Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 19


__ADS_3

Keesokan harinya, Dyandra menyaksikan kedua orang tua Indry menjemput putri mereka begitu mereka menerima kabar bahwa putri mereka menyebabkan masalah. Dan juga ada petugas rumah sakit jiwa yang memberikan suntikan bius supaya Indry bisa tenang karena perempuan itu terus saja berteriak-teriak.


Dyandra menatap mobil rumah sakit jiwa yang membawa Indry. Ternyata Indry melarikan diri dari rumah sakit jiwa hanya untuk menemukan keberadaan Arya. Sejak semalam, Arya tidak mengizinkan dirinya untuk keluar satu langkah pun dari ruangan itu. Meskipun dia bisa samar-samar mendengar keributan di bawah, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Lamunan Dyandra buyar ketika merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Tanpa menoleh pun dirinya tahu bahwa itu perbuatan suaminya. "Mas," panggilnya sembari mengusap kepala Arya yang tersandar di pundaknya.


Laki-laki itu berdehem sebagai jawabannya. Lalu, mengecup leher Dyandra beberapa kali.


"Semua sudah selesai?" tanya Dyandra memastikan.


"Iya," jawab Arya singkat. Bisa Dyandra rasakan nada kelelahan dari jawaban suaminya itu.


Dyandra tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Indry. Dia korban kekerasan dari sang pacar, yang membuat mentalnya hancur. Hal tersebut tentu saja membuatnya trauma berat sehingga perhatian normal bisa membuatnya menafsirkan sebagai perasaan lain sampai-sampai dia gila.


Dyandra mencoba melupakan semuanya. Dia menangkup lengan Arya yang melingkar di perutnya, memberinya sentuhan yang lembut. "Mas mau istirahat?"


"Hmm."


Dyandra menuntun Arya ke tempat tidur, mengarahkan suaminya supaya berbaring nyaman di sana. Laki-laki itu sudah hampir seminggu tidak tidur dengan tenang dan nyenyak karena harus menjaga dirinya, ditambah lagi masalah Indry membuatnya tambah runyam.


Arya langsung menarik tangan Dyandra supaya tidur di sampingnya. Dia memeluk tubuh istrinya itu, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Toh, pelukan Dyandra bisa membuat rasa lelahnya perlahan-lahan menghilang.


Dyandra mengusap lembut kepala Arya. Hal tersebut biasa dilakukan Arya kepada dirinya setiap malam jika dirinya tidur di pelukan Arya. Kali ini, gantian dirinya yang melakukannya untuk dia.


"I love you," bisik Dyandra mengungkapkan perasaannya setelah mengumpulkan semua keberanian.


Arya tersenyum bahagia. Itu adalah pertama kalinya mengucapkan kalimat itu untuk dirinya. Dengan begitu bisa yakin akan tertidur pulas dalam pelukan sang istri.


"I love you too dan maaf melibatkanmu dalam masalah ini," timpal Arya.


Dyandra memang marah ketika mengetahui ada perempuan lain yang mencintai suaminya. Dada sesak, napasnya bahkan seperti direnggut darinya. Namun, pada kenyataannya Arya tetap memilihnya.


"Tidak peduli seberapa besar badai menerjang, saya akan tetap memilihmu," ujar Arya bersungguh-sungguh.


Dyandra bisa merasakan embusan napas dan dengkuran halus dari Arya. Dia tersenyum tipis karena suaminya bisa istirahat dengan tenang. Sementara dirinya? Semalam dirinya bisa tidur nyenyak dengan semua kegaduhan yang terjadi karena efek obat miliknya yang membuat mengantuk. Namun, itu tidak masalah. Dirinya bisa menemani suaminya tidur. Baru juga memejamkan mata, Dyandra tersandar bahwa dirinya melupakan sesuatu. Ya, dia lupa bahwa kemarin Arya menjadikan punggungnya sebagai tameng saat Indry hendak memukulnya dengan vas bunga.


***


"Kamu mau makan apa? Biar Aa belikan untukmu," tawar Leon sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Heh! Sadar weh! Itu istri temen lo sendiri jangan diembat juga!" Erlan menjitak kepala Leon dengan keras, berharap laki-laki itu sadar akan bahaya yang tengah mengintai dirinya di belakang.


Erlan membagikan undangan pernikahannya kepada teman-temannya. "Jangan lupa datang, ye. Awas aja kalau gak dateng!"

__ADS_1


"Lo kasih mahar apa? Berapa?" tanya Leon melingkarkan tangannya di pundak Erlan.


"Kepo lo!"


"Kalau lo, Beb? Dikasih mahar Mas Arya berapa?"


"Kenapa? Mau nyaingin?" sembur Dyandra.


"Kalau berhasil nyaingin dia, apa lo mau sama gue?"


Satu pukulan mendarat di pipi Leon setelah dia selesai mengatakan kalimat tersebut.


"Cari cewek lo sendiri sana!" Arya menatap tajam ke Leon.


"Leon, hanya lo seorang yang belum punya pacar. Gue, Arya, dan Haris udah nikah, Erlan bentar lagi nikah. Lah lo? Pacar aja kagak punya," celutuk Dilon sesuai fakta.


"Kampret!" umpat Leon. "Ra, lo gak punya temen yang bisa dikenalin ke gue?"


"Kasihan temen dia kalau dapet modelan kek lo," ledek Haris dan Leon ditertawakan oleh Erlan dan Dilon. Semantara Dyandra dan Arya tidak memedulikan mereka.


"Mas, punggung Mas terluka gak?" tanya Dyandra yang baru ingat.


Arya menggeleng. "Hanya lecet. Kamu tidak perlu khawatir." Dia bisa menangkap wajah khawatir dari sang istri.


"Maafin Dyandra, Mas. Bisa-bisanya Dyandra lupa itu. Maaf karena Dyandra belum bisa jadi istri yang baik buat Mas Arya." Dyandra menunduk sembari meremas ujung bajunya.


"Kamu itu yang terbaik buat Arya, Ra. Asal kamu tahu, hati Arya itu keras, ucapannya sepedas mulut tetangga kalau nyinyir, dia kadang terlalu angkuh, ambisinya juga besar, tidak mau kalah. Namun, akhirnya kamu datang di hidupnya yang bisa merendahkan nada suaranya, menurunkan egonya, tak masalah jika harus selalu mengalah padamu," bisik Dilon yang duduk di samping Dyandra dan tidak sengaja tadi mendengar pembicaraan mereka.


"Arya sudah menemukan sosok yang mampu mengubah dirinya yang tangguh menjadi kekanak-kanakan saat bersamamu. Jadi, kamu tidak perlu berkecil hati. Abaikan omongan orang-orang di luar sana yang mengatakan kamu tidak pantas untuk Arya. Mereka hanya iri saja karena dari sekian banyak perempuan, Arya memilih lo sebagai separuh napasnya." Kali ini Haris yang angkat suara.


Dyandra lega mendengar hal tersebut. Selama ini dirinya masih berpikir tidak pantas bersama Arya. Namun, teman-teman Arya merestui hubungannya dengan Arya. Restu dari teman juga penting bukan?


***


Kini Dyandra dan Kania berada di Taman Kuliner Kampus. Mereka sudah menyelesaikan 2 mata kuliah hari itu. Melepas lapar dan dahaga, memutuskan untuk menongkrong di sana. Lagi pula di sana sudah agak sepi karena jam sudah menunjukkan pukul empat sore, yang mana kebanyakan mahasiswa yang beraktivitas adalah anak organisasi.


"Jadi, lo udah dikenalin ke temen-temen Abang?" tanya Kania mengawali pembicaraan sembari menyeruput es buah.


"Hmm," jawab Dyandra ketularan Arya.


"Terus mereka gimana?"


"Mereka setuju-setuju aja gue menjalin hubungan dengan abang lo. Ya, restu teman itu penting, 'kan?"

__ADS_1


"Terus, terus?"


"Jujur, gue takut, Kania."


Kania menyipitkan mata dan mengerutkan dahi. "Takut kenapa? Abang gue KDRT ke lo? Atau Abang mel---"


"Gak. Bukan itu. Banyak cewek yang ngincer abang lo. Ya lo perempuan juga, pasti ngerti ketakutan gue."


"Ya masalah sebanyak apa pun yang mau sama abang gue kalau abang gue milih lo, mereka bisa apa? Lagian lo juga banyak yang deketin, 'kan? Kalau abang gue sampai selingkuh, lo balas aja atau hajar dia sampai mampus."


Dyandra mengaduk-aduk sedotan minumannya. Dia berusaha meyakinkan diri semua akan baik-baik saja. Dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang, tetapi sebelum dia menekan tombol kirim, orang tersebut mengiriminya pesan terlebih dahulu.


"Ra, cariin gue pacar dong," ujar Kania menghela napas lesu.


"Sama Leon mau?" tawar Dyandra yang entah kenapa nama itu tiba-tiba saja terlintas.


"Gak, terima kasih!" tolak Kania mentah-mentah.


Dyandra tertawa mendengar penolakan Kania. Belum apa-apa aja sudah langsung ditolak. Sepertinya Leon memang belum beruntung dalam hal percintaan. Sebelumnya dia sudah hampir menikah, tetapi ternyata oh ternyata, perempuan yang akan dia nikahi itu sudah berkeluarga. Alhasil, jika Haris dan Dilon tidak membantunya, maka bisa-bisa Leon dalam masalah besar.


Setelah itu, dia berhasil mendapatkan kekasih dan malangnya, kekasihnya itu malah selingkuh dengan sepupunya sendiri. Oleh karena itu, dia memilih menjomlo sampai sekarang.


"Eh ada Bebeb Dyandra dan Bebeb Kania," sapa Leon yang entah muncul dari mana sehingga membuat kedua perempuan itu terlonjak kaget dan hampir terjatuh.


"Buset, panjang umur banget! Baru juga diomongin, udah nongol aja kek hantu orangnya," umpat Kania pelan.


Dyandra yang sempat mendengarnya pun tertawa pelan. Yah tidak sepenuhnya salah sih perkataan sahabatnya itu.


"Kalian, kok, berdua aja? Pasangannya mana? Mau Aa temenin gak?" tawar Leon yang langsung ikut duduk bersama mereka.


"Mas, kayaknya halal deh bakar rumahnya Aa Leon," adu Dyandra kepada Arya yang tengah melakukan panggilan telepon.


"Leon! Gue otw bakar rumah lo!" teriak Arya dari telepon.


"Eh, jangan dong, Bos. Bercanda doang, yaelah sensi amat," timpal Leon yang takut karena ancaman Arya itu tidak pernah main-main.


"Lo pergi jauh-jauh sana! Jangan gangguin istri dan adek gue!" titah Arya.


"Iye, iye. Gue pergi sekarang, nih." Leon beranjak dari tempat duduknya dan memang dia pergi, tetapi setelah itu dia datang kembali.


"Eh, kalian kenal gak sama cewek yang berjalan ke arah sini itu?" tanya Leon yang menunjuk seorang cewek memakai dress panjang, berjalan menuju ke arah mereka.


Dyandra menyipitkan matanya sebelum berkata, "Maya maksudmu?"

__ADS_1


"Maya?" Ulang Leon tersenyum miring. "Nama yang cantik, secantik orangnya."


***


__ADS_2