
Firman tak pernah menyangka, disaat yang bersamaan dia harus menghadapi dua kenyataan pahit dalam hidupnya, begitu tragis. Dia harus kegilangan seorang ibunda tercinta dan seorang calon istri yang sangat begitu ia cintai.
Dalam keadaan kecewa Firman keluar mengendarai motor sportnya, ia sudah tak bisa lagi berfikir jernih, hatinya kalut. Dengan membabi buta ia membawa motornya tanpa arah tujuan yang pasti hingga akhirnya ia berhenti di pinggir sebuah danau, ia turun dan menghempaskan helm yang ia pakai.
Di tepi danau itu ia tumpahkan segala kekesalannya, ia berteriak sekencang kencangnya. Namun saat ia sedang melepas rasa kesalnya tiba tiba saja.
Triiinnngggg... ada pesan masuk dari pak Panji ayahnya.
"Firman cepat ke rumah sakit! terjadi sesuatu pada gadis itu dan keluarganya memintamu untuk datang"
Pesan itu makin membuat Firman kalang kabut, namun ia berusaha tuk memenuhi keinginan abinya, karena kini dia hanya memiliki ayah sedangkan ibunya telah dipanggil oleh Sang Khaliq tuk kembali padaNya. Firman tak ingin mengecewakan hati orang tuanya, namun dia juga tak ingin cintanya harus kandas begitu saja.
Dia kembali mengendarai motornya, dengan sangat perlahan ia menuju rumah sakit tempat gadis yang ia tabrak dirawat. Dengan perasaan berat dia memasuki ruang rawat inap gadis tersebut, dan betapa terkejutnya saat ia sampai di ruangan itu.
"Abi, apa yang terjadi? kenapa kok ramai ramai gini?" Firman heran dengan situasi yang ada diruangan gadis itu.
Pak Panji menghela nafas panjang, berusaha membuat Firman untuk tetap tenang. Sementara pak Ridwan ayah Shilla nama gadis yang ditabrak Firman, memandangnya dengan intens, membuat Furman makin heran.
"Nak Firman, saya ingin bicara empat mata dengan nak Firman, ayo kita ke tempat yang lebih nyaman, kita ke musholla aja, disana kita bisa bicara lebih leluasa" ucap pak Ridwan.
Firman pun hanya menurut saja.
Di Musholla...
"Nak Firman bersediakah nak Firman menikahi Shila hari ini juga didalam ruangan tempatnya dirawat sekarang?"
Jedeeeerrrr...
Firman sungguh tak menyangka, bahwa akhir dari perbuatannya harus ia tanggung begitu cepat, tanpa ada kesempatan untuk merenung dan mempersiapkan mentalnya.
__ADS_1
"Tapi om saat ini saya masih dalam keadaan bekabung, om kan tahu sendiri, umi saya baru kemarin dimakamkan, dan itu membuat saya masih dalam keadaan labil, tolong beri saya kesempatan untuk mempersiapkan diri saat nanti saya harus mengucap sumpah janji suci pernikahan di depan penghulu om".
"Om sangat maklum dengan situasi yang kamu hadapi saat ini, tapi om tidak mau anak om akan kembali histeris nanti ketika kembali tersadar dan mendapatkan dirinya yang sudah cacat, tadi aja saat dia tersadar, ia berteriak dan mengamuk ingin mengakhiri hidupnya saat dia tahu keadaan dirinya yang sebenarnya, apalagi setelah dia tahu tunangannya harus mengakhiri hubungan mereka, bagaimana nak Firman? om ingin nak Firman segera melaksanakan ijab kabul, bila perlu di rumah sakit ini agar Shilla bisa tenang dan mau menjalani perawatan untuk kesembuhannya"
Firman terdiam. Terlihat di sudut matanya mengembun, ia menghela nafas dan membuangnya perlahan, hatinya perih menanggung beban yang menghimpit relung jiwanya. Bergetar bibirnya berucap.
"Baiklah om saya bersedia melakukan ijab kabul, demi kesembuhan Shilla saya akan berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya, semoga ini akan jadi jalan yang terbaik untuk kita semua".
"Firman besok kau pergilah ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan kalian, agar lusa ijab kabul kalian bisa tetlaksana, om tidak mau ini tertunda karena keadaan Shilla yang tak terkendali"
Firman merasa seperti terhimpit beban yang sangat berat. Tubuhnya lunglai tak berdaya, kini hanya bisa menghela nafas yang dalam untuk meringankan beban di dadanya.
"Ayo sekarang kita kembali ke ruangannya Shilla dan memberitahukan kabar ini, agar Shilla tenang dan tidak histeris lagi, dan sekarangqq dibawa ke ruang icu om
"Baik om"
Namun baru saja mereka akan keluar dari Musholla, datang salah satu keluarga pak Ridwan dengan tergesa gesa.
Pak Ridwan dan Firman sangat terkejut, dengan segera mereka berlari menuju ruang ICU.
"Ya Allah Shilla anakku, kenapa kau tidak begitu sabar menunggu ayah nak?" gumam pak Ridwan
Setibanya di depan ruang ICU.
"Nak Firman bagaimana ini? saya tidak mau anak saya kenapa napa, nak Firman harus tanggung jawab!" ucap bu Anjani, ibunya Shilla samvil terus menangis.
"Bunda sudah! ayah sudah bicara dengan nak Firman, kita tunggu perkembangannya Shilla dulu, nak Firman akan bertanggung jawab, besok dia akan mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA, bunda yang tenang ya!" pak Ridwan berusaha menghibur bu Anjani.
"Benarkah yah, makasih ya nak Firman udah mau bertanggung jawab atas keadaan Shilla"
__ADS_1
"Iya tante, ini semua juga salah Firman yang kurang fokus saat nyetir, maafkan Firman tante om"
Dua hari kemudian, perlahan Shilla tersadar, ia melihat banyak orang orang yang mengelilinginya, ia terlihat heran karena mendapati dirinya yang kini tengah mengenakan kebaya dan disamping ranjangnya ada Firman yang telah siap untuk mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan keluarganya.
Sementara itu di tempat berbeda, yang tak lain ditempat Risna, ada hati yang terluka dan kecewa mengetahui kalau hari ini adalah hari dimana sang pujaan hati akan melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Ya dia adalah Sofia, si gadis cantik yang mempesona. Dengan berderai air mata ia mengucapkan selamat dalam hatinya, ia termangu memandang kebaya yang pernah ia kenakan saat akan melaksanakan ijab kabul di hari itu, dimana hari itu merupakan awal dari bencana yang menimpa mahligai impiannya untuk bersanding dengan sang pujaan hati.
"Ya Allah..kuikhlaskan semua takdir ini, Engkau yang telah mempertemukan kami dan mengikat kami dengan benang cinta, dan kini Engkau juga yang telah memisahkan dan memutuskan benang cinta itu, kutahu semua pasti ada hal terindah yang telah Engkau persiapkan untuk kami di balik semua ujianMu ini, ku pasrahkan semua hanya padaMu ya Allah, karena semua hanya akan kembali padaMu, aamiin"
Tiada henti Sofia memanjatkan do'a, memohon hal terbaik yang akan bisa ia dapatkan.
Sementara di Rumah Sakit, semua telah dipersiapkan, Shilla masih tak percaya jika hari ini akan menjadi hari yang bersejarah dalam hidupnya, tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya akan menikahi pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, pria yang telah membuat perubahan yang begitu besar dalam hidupnya, pria yang membuat kondisi fisiknya jadi tak mampu lagi tuk berdiri dengan sempurna, ia sedikit bergetar saat mengucapkan dua kalimat Syahadat.
"Ayo nak Firman ulurkan tanganmu, dan ikuti ucapan pak Ridwan".
Saat tangan Firman menggenggam tangan pak Ridwan, terlintas bayangan Sofia yang tersenyum manis saat bertemu dengannya dan tiba tiba bayangan itu berubah sedih dan menangis dalam kepiluan. Hingga dia harus mengulang lagi ijab kabul dikarenakan salah mengucap nama wanita yang akan dia nikahi. Dan saat ijab kabul untuk yang ke tiga kali tiba tiba saja.
"Tunggu, aku tidak akan membiarkan Shilla menikah dengan orang lain".
Semua mata berpaling ke arah sumber suara, dan membuat yang hadir disana membelalakkan mata tak percaya.
"Randy, kamuuu" ucap pak Ridwan
Siapakah pemuda yang bernama Randy itu sobat Noveltoon?
Mari kita simak di bab berikutnya ya.
bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...