Mencintaimu Lewat Do'A

Mencintaimu Lewat Do'A
7. Fitnah


__ADS_3

Pagi itu Zahra datang telat ke sekolah, karena ia membantu uminya untuk mengemas pakaian ke dalam koper. Namun di kelas belum ada guru, akhirnya Zahra langsung duduk disamping Bela. Saat ia masuk ke dalam kelas semua teman-temannya terdiam, kelas itu tampak hening pada kesibukannya masing-masing, begitu pun Bela yang tidak menyapa Zahra seperti biasanya.


Bahkan Bela seolah menghindar dari Zahra, ia benar-benar tidak tahu mengapa seluruh murid seakan memusuhinya. Mereka tidak mencaci namun mengapa tatapannya begitu sinis pada Zahra.


Saat jam istirahat, Bela langsung ke kantin bersama beberapa teman kelasnya tanpa mengajak Zahra. Saat tahu semua orang menghindar, Zahra memutuskan untuk pergi ke masjid dan melaksanakan sholat Dhuha. Di sana ia bertemu Akbar bersama temannya telah selesai sholat. Zahra langsung masuk ke dalam masjid dan mengambil air wudhu.


Selesai sholat ada salah seorang kakak kelasnya menghampiri Zahra.


"Assalamu'alaikum Zahra." Ucapnya.


"Wa'alaikumsalam kak." Balas Zahra.


"Emm... Maaf ganggu ya Zahra." Ucapnya lagi sambil mengeluarkan ponselnya diam-diam.


"Iya kak, tidak apa-apa. Memangnya ada apa?" Tanya Zahra.


"Ini beneran kamu bukan?" Kakak kelas itu memperlihatkan foto perempuan yang sedang bermesraan dengan laki-laki. Dan perempuan itu mirip dengan Zahra, namun bedanya perempuan yang difoto memakai pakaian seksi.


"Astagfirullah. Itu bukan aku." Jawab Zahra terkejut melihatnya.


"Ini alasan satu sekolah menjauhi kamu, makanya aku tanya langsung ke kamu karena takut fitnah. Oh, iya, tapi jangan bilang-bilang kalau aku bawa hp ya. Aku ke kelas dulu ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."


Zahra baru sadar ternyata ini yang menyebabkan semua orang menatapnya sinis, dan foto itu pula yang membuat Bela menjauhi Zahra. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena yang difoto itu bukanlah dirinya, namun foto itu sudah tersebar luas diseluruh murid As-sobirin.


Saat ia keluar masjid dan hendak memakai sepatu ada Akbar sedang berdiri di sana memandanginya, kali ini Akbar terang-terangan menatapnya, namun Zahra menundukkan kepalanya dan mulai memakai sepatunya. Tak terasa air matanya menetes mengingat seseorang yang sudah berani memfitnahnya dengan foto seperti itu. Zahra menghapus air matanya lalu pergi meninggalkan Akbar yang masih saja memandanginya.


Ada perasaan sedih yang Akbar rasakan melihat perempuan yang ia cintai menangis, ia berusaha untuk mencari tahu orang yang telah memfitnah Zahra.


"Aku tidak suka berbicara dibelakang kamu, makanya aku menahan kamu agar tidak pergi cepat ke kelas! Bagaimana Zahra rasanya seperti ini? Aib yang selama ini tersimpan rapih tapi Allah buka!" Kata Fitri siswi kelas X Marketing bersama dua orang temannya yang memandangi Zahra dengan tatapan sinis.


"Jangan sok suci deh! Ngaku aja itu foto kamu!" Pekik siswi disebelah kanan Fitri.


"Kenapa aku harus ngaku? Itu bukan diriku, aku difitnah!" Kata Zahra menahan tangisnya.


Akbar melihat Zahra dari kejauhan sebelum ia menghampirinya.


"Fitnah?! Foto itu jelas-jelas kamu!" Bentak Fitri.


"Ada apa ini?!" Tanya Akbar bertanya pada Fitri.


Fitri dan kedua temannya diam saat Akbar datang dan berdiri di samping Zahra.


"Masih mau belain cewek yang sok suci ini kak?!" Ucap Fitri melihat sinis wajah Zahra.


"Tau apa kalian tentang suci?" Tanya Akbar lagi.


"Cewek yang dikagumi banyak murid disekolah ternyata menutupi sifat aslinya dibalik tutur kata serta pakaiannya!" Kata Fitri lalu pergi dari koridor sekolah menuju kelasnya dilantai 3.


Zahra langsung berlari menuju kelasnya dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


"Ini semua fitnah! Ini semua fitnah! Ya Allah tolonglah hambamu ini." Ucap Zahra di dalam hatinya sambil menghapus air matanya.


Di dalam kelas ia melihat Bela sedang membaca buku sejarah Islam. Dengan sesegukan Zahra mengeluarkan buku paketnya dan membacanya dalam hati meskipun otaknya tidak bisa konsentrasi dengan cacian dari Fitri.


Zahra merasa aneh dengan sikap Bela yang begitu dingin, ia mempertanyakan kenapa sikap dia seperti itu saat dirinya sedang mendapat ujian. Ia merasa kecewa pada sahabatnya namun ia tidak bisa melakukan apapun untuk membuat Bela bersikap manis seperti dulu.


Foto perempuan yang mirip dengan wajah Zahra masih terus menjadi buah bibir di sekolahnya. Bahkan hari ketiga foto itu berada di mading sekolah hingga seluruh guru tahu dan memanggil Zahra ke kantor.


"Apa benar ini kamu Zahra?" Tanya Kepala Sekolah.

__ADS_1


Zahra menggeleng.


"Tapi kenapa wajahnya sama sekali denganmu?"


"Mungkin diedit, atau memang itu foto perempuan yang mirip dengan wajah saya." Jawab Zahra.


Kepala sekolah menghela nafasnya sambil memandang Zahra yang tertunduk.


"Kamu bisa membuktikannya?"


Zahra melihat wajah kepala sekolahnya, "saya besar dari keluarga muslim, dan saya besar dari didikan orangtua yang menghargai kehormatan diri sendiri. Bagaimana bisa saya bersikap seperti difoto itu padahal saya tinggal di Mesir cukup lama. Apa harus orangtua saya yang meyakinkan sekolah ini bahwa ini adalah fitnah?"


Kepala sekolah hanya diam dan mendengarkan ucapan Zahra.


"Sekolah ini hebat, ibu dan guru lainnya pasti bisa tau itu foto saya atau memang ada seseorang yang ingin memfitnah saya." Lanjut Zahra.


Seluruh guru tertegun diam mendengar ucapan Zahra yang begitu tegas. Wakil kepala sekolah menyuruh Zahra kembali ke kelasnya dan akan mencari kebenaran foto tersebut. Karena cepat atau lambat jika foto itu tersebar ke medsos maka akan tercoreng nama sekolah As-sobirin. Dan Zahra akan dikeluarkan dari sekolah.


Zahra berjalan ke perpustakaan dan mencari tempat paling ujung dari rak perpustakaan tersebut. Ia duduk dan menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil menangis di dalam heningnya perpustakaan.


Akbar melihat kedua kaki lalu mengintip dari rak, ia terkejut melihat Zahra sedang menangis sendirian. Ia menghampiri temannya yang sedang memilih buku dan mengatakan bahwa dirinya sakit perut harus izin dari mata pelajaran Bahasa Arab. Teman Akbar mempercayainya dan kembali ke kelas, sedangkan Akbar berjalan ke arah Zahra yang sedang duduk sendirian.


Kedatangan Akbar membuat Zahra menjadi malu karena dia mengetahui bahwa ia sedang menangis.


"Maaf ganggu." Ucap Akbar duduk di sebelah kiri depan Zahra. Sedangkan Zahra berada di depan Akbar sebelah kanannya.


"Tidak apa-apa." Kata Zahra mencoba untuk tersenyum.


Keduanya terdiam, mereka tidak tahu harus membicarakan apa. Akbar tidak mau membahas isu yang sedang menimpa Zahra, karena semakin ia bahas maka Zahra akan merasa tersakiti. Sedangkan Zahra, ia juga tidak tahu harus berbicara apa pada laki-laki yang sering ia sebut namanya di dalam do'anya.


"Kamu tidak ke kelas?" Tanya Akbar.


"Aku sudah sering masuk kelas hehehe." Jawab Akbar tertawa kecil meskipun sebenarnya tidaklah lucu.


Zahra pun ikut tertawa meskipun terpaksa. Ia tahu alasan Akbar di dekatnya saat ini, hanya saja Akbar tidak mau membicarakannya.


Tiba-tiba suara langkah mendekat ke mereka, Akbar langsung pergi meninggalkan Zahra karena ia tidak ingin orang lain berpikiran jelek terhadap Zahra.


"Zahra."


Zahra hanya melihat wajah Bela lalu berdiri dari tempatnya.


"Kamu bolos kelas pak Rudi?!" Tanya Bela lagi.


"Aku izin." Jawab Zahra singkat.


"Tapi teman-teman bilang kamu bolos." Ucap Bela.


"Aku tidak peduli mereka bilang apa ke pak Rudi, aku hanya sedang peduli dengan diriku sendiri!"


"Maaf aku harus pergi, assalamu'alaikum." Lanjut Zahra meninggalkan Bela sendirian diperpustakaan.


"Wa'alaikumsalam."


Sepulang sekolah Zahra duduk ditaman sekolah, ia memberi makan kucing yang menjadi penjaga sekolah tersebut. Zahra tersenyum melihat tingkah lucunya seolah kucing itu tahu bahwa Zahra sedang sedih.


Akbar tersenyum melihat Zahra tertawa dan berlari bersama kucing berwarna putih. Lalu kucing itu menghampiri Akbar yang sedang berdiri tak jauh dari mereka. Zahra langsung diam, dan tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Akbar. Ia merasa malu karena Akbar pasti sudah tahu tentang foto tersebut. Meskipun bukan dirinya yang ada difoto tetap saja Zahra merasa malu pada Akbar.


"Kenapa berhenti?" Tanya Akbar mengelus kucing yang diberi nama mocy.


"Mocy lebih tertarik padamu." Jawab Zahra.

__ADS_1


Akbar menggendong mocy lalu berjalan ke saung, "aku bertanya, kenapa kamu berhenti tertawa?"


Zahra diam dan menundukkan kepalanya karena tidak tahu harus menjawab apa.


Akbar kembali tersenyum melihat perempuan yang ia cintai itu.


"Apapun ujiannya kamu tetap harus tertawa ya, rasanya aneh sekali beberapa hari ini di sekolah, tidak semangat seperti dulu." Ucap Akbar melepaskan mocy menjilati anak-anaknya.


"Maksud kamu?" Tanya Zahra.


"Aku tau itu bukan kamu, aku percaya kalau itu fitnah. Tidak perlu berubah menjadi orang lain, tidak perlu berubah seolah kamu tidak peduli dengan ucapan teman-teman kamu. Senyuman serta tertawa kamu adalah hal yang paling kuat di diri kamu." Jawab Akbar panjang lebar.


"Terimakasih, hanya saja aku tidak menyangka kenapa mereka melakukan hal seperti itu padaku." Ucap Zahra.


"Wajar saja kalau ada seseorang yang tidak suka denganmu, memang di dunia ini begitu kan? Ada yang suka dan tidak dengan diri kita sendiri. Bahkan melakukan hal baik saja masih ada yang benci. Apa kamu berhak marah? Menurutku berhak, karena itu manusiawi, tapi lebih baik jadi diri kamu sendiri saja ya." Kata Akbar.


"Akbar, kira-kira apa pihak sekolah akan mengira itu adalah diriku?" Tanya Zahra.


Itu adalah pertama kalinya Akbar mendengar namanya diucapkan oleh Zahra sehingga ia tersenyum di dalam hatinya.


"Tidak akan, kalau pun pihak sekolah tidak tahu siapa pelaku yang edit wajah kamu, aku yang akan cari tau." Jawab Akbar.


"Kamu orang baik, terimakasih ya." Ucap Zahra


"Sama-sama."


"Emm... Kamu masih sering ke kafe?" Tanya Zahra.


"Hari itu yang terakhir." Jawab Akbar.


"Kenapa?"


Akbar menggelengkan kepalanya, "tidak apa-apa."


"Kamu masih sering bertemu Hawa?"


"Tidak sering, kenapa memangnya? Tumben sekali kamu bertanya banyak padaku, hehehe."


Zahra tersenyum kecil, ia menyadari kalau dirinya banyak bertanya pada Akbar karena ia ingin tahu seperti apa Akbar sebelum ia ada di sekolah ini.


"Cuma tanya saja. Sepertinya kamu sudah akrab sekali dengannya waktu itu." Ucap Zahra.


"Dia teman kerjaku masa aku tidak akrab. Iya kan?"


"Hah? Oh, iya."


"Lagipula akrab belum tentu yang ku harapkan."


"Maksudnya?" Tanya Zahra.


"Sudah sore nih, pulang yuk." Ajak Akbar mengalihkan ucapannya.


"Iya." Ucap Zahra.


Mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing. Di dalam kamar Zahra terdiam cukup lama di depan laptopnya, ia memikirkan foto tersebut. Hampir setiap hari ia memikirkannya, namun ia tidak mau terlihat ada masalah oleh keluarganya. Bahkan ia tidak mau sampai umi tahu kalau dirinya sedang difitnah, ia tidak mau membuat beban pikiran uminya yang sedang berada di Mesir.


"Ya Allah semoga semuanya baik-baik saja." Kata Zahra dalam hati.


Begitu pun dengan Akbar yang melamun memikirkan perasaan Zahra akhir-akhir ini. Apabila ia tidak mencintai Zahra, ia tetap akan memikirkannya karena ia tidak tega melihat perempuan menangis. Akbar berusaha untuk mencari tahu siapa dalang penyebar fitnah itu, ia tidak tergantung pada sekolahnya karena itu menilai harga diri Zahra.


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu membantumu. Aku akan selalu ada untukmu." Ucap Akbar di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2