Menikah dengan Guru PPL

Menikah dengan Guru PPL
Perasaan Kak Firman II


__ADS_3

"Bagaimana dik Sofia, apakah perasaan kakak tidak bertepuk sebelah tangan kan dik?" Hening... Sofia terbengong, antara percaya dengan tidak akan apa yang barusan didengarnya, sementara itu, dengan perasaan harap cemas akan jawaban dari Sofia, Firman berusaha tetap terlihat tenang, walau sebenarnya dalam hati merasa gamang, takut sekiranya Sofia menolak perasaannya.


Sementara itu, tanpa mereka sadari pembicaraan mereka didengar oleh Feliya, si biang rusuh.


Sementara di tempat lain, di ruangannya sang idola para santri putri, ustaz ganteng Kamil Al Habsy dengan perasaan senang, mulai membayangkan bagaimana pertemuannya dengan gadis idamannya Sofia, sang ustaz sudah mulai merancang skenario pertemuan selanjutnya bersama Sofia. Tanpa sadar dia tersenyun senyum sendiri, di hati sang ustaz sudah tak sabar menunggu hari esok tiba.


Kembali ke kisah Firman dan Sofia.


Dengan gelisah Firman sang guru PPL tampak gelisah menunggu jawaban si gadis jelita, Sofia. "Bagaimana dik, apa sudah ada jawaban untuk kakak?" Firman mencoba bertanya sekali lagi. Si gadis manis Sofia tergagap, dia jadi salting tak tahu harus bersikap bagaimana, dia juga merasa ada yang aneh bila bertemu dengan Firman sang guru PPL.


"Mmm gini kak, kasih saya waktu untuk berfikir dulu ya kak, soalnya ini juga baru yang pertama untuk saya". dengan sedikit gugup Sofia berusaha menjawab sambil tersenyum manis.


Firman membalasnya dengan tersenyum pula, "iya tidak apa apa dik, kakak faham dengan situasi adik saat ini, tapi kakak harap, waktu mikirnya jangan lama lama ya dik, takutnya ada yang nikung, he heeee". jawab Firman sambil nyengir kuda untuk menghilangkan kegugupannya.


"Kalau gitu saya permisi ya kak, mau ke kelas, assalamu'alaikum". berlalu sambil tersenyum.


"Iya dik, wa'alaikumussalam, hati hati dik".


Sementara itu dibalik tembok, terlihat Feliya tersenyum sinis penuh arti, "hmm, awas aja kau Sofia, aku tidak akan biarkan kau merebut perhatian orang orang beken di pondok ini, tunggu aja aku akan ganggu ketenangan kamu, lihat aja nanti kamu tidak akan betah berada di sini".


Di dalam kelas...


"Assalamu'alaikum trio TA", sapa Sofia.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam Sofia cantik". jawab trio TA berbarengan. "wah bunga sekolah baru kita nih, gimana gimana coba ceritain kita dong Sof, pertemuan kamu dengan ustaz ganteng gituuuuh, aduuuh nggak sabaran nih pingin denger kisah kamu Sof, ayok ayok ayoooook cerita Sof, biar kita nggak penasaran gituuuh". ucap Lita dengan heboh sambil mengguncang guncang bahu Sofia.


"Udah dong temen temen, nggak usah heboh gini napa sih, denger ya simak baik baik, buka telinganya lebar lebar jangan ada yang kelewatan, ntar jadi bahan gosip lagi". Lanjut Sofia, namun tiba tiba...


"Assalamu'alaikum". serempak semua santri menoleh. "Wa'alaikumussalam ustaz". jawab para santri.


"Hmm, alamat tertunda deh dongengnya".


celetuk Vita. "Iya nih si ustaz, kenapa tiba tiba aja datang sih, tapi nggak apa apa deh, lumayan dapat cuci mata nih, lihat yang ganteng, he heee". ujar Lita.


Cetok...


"Aduh Nit, kenapa dipentok sih kepalaku, kan sakit tahu". Lita cemberut.


"Haaah, siapa gebetannya ustaz Kamil, setahuku belum ada tuh yang nyangkut di hati ustaz Kamil, bahkan sampai saat ini, belum kedengeran dia ada yang ditaksir". Lita sewot.


"Waduh, nih anak emang lemot, apa pura pura lemot sih". Nita jadi jengkel sendiri.


"Udah Nit, kamu kan tahu sendiri gimana Lita, dia kan emang sedikit lola gituh". sahut Vita. Lita jadi melongo, bingung dengan apa yang dimaksud Vita sahabatnya. "Lola, aku lola apaan Vit?". Lita bertanya dengan wajah bingungnya, membuat Nita, Vita dan Sofia tepuk jidat.


"Ya Allah, dosa apa mak lo Lita, sampai punya anak kayak lo". Nita meradang.


"Hei kalian, apa yang kalian omongin, jangan ngobrol di dalam kelas, faham?". Ustaz Kamil sambil menunjuk trio TA.

__ADS_1


Trio TA jadi terdiam, tak ada yang berani menyahut. "waduh, alamat di tambahin hafalan nih'. trio TA membatin.


"Yang lain dengarkan, pada saat jam pelajaran saya tidak ada yang boleh mengobrol, faham semua?" Dengan tegas Ustaz Kamil memberi peringatan.


"Iya ustaz" jawab para santri.


"Yang tadi asyik ngobrol, kalian bertiga, ayo sini maju!". sambil menunjuk trio TA, ustaz Kamil berusaha menjaga wibawanya.


"Waduh, beneran nih kita bertiga bakalan dapat tambahan hafalan kayaknya". Vita mulai risau.


"Ya biarin ajalah, pasrah sudah terlanjur juga, toh ini juga demi kebaikan kita kan". Nita berusaha menghibur teman temannya.


Sambil tertunduk, mereka berusaha menyembunyikan kerisauan dalam hati mereka. Namun baru saja mereka melangkah kedepan. Teeeet teeeet teeeet, bel tanda pulang pun berbunyi. Mereka bertiga terlihat begitu senang.


"Baiklah kalau begitu, sekarang kita akhiri dulu sampai disini, ingat dua hari lagi, hafalannya harus disetor, saya tidak menerima alasan apapun, kecuali sakit, faham semuanya?" ustaz Kamil kembali memberi peringatan.


"Faham ustaz" jawab serempak para santri.


"Baiklah sekarang saya keluar duluan, assalamu'alaikum.wr.wb" sambil melirik ke arah Sofia dengan tatapan penuh makna.


"Wa'alaikumussalam.wr.wb" para santri menjawab dan berhamburan keluar.


Saat hendak kembali menuju asrama, Trio TA kembali dipanggil oleh ustaz Kamil untuk datang ke Kantor Yayasan. Sementara Sofia harus kembali ke asrama seorang diri. Namun tanpa disadari Sofia seseorang telah menunggunya dibalik gerbang di ujung lorong yang menghubungkan antara sekolah dan asrama putri. Siapakah dia?

__ADS_1


Tunggu kelanjutannya di Bab berikutnya ya?


__ADS_2