
Minggu sore di kantin rumahsakit, Zahra dan Akbar sedang makan bersama, mereka tidak hanya berdua, ada pak Warto dan bi Juju di seberang meja mereka. Zahra merasakan gugup saat Akbar duduk di hadapannya, begitupun dengan Akbar yang sedang mengatur detak jantungnya.
Besok pagi umi pulang ke Indonesia dan meminta Zahra untuk menjemputnya di bandara. Gadis cantik itu tidak menolak ucapan uminya, karena ia memang sudah rindu pada sosok umi dan abinya.
Mereka makan bersama namun pikiran mereka masing-masing, keduanya menghabiskan makanannya tanpa ada yang bersuara sedikitpun. Akbar tidak bisa basa-basi pada perempuan yang ia cintai. Zahra menghela nafasnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi lalu memainkan sedotan diatas meja.
"Zahra," panggil Akbar pelan.
"Iya?"
"Emm.... Tidak jadi deh." Kata Akbar bingung harus mulai pembicaraan mereka darimana.
"Kenapa tidak jadi? Oh, iya, kamu PKL dimana?" Tanya Zahra memulai obrolannya.
"Ditempat pak Heru." Jawab Akbar.
"Pak Heru?"
"Beliau ayahnya Hawa, tempat kerjaku dulu."
Zahra mengangguk pelan, "bagaimana kabar Hawa?"
"Baik, dia sangat baik." Jawab Akbar senyum.
"Kalian sangat akrab ya." Ucap Zahra.
"Bukan hanya Hawa, Doni dan teman lainnya aku sangat akrab dengan mereka." Akbar menjelaskan.
"Bagaimana kabar umi dan abi?" Tanya Akbar mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah mereka sehat, besok mereka tiba di Indonesia." Jawab Zahra.
"Ibu apa kabar?" Tanya Zahra.
"Alhamdulillah baik." Jawab Akbar.
"Khadijah?"
"Dia baik, bahkan kemarin sudah balik lagi ke pesantren."
"Bar, Khodijah SMA dimana?"
"Aku belum tau, dia juga belum ngomong apa-apa ke aku."
"Emm.... nih, itu alamat pesantren abi di Aceh, kalau Khadijah mau di sana aku bisa bantu." Kata Zahra memberikan alamat pesantren keluarganya.
"Wah! Terimakasih banyak Zahra! Tapi kurasa Khadijah tidak akan sekolah jauh, aku tau betul dia."
"Kamu tanya adikmu dulu ya bar, soalnya kalau aku tidak salah dengar, waktu di majelis dia pernah bilang ke temannya bahwa dia ingin melanjutkan sekolah di pesantren yang berada di Aceh."
Akbar menarik nafas dalam-dalam sambil memikirkan adiknya.
"Aku pulang duluan ya bar. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sekitar 15 menit Zahra pulang, Akbar langsung beranjak dari kantin rumahsakit dan segera pulang ke rumah untuk berbicara dengan ibunya mengenai rencana Khadijah. Akbar keluar dari kamar dan duduk diruang tv bersama ibunya yang sedang menonton ceramah.
"Bu," panggil Akbar lembut.
Sang ibu menoleh ke anak sulungnya lalu tersenyum padanya, "ada apa?" Tanya ibu.
"Emm--- apa Khadijah pernah bilang ke ibu soal sekolah?" Tanya Akbar.
Ibu mengernyitkan dahinya, "maksudmu?"
"Maksud Akbar, apa Khadijah pernah bilang mau masuk pesantren mana gitu bu setelah lulus tahun ini." Akbar menjelaskan pertanyaannya.
Ibu terdiam dan menatap kedua mata putra sulungnya itu.
"Dimana bu? Khadijah mau masuk pesantren mana?" Tanya Akbar.
"Khadijah bilang, dia mau ke Aceh, katanya di sana banyak pesantren bagus. Ah itu anak ada-ada saja! Padahal di sini juga banyak yang bagus kok. Iya kan?"
__ADS_1
Akbar menghela nafasnya sambil memikirkan keinginan adiknya dan alamat pesantren Zahra.
"Apa Khadijah sudah cari-cari pesantren mana yang akan dia masuki bu?" Tanya Akbar.
"Sudahlah, jangan bahas itu! Mungkin adikmu lagi kepingin saja kali, karena anaknya bu Susi baru pulang dari Aceh. Nanti ibu bicarakan sama adikmu." Jawab ibu tersenyum lalu pergi meninggalkan Akbar.
Ibu tidak mau membuat Akbar kepikiran tentang keinginan adiknya, sang ibu tidak mau menjadi beban anak sulungnya, karena ia tahu bahwa Akbar juga punya keinginan untuk meraih masa depannya, namun selalu ia nomorduakan sejak ayahnya meninggal. Di dalam kamar sang ibu melihat foto suaminya dan mengenang kebersamaannya.
Akbar ke dalam kamar dan membuka semua tabungan yang selama ini ia kumpulkan untuk kuliahnya, ia ingin adiknya bahagia, ia hanya ingin kedua wanita di dalam rumahnya tersenyum karenanya. Melihat mereka tersenyum sudah sangat membuat hati Akbar bahagia. Setelah ia hitung tabungannya, Akbar keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar ibunya.
"Bu," panggil Akbar.
Ibu menyeka air matanya dan berpura-pura tidak bersedih.
"Iya nak." ibu membukakan pintu lalu memandang wajah Akbar sebentar dan duduk di ruang tv.
"Ini uang tabungan Akbar bu, buat masuk sekolah Khadijah." Kata Akbar memberikan uang tabungannya.
Ibu terkejut melihat uang yang Akbar kasih kepadanya, uang itu lumayan banyak dan ia tidak tahu sejak kapan anaknya menyisihkan uangnya, padahal setiap kali dia kerja, uangnya Akbar berikan kepadanya untuk keperluan keluarga sehari-hari.
"Ini banyak sekali nak!"
Akbar tersenyum, "maaf Akbar tidak jujur sama ibu, kalau selama ini Akbar menabung." Ucapnya memegang tangan ibunya.
"Katakan pada ibu, uang tabungan ini buat keperluan kamu kan?"
"Khadijah lebih membutuhkannya bu, lagi pula Akbar kan sekolah gratis sampai lulus nanti." Jawab Akbar.
"Ini buat kuliah kamu kan nak?"
Akbar diam sejenak lalu menggeleng pelan, ia berbohong agar sang ibu bisa menerima uang tersebut.
"Akbar, tatap ibu! Ini uang buat kuliah kamu kan?"
Kali ini Akbar mengangguk pelan.
Ibu tidak menahan kesedihannya melihat putranya begitu menyayangi adiknya, bahkan dia selalu mengalah dan tidak memikirkan kebahagiaannya sendiri.
"Tidak bu, Akbar memutuskan untuk kerja setelah lulus, insyaallah Akbar akan kumpulkan uangnya buat masuk kuliah. Sekarang ibu ambil ya uangnya."
Ibu langsung memeluk Akbar dan menangis di dalam pelukan putra sulungnya. Akbar meminta untuk ibu ridho padanya, sehingga ia bisa menjalani kehidupan dengan berkah serta mendapatkan ridho dari Allah.
...***...
Zahra tidak sabar untuk memeluk kedua orangtuanya, ia melihat orang-orang sekitar bandara dan mencari-cari sosok yang ia nantikan selama ini. Saat ia sedang menunggu, ia mendapat satu pesan dari Akbar lalu membacanya.
"Adikku akan masuk ke pesantren yang ada di Aceh, dan ku harap dia bahagia jika berada di pesantren keluargamu."
"Aku akan berikan formulirnya pada Khadijah, setelah ia mengikuti ujian akhir sekolah nanti."
"Terimakasih Zahra."
"Sama-sama."
"Assalamu'alaikum."
Zahra menoleh, "Wa'alaikumsalam, umi, abi!" Zahra langsung memeluk kedua orangtuanya dengan bahagia.
"Aku kangen umi sama abi." Ucapnya di dalam pelukan.
"Masa sih?" Goda abi.
Zahra melepaskan pelukannya, "iya abi. Oh, iya, ada yang mau aku ceritakan sama umi dan abi."
"Kalau begitu sampai di rumah kamu cerita ya." Ucap umi.
"Okeh, hehehe." Zahra menggandeng lengan uminya.
Sesampainya mereka di rumah, Zahra langsung duduk di ruang keluarga dan mulai menceritakan keluarga Bela pada kedua orangtuanya, apa yang selama ini ia lihat saat kedua orangtuanya berada di Mesir.
"Lalu bagaimana keadaan ibunya Bela?" Tanya umi khawatir.
"Alhamdulillah sudah siuman umi." Jawab Zahra.
__ADS_1
"Kita harus bantu mereka." Kata abi.
Zahra mengangguk, "bagaimana kalau mereka tinggal sama kita abi, boleh tidak?"
Umi dan abi saling pandang.
"Apa mereka mau?" Tanya umi.
"Aku belum bilang sama Bela dan ibunya, tapi nanti sore aku mau ke rumahsakit, kata dokter sudah boleh pulang." Jawab Zahra.
"Kalau begitu kita ke sana. Bagaimana bi?" Umi meminta persetujuan suaminya.
"Okeh."
Zahra tersenyum bahagia melihat kedua orangtuanya. Ia tidak sabar untuk bertemu Bela dan memperkenalkan mereka padanya.
Sekitar pukul setengah 5 sore, Zahra bersama kedua orangtuanya pergi menuju rumahsakit untuk melihat kondisi bu Asti. Sesampainya di sana, Zahra masuk ke dalam ruangan bua Asti dan sudah ada Bela yang duduk menemaninya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Balas bu Asti dan Bela bersamaan, Bela berdiri saat Zahra dan kedua orangtuanya datang.
"Bela, ini orangtuaku."
Bela langsung mencium tangan umi dan abi.
"Anak solehah!" Puji umi memegang kepala Bela.
Hati Bela langsung terenyuh mendengarnya, karena ia merasa jauh dari kata solehah, bahkan baru beberapa hari ia bersikap lembut pada ibunya. Ia ingin menangis menyesali perbuatannya, namun tertahan karena Zahra tersenyum padanya.
"Maafkan anak kami bu, kalau buat repot ibu." Ucap umi memulai obrolan dengan bu Asti.
"Anak itu sangat baik, saya bahagia melihat Zahra berteman baik dengan Bela." Kata bu Asti memandang wajah Zahra dan Bela bergantian.
"Kata dokter hari ini ibu boleh pulang." Kata Zahra.
"Alhamdulillah." Ucap bu Asti.
"Zahra mengusulkan untuk bu Asti dan Bela tinggal bersama kami. Bagaimana bu?" Tanya abi.
"Terimakasih pak, bu, Zahra, saya tidak mau buat repot kalian. Saya dibawa ke rumahsakit saja sudah Alhamdulillah sekali." Jawab bu Asti.
"Bu memang sudah semestinya kan kita saling membantu. Bela, kamu mau kan tinggal di rumah aku?" Kali ini Zahra membujuk Bela yang diam tidak tahu harus berbicara apa.
"Aku--- aku tergantung ibuku saja Zahra." Jawab Bela.
Zahra menunduk sedih, "aku cuma berharap kalian ada di dalam rumahku, mau ya bu?"
Bu Asti tidak tahan melihat Zahra sedih, karena bagaimana pun ia sudah menganggap seperti anaknya sendiri.
"Iya, tapi ibu tidak mau tinggal gratis ya, ibu mau bekerja dirumah kamu." Jawab bu Asti senyum.
"Jangan bu! Biar aku saja yang kerja dirumah Zahra, ibu istirahat. Aku sama ibu akan tinggal di rumah kamu Zahra, tapi tolong kasih kerjaan buat aku." Kata Bela.
Zahra memandang kedua orangtuanya.
"Iya, kamu boleh bekerja dirumah kami, apa yang kamu bisa nak?" Tanya abi.
"Emm.... a.... aku, bisa...."
"Bela pintar bahasa Arab umi, abi." Potong Zahra.
"Kalau begitu jadi guru bahasa Arab buat anak-anak di pengajian umi, bagaimana nak?"
"Insyaallah akan saya coba umi." Ucap Bela sedikit khawatir.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Yuk! Kita siap-siap untuk pulang ke rumah!" Kata umi semangat.
Zahra menggenggam tangan Bela, "jangan khawatir, percaya sama diri kamu kalau kamu bisa jadi guru. Lagi pula ada aku kok di sana."
Bela memeluk Zahra dan berterimakasih karena sudah membantunya.
Keluarga Bela dikenalkan oleh umi dan abi saat masuk ke dalam rumahnya, dan berharap para asisten rumahtangga mereka memperlakukan sama dengan mereka. Hari-hari bu Asti ikut menyiapkan makanan meskipun kadang ditolak oleh para asisten rumahtangga, sedangkan Bela, kini setelah pulang sekolah ia akan mengajar bimbel pada anak yang ingin belajar bahasa Arab. Serta ia selalu ikut kajian umi.
__ADS_1