Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 13


__ADS_3

Arya tengah asyik memotong sayuran sembari menggoreng sesuatu, sedangkan Dyandra malah asyik tiduran di sofa sembari bermain ponsel. Kania yang melihat hal itu pun tidak habis pikir dengan pasangan ini.


Saat Arya selesai menyiapkan makanan di meja, dia langsung duduk di sebelah Dyandra yang mengambilkan piring, nasi, dan sendok untuk dirinya. Arya pun melakukan hal yang sama kepada Dyandra.


Kania serasa ingin pergi dari sana saat itu juga. Dirinya sedari tadi hanya menjadi nyamuk saja menyaksikan keromantisan pasutri tersebut. Namun, jauh dari lubuk hatinya, dia sangat bahagia.


"Aku mau tanya sama kalian," ujar Kania yang mana mendapatkan respon dari Arya dan Dyandra yang sama-sama menoleh ke arahnya.


"Kenapa kalian belum melakukan malam pertama?" tanya Kania blak-blakan.


Pertanyaan tersebut agak sensitif untuk Dyandra karena dialah yang belum siap untuk melakukan itu. Namun, Arya sendiri juga tidak protes karena dirinya juga tidak mau berbuat terburu-buru.


"Kenapa emangnya? Mau lihat kami melakukan malam pertama?" jawab Arya sinis dengan wajah datar.


Dyandra refleks menoleh ke arah Arya. Dia tidak habis pikir dengan jawabannya tadi. Sungguh di luar dugaan dirinya. Namun, itulah Arya.


"Gak! Gak perlu! Nanti juga ngalamin sendiri," timpal Kania yang kesal dengan jawaban kakaknya itu.


Setelah selesai makan, Kania dan Dyandra yang membereskan semuanya. Dyandra menyuruh supaya Arya pergi membersihkan dirinya saja dan bersiap untuk tidur. Lagi pula, Arya tadi sudah membuat makan malamnya, kini giliran mereka berbagi tugas.


Kania menyenggol bahu Dyandra yang tengah mencuci piring. "Gimana, Ra, abang gue?"


"Gimana apanya?" jawab Dyandra yang tidak tahu ke arah mana pembicaraan Kania.


"Lo biasanya ngehindarin abang gue, 'kan. Nah, gimana sekarang penilaian lo terhadap abang gue?"


"Lo mau tau aja atau mau tau banget?"


"Ya cuma penasaran doang sih. Lagian siapa juga yang mampu menolak pesona dari Arya Layana Lakshmana?"

__ADS_1


"Ya udah kalau cuma penasaran doang." Dyandra langsung pergi kembali ke kamarnya, meninggalkan Kania yang belum selesai dengan pekerjaannya.


Sahabatnya itu berteriak-teriak memanggil Dyandra supaya kembali dan menjawab pertanyaannya. Namun, yang ada malah Dyandra tidak memedulikannya sama sekali dan langsung masuk kamar, kunci pintu, dan rebahan di kasur.


Tepat saat itu Arya keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan celana selutut tanpa pakaian apa pun, handuknya dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Laki-laki itu duduk di lantai dengan membelakangi Dyandra yang tengah asyik rebahan.


Mengerti kode Arya, Dyandra pun langsung merubah posisinya menjadi duduk dan mengambil alih handuk yang ada di pundak suaminya itu. Dia mengusap rambut Arya supaya agak kering, setelah itu dia menggunakan pengering rambut untuk mengeringkan rambut Arya.


Setelah selesai, Dyandra langsung memijat pundak Arya. Namun, Arya menghentikan aktivitas tersebut dan malah menarik tangan Dyandra sehingga membuat perempuan itu jatuh ke pangkuan Arya. Jantung perempuan itu berdegup kencang karena serasa hampir mati jika dirinya tidak mendarat di posisi yang tepat, bisa-bisa dirinya nyungsep di lantai.


"Mas!" tegur Dyandra dengan ekspresi syok.


Arya malah tertawa kecil melihat ekspresi menggemaskan istrinya. "Maaf, saya tidak bermaksud mencelakaimu."


Dyandra memukul dada Arya dengan keras, membuat laki-laki itu berpura-pura mengaduh kesakitan hanya untuk biar seimbang saja.


Dyandra tahu kalau Arya hanya pura-pura saja. Namun, dia tidak protes sama sekali. Dia malah membenamkan wajahnya di dada Arya, menghirup wangi badan Arya setelah mandi yang masih tertinggal di tubuhnya.


Ditanya seperti itu, Dyandra langsung mendongak menatap Arya antusias. Dia mencurahkan keluh kesahnya yang terjadi tadi siang, mulai dari dosennya yang bikin darah tinggi, kelakuan Cindy yang membuatnya kesal, masih banyak hal lagi. Parahnya, bukannya ditenangkan, Arya malah ikut mengompori Dyandra sehingga Dyandra bisa merasa tenang.


Setelah selesai panjang lebar dan Arya setia mendengarkan perkataan istrinya itu. Namun, fokusnya sekarang malah ke bibir Dyandra. Alhasil, saat itu dia langsung mengecup bibirnya singkat sehingga membuat pipi perempuan itu merah merona karena malu.


"Ish, Mas Arya!" ujar Dyandra kesal, tetapi juga senang.


Arya tertawa menyaksikan hal tersebut. "Mau lagi?"


"Gak!" tolak Dyandra mentah-mentah dan langsung menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.


Arya hanya geleng-geleng. Dia menurunkan tangan Dyandra dan menyuruh istrinya itu untuk melanjutkan ceritanya. Namun, dia enggan meneruskannya dan memilih untuk diam saja.

__ADS_1


"Dyandra udah cerita panjang lebar, sekarang giliran Mas yang bercerita. Bagaimana pekerjaan Mas hari ini? Apa ada yang mengganggu pikiran Mas? Apa ada masalah yang terjadi? Atau ada seseorang yang membuat Mas kesal hari ini? Atau---" Dyandra tidak menyelesaikan ucapannya karena tiba-tiba saja Arya mencium dirinya.


Mereka melakukan civman selama beberapa menit sebelum akhirnya Arya menyudahinya. Dia menatap teduh kepada Dyandra. Kepalanya dia tenggalamkan di dada istinya itu yang mana langsung mendapat pelukan dari Dyandra sembari mengusap punggungnya.


"Ada apa?" tanya Dyandra dengan lembut.


"Tidak ada. Hanya saja hari ini sangat sibuk dan memang ada beberapa orang yang membuat Mas kesal. Namun, semua itu sirna ketika melihat dirimu. Terima kasih, Sayang," timpal Arya yang melepas pelukannya.


Dyandra menyentil dahi Arya, lalu dia menyatukan dahinya dengan dahi Arya sembari berkata, "Terima kasih sudah mau mendengarkan keluh kesah Dyandra, Mas. Terima kasih juga karena mau berbagi cerita Mas kepada Dyandra."


Arya mengusap lembut pipi Dyandra. "Mas yang harusnya berterima kasih karena sudah mau menerima Mas sebagai suamimu."


"Jelas dong! Dyandra gak akan biarin Mas menyesal setelah menikahi Dyandra!" ujar Dyandra dengan bangga sehingga membuat Arya tertawa bahagia.


Mereka berdua saling tertawa. Berbagi kebahagian dan kehangatan. Tidak memedulikan malam yang sudah larut, tubuh yang lelah, dan pikiran yang semrawut karena jika sudah bertemu satu sama lain, semua itu tiba-tiba menghilang.


Mereka kini berganti posisi menjadi duduk di pinggir kasur, melanjutkan saling mengobrol satu sama lain. Membicarakan beberapa rencana untuk liburan nanti, dan juga terkadang membicarakan orang.


"Oh ya, Sayang, apa yang akan terjadi pada saat kamu meminta restu ke orang tuamu?" tanya Arya yang sangat penasaran akan hal itu.


"Soal itu, Papa dan Mama tidak mempermasalahkannya. Namun, Papa melarang keras jika Dyandra dan Mas Arya pacaran," jawab Dyandra apa adanya.


"Kenapa?" tanya Arya sembari menaikkan alisnya sebelah.


"Karena jika kita pacaran, Papa yakin Mas Arya bisa melindungi Dyandra dari laki-laki lain, tetapi Papa tidak yakin kalau Mas Arya bisa melindungi Dyandra dari diri Mas Arya sendiri." Arya mengangguk mendengar penjelasan Dyandra. Dirinya membenarkan hal tersebut. Dirinya memang tidak sabaran jika menyangkut Dyandra.


Dyandra menatap Arya dan berkata, "Saat Papa berkata seperti itu, Dyandra langsung teringat apa yang Mas lakukan kepada Dyandra waktu itu. Maka dari itu ... Dyandra gak ragu-ragu lagi menikah dengan Mas Arya."


Tiba-tiba saja Arya menjatuhkan tubuh Dyandra ke kasur dan menindihnya. "Yang dikatakan papamu benar, Sayang. Bisa saja Mas kehilangan kendali saat bersamamu."

__ADS_1


Arya langsung melvmat bib1r Dyandra dan dia meneruskan aksinya ketika Dyandra membalasnya. Satu per satu kancing baju Dyandra dilepaskan. Melihat Dyandra tidak memberontak sama sekali, Arya melanjutkan aksinya itu. Setelah dari bibir, civmannya turun ke leher, dada, perut, dan dia meninggalkan beberapa tanda di tempat yang mudah ditutupi. Hal tersebut membuat Dyandra belingsatan dengan rangs@ngan yang diberikan Arya. Semua yang dilakukan Arya membuat dirinya mabuk kepayang. Dia tidak tahu bagaimana melampiaskan sensasi memabvkkan itu karena itu adalah pertama kalinya dirinya melakukannya. Namun, Arya tidak melakukannya lebih karena sesuai perjanjian bahwa tidak boleh merenggut keperawan@n Dyandra sebelum diizinkan.


__ADS_2