
Lama Sofia termenung dalam diam, kepedihan hatinya tak dapat ia tepis, bait bait do'a terus ia panjatkan, berharap Sang Khaliq dapat memberikan ketenangan batinnya.
Hingga saat pagi menjelang...
Tok tok tok "Sofia sayang, sarapan yuk" Sepi tak ada sahutan dari Sofia
"Sofia, ini kakak sayang, yuk keluar dulu sarapan, habis itu siap siap kita akan kedatangan Om Panji dan Fian sayang, ayok keluar dulu sarapan".
Sunyi masih tak ada sahutan dari Sofia, Risna merasa ada yang aneh, ia pun segera membuka pintu kamar Sofia namun terkunci.
Risna jadi panik ia meminta bantuan Rasyid suaminya untuk membuka paksa pintu kamar Sofia.
...****************...
Sementara di kediaman Pak Panji
"Ummi... nggak usah banyak mikir dulu, sekarang Fian kan sudah disini buat umi, Fian akan turuti semua keinginan umi, asalkan umi bahagia".
"Benarkah sayang, ummi bahagia sekali nak, apa kau tahu... dulu saat umi dan abi pertama kali datang ke kota ini, keluarga pak Hirjan yang selalu membantu kita nak, kalau bukan karena kebaikan keluarga pak Hirjan, mungkin hidup kita tak sebaik sekarang nak, keluarga kita berhutang budi dengan mereka nak, apa kamu ingat dengan pak Hirjan nak?" Ibu Khadijah tersenyum memandang putranya.
"Umi jangan banyak mikir dulu, sekarang Fian hanya fokus buat kesembuhan umi, Fian nggak mau memikirkan yang lain mi".
"Fian dengerin umi sayang, umi akan sangat bahagia jika Fian mau menuruti keinginan umi sekarang".
"Memangnya keinginan umi apa? Insya Allah Fian akan turuti selama Fian mampu umi".
"Benarkah nak, keinginan umi sederhana sayang, menikahlah dengan Tiwi putri dari almarhum pak Hirjan, karena itu adalah perjanjian keluarga kita dengan keluarga pak Hirjan nak".
Duuuaaar...
Bagai disambar petir diterik mentari, Fian terdiam tak percaya mendengar kata kata ibunya, Fian serasa tak berpijak kala dirinya tahu hidupnya telah diatur tuk menerima perjodohan yang tak pernah dibayangkan sama sekali.
Bayangan gadis cantik nan rupawan yang tengah mengisi relung hatinya menjelma menari diujung matanya, pupus sudah harapan tuk dapat meminangnya, tak tega tuk menolak keinginan hati sang bunda yang telah bersusah payah mendidik dan membesarkannya.
Pasrah pada taqdir, menerima perjodohan yang mungkin bisa menyenangkan hati ibunya, meski hatinya sendiri harus teriris perih tergores luka yang teramat menyayat, karena tak ingin menjadi anak yang durhaka.
...****************...
__ADS_1
Sementara di kediaman Sofia...
"Bi ayo cepat sini bantu umi bi"
"Ada apa mi kenapa teriak teriak?"
"Ini dari tadi umi panggil panggil Sofia, tapi tidak nyahut nyahut bi, umi kan panik"
"Mungkin Sofia tidur lagi mi"
"Tapi Sofia nggak biasanya tidur lagi kalau udah Sholat bi" masih cemas.
"Ya udah mi, ambil kunci serep kan ada mi".
"Oh iya umi lupa saking panik ni bi" berlalu mengambil kunci serep.
Rasni dengan segera membuka pintu kamar Sofia dan mereka mendapatkan Sofia yang tengah tertidur di atas sajadahnya sehabis sholat dhuha. Rasyid mengusap wajahnya, dia memandang istrinya tak percaya. Rasni hanyab membalasnya dengan senyum tak bersalah.
"Maafin umi ya bi, umi pikir Sofia kenapa napa, habisnya nggak biasanya Sofia tidur lagi habis sholat"
"Ya udah abi keluar dulu, umi bangunin Sofia tuh"
Dengan lembut Rasni membangunkan Sofia, "Dik, bangun sarapan dulu yuk, dari semalam kamu makannya sedikit, sekarang kita sarapan dulu yuk".
Perlahan Sofia membuka matanya ternyata matahari sudah masuk ke kamarnya melalui ventilasi, dia segera bangkit dan menuju ke kamar mandi.
"Kakak tunggu di luar ya dik".
"Iya kak, Sofia mau mandi dulu"
...----------------...
Saat di meja makan....
"Dik nanti siang keluarga om Panji mau kesini, mau bertemu dengan adik, siap siap aja ya".
Sofia hanya mengangguk, berusaha tersenyum walau hatinya meronta ingin menangis.
__ADS_1
Perlahan ia bangkit menuju kamarnya, tak ingin kakaknya melihat kesedihan hatinya, ia tak lagi mampu membendung rasa kecewa atas perjodohan ini, dikamarnya ia tumpahkan segala sesak dan sakitnya.
Siang hari menjelang waktu sholat Zohor tiba sebuah mobil memasuki halaman rumah Sofia .
Risna dan Rasyid sudah keluar menyambutnya, mereka saling menyapa dengan ramah.
"Assalaamu'alaikum" ucap salam dari pak Panji dan Fian
"Wa'alaikumussalam, Pak Panji silahkan masuk, ini pasti Fian ya Pak?" tanya Risna dengan lembut.
"Ibu gimana keadaannya sekarang pak, maaf belum sempat jenguk"
"Ibu masih seperti biasa nak Risna, iya ini Fian, adiknya nak Risna ada kan?" tanya pak Panji.
"Mari silahkan duduk dulu pak, dik Fiyan saya panggilkan adik saya dulu ya, tunggu sebentar!"
...****************...
Sofia berjalan dengan pelan, tak ingin buru buru berjumpa dengan pria yang sudah dijodohkan oleh orang tuanya.
Rasa cemas dan gelisah kian mendera, ragu ia melangkah mencoba menenangkan jiwanya sebelum ia bertemu dengan pria pilihan orang tuanya.
Saat memasuki pintu ruang tamu, ia mencoba menahan nafas dan
"Assalamu'alaikum",
"Wa'alaikumussalam"
Triiinnggg....
Mata mereka bertemu saling menatap tak percaya dengan apa yang dilihat.
"Sofia". "Kak Firman" bersamaan mereka saling memanggil.
Apa yang terjadi selanjutnya sobat Noveltoon, ikuti terus kisahnya di bab berikutnya ya!
Beraambung...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...