Mencintaimu Lewat Do'A

Mencintaimu Lewat Do'A
15. Kerja Keras


__ADS_3

Semenjak kepergian Zahra, Akbar sudah tidak terlalu merasa kehilangan namun terkadang ia memikirkan keadaan Zahra karena tidak ada kabar darinya, bahkan Akbar sudah tidak lagi berkomunikasi dengannya.


Rutinitas Akbar setelah pulang sekolah bekerja sebagai koki part time. Ia bekerja masih di restoran milik keluarga Hawa, ia menolak saat pak Heru menyuruhnya untuk menjadi asisten pribadinya di kantor. Akbar akan menerima tawaran itu saat ia sudah lulus sekolah. Untuk saat ini menjadi koki part time sangatlah mengasyikkan baginya, selain bertemu teman baru, Akbar juga mendapatkan ilmu baru dari sana.


Setiap kali Hawa menelepon, Akbar akan selalu mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk dan tidak bisa bicara lama dengannya. Entah mengapa ucapan Furqon beberapa waktu lalu terus menggelayuti pikirannya. Akbar takut jika Hawa meminta dirinya untuk mengislamkannya, sebenarnya ia tidak keberatan mengajarkan Hawa ilmu agama, namun ia tidak tahu apakah Hawa belajar ikhlas karena Allah atau memang hanya karena ingin dekat dengannya.


Akbar selalu memanggil namanya dengan Hawa, tetapi dia selalu mengatakan bahwa dia lebih senang dipanggil dengan nama Maria. Bahkan semua teman-temannya sedang mencoba memanggil dengan nama Maria, sedangkan Akbar memilih untuk tetap memanggilnya dengan nama Hawa. Meskipun wajah Hawa akan berubah cemberut.


Setelah pulang kerja, Akbar langsung mandi dan makan malam bersama ibunya. Tiba-tiba Furqon datang dan bergabung bersamanya, dia beralasan kalau orangtuanya sedang pergi ke luar kota perjalanan bisnis.


"Kamu harus istirahat bar!" Suruh ibu menyendok nasi untuk putranya.


"Aku memang selalu istirahat kok bu. Jadi, tidak perlu khawatir." Ucap Akbar tersenyum.


Furqon mengambil lauk sambil mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"Tapi selama dua minggu ini, kamu tidak pernah sehari pun libur kerja. Ibu tau kalau kamu akan bilang, 'aku kerja part time bu,' huft.. Ibu cuma takut kamu sakit nak." Ujar bu Wati menatap wajah Akbar yang terlihat sedikit kurus.


"Hahaha, itu ibu sudah tau ucapanku, tenang saja lah bu, aku baik-baik saja kok." Kata Akbar meyakinkan ibunya.


"Kau kerja part time bar? Dimana?" Tanya Furqon.


"Di restoran fur." Jawab Akbar.


"Sekolah bukannya balik jam 2 siang ya bar paling telat?" Tanya Furqon lagi.


"Iya." Jawab Akbar.


"Itu berarti ..." Furqon langsung menghentikan ucapannya dan melirik bu Wati yang sedang memandangnya serta ingin mendengar perkataannya.


"Apa?" Tanya Akbar penasaran.


"Ah, tidak apa-apa! Kau pekerja keras! Hebat!" Jawab Furqon dengan bangga sambil menepuk bahu Akbar.


Bu Wati memicingkan matanya lalu menatap Furqon dan Akbar bergantian.


"Setiap hari aku makan disini boleh ya bu, hehehe." Kata Furqon mengalihkan pembicaraannya, agar bu Wati tidak terus mengintimidasi dengan tatapannya tersebut.


"Boleh! Semakin banyak orang semakin seru!" Ucap bu Wati, menaruh piring kosong ke wastafel.


"Bu, aku sama Furqon ke depan rumah dulu ya, mau ngobrol." Kata Akbar.


"Iya." Ucap bu Wati.


Di teras rumah Furqon duduk sambil memainkan ponselnya, sedangkan Akbar masuk ke dalam kamar untuk mengambil surat dari Zahra. Ia memberikannya pada Furqon lalu menyuruhnya untuk membacanya.


"Aku tahu caranya mencintai?" Furqon menegaskan kalimat tersebut saat membaca surat itu lalu menoleh ke Akbar, dia hanya menjawab dengan mengangkat bahunya bahwa dia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Zahra.


"Selama di sekolah, apa kau pernah ngobrol berdua?" Tanya Furqon memberikan surat tersebut.

__ADS_1


"Selepas sholat Dhuha kita selalu bertemu, oh, waktu Zahra baru pindah aku kasih dia Al-quran dan surat perkenalan, yah... Mungkin ini jawaban darinya." Jawab Akbar.


"Zahra sepertinya jatuh cinta." Ucap Furqon.


"Apa! Jatuh cinta?!"


Furqon menganggukkan kepalanya, "tapi tidak tahu pada siapa. Oh, iya, kau bekerja full time 'kan?"


Akbar terdiam.


"Iya kan? Kapan kau istirahatnya bar?" Tanya Furqon lagi.


"Aku sedang menabung buat kuliahku nanti fur, hidup ini keras, kau lalai sedikit akan tergerus oleh waktu dan penyesalan." Jawab Akbar menatap lurus ke depan.


Furqon tersenyum kecil, "aku tahu itu bar! Tapi, alangkah baiknya kau luangkan waktumu satu hari saja untuk kau istirahat, kau tidak lihat bagaimana khawatirnya ibu?"


Akbar menoleh ke sahabatnya, "ibuku akan baik-baik saja. Aku akan istirahat nanti, jika memang tubuhku benar-benar tidak kuat lagi untuk memikul bebanku."


"Baiklah, terserah kau saja." Furqon mengalah, karena untuk urusan kerja keras Akbar tidak mau diganggu dengan nasihat apapun.


Hanya saja Furqon khawatir dengan keadaan sahabatnya, ia takut bahwa Akbar melakukan itu semua untuk melupakan Zahra. Akbar terlalu menyiksa dirinya untuk terus kerja dan kerja tanpa kenal lelah, Furqon serta ibunya meminta dia untuk libur satu hari tapi nyatanya Akbar tidak peduli.


Furqon memutuskan untuk pulang ke rumah, sedangkan Akbar masih setia di teras rumahnya sampai ia tertidur di sana. Tak terasa air matanya mengalir saat ia pejamkan kedua matanya, baru kali ini ia merasa sakit pada dadanya, ia merasakan perih dimatanya saat ia mencoba untuk menangis, meluapkan apa yang sedang ia rasakan. Selama ini ia hanya diam, sesakit apapun ia berusaha untuk tegar, tapi malam itu Akbar benar-benar sedih karena membuat orang-orang di sekitarnya khawatir dengan keadaannya.


Akbar menghapus airmatanya dan mencoba untuk kembali tersenyum dan memulai aktifitas seperti biasanya.


Keesokan paginya Akbar sudah siap untuk bekerja, namun ia mendapat telepon dari Hawa meminta Akbar untuk menemuinya, tetapi ternyata Hawa sudah memberitahukan teman-teman Akbar di restoran bahwa dia izin tidak masuk kerja. Ada perasaan kesal kenapa Hawa bersikap seperti itu padanya. Dengan terpaksa Akbar menemui Hawa di kafe yang berada tak jauh dari sekolahnya.


"Ada perlu apa Hawa?" Tanya Akbar.


"Temani aku sebentar." Jawab Hawa menatap wajah Akbar.


Akbar langsung menoleh saat matanya beradu pandang oleh Hawa.


"Kamu tau 'kan kalau aku harus kerja." Kata Akbar.


"Kenapa kamu menghindar bar?" Tanya Hawa sedih.


"Menghindar dari siapa?" Akbar bertanya balik, karena ia tidak tahu maksud pertanyaan Hawa.


Hawa menyunggingkan senyumannya, "Dariku, kamu sudah jarang bertemu denganku, bahkan kamu tidak pernah membalas pesan dariku. Apa semua ini karena Zahra?"


Untuk pertama kalinya Akbar memandang wajah Hawa, ia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Hawa, ia hanya tidak mau berurusan dengan cinta untuk saat ini.


"Maksudmu?" Tanya Akbar.


"Aku tahu kamu mencintainya. Aku juga tahu kalau Zahra pindah ke Aceh, kamu menghindari semuanya bar, kamu menghindar dari kenyataan!" Jawab Hawa.


"Kamu benar! Aku menghindari semuanya, terutama hatiku! Aku tidak mau menjadi tempat berlabuh seseorang yang hanya ingin singgah lalu pergi, aku sedang tidak mau berhubungan dengan perasaan. Apa ini yang mau kamu obrolin denganku?" Ujar Akbar.

__ADS_1


Hawa tidak menyangka Akbar akan berbicara seperti itu padanya, Hawa hanya diam seribu bahasa, ia tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan pada laki-laki yang ia cintai.


"Kalau memang benar, aku akan pulang! Terimakasih untuk semuanya Hawa, kamu perempuan baik." Lanjut Akbar tersenyum sebentar lalu pergi meninggalkan Hawa sendirian dengan kesedihan didalam hatinya.


Akbar menelusuri jalanan yang cukup ramai, ia semakin bingung mengapa Hawa seperti itu kepadanya, ada perasaan tidak tega saat Akbar mengatakan apa yang sedang ia rasakan padanya. Saat lampu merah, Akbar mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan pada Hawa, ia meminta maaf dan tidak bermaksud menyakiti hatinya. Namun Hawa tidak membalas pesan darinya, Akbar hanya menghela nafas panjang lalu pulang ke rumah.


Malam itu Akbar kembali memberikan motivasi kepada para pemuda pemudi di kampungnya, ia melihat Bela sedang mendengarkan setiap ucapan yang sedang ia katakan, namun ada rasa hilang di dalam mata Akbar, yah, ia tidak melihat perempuan bercadar di dalam pengajiannya lagi yang tidak lain adalah Zahra.


Selesai memberikan motivasi, Akbar melihat Bela hendak pulang ke rumah, namun ia menghentikannya sebentar dan menanyakan kabar Zahra.


"Alhamdulillah Zahra baik kak, dia tidak sms kakak?" Tanya Bela.


Akbar menggeleng.


"Nanti aku suruh dia sms ya kak." Kata Bela tersenyum.


"Tidak perlu bel! Mendengar bahwa Zahra baik-baik saja itu sudah cukup bagiku." Kata Akbar.


"Oh, iya kak, perempuan yang berada di rumahsakit waktu itu siapa ya?" Tanya Bela.


Akbar mengingat kembali saat ia datang menjenguk Zahra, ia merasa tidak ada perempuan selama ini yang datang bersamanya. Namun pikiran Akbar melayang pada Hawa, tetapi ia juga ragu apakah Hawa mengikuti dirinya.


"Perempuan?" Akbar bertanya karena ia masing mengulang memori sebelumnya.


Bela mengangguk, "perempuan itu berpakaian formal seperti habis pulang kerja, tapi... Terlihat seperti anak SMA, rambutnya panjang, dan..." Bela menghentikannya, melihat wajah Akbar yang tidak tahu arah pembicaraannya.


"Dan?"


"Dia menangis saat melihat kak Akbar bersama Zahra di ruangan." Lanjut Bela.


Akhirnya Akbar mengerti mengapa tadi siang Hawa bersikap seperti itu kepadanya, ternyata selama ini ia memperhatikan sikapnya.


"Emm... Tapi aku tidak tahu bel siapa perempuan yang kau maksud." Ucap Akbar.


"Aku mengerti kak, setelah aku datang dia pergi. Ya sudah kak, aku pulang dulu ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Akbar langsung duduk bersandar pada dinding masjid setelah kepulangan Bela.


"Ada apalagi bar?" Tanya Furqon.


Akbar masih bertanya-tanya apakah benar yang dimaksud Bela adalah Hawa.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Akbar membuyarkan semua lamunanya.


"Masa?"


"Iya. Yuk ah! Lanjut tadarus lagi!" Jawab Akbar mengambil Al-quran lalu membacanya.

__ADS_1


Furqon tahu bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikam oleh sahabatnya itu. Ia tidak memaksa Akbar untuk bercerita karena jika sudah lelah menyimpannya Akbar akan mulai menceritakannya dari awal hingga akhir.


Akbar hanya berkeluh kesah di sepertiga malam, menyampaikan apa yang sedang ia rasakan, merajut rindu pada sang khalik tanpa ada suara insan di tengah malam. Ia percaya bahwa dibalik semua gelisah yang hari ini ia dapatkan, semuanya akan indah pada waktunya. Butuh waktu yang tepat untuk mendapatkan keindahan tersebut, maka dari itu Akbar terus berusaha untuk bersabar setiap hari, untuk belajar ikhlas pada kenyataan tanpa ada pengharapan sedikitpun pada hatinya.


__ADS_2