Mencintaimu Lewat Do'A

Mencintaimu Lewat Do'A
14. Salam Perpisahan


__ADS_3

Malam itu sudah pukul 22:00, mata Akbar masih terjaga sambil menatap langit yang sebentar lagi akan turun hujan karena terlihat sinaran kilat. Ia tahu kalau perasaannya tidak menginginkan Zahra pergi, namun ia harus ikhlas dengan segala keadaan apapun yang akan datang menghadang.


Sms Hawa sejak tadi pagi, bahkan lebih dari sepuluh kali sms Akbar abaikan, ia hanya ingin berdamai dengan perasaannya, ia tidak mau larut dalam mencintai Zahra, biarkan itu menjadi tanggungjawab hatinya untuk mengikhlaskannya pergi, ada tersirat di dalam hatinya yang berharap bahwa Allah akan mempertemukannya lagi.


Suara panggilan masuk Akbar lihat, namun terpampang nama Hawa dan ia lagi-lagi mengabaikannya, setelah panggilan itu berakhir Akbar menonaktifkan ponselnya. Ia hanya diam, ia sedang butuh waktu untuk sendiri. Bahkan saat ibu dan Khadijah ingin menemaninya, Akbar langsung menolaknya dan mengatakan bahwa dirinya hanya ingin sendirian di teras rumah.


Furqon yang melihat sahabatnya sedang tiduran langsung menghampirinya.


"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatu." Ucap Furqon dengan suara yang sengaja ia kencangkan.


"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu." Balas Akbar yang masih tiduran dilantai.


"Tumben kau belum tidur?" Tanya Furqon melihat jam tangannya.


"Belum ngantuk." Jawab Akbar singkat.


Furqon mengerti dengan perasaan Akbar, mereka sama-sama ditinggal oleh seseorang yang mereka cintai namun bedanya Furqon sudah tidak bisa lagi membawa namanya didalam do'anya.


"Apa yang sedang kau pikirkan sih bar?" Tanya Furqon.


"Aku sedang tidak memikirkan apa-apa." Jawab Akbar.


Furqon masuk ke dalam rumah Akbar untuk mengambil dua gelas air minum.


"Kau sudah makan?" Tanya Furqon lagi.


"Sudah." Jawabnya singkat.


Furqon tersenyum geli melihat sahabatnya yang gelisah karena ditinggal oleh Zahra.


"Kita sama bar." Ucap Furqon.


Akbar bangun dari tidurnya, laku menoleh ke sahabatnya, "sama?" Tanyanya meminta penjelasan.


"Sama-sama ditinggal sebelum bilang perasaan kita." Jawab Furqon.


"Aku ikhlas fur, aku juga tidak mengerti dengan semuanya." Ujar Akbar.


"Alhamdulillah kalau memang kau sudah ikhlas, tapi apa perasaan kau membuktikannya? Bar, kau masih bisa membawa namanya di dalam do'a kau, sedangkan aku? Aku tidak mungkin mendo'akan istri orang, iya kan?!"


Akbar mengangguk pelan, "aku cuma ingin cepat lulus dan bekerja keras buat ibu dan Khadijah."


"Itu pasti! Kau harus fokus pada keluargamu dan juga dirimu."


Akbar senyum mendengarkan ucapan sahabatnya itu. Mereka berbincang-bincang hingga larut malam setelah itu mereka menghabiskan malam minggu mereka dengan berada di dalam masjid untuk membaca Al-quran agar hati mereka tenang.


Selesai sholat subuh berjamaah, Akbar dan Furqon lari pagi bersama. Sudah hampir 2 bulan mereka tidak melakukan aktifitas olahraga bareng seperti itu, sekitar pukul 8 pagi Akbar melihat Doni berada di sekitar kampungnya. Akbar menghampirinya, namun tak hanya Doni ternyata ada Hawa juga sedang membeli bubur ayam untuk mereka.


"Aku tau kalau kalian belum sarapan, makanya aku beli banyak. Sekalian buat orang rumah kamu bar." Ucap Hawa tersneyum sumringah menunjukkan bungkusannya.


Akbar dan Furqon saling pandang merasa heran melihat sikap Hawa tersebut.

__ADS_1


"Yuk ke rumah kamu!" Ajak Hawa.


Akbar memandang Doni, namun Doni hanya mengangkat kedua bahunya mengatakan bahwa ia tidak tahu dengan sikapĀ  temannya itu.


"Assalamu'alaikum." Ucap Akbar dan yang lainnya.


"Wa'alaikumsalam, loh banyak orang gini, masuk-masuk nak!" Suruh bu Wati melihat anaknya pulang bersama teman-temannya.


"Pulang dulu ya bar." Kata Furqon.


"Eh, jangan pulang! Sini saja ngobrol bareng, lagi pula aku udah beli bubur ayam buat kita sarapan!" Hawa mencegah Furqon untuk pulang ke rumahnya.


Furqon melihat mata Akbar, namun Akbar mengisyaratkan bahwa sahabatnya untuk duduk di ruang tamu bersama mereka.


"Emm... Kalian ngapain ya pagi-pagi ada di sekitar kampungku?" Tanya Akbar.


"Oh, kita lagi jalan-jalan aja kok, iya kan don?!" Jawab Hawa menyenggol lengan Doni.


"Ah, iya... Kita lagi jalan-jalan." Sahut Doni terkejut.


Entah mengapa Akbar merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Hawa. Furqon hanya menjadi pendengar di antara mereka, meskipun dia cepat bersosialisasi dengan orang baru tetap saja baginya Hawa dan Doni teman Akbar, Furqon hanya memperhatikan sikap mereka.


Khadijah keluar dari kamar dan berkenalan dengan Hawa dan Doni. Namun kedua matanya melirik Furqon yang sedang menikmati bubur ayam. Khadijah memang sadar kalau ia mempunyai perasaan pada sahabat kakaknya tersebut, namun lagi-lagi ia merasa cintanya hanya karena nafsu dan akan hilang dengan sendirinya saat ia akan masuk pesantren di Aceh.


Furqon tersenyum pada Khadijah yang diam seperti patung di depan pintu kamarnya, Khadijah langsung tersadar dari lamunannya lalu pergi meninggalkan Akbar bersama teman-temannya. Khadijah terus beristigfar di dalam hatinya setiap kali mengingat senyuman Furqon.


"Khadijah sekolah dimana bar?" Tanya Hawa antusias melihat Khadijah yang terlihat cantik.


"Di pesantren, tahun ini masuk SMA." Jawab Akbar.


"Aceh." Jawab Akbar tersenyum.


"Kenapa kau senyum gitu bilang Aceh nya bar?" Tanya Doni penuh selidik. Sedangkan Hawa hanya melirik Akbar.


"Ah, tidak apa-apa. Yuk, makan lagi buburnya, enak ya!" Akbar mengalihkan pembicaraannya.


Akbar, Doni dan Furqon, mereka terus tertawa bersama, berbicara saat di sekolah mereka. Hawa hanya menghela nafas dan menatap wajah Akbar yang semakin hari semakin tampan. Namun ia penasaran mengapa Akbar terlihat senang saat menyebutkan Aceh di depan Doni.


Sekitar pukul 10 pagi, Hawa pamit pulang bersama Doni. Furqon memandangi motor yang semakin jauh lalu menghilang dari pandangannya.


"Balik juga ya, bau keringat." Kata Furqon mencium bajunya yang sudah basah oleh keringat.


Akbar menganggukan kepalanya lalu masuk ke dalam rumah.


"Kak, kak!" Panggil Khadijah menghentikan langkah kaki Akbar yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.


"Iya?"


"Apa benar aku akan masuk pesantren di Aceh?" Tanya Khadijah dengan penuh semangat.


Akbar tersenyum, "iya."

__ADS_1


Tapi tiba-tiba senyuman Khadijah hilang dari wajah cantiknya, ia menatap wajah kakaknya dengan berkaca-kaca.


"Apa kakak relain tabungan kakak buat aku masuk ke sana?"


"Aku menabung itu buat sekolah kamu dan buat ibu." Jawab Akbar memberikan cengiran kuda pada adiknya.


Khadijah menggeleng lalu meneteskan air mata, "itu uang buat kuliah kakak kan?"


Akbar menghapus airmata Khadijah lalu menatap kedua mata adiknya, "bukan, itu uang sekolah kamu. Sudah jangan dibahas lagi ya, aku akan urus pesantren mana yang akan kau masuki. Aku jamin kau akan suka."


"Jangan nangis ah, kayak anak kecil!" Ledek Akbar.


Khadijah menghapus airmatanya lalu memeluk kakaknya dengan erat, "makasih kak, kau kakak terhebat di dunia! Aku jatuh cinta padamu kak."


Akbar mengelus kepala Khadijah lalu melepaskan pelukannya dan mencium kening Khadijah.


"Aku juga mencintaimu, sekarang boleh aku mandi? Badanku sudah sangat bau keringat!"


"Hahaha, iya-iya, kau mandilah sana! Sahut Khadijah terkekeh mendengar ucapan Akbar.


...***...


Keesokan paginya Akbar sudah siap untuk berangkat sekolah, sedangkan Khadijah memutuskan untuk kembali ke pesantren dan tidak akan ikut ke acara pernikahan Hindun. Khadijah hanya ingin belajar dan terus belajar sehingga bisa mendapatkan beasiswa di pesantren Aceh, Khadijah dengan giat menghafal Al-quran serta belajar kitab-kitab yang berada di perpustakaan pesantrennya.


Akbar selalu menerima apapun keputusan adiknya, ia tahu kalau adiknya sudah menginjak remaja dan ia ingin membiarkan Khadijah sendiri yang memilih jalan hidupnya. Tugas ia sebagai kakak hanya mendukung dan menasihati Khadijah.


Sesampainya Akbar di sekolah, ia mendongakkan kepalanya ke lantai 2, ia melihat kelas Zahra yang terlihat ramai. Ia hanya menyunggingkan senyumnya lalu berjalan pelan menuju kelasnya. Seluruh murid di sekolah membicarakan kepindahan Zahra, mereka sangat menyayangkan tindakan yang diambil Zahra, karena dia hanya butuh satu tahun lagi untuk bisa lulus dari sekolah As-Sobirin.


Di dalam kolong meja Akbar menemukan secarik kertas, ia membukanya lalu membacanya dalam hati menoleh ke kaca samping tempat duduknya, kedua matanya melihat orangtua Zahra sudah sampai di sekolah dan sebentar lagi Akbar tidak akan pernah melihat wajah yang meneduhkan pandangan siapapun.


...Assalamu'alaikum,...


"Wa'alaikusalam." Balas Akbar di dalam hatinya.


...Sengaja aku tulis surat ini untuk perpisahan kita, maaf kalau selama aku menjadi temanmu, membuat hatimu terluka dengan sikap serta ucapanku, maaf untuk semua kesalahanku bar, biarkan aku pergi untuk mengubah semuanya....


...Aku juga sangat berterimakasih padamu telah mengajarkan banyak ilmu tanpa kamu sadari. Karena dirimu aku tahu bagaimana untuk bersikap dalam mencintai seseorang. Terimakasih bar, ku harap kita dapat bertemu di lain hari....


...Sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara, hehehe. Mungkin kalau bicara secara langsung aku tidak akan bisa. Semoga aku bertemu dengan adikmu di Aceh dan bisa membantunya selama dia di sana....


...Semoga kamu, ibu, dan Khadijah selalu dalam lindungan Allah SWT, dan diberikan kesehatan olehNya. Aamiin....


...Assalamu'alaikum....


...Zahra......


Akbar kembali menatap tulisan tangan Zahra, kedua matanya beralih pada kaca jendela dan kini ia melihat Zahra bersama orangtuanya berjalan untuk pindah dari sekolah. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain merelakan kepindahan Zahra, karena itu akan baik buat dirinya, keluarganya dan orang-orang terdekatnya.


Akbar beristigfar di dalam hatinya, menenangkan dirinya. Mungkin itu adalah cara terbaik bagi Allah, agar Akbar terhindar dari dosa, itu cara Allah supaya Akbar lebih mencintai sang pencipta daripada ciptaannya.


"Ya Allah jika ini yang terbaik untuk diriku, aku ikhlas. Maafkan hamba yang menduakan cinta-Mu, maafkan hamba yang telah lalai berdo'a padamu." Ucap Akbar di dalam hatinya sambil menatap secarik kertas.

__ADS_1


Ia ingin membuang surat tersebut, namun ia ragu sampai akhirnya Akbar memutuskan menaruh kertas tersebut didalam buku catatannya saat ia bekerja di kantor pak Heru.


Akbar selalu yakin kalau Allah akan memberikan sesuatu yang tidak ia duga selama ini. Ia selalu yakin bahwa Allah telah menyiapkan kado terindah atas kesabaran dirinya. Ia selalu meyakini itu sehingga hati Akbar sudah merasa lebih tenang dari sebelumnya. Perpisahan bukan akhir dari pertemuan, bisa saja perpisahan itu adalah babak baru untuk memulai sesuatu yang lebih baik, membuka kertas putih di dalam diri sendiri, membiarkan buku yang penuh dengan warna tertinggal dan berdebu sepanjang hari. Seperti halnya Akbar dan Zahra yang akan memulai perjalanan mereka setelah keluar dari gerbang sekolah.


__ADS_2