Mencintaimu Lewat Do'A

Mencintaimu Lewat Do'A
Pernikahan


__ADS_3

Acara pernikahan Hawa akan berlangsung pukul 10 pagi, semua persiapan telah selesai ia lakukan. Bahkan para tamu undangan serta keluarga telah hadir melihat pernikahan Hawa dengan laki-laki yang ia temui saat berada di Aceh. Hawa melihat pantulan dirinya melalui cermin dan tersenyum sumringah, ia bahagia pada akhirnya bisa menemukan laki-laki yang bisa membimbingnya menuju jalan Allah.


Suara ketukan pintu terdengar, Hawa membukakan pintu kamarnya lalu melihat Khadijah datang memberikan kue untuknya. Hawa adalah salah seorang guru Matematika di pesantren tersebut, dan Hawa tahu bahwa Khadijah adalah adik Akbar.


Setelah menaruh piring, Khadijah hendak beranjak keluar dari kamar Hawa sebelum tangannya dipegang oleh Hawa. Ia menyuruh Khadijah untuk menemaninya saat sedang dirias.


Khadijah langsung duduk di atas kasur Hawa, ia terlihat gugup karena menemani pengantin perempuan, bahkan tenggorokan Khadijah terasa tercekat saat ingin memulai obrolan dengan gurunya itu.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Hawa melihat Khadijah dari cermin.


"Sudah ustadzah." Jawab Khadijah.


"Tidak perlu gugup atau tidak enak hati, anggap saja aku ini temanmu. Hmmm... Lagi pula tidak ada temanku yang datang ke kamar." Kata Hawa sambil menahan senyum.


"Emm.. Iya ustadzah."


"Apa kamu tidak mengenaliku Khadijah?" Tanya Hawa.


Khadijah langsung kebingungan, bagaimana bisa ia tidak mengenali gurunya sendiri. Bahkan Khadijah sempat bertatapan langsung dengan kedua mata Hawa yang menunjukkan ekspresi ketidaktahuan maksud pertanyaannya.


"Kamu tidak mengenaliku atau memang lupa padaku?" Tanya Hawa lagi.


Khadijah belum menjawab pertanyaan Hawa, ia hanya menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal.


Selesai dirias, Hawa berjalan menghampiri Khadijah lalu duduk di sampingnya sambil tersenyum manis.


"Aku Hawa, teman kakakmu dulu." Ucap Hawa.


"Teman kakakku? Aku hanya tau kalau ustadzah guruku." Kata Khadijah.


"Nih kamu lihat." Hawa memberikan foto kenangan saat ia sedang magang dikantor papahnya.


Khadijah kaget melihatnya, ia langsung melihat wajah Hawa lagi dan beralih ke foto berulang-ulang kali. Ia tahu perempuan tanpa jilbab yang sedang tertawa bersama kakaknya itu, Khadijah langsung tersipu malu saat mengetahuinya. Ia tidak menyangka kalau ternyata satu orang, dan yang sekarang tambah cantik karena sudah menutup auratnya.


Khadijah langsung tertegun kagum melihat Hawa, ia tidak tahu harus berkata apa karena selama bertahun-tahun Khadijah tidak mengenalinya.


"Apa kakakmu datang?" Tanya Hawa.


"Sa... Saya tidak tau ustadzah." Jawab Khadijah.


Hawa tersenyum, "panggil aku ini kakak saja, layaknya teman kakakmu. Tapi kalau sedang dikelas baru kamu panggil aku ustadzah. Bagaimana?"


"Tapi... Tapi..."


"Aku anggap kamu setuju, oke! Sekarang coba kamu telepon kakakmu, tanya apa dia datang ke sini atau tidak." Hawa memberikan ponselnya pada Khadijah.


Khadijah menuruti apa yang dikatakan oleh Hawa, suara seseorang dari balik pintu menyuruh Hawa untuk keluar. Akhirnya Khadijah berada di dalam kamar sendirian sambil menunggu kakaknya menjawab telepon darinya. Sudah lima kali ditelepon namun Akbar belum juga menjawab, Khadijah mengirim pesan padanya.


"Angkat teleponnya! Aku Khadijah!"


Dan telepon pun diangkat.


"Assalamu'alaikum,"


^^^"Wa'alaikumsalam, ini aku kak."^^^


"Kenapa hp Hawa ada di kamu?"


^^^"Kenapa kakak tidak bilang sih kalau ustadzah adalah teman kakak dulu."^^^


"Hey.. Hey.. Kakak juga baru tau. Jadi, kenapa kamu meneleponku?"


^^^"Apa kakak ke sini?"^^^


"Iya, ini sudah dibandara."


^^^"Sendiri?"^^^


"Tidak, aku sama Furqon. Mau bicara dengannya?"


^^^"Ah.. Tid..."^^^


"Assalamu'alaikum Khadijah."


Khadijah langsung tersenyum bahagia mendengar suara Furqon.


^^^"Wa.. Wa'alaikumsalam."^^^


"Tunggu ya kakakmu akan datang ke sana denganku, jadi jangan marah-marah. Hehehe."


^^^"Aku tidak marah-marah, sudah dulu ya kak, acaranya segera dimulai. Cepat kalian datang! Assalamu'alaikum."^^^


Khadijah langsung menutup teleponnya sebelum Furqon membalas salamnya. Ia bercermin sambil merapihkan kerudungnya lalu tersenyum sebelum keluar dari kamar.


"Hahahha." Furqon tertawa memberikan ponsel Akbar.


"Kau kenapa?" Tanya Akbar.


"Tidak apa-apa." Furqon senyum-senyum sendiri saat mendengar suara Khadijah melalui sambungan telepon tadi.


"Fur,"


"Iya?"


"Aku berharap bisa bertemu Zahra." Ucap Akbar.


Furqon menunggu ucapan Akbar selanjutnya.


"Aku ingin mengatakannya." Ucap Akbar lagi.


Furqon langsung merangkul sahabatnya dengan bangga, "itu yang kutunggu sejak dulu bar! Semoga Zahra datang ya."


"Iya, tapi lepaskan!" Akbar melepaskan rangkulan Furqon.


Furqon hanya melirik sahabatnya dengan tatapan sinis sebelum tersenyum bahagia bisa melihat Akbar bersikap percaya diri lagi. Mereka pun segera naik mobil untuk sampai ke pesantren.

__ADS_1


Mereka turun dari mobil dan melihat acara pernikahan sedang berjalan dengan khidmat, dari jauh Furqon melihat Khadijah sedang mengabadikan moment tersebut dengan ponselnya. Sedangkan kedua mata Akbar mencari sosok yang ingin sekali ia temui.


Selesai ijab qobul, para tamu memberikan selamat pada kedua pengantin. Akbar tersenyum bahagia bisa melihat Hawa lagi, kali ini ia lega karena bisa melihat Hawa sudah menjadi milik orang lain.


"Assalamu'alaikum kak."


"Wa'alaikumsalam."


"Kakak sudah makan?" Tanya Khadijah pada Akbar.


"Sudah, sini duduk!" Jawab Akbar.


"Aku ke sana dulu ya." Ucap Furqon.


"Iya." Kata Akbar."


"Dia hanya berjalan-jalan sebentar, tidak perlu khawatir." Kata Akbar ikut melihat kearah adiknya memandang.


"Apaan sih kak!" Khadijah mengelak dan melihat ke arah lain.


"Hahahhaa, kau terlalu jelas menatap Furqon. Kau mencintainya?"


Khadijah langsung tersipu malu saat Akbar menanyakan isi hatinya.


"Hey.. Jawablah!" Pinta Akbar.


Khadijah tersenyum lalu mengangkat bahunya, "aku tidak tau."


"Tidak tau? Maksudmu?"


"Aku tidak tau apa aku mencintainya atau cuma sebatas mengaguminya kak. Aku bahagia setiap kali melihat kak Furqon, tapi aku juga merasa bahwa aku harus mengikhlaskannya apapun yang membuatnya bahagia." Jawab Khadijah tersenyum pada Akbar yang menatapnya serius.


"Yakinkan hatimu, apa kamu mencintainya? Sebab Furqon meminta izin padaku ingin melamarmu." Ucap Akbar.


Khadijah terkejut sambil menatap kedua mata kakaknya bahwa ucapan Akbar tidak bohong.


"Aku juga belum menjawab apapun pada Furqon, makanya aku tanya padamu bagaimana perasaanmu ke dia."


"Apa kak Furqon benar-benar mencintaiku?" Tanya Khadijah.


"Dia begitu yakin pada hatinya, aku saja sampai kaget mendengarnya. Dia menceritakan tentang kamu begitu bahagia, aku tidak tau apa yang membuat Furqon sangat terkesan padamu, hehehe." Jawab Akbar.


"Jangan bercanda deh kak!" Kata Khadijah memukul lengan kakaknya.


"Kalau memang kamu mencintainya, kakak mengizinkan kamu bersamanya, aku tidak akan menyesal melepaskan kamu dengan sahabat terbaikku." Kata Akbar dengan wajah serius sehingga membuat Khadijah tidak tahu harus berkata apa.


"Jangan bilang dulu ke kak Furqon ya, biar aku sholat istikharah dulu kak, jika memang datangnya dari Allah tidak akan ada keraguan atas hatiku pada sahabatmu."


Akbar tersenyum mendengarnya lalu merangkul adiknya yang sudah semakin dewasa.


Saat Akbar dan Khadijah sedang berbincang-bincang, suara perempuan menghentikan pembicaraan adik kakak tersebut.


"Akbar!"


Akbar menoleh ke belakang dan terkejut melihat Bela berada di Aceh, tetapi mata Akbar melihat ke kanan dan kiri Bela, berharap ada Zahra bersamanya.


"Zahra tidak bisa hadir, karena ada urusan." Kata Bela seolah tahu isi hati kakak kelasnya itu.


"Sekarang kau tidak memanggilku dengan sebutan kak Akbar lagi bel, hehehe." Ucap Akbar mencoba mencairkan suasana di antaranya.


"Untuk apa? Kau bukan lagi kakak kelasku." Sahut Bela.


Akbar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyumannya.


"Apa kau berharap Zahra datang? Tidak kau tanya padaku bagaimana kabarnya? Apa kau tidak curiga padaku yang tiba-tiba menemukanmu lalu memberi surat undangan pernikahan Zahra? Apa kau tidak gelisah selama ini bar?" Ucap Bela dengan banyaknya pertanyaan didalam pilirannya.


"Apa yang mau kau tanyakan padaku bel? Apa aku harus jawab satu2 pertanyaanmu tadi?" Akbar bertanya balik.


"Bar, kau tahu kalau Zahra..."


"Aku tau bel, aku tau kalau Zahra menungguku selama ini. Kau tau? Aku terlalu takut, takut kalau tiba-tiba di meja kerjaku ada surat undangan darinya, aku selalu memikirkan hal itu. Aku juga merasa bersalah karena membuat Zahra menunggu. Tapi aku punya alasan mengapa aku belum mengutarakan niat baikku padanya." Akbar memotong perkataan Bela.


"Apa karena kau dan Zahra berasal dari keluarga yang berbeda? Kau tidak percaya diri, sehingga kau bersabar untuk membuat kesuksesan dirimu? Sekarang sudah terbukti, kau sukses diusia muda, lalu apa alasannya?" Tanya Bela kesal dengan sikap Akbar.


"Saat aku mulai menyukai Zahra, saat itu aku melepaskannya. Saat aku mencintainya, saat itu pula aku mengikhlaskannya. Aku ikhlas akan semuanya, meskipun ada rasa sakit dihatiku, tetapi jika membuat Zahra bahagia dengan orang lain, aku merelakannya." Jawab Akbar.


"Datanglah ke sana bar, katakan pada umi dan abi."


Akbar tersenyum, "insyaallah bulan depan aku ke sana."


"Bulan depan?! 2 minggu lagi pesta pernikahan Zahra akan digelar! Dan ku harap kau tidak menyesal mendengarnya."


"Apa?!" Akbar terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka bahwa kabar yang tidak ia harapkan selama ini akhirnya datang.


"Zahra merasa kalau kau memilih bahagia dengan caramu sendiri di sini, bahkan Zahra mengganti nomor teleponnya agar tidak dapat menghubungimu meskipun aku tau kalau dia hafal nomormu bar. Kau tidak mengerti arti penantiannya selama ini bar, kau datang lah selama masih ada waktu. Aku harus balik ke sana, untuk mengatakan pada Zahra bahwa kau baik-baik saja." Kata Bela.


"Aku akan datang!" Ucap Akbar.


Bela menghentikan langkahnya.


"Tolong katakan pada Zahra kalau aku akan datang ke sana sesegera mungkin, aku akan minta maaf karena sudah menyia-nyiakan dirinya." Kata Akbar dengan tegas.


"Aku akan katakan pada Zahra bar. Aku pergi dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Akbar langsung terduduk di antara para tamu, Hawa melihatnya dari kejauhan dan berharap sahabatnya itu baik-baik saja. Akbar mengambil minum lalu menenggaknya habis. Akbar berjalan ke dalam musholah untuk sholat sunnah agar hati dan pikirannya tenang.


"Yang tahu terbaik untuk diriku hanyalah Engkau, yang tahu siapa nantinya yang mendampingiku menuju cinta-Mu hanyalah Engkau. Aku pasrah atas kehendakmu, aku tunduk akan ketetapanmu, karena semua yang Engkau berikan adalah hal yang paling terbaik untukku dan kehidupanku kelak." Akbar.


Selesai sholat Akbar merebahkan tubuhnya di atas sajadah, ia pejamkan kedua matanya untuk beristirahat sebentar sambil menunggu Furqon yang entah berada dimana.


...***...


Furqon sedang duduk sambil menikmati makanan yang telah disediakan, namun suapannya terhenti saat Hindun duduk di seberangnya dan mengatakan ada hal penting yang perlu dibicarakan. Furqon menghentikan makannya lalu mengkuti Hindun ke arah taman.

__ADS_1


Hindun duduk dibangku taman sambil menggenggam bunga anggrek kesukaannya, bunga yang setiap kali Furqon punya uang akan dia belikan untuk Hindun, lalu Hindun akan tersenyum bahagia menerimanya.


"Sebenarnya aku tidak menyukai bunga anggrek fur. Tapi hari itu, saat tau kau memberikan bunga anggrek daru hasil uang jajanmu aku langsung menyukainya. Aku sangat menghargai pengorbananmu waktu itu, aku sangat ingin membalasnya, tapi aku..."


"Hindun, kau tidak perlu balas budi akan kebaikanku dulu dengan cara kau juga harus mencintaiku. Aku mencintaimu tulus dari hatiku, tidak peduli apa kata orang tentangmu dan keluargamu, karena menurutku itu hanyalah masa lalumu yang tidak berhak aku ungkit kembali. Jangan merasa bersalah dengan keputusan yang telah kau buat, percayalah bahwa aku telah melepaskanmu saat ijab qobul itu terucap dari suamimu." Potong Furqon.


"Maafkan ucapanku waktu itu fur, aku tidak bermaksud menyakitimu, sungguh. Furqon, aku masih menyukaimu seperti aku menyukai anggrek ini." Ucap Hindun.


Furqon terlejut mendengarnya, ia tidak menyangka kalau selama ini Furqon salah sangka dengan ucapan Hindun. Ternyata benar kata Akbar bahwa Hindun masih mencintainya, namun dia lupakan saat Hindun menerima lamaran almarhum suaminya.


"Aku tau kalau kamu masih sama dengan perasaanmu." Ucap Hindun lagi.


"Kamu benar Hindun, aku masih sama dengan yang dulu." Kata Furqon.


Tanpa sengaja Khadijah mendengar semua percakapan di antara mereka, Khadijah langsung mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan sedih. Khadijah tidak bisa lagi membendung air matanya, ia tumpahkan semuanya tanpa ada seorangpun yang tahu dirinya saat ini meskipun Akbar sedang mencari keberadaannya diluar sana.


Khadijah tersadar dari tangisannya saat ponselnya bergetar, ia tidak mengangkat telepon dari Akbar. Ia melihat wajahnya dari cermin dengan kedua mata yang sembab, bahkan bekas air mata masih terlihat jelas. Lalu nama Furqon bergantian menelepon dirinya, Khadijah tidak mengangkat telepon satu pun dari mereka.


Suara ketukan pintu kamar mengagetkan Khadijah, ia menarik napas dalam lalu membuka pintunya. Khadijah lega saat ia lihat Nina dibalik pintu kamarnya, Nina tersenyum lalu mengatakan bahwa Hawa sedang mencarinya untuk foto bersama.


"Apa kamu sudah?" Tanya Khadijah.


"Aku sudah lebih dulu, hehehe. Cuma kamu saja yang belum foto sama ustadzah." Jawab Nina.


"Ya sudah aku keluar dulu ya."


Nina menganggukkan kepalanya.


Saat ia hendak berjalan menuju Hawa, Khadijah bertemu dengan Furqon, namun Khadijah menundukkan kepalanya tanpa melirik Furqon sama sekali seolah tidak mengenalnya.


"Maafkan aku kak, aku merasa bersalah karena ada di antara kamu dan kak Hindun." Ucap Khadijah dalam hati.


Sedangkan Furqon merasa ada yang aneh dengan sikap Khadijah, namun ia mengira kalau Khadijah memang tidak tahu kalau ada dirinya.


"Khadijah!" Panggil Akbar.


"Eh, kakak. Kak Akbar belum pulang?" Tanya Khadijah.


"Kemana saja sih? Aku cari dari tadi juga, selesai kau foto aku mau langsung pulang." Jawab Akbar.


"Ya sudah, aku ke sana dulu." Khadijah langsung menemui Hawa dengan senyuman manisnya.


"Ada apa?" Tanya Hawa melihat kedua mata Khadijah yang masih merah habis menangis.


"Tidak ada apa-apa ustadzah. Hayu kita foto!" Jawab Khadijah langsung berdiri di samping Hawa lalu tersenyum ke arah kamera.


"Kak Akbar mau pulang." Ucap Khadijah selesai foto bersama.


"Tolong sampaikan salamku untuknya ya, dan ucapkan terimakasih telah datang ke pernikahanku." Kata Hawa.


"Iya ustadzah." Khadijah berjalan pelan saat kedua matanya melihat Akbar bersama Furqon.


"Kakak pulang dulu ya, belajar yang benar sebentar lagi lulus, oke." Akbar memeluk adiknya erat.


Khadijah mengangguk, "kak Hawa berterimakasih pada kakak karena sudah datang ke sini."


"Iya sama-sama."


"Aku juga pamit dulu ya Khadijah." Ucap Furqon.


"Iya kak." Kata Khadijah tanpa melihat wajah Furqon.


"Furqon!" Panggil Hindun, sehingga membuat Khadijah cemburu dan salah tingkah. Akbar melihat wajah adiknya dengan serius, Khadijah membalas pandangan kakaknya dengan senyuman, meskipun Akbar tahu kalau adiknya terpaksa melakukan itu.


"Apa kamu akan pulang?" Tanya Hindun.


"Iya, aku langsung ke Jakarta karena ada pekerjaan." Jawab Furqon.


"Liburan nanti aku akan pulang, tunggulah aku fur." Kata Hindun penuh harap.


Khadijah mundur dua langkah, ia berharap tidak mendengar jawaban Furqon atas pengharapan Hindun.


"Iya. Aku pulang dulu ya, assalamu'alaikum. Yuk bar!" Kata Furqon.


"Kau ke mobil duluan fur, aku bicara sebentar dengan adikku. Kita permisi dulu Hindun."


"Iya."


Akbar mengajak Khadijah menjauh dari sahabatnya dan Hindun.


"Aku baik-baik saja kak, pulanglah!" Kata Khadijah menahan air matanya.


Akbar tersenyum kecil menatap adiknya, "apapun keputusanmu, ku harap kamu tidak akan menyesal. Jangan menderita demi orang lain, kakak tahu rasanya seperti apa."


"Aku belajar banyak dari kak Akbar." Ucap Khadijah.


"Tentang?"


"Mencintai seseorang. Saat kakak mencintai seseorang, saat itulah kakak mengikhlaskannya. Ikhlas apa yang akan terjadi padanya dan pada kakak. Kau sudah lebih dulu menaruh ikhlas di dalamnya meskipun aku tau sulit rasanya. Tapi aku lagi belajar kak, jangan bilang pada kak Furqon kalau aku mencintainya. Biarkan mereka selesaikan perasaan mereka masing-masing tanpa ada aku diantara mereka." Jawab Khadijah.


"Apapun yang terjadi, percayalah kalau aku laki-laki yang sudah menyayangimu sejak kau lahir." Ucap Akbar memeluk adiknya.


"Aku tau kak, kau adalah laki-laki terbaik bagiku setelah bapak." Ucap Khadijah didalam pelukan.


"Aku pulang dulu ya, assalamu'alaikum." Kata Akbar.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati kak."


Akbar menganggukkan kepalanya lalu pergi dari pesantren.


Sepanjang perjalanan Akbar tidak menanyakan hubungan Furqon dengan Hindun. Ia tidak peduli dengan itu, karena baginya saat ini mengetahui perasaan adiknya untuk sahabatnya sudah cukup. Akbar berharap ada seseorang tempat Khadijah berbagi cerita tentang isi hatinya selama di pesantren.


Di satu sisi Akbar berharap Zahra masih menunggunya, ia berharap perempuan yang ia cintai itu tidak lelah untuk menunggu. Akbar mengirim pesan pada Zahra, sebelum Bela pulang Akbar memintanya.


"Maafkan aku Zahra telah membuatmu menunggu terlalu lama, ku harap hatimu tidak lelah dalam penantian, begitupun diriku yang tidak lelah mencari kabarmu disana. Aku akan datang ke rumahmu, tunggulah aku untuk yang terakhir kalinya."

__ADS_1


Namun pesan itu tidak ada balasan apapun dari Zahra.


__ADS_2