Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 8


__ADS_3

"Kenapa lo murung seperti itu?" tanya Arya kepada adiknya yang tampak tidak bahagia.


"Ini, lho, Bang, dari dua hari kemarin Dyandra gak ada kabar sama sekali," jawab Kania kesal.


"Kamu jangan ganggu Dyandra dulu. Biarkan dia tenang."


"Abang gak khawatir apa dengan Dyandra?"


"Besok juga ketemu."


Arya kembali ke ruang kerjanya. Dia mengambil ponsel yang berada di nakas meja, lalu mencari nama seseorang dan meneleponnya. Namun, tidak ada jawaban dari nomor tersebut, bahkan nomornya tidak aktif.


Dia juga mengirim beberapa pesan, tetapi tidak ada tanda-tanda kalau perempuan itu online. Alhasil, dia pun meletakkan kembali ponsel itu dan dia memijat pelipisnya.


"Dyandra, apa kamu terkena masalah?"


Di lain tempat, Dyandra dan keluarganya berkumpul di ruang keluarga sembari menyaksikan film. Ada sebuah tradisi di keluarga Dyandra, yaitu meluangkan satu hari bersama keluarga tanpa mengecek ponsel.


Meskipun sudah mengumpulkan keberanian, Dyandra tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Dia bingung harus bagaimana karena besok adalah waktunya untuk Arya datang dan dirinya belum mengatakan apa pun kepada kedua orang tuanya.


Sampai Hendra pergi pamit ke kamar mandi, Dyandra mendekati Dian yang tengah asyik memakan kue keju kesukaannya. Jika seperti itu, Dyandra merasa ada kesempatan dan tidak boleh membiarkannya berlalu begitu saja.


"Ma, kalau Mama punya menantu seperti Bang Arya, kakaknya Kania itu, setuju gak?" tanya Dyandra mencoba tetap tenang.


"Kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu?" tanya Dian masih belum curiga.


"Ya siapa tahu tiba-tiba aja ada yang melamar Dyandra."


"Memangnya siapa yang mau melamar kamu?"


"Bang Arya," jawab Dyandra terbawa suasana, padahal tadi yang bertanya adalah ayahnya, bukan ibunya.


Sontak saja Hendra dan Dian mendekati putri mereka, tidak lupa pula menghentikan acara menontonya supaya lebih fokus untuk mendengarkan sebuah penjelasan dan mengadakan introgasi.


"Kamu tidak bercanda, 'kan, Nak?" tanya Dian takut anaknya itu halu.


"Pernikahan itu bukan untuk main-main, Nak. Jangan bercanda deh." Kali ini Hendra yang berpendapat.


"Tidak, Ma, Pa. Aku serius. Bang Arya akan melamar Dyandra besok. Keluarganya juga akan ikut serta."


"Pa, Arya anak Divta yang pengusaha muda itu, 'kan? Kok bisa-bisanya dia suka sama anak kita yang kayak gini?" tanya Dian tidak percaya semua itu.


Mendengar hal itu, Dyandra terkejut karena di mata mamanya, Arya adalah seorang bintang dan dirinya hanyalah krikil yang tidak pantas bersanding dengannya.


"Ma, gini-gini anak kita juga cantik, lho," bela Hendra.

__ADS_1


"Jadi ... gimana, Ma? Pa?" tanya Dyandra was-was.


"Ibunya Arya gimana? Dia menerima kamu sebagai menantunya?" tanya Dian membelai lembut kepala Dyandra.


Dyandra mengangguk. "Iya, Ma. Orang tua Bang Bara sudah merestui kami."


"Kamu sendiri bagaimana, Sayang?" tanya Hendra kepada putrinya untuk memastikan.


Dyandra menunduk. Dia meremas ujung jarinnya. Pertanyaannya itu adalah pertanyaan sederhana, tetapi Dyandra tidak bisa menjawabnya saat itu.


Mengerti kekhawatiran putrinya, Dian langsung memeluknya. "Nak, umurmu masih dua dua tahun, masa depanmu masih panjang. Kamu masih bisa mempertimbangkannya lagi. Mama sering bilang ke kamu, 'kan? Lebih baik telat menikah daripada salah memilih pasangan hidup. Seumur hidup itu sangat lama, Nak."


"Dyandra bingung, Ma. Dyandra tidak tahu harus bagaimana." Dyandra menangis di pelukan mamanya.


"Nak, Mama sama Papa tidak masalah jika kamu menikah dengan Arya, tapi kamunya bagaimana? Apa kamu sudah yakin mau menghabiskan seluruh hidupmu bersamanya?"


"Jika kamu tidak mau menikah sekarang, tetapi juga tidak mau melepaskan Bara, lalu kalian memutuskan untuk pacaran, maka Papa tidak akan pernah membiarkan itu terjadi! Jika kalian pacaran, Papa yakin Arya bisa melindungimu dari laki-laki lain, tetapi Papa tidak yakin dia bisa melindungimu dari dirinya sendiri."


Dyandra merenungkan perkataan ayahnya. Itu memang tidak sepenuhnya salah karena dirinya hampir tidak bisa menghindar dari Arya.


"Dyandra setuju menikah dengan Arya, Pa, Ma," putus Dyandra saat itu.


"Baiklah kalau begitu, mari kita persiapkan untuk acara besok," ujar Dian sembari tersenyum.


***


Arya deg-degan karena sampai hari h tidak mendapat kabar apa pun dari Dyandra. Tidak hanya dirinya, bahkan Kania juga tidak mendapatkan pesan apa pun. Dia takut jika Dyandra berada dalam masalah besar disebabkan oleh dirinya. Namun, dia berusaha untuk tetap berpikiran positif.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, rombongan Arya tiba di rumah Dyandra tepat pukul 07.30 malam. Kekhawatiran Arya sedikit hilang ketika melihat kedua orang tua Dyandra menyambut kedatangan mereka.


"Selamat malam, Om Hendra dan Tante Dian," sapa Arya ramah.


Stella dan Dian saling cepika-cepiki. Mereka juga sebenarnya cukup dekat. Divta dan Hendra saling bersalaman satu sama lain. Namun, Arya, dia tidak bisa fokus di sana, matanya melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan Dyandra.


"Mari, silakan masuk." Hendra mempersilakan tamu mereka.


Setelah mereka masuk, Divta mengucapkan terima kasih kepada keluarga Hendra karena telah menyambut keluarganya dan tak lupa kedatangan keluarganya guna menyambung tali kekeluargaan.


"Kami ingin menyampaikan hal penting mengenai Arya, anak kami. Hari ini, ia meminta untuk diantar ke rumah Anda bersama keluarga dengan tujuan untuk melamar putri Anda, Dyandra, yang mungkin belum ada yang melamar putri Anda sejauh ini. Oleh karena itu, dengan rendah hati, anak kami, Arya, berharap agar dia diterima. Jika Bapak sebagai Wali mengizinkan dan menerima lamaran kami, maka kita akan merencanakan pernikahan. Setelah acara ini selesai, kita akan membahasnya dengan kedua keluarga untuk menentukan tanggal pernikahan," tutur Divta menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka.


"Terkait dengan permohonan untuk meminang atau melamar anak kami yang bernama Dyandra, kami sebagai orang tua tidak bisa menjawab permohonan tersebut. Namun, Dyandra sudah mengatakan kepada kami sebelumnya bahwa dia berkenan menerima pinangan dari Ananda Arya, putra dari Bapak Divta dan Ibu Stella. Selanjutnya, untuk menentukan hari, tanggal, dan waktu acara akad nikah dan resepsinya bisa kita bicarakan sekarang," jawab Hendra dengan penuh wibawa.


Arya tersenyum senang ketika lamarannya diterima oleh Dyandra. Itu berarti kedua orang tuanya sudah merestui hubungan mereka. Kania yang ikut pun juga merasa bahagia karena Dyandra akan menjadi iparnya.


"Maaf sebelumnya, Om, Dyandra-nya ke mana?" tanya Arya yang sudah tidak sabar bertemu dengan calon istrinya itu.

__ADS_1


Hendra terkekeh melihat ketidaksabaran calon mantunya itu. "Nanti kalau sudah saatnya, pasti ketemu. Sabar saja."


"Sebagai seorang ayah dari anak perempuan satu-satunya, saya punya permintaan kepada Nak Arya," ucap Hendra serius.


"Arya akan memenuhi permintaan Om Hendra selagi Arya mampu, Om," timpal Arya penuh keyakinan.


"Kalian sekarang sudah lamaran, hubungan kalian tidak untuk main-main lagi. Guna menghindari fitnah, saya punya permintaan untuk akad bisa dilangsungkan sekarang juga atau tidak? Untuk masalah lainnya, bisa diurus setelah akad selesai."


Keluarga Arya saling pandang satu sama lain. Itu yang dinamakan sat set sat set. Arya melihat ke arah kedua orang tuanya. Divta dan Stella mengangguk dan tersenyum bahwa mereka tidak masalah jika melangsungkan akad saat itu juga.


"Baik, Om. Saya bersedia melaksanakan akad nikah sekarang juga. Namun, bagimana dengan Dyandra?" jawab Arya takut jika Dyandra tidak siap.


"Kamu tenang saja mengenai Dyandra," timpal Dian.


Beberapa orang datang ke rumah Hendra. Mereka diundang sebagai saksi akad nikah yang akan berlangsung saat itu juga. Sembari menunggu penghulu datang, Arya membicarakan masalah mas kawin dan mahar dengan kedua orang tuanya.


Setelah terjadi kesepakatan, proses akad pun berlangsung dengan suka cita. Arya bisa langsung lancar mengucapkan kalimat akad tanpa perlu mengulangnya meskipun dalam dirinya sangat gugup. Hari itu adalah kejutan terbesar dalam hidupnya karena malam itu dirinya menjadi milik Dyandra dan Dyandra menjadi miliknya.


Dian membawa Dyandra menemui Arya yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Perempuan itu duduk di sebelah Arya dan setelah itu mereka berdua saking bertukar cincin. Dyandra tak lupa mencium tangan Arya.


Arya dan Dyandra lalu sungkem kepada kedua orang tua mereka dan setelah itu acara dilanjutkan dengan pembicaraan santai. Namun, beberapa menit kemudian Divta, Stella, dan Kania pamit pulang guna menyiapkan hal-hal lainnya. Hanya Arya yang tidak diperbolehkan untuk pulang.


"Nak, Papa sama Mama akan ke rumah Nenek lagi. Tolong jaga Dyandra, ya, Nak Arya," pamit Hendra.


"Baik, Pa. Arya akan menjaga Dyandra. Papa tenang saja," timpal Arya.


Setelah Hendra dan Dian pergi, Arya mengunci pintu rumah dan dia masuk ke kamar Dyandra. Baru juga membuka pintu, Dyandra sudah langsung memeluknya dengan erat. "Ada apa?" tanya Arya dengan lembut.


Dyandra masih belum melepaskan pelukannya. "Bang ... Dyandra mau main maaf."


Arya mengerutkan keningnya mendengar hal tersebut. Dia melepaskan pelukan Dyandra dan membawa istrinya itu duduk ke sofa. Dyandra tidak berani menatap mata Arya.


"Coba ceritakan pelan-pelan," ujar Arya mengelus rambut Dyandra.


"Sebenarnya Dyandra sempat ragu ke Abang. Dyandra sempat ingin membatalkan semuanya," jawab Dyandra berterus terang.


"Apakah itu sebabnya kamu tidak bisa dihubungi beberapa hari ini?"


Dyandra menggeleng pelan. "Dalam keluarga Dyandra ada tradisi berkumpul bersama keluarga, tidak boleh menyentuh ponsel selama satu hari penuh. Maka dari itu Dyandra tidak mengaktifkan ponsel Dyandra."


Arya menghapus air mata Dyandra dan mengecup cukup lama kening perempun tersebut. Dia lalu memeluknya untuk menangkan istrinya itu. Baru kali ini dirinya melihat sisi lemah Dyandra. "Tidak apa-apa. Wajar jika kamu merasa ragu kepada saya. Saya yang seharusnya minta maaf karena terburu-buru," tutur Arya.


Dyandra tidak menanggapi perkataan Arya tersebut. Dia terlalu nyaman di pelukan suaminya itu. "Bang, boleh seperti ini dulu?"


Arya merebahkan tubuhnya di sofa dengan tidak melepas pelukan Dyandra. "Istirahatlah. Kamu pasti lelah. Hal lainnya kita bahas besok saja."

__ADS_1


***


__ADS_2