
Senin pagi yang cerah membuat Akbar begitu semangat saat datang ke kantor, bahkan para karyawannya sangat heran dengan sikap bosnya itu. Begitupun dengan Furqon, sepulang dari pernikahan Hawa, Akbar terlihat bahagia. Tidak ada pejaman mata setiap kali Akbar berada di ruangannya dan terkadang Akbar senyum-senyum sendiri melihat bingkai foto yang ia taruh di dalam laci meja kantornya.
Furqon duduk di mejanya sambil melihat sikap Akbar, ia ikut senang melihat perubahan sahabatnya saat itu, tetapi Furqon juga tidak tahu apa alasan Akbar merubah sikapnya menjadi seperti dulu sewaktu dia masih SMA. Tentunya Akbar jauh lebih baik dari dirinya dahulu.
Satu notif pesan dari ponsel Furqon, ia membukanya.
"Insyaallah aku pulang hari ini fur."
Wajah Furqon langsung melihat Akbar yang serius bekerja, ia tidak mau membuat suasana hati sahabatnya rusak hanya gara-gara pesan dari Hindun dan sikap kepadanya. Namun Furqon juga tidak punya sahabat selain Akbar, keluh kesah yang Furqon rasakan pasti selalu ia ceritakan pada Akbar.
Tetapi lain halnya dengan perasaannya kepada Khadijah serta sikapnya kepada Hindun, sungguh membuat Furqon dilema antara mau menceritakannya atau tidak sama sekali.
"Fur!" Panggil Akbar.
"Hah, iya." Furqon menjawab dengan kaget saat Akbar memanggilnya.
"Kau kenapa?" Tanya Akbar.
"Tidak apa-apa, kau mau bilang apa?"
"File untuk meeting besok sudah siap?"
Furqon mengangguk, "sudah, nanti aku kirim."
"Oke." Akbar melanjutkan pekerjaannya.
Ruangan Akbar dan Furqon terasa sepi, tidak seperti hari biasanya. Furqon merasa tidak enak hati dengan sahabatnya itu sehingga memilih untuk bungkam. Sedangkan Akbar membiarkan Furqon dan Hindun menyelesaikan perasaan mereka tanpa perlu tahu apa yang dirasakan oleh Khadijah.
Ada rasa sedih serta khawatir menyelimuti Akbar saat mengingat Khadijah. Akbar menghentikan kerjanya sebentar lalu melamun tentang adiknya yang mencintai Furqon. Ia hanya takut kalau Khadijah merasakan kecewa seperti apa yang telah ia rasakan sendiri, bedanya Akbar kecewa pada dirinya yang tidak berani sejak dulu dalam mengutarakan niat baiknya.
Akbar tersadar dari lamunanya saat Furqon mengangkat teleponnya. Dia berbicara pada seseorang dan berjanji untuk menjemputnya.
"Bar, istirahat nanti aku mau ke bandara sebentar ya." Ucap Furqon.
"Iya." Sahut Akbar yang berpura-pura sedang mengetik di komputernya.
Jam istirahat Akbar pergi ke musholah lalu duduk bersama Kyai Nurdin setelah sholat dzuhur berjamaah.
"Bagaimana pekerjaannya nak Akbar, lancar?" Tanya Kyai Nurdin.
"Alhamdulillah lancar pak Kyai." Jawab Akbar.
"Kapan kau akan menikah?"
Akbar hanya terdiam lalu tersenyum sambil menunduk.
"Saya khawatir akan fitnah pada dirimu. Kau masih muda, sukses, dan banyak wanita jatuh cinta padamu. Apa kau mau mereka semua berkhayal tentangmu?" Lanjut Kyai Nurdin.
"Astagfirullah hal adzim! Tidaklah pak Kyai, namun untuk saat ini... Emm... Nanti malam saya akan berangkat ke Arab, bertemu dengan perempuan yang saya cintai dalam diam, selama ini saya hanya berani mencintainya lewat do'a saja pak Kyai." Jawab Akbar.
"Alhamdulillah, sudah ada calonnya. Saya do'akan agar Allah meridhoi, dan merestui niat baikmu dan calonmu di sana." Kata Kyai Nurdin.
"Aamiin. Kalau begitu saya masuk ke kantor dulu pak Kiyai, assalamu'alaikum." Ucap Akbar.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."
Sesampainya Akbar dikantor, ia langsung bergegas masuk keruangan meeting yang sudah ada beberapa karyawan sedang menunggunya. Namun kedua mata Akbar tertuju pada satu kursi kosong, ternyata Furqon belum datang. Akbar mengirim pesan pada Furqon untuk segera datang, namun tidak ada balasan dari sahabatnya itu sampai akhirnya Akbar memulai meeting.
Kesimpulan dari hasil meeting Akbar taruh diatas meja kerja Furqon. Akbar melihat laci kerja Furqon terbuka, saat ia hendak menutupnya ada satu foto yang membuatnya tertarik untuk ia lihat. Difoto itu terlihat perempuan usia 8 tahun sedang tersenyum kearah kamera, dan Akbar tahu bahwa itu adalah foto Hindun yang diambil saat sedang merayakan ulangtahun.
Akbar tersenyum kecil lalu menaruh foto tersebut dilaci. Ponsel Akbar bergetar, ia melihat satu panggilan dari ibunya. Akbar menelepon ibunya kembali memastikan bahwa ibunya baik-baik saja.
"Assalamu'alaikum bu." Ucap Akbar.
^^^"Wa'alaikumsalam, kamu jadi menemui nak Zahra?" Tanya sang ibu.^^^
Akbar tersenyum bahagia saat ibunya menanyakan hal tentang dirinya dan Zahra.
"Insyaallah jadi bu. Memangnya ibu lagi dimana?"
^^^"Ibu lagi nunggu ojek."^^^
"Ibu mau kemana sih? Nanti biar Akbar yang belikan kalau ibu mau sesuatu."
^^^"Ibu mau kepasar, mau belikan sajadah buat nak Zahra. Nanti kamu kasih ya nak."^^^
"Insyaallah bu."
^^^"Ojeknya sudah sampai nak, ibu pergi dulu ya. Assalamu'alaikum."^^^
"Wa'alaikumsalam, ibu hati-hati."
Sambungan telepon pun terputus. Akbar melanjutkan pekerjaannya. Sekitar pukul 15:10 Wib Furqon masuk keruangan kerjanya dengan tergesa-gesa. Lalu ia melihat Akbar sedang serius kerja, Furqon hanya membaca kesimpulan hasil meeting sambil mengatur nafasnya.
"Minum dulu fur." Suruh Akbar tanpa mengalihkan pandangannya dari komputernya.
"Maaf bar, aku telat." Ucap Furqon masih mengatur nafasnya.
"Tidak apa-apa, aku juga pernah seperti itu." Kata Akbar menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa pulang cepat.
__ADS_1
Meskipun mereka berdua adalah owner, tetap saja mereka menjalankan peraturan perusahaan yang sudah mereka buat dan menjadi contoh bagi para karyawannya.
"Ada yang mau aku bicarakan sama kau bar." Kata Furqon serius.
Akbar terdiam sejenak, ia tahu kalau Furqon akan bicara mengenai Khadijah.
"Apa?"
"Semua yang kau katakan benar bar." Jawab Furqon.
"Tentang?"
"Hindun. Dia menceritakan semua perasaannya padaku, aku telah salah sangka padanya. Dan.. Hari ini Hindun pulang kerumah."
"Kau masih mencintainya?" Tanya Akbar jauh lebih serius daripada sahabatnya itu.
"Aku tidak tau bar, apa ini cinta atau memang sebuah simpati persahabatan padanya." Jawab Furqon.
"Sholat istikharah fur, insyaallah ada jawabannya. Aku tidak bisa kasih solusi apapun karena Khadijah adalah adikku dan Hindun adalah sahabatku. Kau yang harus memutuskannya, insyaallah itu yang terbaik untuk semuanya." Ujar Akbar.
"Apa Khadijah tau tentang aku dan Hindun bar sewaktu dipesantren?" Tanya Furqon.
"Jangan khawatirkan adikku, tau atau tidaknya Khadijah tentang kau dan Hindun, aku yakin dia baik-baik saja. Khadijah lebih kuat dariku." Jawab Akbar tersenyum.
Furqon terdiam.
"Kau selesaikanlah urusanmu dengan Hindun, terutama dengan hatimu. Oh, iya, nanti malam aku akan ke Arab, kau ambil alih pekerjaan dikantor ya fur." Ucap Akbar lagi.
"Kau akan menemui Zahra?" Tanya Furqon.
Akbar mengangguk, "iya." Jawabnya.
Lalu Akbar keluar dari ruangannya menuju basement, karena hari itu ia akan segera pulang menemui ibunya. Saat hendak menginjak gas mobilnya, Akbar mendapat pesan dari Zahra bahwa dia akan menunggunya bersama umi serta abinya. Dengan perasaan bahagia Akbar segera melajukan mobilnya keluar kantornya, namun ditengah perjalanan panggilan masuk dari ibunya membuat senyuman Akbar menghiasi wajah tampannya.
"Assalamu'alaikum bu." Ucap Akbar.
^^^"Wa'alaikumsalam, maaf apa ini anaknya ibu yang punya ponsel ini?" Tanya seorang wanita yang Akbar tidak tahu suaranya.^^^
"Iya saya anaknya. Dimana ibu saya?" Tanya Akbar cemas.
^^^"Ibumu kecelakaan, dan sekarang sudah ada dirumahsakit." Jawab wanita itu.^^^
"Apa?!"
^^^"Saya kirimkan alamat rumahsakitnya ya."^^^
"Halo."
"Halo."
Akbar tidak bisa mengatakan apapun pada Zahra selain kata maaf, ia tahu resikonya jika tidak datang menemuinya namun ia juga tidak bisa meninggalkan ibunya.
Sesampainya Akbar dirumahsakit ia segera berlari menuju ruang icu, Akbar melihat wajah perempuan yang sangat ia cintai begitu pucat, bahkan selang sudah berada ditubuh ibunya. Akbar masuk kedalam lalu duduk disebelah kanan sang ibunda.
"Bu," Ucap Akbar lirih.
Akbar menggenggam tangan ibunya, tangan yang biasa membelai rambutnya dengan lembut, tangan yang biasa menengadahkan ke langit untuk mendo'akan anaknya kini begitu lemah. Tak henti-hentinya Akbar menatap wajah ibunya, dalam tangisannya Akbar hanya berharap agar ibunya bisa sadar.
Telepon Akbar berdering, ia melihat nama Furqon menelepon dirinya. Akbar mengangkatnya dan mengatakan yang sebenarnya. Furqon langsung menelepon pihak pesantren Khadijah saat tahu ibunya sedang kritis di rumahsakit. Dan langsung terbang ke Aceh untuk menjemput adik sahabatnya.
Adzan Maghrib sudah dikumandangkan, Akbar segera pergi ke masjid untuk melaksanakan kewajibannya. Selesai sholat Akbar membaca Al-quran hingga masuk waktunya sholat isya.
Dengan langkah kaki yang tertatih Akbar berjalan kembali ke ruangan ibunya. Akbar menarik nafas untuk menenangkan dirinya agar tidak larut dalam kesedihan saat Khadijah datang, karena ia harus lebih kuat dari adiknya untuk meyakinkan bahwa ibunya akan kembali ke dalam pelukan mereka.
"Permisi mas." Ucap salah seorang ibu-ibu yang datang masuk ke dalam ruangan.
Akbar menyeka air matanya, "ada yang bisa saya bantu bu?" Tanya Akbar melihat wajah ibu yang terlihat pucat dan gemetaran sambil membawa goodie bag ditangannya.
"Emm... Emm... Ada... Ada yang mau saya bicarakan." Jawabnya.
Akbar memandang wajah ibunya lalu mengajak ibu tersebut keluar ruangan.
"Silahkan duduk bu." Ajak Akbar.
"Mas, saya minta maaf." Ucap ibu itu.
"Untuk?" Tanya Akbar.
"Anak saya yang menabrak ibu mas, saya sungguh minta maaf." Jawab ibu itu langsung menangis mengingat kejadian menimpa putranya.
Akbar langsung terpaku, ia diam seribu bahasa mendengar pengakuan ibu tersebut.
"Anak saya mau pulang kerumah sehabis main kerumah temannya, tapi... Dia pulang dalam keadaan mabuk, sehingga kecelakaan tidak bisa dicegah. Saya mohon maaf mas. Karena anak saya panik, ia membawa pulang sajadah ini." Ibu itu memberikan tasnya.
Melihat Akbar yang diam bagai patung karena terkejut, sang ibu langsung duduk dilantai hendak sujud pada Akbar.
Dengan cekatan Akbar langsung menolak ibu itu sujud padanya, dan membimbing sang ibu duduk kembali dikursi bersamanya.
"Alhamdulillah, terimakasih ibu mau jujur sama saya. Lalu apa yang bisa saya lakukan bu?" Kata Akbar menahan kembali air matanya.
__ADS_1
"Anak saya baru berusia 18 tahun, maafkan saya mas." Ucap ibu itu lagi.
"Anak ibu seusia adik saya yang sedang berada di Aceh, mungkin sebentar lagi dia akan datang dan menanyakan apa yang terjadi pada ibu kami. Saya tidak tahu harus menyalahkan anak ibu atau tidak, karena saya hanya percaya takdir Allah, ini semua takdir Allah. Ibu saya selalu meyakinkan saya dan adik saya untuk selalu percaya pada Allah, apapun yang terjadi dikehidupan kami nanti itu pasti yang terbaik untuk kami dan pemberian hadiah dari Allah. Karena hanya kami yang mampu melewatinya. Bu, saya sudah memaafkan semuanya saat ibu menelepon saya. Jaga anak ibu baik-baik ya, semoga tidak terjadi seperti ini lagi." Kata Akbar tersenyum, lalu masuk kedalam untuk menemani ibunya yang harus berjuang melewati masa kritis.
Ibu itu langsung menangis, ia tidak menyangka kalau Akbar memiliki hati pemaaf yang luas untuk anaknya. Ia segera pulang kerumah untuk menemui anaknya.
Disamping ibunya, Akbar membuka tas yang diberikan oleh ibu itu. Akbar langsung menangis melihat sajadah yang sudah terkena darah ibunya, ternyata itu adalah sajadah yang akan ia berikan untuk Zahra.
Tak lama Khadijah datang dan langsung menangis saat masuk kedalam ruangan ibunya, Akbar memeluk adiknya untuk menenangkannya, ia menghapus air mata Khadijah.
"lbu...hiks." Ucap Khadijah mencium tangan ibunya.
Akbar keluar ruangan dan melihat Furqon sedang duduk sendiri. Kedua mata Akbar sembab, Furqon tahu bagaimana perasaan Akbar untuk saat ini. Bahkan Akbar membatalkan keberangkatannya untuk menemui Zahra.
"Makasih fur sudah mengantarkan Khadijah." Ucap Akbar menghela nafas panjang.
"Sama-sama. Bar, apa aku harus bilang ke Zahra kalau ibu kecelakaan sehingga kau tidak bisa menemuinya?" Furqon hanya ingin Zahra tidak salah paham tentang sahabatnya.
Akbar menggeleng, "tidak usah fur, ku yakin Zahra mengerti." Jawabnya.
"Bar,"
"Aku tau Zahra fur, dia selalu menyerahkan segala hal tentang dirinya kepada Allah. Bahkan tentang diriku yang tidak datang menemuinya."
"Setidaknya kau kasih alasan ke Zahra bar agar ia tidak bisa menunggu kau lagi."
"Aku mencintainya fur, kalau memang ia sudah tidak sanggup menungguku aku ikhlas, aku mengikhlaskannya."
"Baiklah kalau memang itu maumu."
Akbar menggengam tas tersebut dengan erat sambil menahan kesedihannya.
...***...
Zahra tidak menyangka kalau Akbar akan datang menemui orangtuanya, semua jamuan sudah Zahra sediakan dibantu oleh Bela. Wajah Zahra sangat bahagia, ia tidak bisa menyembunyikan itu semua. Bahkan orangtua Zahra baru tahu kalau ternyata selama ini putri semata wayangnya mencintai Akbar.
Kalau Akbar berangkat malam, kemungkinan pagi ia sudah tiba di Arab, mungkin sore Akbar akan datang bertamu dan menyampaikan niat baiknya.
"Sudah siap semua nak?" Tanya abi.
"Alhamdulillah sudah abi." Jawab Zahra tersenyum sumringah.
"Jam berapa Akbar akan datang?" Tanya umi.
"Ba'da Ashar umi." Jawab Bela.
"Serius ba'da Ashar bel?" Tanya Zahra.
Bela menganggukkan kepalanya, "Iya. Kamu jangan khawatir ya Akbar akan datang kesini."
"Iya." Ucap Zahra.
Namun setelah mereka sholat Ashar, Akbar belum juga datang, kedua mata Zahra terus memandang pintunya berharap ucapan salam dari suara Akbar tedengar olehnya. Adzan Maghrib pun telah terdengar, abi memutuskan untuk berangkat ke masjid sedangkan Zahra dan yang lainnya sholat dirumah. Sampai masuk waktu isya Akbar tak kunjung datang, bahkan ponselnya tidak aktif.
Zahra semakin khawatir, sedangkan Bela kesal dengan sikap Akbar yang membuat Zahra terus menantikan kehadirannya. Waktu sudah pukul 10 malam, kedua orangtua Zahra masuk kedalam kamarnya untuk istirahat, sedangkan Zahra masih setia duduk diruang tamu menunggu kedatangan Akbar.
"Paman Ali." Ucap Bela memberikan ponsel Zahra.
"Assalamu'alaikum paman." Kata Zahra.
^^^"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu. Paman dengar nak Akbar pergi ke Arab untuk menemui keluargamu, apa benar begitu?"^^^
Zahra menarik nafasnya, "Akbar tidak datang paman."
^^^"Apa?! Tidak datang?"^^^
"Iya."
^^^"Akbar tidak pernah ingkar janji pada siapapun, itu bukan sifatnya Zahra."^^^
"Jika ada sesuatu yang mendesak kurasa seseorang bisa saja mengingkari janjinya, tak terkecuali Akbar."
^^^"Bagaimana dengan orangtuamu?"^^^
"Mereka ada didalam kamar, tenang saja paman abi dan umi tidak akan kecewa pada Akbar."
^^^"Percayalah Zahra, Akbar akan datang menemuimu. Paman akan tanyakan kepadanya ya, nanti paman telepon kamu lagi."^^^
"Iya paman, terimakasih."
^^^"Ya sudah kamu istirahat ya, tenangkan pikiranmu."^^^
"Iya paman, assalamu'alaikum."
^^^"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu."^^^
Sambungan telepon pun terputus, Zahra berjalan memasuki kamar tidurnya dengan perasaan khawatir pada Akbar. Zahra mengambil air wudhu lalu sholat sunnah sebelum ia tidur, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit, dengan berlinangan air mata Zahra serahkan semuanya pada Allah. Zahra sudah tidak bisa berharap pada hatinya maupun manusia, semua harapan Zahra ia gantungkan padaNya.
..."Ya Allah, engkau yang maha tahu atas semuanya bahkan isi hati hambamu. Semua kupasrahkan padaMu, cintaMu lebih besar dari cinta makhlukMu."...
__ADS_1