri.


"Menurut gue ya, Akbar suka deh sama temennya itu." Ucap Dewi.


"Siapa sih yang tidak naksir sama cewek secantik itu. Jarang kan ada cewek cantik tapi tidak banyak tingkah, tidak ngerasa dirinya cantik gitu. Malah kebanyakan yang mukanya biasa aja tapi ngerasa paling cantik." Kata Hendri.


"Hush! Ghibah aja lo berdua." Sahut Doni.


"Tapi lo berdua ngerasa tidak kalau Hawa naksir Akbar?" Tanya Dewi yang tidak peduli pada ucapan Doni.


"Emm... Kayaknya deh." Jawab Hendri.


"Bukan kayaknya kali emang iya." Ucap Dewi memastikan.


Doni hanya mendengarkan apa yang Dewi dan Hendri obrolkan.


"Kalian sudah lama kenal?" Tanya Hawa menenggak minuman Akbar, padahal baru saja Akbar meminumnya.


Zahra melirik Akbar sebentar, "pertama kali aku datang ke sekolah, di situlah awal kenalanku dengannya." Jawab Zahra.


Hawa diam sejenak, merasakan cemburu di hatinya.


"Kalau kamu?" Tanya Zahra.


"Hawa teman kerjaku." Jawab Akbar. Ia langsung menjawab pertanyaan Zahra.


"Kerja?" Zahra bertanya lagi.


Hawa mengangguk mantap, "kamu tidak tau kalau Akbar kerja selama liburan sekolah ini?"


Zahra menggeleng pelan, ternyata benar apa yang ia pikirkan selama ini bahwa Akbar sibuk dengan pekerjaannya. Namun Zahra ingin tahu alasan mengapa Akbar bekerja di saat liburan sekolah. Tetapi ia merasa waktunya tidak tepat untuk menanyakan hal itu akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut.


"Maaf kalau aku ganggu kalian." Zahra menyimpan tulisannya lalu menutup laptop dan memasukkan ke dalam tasnya.

__ADS_1


"Kamu mau pulang?" Tanya Akbar.


"Iya." Jawab Zahra.


"Aku antar ya."


Zahra menggeleng, "aku bawa mobil."


"Aku antar sampai kamu masuk ke dalam mobil."


Zahra diam, melirik Hawa yang memalingkan wajah darinya dan Akbar.


"Hawa, aku duluan ya. Assalamu'alaikum." Ucap Zahra.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Hawa pelan.


Kedua mata Hawa menatap kepergian Zahra dan Akbar. Ia menahan cemburu yang teramat sangat di hatinya, ia seperti baru jatuh dari atas kasur akibat mimpinya. Bibirnya menyunggingkan senyum sambil menenangkan hatinya sendiri. Karena ia tidak mau teman-temannya tahu apa yang ia rasakan.


"Makasih ya sudah mau antar aku sampai ke parkiran." Ucap Zahra tersenyum saat sudah di dalam mobilnya.


"Sama-sama. Emm... Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Akbar.


"Maksudnya?"


"Emm.. Tidak jadi, kamu hati-hati ya pulangnya." Jawab Akbar.


Zahra mengangguk, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatu."


Akbar memandang mobil Zahra yang pergi meninggalkan cafe dan dirinya. Ada rasa sesal mengapa Zahra harus tahu kalau dirinya kerja dari Hawa. Ia takut Zahra berpikiran macam-macam tentangnya, namun hatinya menggubrisnya dan mengatakan di dalam hatinya bahwa Zahra tidak seperti itu. Ia akan memahami semuanya.


Akbar menghembuskan nafasnya lalu kembali masuk ke dalam cafe dan gabung bersama teman-temannya. Namun ia tidak melihat Hawa di sana, ternyata dia sedang ke toilet.


"Itu yang namanya Zahra?" Tanya Doni.


Akbar mengangguk.


Doni tersenyum sambil menepuk bahu Akbar. Sebenarnya Akbar tahu maksud temannya itu, hanya saja Doni tidak mau mengatakannya di depan Hendri dan Dewi.


Di dalam toilet Hawa duduk termenung, ia masih memikirkan tatapan yang Akbar berikan untuk Zahra. Namun ia menyangkal kalau Akbar mencintai gadis muslimah itu, ia hanya berpikir bahwa mereka teman sekolah, tidak lebih dan tidak memiliki perasaan apa pun. Meskipun begitu ia tidak bisa membohongi perasaannya kalau ia cemburu, ia menghapus air matanya lalu berjalan keluar dan menghampiri teman-temannya.


"Maaf ya lama." Kata Hawa duduk di samping Akbar sambil tersenyum meskipun terpaksa.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Akbar.


Akbar menggeleng pelan lalu melihat temannya yang sedang memandangi dirinya.


"Kita duluan ya rik." Kata Doni.


"Kok gitu?" Akbar heran melihat ketiga temannya berdiri.


"Kita ada perlu. Dah, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."


Kini Akbar pindah duduk di hadapan Hawa dan melihat temannya itu masih terdiam sejak dari toilet. Akbar tahu ada sesuatu yang Hawa sembunyikan.


"Ada yang perlu aku bicarakan sama kamu." Ucap Hawa pelan.


"Apa?" Tanya Akbar.


"Apa yang kamu tau tentang Zahra?"


"Zahra? Emm... Zahra itu teman sekolahku." Jawab Akbar yang tidak mengerti mengapa Hawa tiba-tiba bertanya tentang Zahra.


"Lalu apalagi yang kamu tau tentang dia?" Hawa masih diam memegang gelas minumannya.


Akbar sedikit berpikir, "ada apa memangnya Hawa?"


"Kamu jawab saja pertanyaanku."


Akbar menghela nafasnya, lalu tersenyum sebelum menceritakan tentang Zahra.


"Zahra itu... Perempuan yang baik, Zahra itu berbeda dari perempuan yang lain, setiap kali Zahra bicara seolah pendengar seperti terhipnotis dalam suara lembutnya. Zahra itu..."


"Lalu apa yang kamu tau tentang aku?" Hawa langsung memotong ucapan Akbar yang sedang bercerita bagaimana sosok Zahra dimatanya.


Akbar mengerutkan dahinya, ia tidak tahu akan ke mana pertanyaan Hawa sebenarnya.


"Kamu itu temanku." Jawab Akbar.


Hawa memandang wajah Akbar, sedangkan Akbar langsung menunduk saat dipandang oleh Hawa.


"Kamu tidak tau sama sekali tentang diriku. Aku ini seorang non muslim, pak Heru adalah papah angkat aku. Beliau berjanji pada papahku akan merawat aku seperti anaknya, maka dari itu namaku diganti oleh pak Heru. Nama asliku adalah Maria. Adam anak pertama pak Heru seusia denganku sehingga ia memberikan nama Hawa untukku." Kata Hawa bercerita tentang masa lalunya yang ia pendam sendiri.

__ADS_1


Akbar terkejut mendengarnya, bahkan ia tidak tahu sama sekali siapa Hawa, dan berasal darimana dirinya. Dari keempat temannya, memang hanya Hawa yang ia tidak tahu tentang keluarganya.


Hawa tersenyum, "terserah kamu mau panggil aku Hawa atau Maria, aku lebih suka Maria."


Kedua mata Akbar memandang wajah Hawa yang sedang menahan tangis, mungkin ada hal lain yang membuat dirinya menjadi sedih seperti ini.


"Apa yang membuatmu sedih seperti ini? Aku merasa bukan karena masa lalumu." Tanya Akbar.


"Aku menyukaimu sejak pertemuan pertama kita. Aku menyukaimu karena kamu temanku. Lain kali akan aku ceritakan lagi ya, sekarang aku harus pulang. Bye." Hawa pergi meninggalkan Akbar sendirian.


Saat Hawa mengatakan seperti itu, bayangan wajah Zahra terlintas dibenak Akbar begitu saja padahal ia sedang tidak memikirkannya. 15 menit kemudian ia beranjak dari cafe tersebut dan pulang ke rumah untuk menenangkan pikirannya.


Sesampainya di rumah Akbar melihat mobil di depan rumahnya. Saat ia masuk, ia melihat Zahra sedang duduk bersama ibunya dan Khodijah. Ia bingung mengapa Zahra bisa tahu rumahnya, namun tak lama kyai Efendi keluar dari dapur. Akbar langsung bersalaman dan ikut duduk di ruang tamu.


"Nanti malam gantikan saya dikajian ya." Ucap kyai Efendi.


"Ta... Tapi pak kyai... Saya... Saya tidak bisa apa-apa." Kata Akbar yang terbata-bata.


"Tidak boleh bicara seperti itu nak, pak kyai kan bermaksud baik padamu." Kata ibu.


"Tau nih, kan kakak juga belum coba." Sahut Khodijah.


Akbar melirik Zahra tersenyum mendengar ibu dan adiknya bicara padanya.


"Saya biasa mengisi dengan motivasi pak kyai, saya belum paham betul tentang kitab." Kata Akbar lagi.


"Kalau begitu lakukan sebagai dirimu saja, tidak usah menjadi orang lain." Kata kyai Efendi.


Saat Akbar sedang berpikir tentang tawaran itu, Zahra pun bersuara.


"Pamanku akan pergi ke Mesir ada keperluan di sana, dan sepertinya pamanku menyukai cara penyampaian kamu saat dikajian, makanya beliau meminta kamu untuk menggantikannya. Jangan jadi seperti pamanku, jadilah diri kamu sendiri. Sama-sama sedang belajar kitab kan? Toh pamanku juga masih belajar kok."


Khodijah terdiam sejenak mendengar suara Zahra karena ia merasa tidak asing lagi.


"Emm.. Baiklah pak kyai, saya akan isi kajiannya nanti malam."


"Alhamdulillah, kalau begitu saya permisi pulang dulu ya. Assalamu'alaikum." Ucap kyai Efendi.


"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."


Saat kyai Efendi dan Zahra pulang, Khodijah kembali duduk diruang tamu menanyakan tentang Zahra.


"Sepertinya aku pernah dengar suaranya kak. Tapi di mana ya." Ucapnya.


"Dia perempuan bercadar di pengajian kita." Kata Akbar menyandarkan tubuhnya di bangku.


"Subhanallah, cantik banget ya kak, udah gitu tutur katanya lembut banget lagi. Semoga dia jodoh kakak ya. Hehehe." Kata Khodijah senyum-senyum.


"Aamiin." Sahut ibu tersenyum.


"Zahra itu berasal dari keluarga yang taat pada agama, apalagi abinya seorang tokoh agama di Mesir. Jadi kalian jangan berandai-andai seperti itu ya." Ucap Akbar.


"Loh jodoh kan tidak ada yang tau, lagi pula ibu baru melihatnya sekali terasa adem banget gitu di dekatnya." Kata ibu.


"Bu." Panggil Akbar.


"Apa?" Tanya ibunya.


Akbar menggeleng pelan lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya. Ia mengaminkan saat adiknya berucap seperti itu, ia memang mencintai Zahra, namun untuk saat ini ia ingin bekerja keras supaya keluarganya setara dengan keluarga Zahra.


Malamnya pengajian berjalan dengan lancar, namun Akbar tidak melihat Zahra. Sepertinya perempuan itu tidak hadir, ia duduk di depan masjid bersama Furqon sahabatnya.


"Sedang memikirkan gadis bercadar itu bar?" Tanya Furqon.


Akbar melihat lurus ke depan, "tidak." Jawabnya.


"Kita ini sahabatan sudah dari kecil, jadi aku mengerti apa yang sedang kau rasakan."


"Apa aku pantas untuknya?" Tanya Akbar.


"Mengapa kau menanyakan hal seperti itu padaku?" Furqon bertanya balik.


"Dia bukan gadis sembarangan, aku dan dia itu terasa seperti bumi dan langit." Ucap Akbar.


"Meskipun begitu saling melengkapi kan? Tanpa adanya bumi, tidak ada kehidupan, tanpa adanya langit sama saja. Allah menciptakan segala sesuatunya saling melengkapi, meskipun jarak di keduanya sangatlah jauh."


Mendengar ucapan Furqon, Akbar menjadi yakin dan merasa percaya diri seperti awal ia menuliskan surat untuk Zahra.


"Kau harus sering2 baca cerita tentang sahabat nabi bar, banyak sekali pelajaran yang kita dapat. Bahkan tidak ada yang mustahil jika mencampurkan urusan kita pada Allah."


"Kau motivasi pribadi ku qon, aku terlalu sibuk memotivasi orang tapi aku sendiri perlu di motivasi. Hehehe." Kata Akbar terkekeh pada sahabatnya.


"Hayu lah kita tadarus ke dalam, tidur, bangun disepertiga malam, ceritakan dia pada Allah meskipun Allah sudah tahu isi hati kau." Kata Furqon merangkul sahabatnya.


Mereka pun masuk ke dalam masjid dan memulai membaca ayat-ayat suci Al-quran. Sekitar pukul 11 malam, Akbar tidur di dalam masjid bersama sahabatnya yang sudah menemaninya sejak kecil.

__ADS_1


..."Ya Allah, Engkau maha tahu apa yang sedang ku rasakan. Jangan buatku mengkhayal tentangnya ya Allah, karena aku bukan kekasih halalnya. Dan aku sedang memantaskan diriku, agar Engkau menjadikanku kekasih halalnya suatu hari nanti. Aku percaya bahwa Engkau akan memberikan hadiah terbaik padaku." Akbar....


..."Merindukan dengan cara mendo'akan adalah caraku. Aku berharap, dia pun melakukan hal yang sama denganku. Aku lemah tanpa dirimu ya Allah, aku sedih tanpa dirimu ya Allah. Peluklah diriku saat aku merasa sedih pada ciptaanmu. Karena hanya Engkau yang maha cinta, Engkau yang tidak pernah meninggalkanku, dan hanya Engkau yang tidak pernah membuat diriku merana." Zahra....


__ADS_2