
Sudah satu minggu sejak Akbar dan keluarganya menemui Khadijah di Aceh, kini ia kembali dalam aktifitasnya di kantor dan melihat perkembangan restoran yang sudah ia miliki sebanyak 7 cabang di kota-kota besar di Indonesia. Ucapan Furqon ia lupakan sejenak karena ia belum tahu pasti apakah sahabatnya itu benar-benar berniat meminang Khadijah atau tidak.
Akbar duduk di kantor ditemani dengan secangkir kopi dan instrument musik lewat ponselnya. Sambil memejamkan kedua matanya Akbar tersenyum dalam lamunannya. Furqon yang sudah tiba di kantor merasa heran dengan sikap sahabatnya itu, ia merasa ada yang aneh dengan Akbar.
Furqon berjalan ke meja Akbar lalu mematikan musik sehingga membuat Akbar membuka kedua matanya.
"Berisik!" Kata Furqon lalu pergi ke meja kerjanya yang satu ruangan dengan Akbar.
Tanpa mengucapkan sepatah kata Akbar memainkan kembali musiknya.
"Sepertinya suasana hatimu sedang bagus bar." Puji Furqon membuka laptopnya.
"Tidak juga." Kata Akbar masih memejamkan kedua matanya.
"Bagaimana kabar Zahra?" Tanya Furqon.
Akbar langsung mematikan musiknya dan memandang Furqon dengan wajah kesal.
"Bisa kau jangan tanya hal itu dulu." Jawab Akbar.
Furqon terkejut mendengarnya, biasanya Akbar dengan senang hati menjawabnya atau bahkan akan memulai dengan senyuman di wajahnya, tapi kali ini tidak, dia seolah tidak ingin membicarakan perempuan yang sudah ia cintai sejak SMA.
"Kenapa? Bukannya kau senang kalau aku tanyakan tentang Zahra?"
"Fur, ada saatnya aku memikirkan diriku sendiri bagaimana caraku bahagia tanpa harus terlibat cinta yang belum pasti." Jawab Akbar.
"Apa yang kau tau tentang kepastian? Kalau kau sendiri tidak berani untuk mengatakan pada Zahra." Ucap Furqon.
Akbar menghembuskan nafasnya, "bukannya aku tidak berani, hanya saja ada yang lebih baik dariku untuk mendampingi Zahra."
"Semua manusia sama derajatnya yang membedakan keimanannya!" Kata Furqon.
Akbar terdiam tidak mengatakan apapun pada sahabatnya, sebenarnya ia hanya pura-pura tidak peduli tentang Zahra. Ia hanya mencoba bersikap seperti itu karena ia tidak tahu harus melakukan apa pada Zahra. Mengatakan bahwa ia ingin melamarnya? Itu sudah pasti Akbar lakukan tetapi belum saatnya, ia masih merasa mencintai dalam diam sudah menyatu padanya.
Furqon hanya menggeleng tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya sekarang itu, ia merasa bahwa Akbar menjadi laki-laki yang tidak konsisten dalam bersikap.
Jam istirahat Akbar kembali enggan keluar kantor bersama Furqon untuk makan siang dikantin karyawan. Akbar memilih berjalan ke musholah melaksanakan sholat dzuhur lalu tiduran dipojok musholah. Ia memejamkan kedua matanya sambil tersenyum mengingat wajah ibunya, Khadijah dan tentunya ia merasa rindu pada bapaknya.
Pak, belum pernah Akbar sedilema ini dalam menjalani kehidupan. Akbar tidak pernah satu kali pun ragu dalam bersikap, tetapi akhir-akhir ini Akbar merasakan keraguan yang sangat amat. Mungkin bapak akan memarahi Akbar jika tahu anak laki-lakinya bersikap layaknya seperti pengecut yang menyerah sebelum perang. Itu memang bukan sifat Akbar, tapi untuk hati ini sepertinya Akbar mengikhlaskan cinta itu sendiri. Mencintainya lewat do'a adalah satu cara Akbar untuk tetap mencintainya dari jauh tanpa tahu kabarnya.
Sambil memalingkan wajahnya ke dinding musholah, Akbar meneteskan air matanya. Ia menarik nafas yang panjang dan membuka kedua matanya saat ponsel Akbar bergetar.
"Assalamu'alaikum, kamu apa kabar bar?"
^^^"Wa'alaikumsalam, alhamdulillah aku baik. Tapi.. Ini siapa ya?"^^^
Akbar masih memikirkan siapa seseorang yang menanyakan kabarnya.
"Aku Hawa, maaf aku harus bertanya lebih dulu kabarmu. Kurasa bisnismu maju dengan sangat cepat."
Akbar langsung bangkit dari tidurnya, ia duduk bersandar pada dinding musholah sambil membaca ulang pesan tersebut.
^^^"Kamu kemana saja bertahun-tahun tanpa kabar? Alhamdulillah atas bantuan do'amu juga bisnisku lancar sampai sekarang. Oh, iya, bagaimana kabar pak Heru?"^^^
"Papah sudah meninggal satu tahun yang lalu bar. Bagaimana kabar Zahra?"
Akbar merasa sedih mendengar kabar duka itu, ia tidak tahu alasan mengapa Hawa benar-benar pergi darinya bahkan kabar kepergian ayahnya sendiri ia simpan rapat selama itu.
Saat Akbar hendak membalas ia mendapat pesan dari Doni yang menanyakan kabarnya dan memberitahukan bahwa dia dapat nomor ponsel Akbar dari Hawa.
Akbar tersenyum lega mengetahui sahabatnya hadir kembali dalam hidupnya. Setidaknya Akbar bisa bertukar cerita dengan Doni tentang pak Heru selama ini.
^^^"Inalillahi wa innailaihi roji'un. Aku turut sedih mendengar kabar itu, kau benar-benar menghilang atau memang hanya menghindar dari kehidupan Hawa? Sampai-sampai kau tidak memberitahukan meninggalnya pak Heru padaku."^^^
Hawa menghela nafas panjang setelah membaca pesan dari Akbar, bukan itu yang ia inginkan. Hanya saja ia belum siap bertemu dengan Akbar saat itu.
"Aku minta maaf bar, aku mempunyai alasan sendiri dan ku harap kamu mengerti. Zahra masih di Arab?"
^^^"Alhamdulillah Zahra baik, iya dia masih di sana."^^^
"Alhamdulillah kalau begitu, aku harus lanjut kerja dulu ya bar. Nanti ku hubungi lagi. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
^^^"Wa'alaikumsalam."^^^
Akbar memutuskan untuk menemui Doni yang tidak jauh dari kantornya. Akbar berjalan masuk menuju restoran tempat Doni bekerja, ia duduk sambil menunggu pesanan kopinya datang.
"Selamat siang pak, ini kopinya, selamat menikmati."
Akbar melihat Doni yang mengantarkan pesanan kopi untuknya, mereka tersenyum lalu berpelukan menanyakan kabar satu sama lain.
"Kau pikir aku sudah tua? Seenaknya kau panggil aku dengan sebutan 'pak'." Sahut Akbar kembali duduk menyerutput kopinya.
"Kau kemana saja bar tiga tahun ini?" Tanya Doni.
"Aku sibuk, hehehe" Jawab Akbar bercanda.
"Kau sudah punya kantor ternama, beberapa cabang kafe di kota besar. Lalu, apa lagi yang ingin kau kejar?"
Tiba-tiba pertanyaan Doni terdengar khawatir dan serius pada sahabatnya itu. Sebenarnya Doni sering mencari tahu informasi mengenai Akbar dan perusahaannya, namun ia lebih tertarik pada kehidupan Akbar sejak dia menjadi anak magang di tempat dulu Doni bekerja.
Akbar hanya melihat sekilas wajah Doni lalu kembali menyeruput kopinya.
"Kau sudah tau semuanya don?" Tanya Akbar.
"Tentang?"
"Hawa pergi, pak Heru meninggal setahun yang lalu. Apa kau tau?" Akbar mengulang pertanyaannya.
Doni mengangguk, "aku datang melayat saat dengar kabar pak Heru meninggal, ku kira kau datang tapi sampai sore tidak muncul. Aku tidak mengenali siapa perempuan yang tengah menangis mengenakan pakaian serba hitam dengan kerudung panjang, ku lihat lagi dengan seksama ternyata itu Hawa. Aku tersenyum dari jauh melihatnya, namun aku segera pulang karena istriku akan segera lahiran sore itu juga. Justru aku tidak tahu cerita kau dan Hawa sejak itu." Ucap Doni panjang lebar.
"Kau sudah menikah?" Tanya Akbar.
"iya. Apa ada cerita antara kau dengan Hawa?"
Akbar terdiam.
"Ada apa bar?"
Akbar tersenyum kecil sebelum menceritakan semuanya kepada Doni.
Doni hanya tersenyum setelah mendengarnya, rupanya Akbar dilema selama ini namun dia tidak sadar dengan perasaannya pada siapa akan berlabuh.
"Lalu, bagaimana dengan Zahra?"
"Rupanya kau masih ingat namanya."
"Aku tidak lupa dengan nama perempuan yang dicintai oleh sahabatku. Apa Zahra baik-baik saja bar?"
"Sepertinya begitu don." Jawab Akbar menyeruput kopinya.
"Tapi kau tidak sedang baik-baik saja, iya kan?!"
Akbar kembali diam sejenak, "Zahra akan segera menikah."
Doni yang sejak tadi antusias mendengarnya langsung terdiam, ia terkejut dengan ucapan Akbar, bahkan Doni tidak menyangka jawaban seperti itu yang terlontar dari mulut Akbar.
"Kenapa kau diam? Kaget?" Tanya Akbar senyum sebelum menghabiskan kopinya.
"Kau masih bisa tersenyum bar?" Doni bertanya balik.
"Lalu aku harus bagaimana don?"
Doni mengernyitkan dahinya melihat sikap Akbar yang seperti sudah melupakan Zahra dari hidupnya.
"Sebenarnya kau mencintai Zahra atau Hawa?" Tanya Doni serius.
Pertanyaan Doni berhasil mengalihkan Akbar.
"Kau dilema bar. Kau tidak tau harus memilih siapa. Kalau memang kau tidak mencintai Hawa, kenapa tidak mengatakan niat baikmu pada keluarga Zahra, padahal mereka sudah mengenalmu sejak SMA. Kenapa kau menganggap kepergian Hawa adalah untuk meninggalkanmu? Dia melepaskanmu agar kau bisa bersama Zahra, Hawa sudah tau sejak dulu kalau kau mencintai Zahra." Ujar Doni.
"Aku hanya merasa bersalah pada Hawa karena sikapku padanya membuat dia mencintaiku. Dan aku belum pantas mendampingi Zahra." Kata Akbar.
"Aku tidak tau kalau kau sudah berubah, sejak kapan kau menghindar dari kehidupan dunia bar? Bukankah kau punya Allah dan Rasul mengapa kau khawatir pada keluarga Zahra? Kau khawatir mereka akan menolak karena mereka dari keluarga kaya. Istigfar kau bar!" Ujar Doni kesal melihat sikap sahabatnya yang menjadi plin plan serta tidak percaya diri.
__ADS_1
Akbar diam, ia berkali-kali istigfar setiap kali membanding-bandingkan hidupnya dengan hidup calon suami Zahra.
"Mungkin bulan depan aku akan ke Arab don menemui Zahra." Ucap Akbar pelan.
"Lebih cepat lebih baik bar, ku harap kau kesana memang ingin meminangnya sebelum undangan Zahra tersebar." Kata Doni.
"Aku tidak tau siapa dulu yang datang, undangan Zahra atau diriku."
"Apapun yang terjadi nantinya percaya bar kalau Allah telah menuliskan garis terbaik untuk hidupmu dan orang-orang di sekitarmu."
"Iya don."
Ponsel Akbar berdering, ia mengangkatnya yang ternyata Furqon menyuruhnya balik ke kantor karena ada rapat untuk membuka kafe di kota Surabaya. Akbar mengakhiri obrolannya dengan Doni, ia juga mengucapkan terimakasih pada Doni karena sudah mau mendengarkan isi hatinya. Akbar segera melaju mobilnya menuju kantor dan mempersiapkan diri untuk rapat.
Selama di perjalanan Akbar memikirkan Zahra, ia khawatir kalau undangan Zahra sampai padanya sebelum ia berbicara mengenai niat baiknya. Akbar menarik nafasnya sebelum keluar dari mobil, ia bercermin sebentar agar wajahnya tidak terlihat gelisah, ia tersenyum sebentar lalu berjalan masuk ke kantor.
Furqon bersama beberapa karyawannya sudah berada diruang rapat, Akbar datang telat 10 menit dan langsung memulai rapatnya. Semuamya berjalan dengan lancar, bahkan seluruh karyawannya bangga melihat bos mereka yang benar-benar profesional, Akbar mengesampingkan masalah pribadinya saat berbicara di depan mereka. Bahkan terlihat tidak terjadi apa-apa.
Selesai rapat, Akbar langsung menuju ruangannya ia duduk sambil melihat layar ponselnya yang terlihat sepi tidak ada notifikasi yang sedang ia harapkan.
Akbar melihat nomor kontak di teleponnya, ia memandang nama Zahra, ia ingin meneleponnya namun ragu, ia hanya ingin mengatakan bahwa bulan depan Akbar akan ke Arab untuk menemui abi dan uminya. Namun Akbar langsung menaruh ponselnya saat Furqon masuk ke dalam ruangannya.
"Tadi darimana saja kau?" Tanya Furqon.
"Ketemu Doni." Jawab Akbar mengecek file yang berada di meja kerjanya.
"Doni? Atasanmu waktu kau magang dulu?"
Akbar menganggukkan kepalanya.
"Bar," panggil Furqon.
"Ada apa?" Tanya Akbar.
"Ucapanku di pesantren waktu itu, apa kau anggap serius?"
Akbar menghentikan pekerjaannya dan mencoba mengingat kembali perkataan Furqon saat di pesantren.
"Emm... Ucapanku mengenai Khadijah." Lanjut Furqon lagi.
"Oh, tidak ku anggap serius." Kata Akbar tanpa pikir panjang.
"Kenapa? Aku serius bar!"
"Fur, apa benar kau mencintai adikku? Atau memang saat ini kau kasihan pada Hindun yang ditinggal oleh suaminya, sehingga kau lampiaskan pada adikku. Kau pikirkanlah baik-baik sebelum aku bertanya pada adikku tentangmu." Ujar Akbar.
"Kau kenalku bukan sehari dua hari bar tapi sudah sejak kecil, aku tidak ada perasaan lagi pada Hindun!"
"Bagaimana kalau tiba-tiba ada notifikasi di hp kau bahwa itu Hindun, meminta maaf tentang ucapannya di pesantren?"
Furqon langsung terdiam tidak bisa berbicara apapun pada Akbar.
"Fur, saat kau bercerita seperti itu. Aku tidak percaya kalau Hindun mengucapkannya dari hatinya, ia hanya pakai logika bukan perasaannya. Cinta pertama itu susah untuk dilupakan fur, dan mana mungkin Hindun tega melakukan itu pada kau, padahal jelas sejak dia SMP, dia sudah menyukaimu."
Furqon memandang Akbar dengan serius, "jika memang Hindun memintaku kembali, aku akan kembali. Tetapi perasaanku tidak sepenuhnya untuk dia. Ada Khadijah tanpa sengaja masuk ke dalam hatiku, aku akan berbuat sama dengan Hindun. Melepaskan cintaku untuk oranglain."
Kali ini Akbar yang tidak menyangka mendengar perkataan sahabatnya, betapa seriusnya Furqon dengan Khadijah.
Akbar tersadar saat pesan dari Hawa masuk ke ponselnya.
"Minggu depan aku akan menikah bar, datanglah ke pesantren Zahra, aku melakukannya di sana."
^^^"Insyaallah aku akan datang, tapi..."^^^
"Selama ini aku menjadi guru di sana, dan beberapa kali aku bertemu dengan Zahra. Saat ku tanya tentangmu, dia hanya menggeleng dan tidak tahu bagaimana kabarmu saat ini. Bar, katakanlah perasaanmu pada Zahra, karena yang ku tahu dia hanya menunggu atau menerima lamaran seseorang. Dua pilihan itu berat untuknya, ku harap kau mengerti."
Akbar begitu terkejut membaca pesan Hawa, ternyata selama ini kedua perempuan itu sudah saling mengenal tanpa Akbar tahu.
^^^"Terimakasih atas saranmu Hawa."^^^
"Datanglah pada Zahra bar. Dia menunggumu telah lama."
__ADS_1
Akbar memegang ponselnya dengan erat setelah membaca pesan dari Hawa. Ia mengajak Furqon untuk ke Aceh Minggu depan, dan dia menyetujuinya. Akbar hanya berharap bisa kembali bertemu keluarga Zahra di sana.