Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 1


__ADS_3

Dyandra dan Kania menuruni anak tangga fakultasnya yang mana mereka baru saja selesai kelas, yakni pukul lima sore. Yah, mereka sepakat mengambil jam sore karena supaya saat pulang dari kampus, tidaklah panas.


Pada hari itu adalah hari kamis. Mereka berdua full jadwal mata kuliah karena sesuai kesepakatan kelas bahwa jadwal mata kuliah hari Jumat dipindah ke hari antara Senin-Kamis supaya para perantau yang mau pulang kampung, bisa pulang lebih lama, yakni 3 hari.


"Lo udah buat essay pak Wishnu belum?" tanya Dyandra kepada Kania.


"Belum. Susah nyari sumbernya. Lo sendiri gimana?" jawab Kania yang sudah lelah.


"Sama aja."


Mereka mengobrol sepanjang menuruni anak tangga sehingga mereka tidak sadar jika ada mahasiswa yang membawa banyak barang berada di belakang mereka dan dia tidak sengaja menjatuhkan botol kaca.


Alhasil, botol tersebut menggelinding di anak tangga dan pecah berkeping-keping sehingga salah satu pecahan tersebut tidak sengaja mengenai lengan dan kaki Dyandra karena dirinya yang masih berada di anak tangga, sedangkan Kania berada di depannya sehingga tidak terjangkau.


"Dyandra!" teriak Kania yang menghampiri Dyandra tatkala melihat darah di lengan dan kakinya.


"Eh Kak, maaf-maaf. Gue gak sengaja," ujar mahasiswa tadi karena dirinya benar-benar tidak sengaja menjatuhkan botol tadi.


"Eh lo gimana, sih?! Kalau gak bisa bawa banyak barang, ya gak usah dipaksa dong! Lihat ini akibatnya! Gak hanya nyusain diri lo sendiri, tapi ngerugiin orang lain juga!" maki-maki Kania kepada mahasiswa tadi.


"Iya, Kak. Gue tahu gue salah. Gue akan ganti rugi biaya pengobatannya."


"Ganti rugi doang mah gampang! Enak aja lo jadi orang!"


"Terus gue harus gimana dong?!"


"Udah-udah, jangan ribut! Lo gak usah ganti rugi. Beresin pecahan kacanya. Untung di sini gak banyak orang," lerai Dyandra dan langsung menarik tangan Kania pergi. Namun, Kania masih saja melemparkan tatapan tajamnya kepada mahasiswa tadi.


Kania memberikan tisu kepada Dyandra supaya darah di lengan dan kakinya bisa berhenti. Mereka tidak bisa ke uks karena jaraknya lumayan jauh. Lebih baik memberikan pertolongan pertama terlebih dahulu.


"Kita ke rumah sakit aja, ya," ujar Kania mencemaskan keadaan sahabatnya itu.


"Lo pulang aja. Biar gue ke rumah sakit sendiri. Udah senja, nih. Sebaiknya lo pulang. Lagi pula, jarak rumah sakit ke rumah gue malah lebih deket," ujar Dyandra mencoba menenangkan Kania.


"Gak! Gue tetep nemenin lo ke sana! Nanti kalau di jalan kenapa-napa gimana?"


"Lo doain yang buruk-buruk?"


"Bukannya gitu. Gue cuma khawatir aja."

__ADS_1


Dyandra melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti tidak jauh dari tempat mereka. Dia tahu betul itu mobil siapa. Alhasil, dia pun kembali menatap Kania yang masih bersikeras mengantar dirinya ke rumah sakit.


"Kania, lo pulang aja. Tuh, lihat! Lo udah dijemput," ujar Dyandra sembari menunjuk mobil putih tadi menggunakan dagunya.


Terjadi perdebatan sengit di antara mereka berdua. Yang satu keras kepala ingin menemani mengantar, sedangkan yang satunya menolak untuk ditemani. Tidak ada yang mengalah satu sama lain karena mereka berdua sama-sama keras kepalanya.


"Kenapa?" Suara bariton menyebab Dyandra dan Kania berhenti berdebat. Seorang laki-laki datang menghampiri mereka.


"Bang Arya, tolong antar Dyandra ke rumah sakit. Lengan dan kakinya terluka kena pecahan botol kaca yang dibawa mahasiswa gak becus," adu Kania.


"Tidak perlu, Bang. Saya janji bakal ke rumah sakit. Kalian pulang saja. Bye bye." Dyandra tetap berpegang teguh dengan keinginannya untuk pergi ke rumah sakit sendiri dan dia langsung berlari meninggalkan mereka dengan menahan rasa sakit di kakinya.


"Bang Arya, gimana kalau terjadi apa-apa dengannya di jalan? Bang, titip dia, ya," rengek Kania kepada kakaknya itu.


Arya hanya berdehem saja sebagai jawaban. Dia langsung mengejar Dyandra supaya tidak pergi semakin jauh. Sementara Kania, dia pulang duluan karena sudah disuruh pulang oleh ibunya karena dirinya belum sampai di rumah padahal waktu sudah hampir memasuki waktu maghrib.


Dyandra memejamkan matanya menahan rasa sakit di kakinya saat dipakai berlari tadi. Dia memilih untuk berjalan saja supaya tidak menimbulkan luka yang semakin dalam. Takutnya, nanti malah semakin parah lukanya.


Akan tetapi, tiba-tiba saja tubuhnya digendong oleh seseorang sehingga membuatnya menjerit kaget. Dirinya menatap wajah orang yang menggendongnya, yakni Arya.


"Bang, turunin saya! Saya bisa jalan sendiri," berontak Dyandra.


Arya menurunkan Dyandra di mobilnya. Setelah itu dia bergegas menuju ke rumah sakit supaya luka perempuan itu bisa segera mendapatkan penangan dan tidak terjadi infeksi.


***


"Makasih, Bang Arya, sudah mengantar Dyandra ke rumah sakit," ujar Dyandra agak gugup karena dirinya tidak dekat dengan kakak sahabatnya itu.


"Ya," jawab Arya singkat.


Arya berjalan duluan di depan Dyandra. Semantara Dyandra, dia menjaga jarak yang lumayan jauh dari Arya karena dirinya merasa tidak enak berjalan berdekatan dengan cowok seganteng Arya.


Dyandra bertanya-tanya kenapa orang seganteng Arya tidak tertarik sama sekali dengan perempuan. Kania sudah banyak menceritakan tentang kakaknya yang sudah banyak dilamar oleh banyak perempuan, tetapi semuanya ditolak. Padahal, cewek yang melamar Arya adalah perempuan yang cantik-cantik dan status keluarganya bisa dibilang setara dengan keluarga Arya.


Dalam hati, Dyandra sangat menyayangkan hal tersebut. Dirinya juga melihat sendiri tadi sewaktu tiba di rumah sakit, banyak perempuan yang menghampiri Arya untuk sekadar berkenalan bahkan terang-terangan meminta nomor ponsel Arya sekaligus ada juga yang langsung menyatakan cinta.


"Aduh." Saking tidak fokusnya berjalan, mengakibatkan lengan Dyandra yang sakit, tidak sengaja ditabrak oleh seseorang.


Dyandra menatap punggung orang yang menabraknya tadi. Setelah itu dia refleks menoleh ke depan lagi yang mengakibatkan tubuhnya menabrak dada Arya yang entah sejak kapan sudah berada di sana.

__ADS_1


"Aduh." Setelah lengannya yang ditabrak, kini dahi Dyandra yang kesakitan. Tangan kiri Dyandra yang tidak terluka, mengusap dahinya yang terasa sakit.


Akan tetapi, gerakan Dyandra terhenti ketika tangan kekar mendarat di dahinya, menggantikan tangannya yang tadi mengelus dahinya yang terasa sakit.


"Sorry, you okay?" tanya Arya dengan nada yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya. Dia menundukkan badannya agar bisa melihat dengan jelas wajah Dyandra.


Mata Dyandra mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa suara kakak sahabatnya itu menjadi lebih lembut. Alhasil, dia pun refleks melangkah ke belakang karena tangan Arya masih mengelus dahinya yang sudah tidak terasa sakit lagi.


"Gapapa, Bang. Saya yang ceroboh," jawab Dyandra menetralkan detak jantungnya.


Entah kenapa Arya menahan senyumnya melihat ekspresi perempuan di hadapannya itu. Perempuan itu bahkan membuang mukanya karena tidak berani menatap dirinya. Ingin sekali rasanya mencubit pipi perempuan tersebut karena menurutnya itu sangat menggemaskan.


"Kamu mikirin apa sampai melamun gitu?" tanya Arya sembari menyentil dahi Dyandra sehingga membuat perempuan itu langsung melotot ke arahnya. "Tangan kamu masih sakit?" lanjutnya menarik tangan kanan Dyandra yang ditabrak orang tadi.


Dyandra menarik kembali tangannya dan tersenyum lebar terpaksa. "Oh jelas tidak sakit, Bang! Sudah sembuh seketika."


Kali ini Arya tidak bisa menahan senyumannya. Dia tersenyum tipis, pasalnya jawaban yang diberikan perempuan tersebut bukanlah jawaban yang sebenarnya, melainkan jawaban yang menyindir dirinya.


Arya membalikkan badannya dan berjalan di belakang Dyandra. Dia memperhatikan Dyandra yang kesulitan berjalan karena kadang dia berjalan dengan menyeret kakinya dan kadang dengan berjinjit agar tidak membuat kakinya terasa sakit.


"Mau saya gendong?" tawar Arya yang membuat Dyandra refleks menjaga jarak dengan laki-laki itu.


"Tidak usah, Bang. Terima kasih atas tawarannya. Lebih baik Abang pulang saja karena sudah larut malam dan pastinya Abang sudah sangat lelah setelah seharian sibuk di kampus dan saya juga harus pulang," tolak Dyandra dengan sopan. Sudah cukup sampai di situ dirinya berurusan dengan kakak sahabatnya itu.


"Saya antar," putus Arya.


"Tidak perlu repot-repot, Bang. Saya bisa pulang sendiri dengan ojek online. Lagian tempat tinggal saya berada dekat sini," ujar Dyandra dengan cepat.


"Kamu itu perempuan, tidak baik pulang malam-malam begini sendirian. Apalagi kamu masih sakit!" tegas Arya.


Dyandra bergidik ngeri melihat tatapan Arya. Menyerah. Dia hanya bisa menyerah saat itu karena sudah malas debat sekaligus takut dengan Arya. Sudah dua kali ini dirinya menyaksikan Arya berbicara dengan nada sedikit tinggi.


Arya langsung menarik tangan Dyandra. "Kakimu masih sakit dan kamu tidak mau saya gendong. Kalau begitu, pegang tangan saya saja supaya tidak jatuh dan kakimu tidak terlalu sakit saat berjalan."


Dyandra sudah tidak berniat membantah lagi karena semua itu akan sia-sia saja. Akan membuang-buang tenaga jika dirinya melakukan penolakan lagi. Dalam hatinya dia mengatakan bahwa entah adik maupun kakaknya sama-sama keras kepala.


"Atau kamu mau tinggal di apartemen saya aja dulu?" Tawaran Arya berhasil membuat Dyandra menatap Arya tidak percaya.


Sungguh? Arya menawarkan Dyandra untuk menginap di apartemennya? Yang benar saja. Bagi Dyandra, kupingnya pasti bermasalah dan salah dengar saja.

__ADS_1


__ADS_2