Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 15


__ADS_3

Dyandra berjalan menghindari Arya. Entah mengapa dirinya tidak mau bertemu Arya saat itu. Meskipun hanya karena masalah sepele, tetapi karena masalah sepele itulah yang membuatnya marah dan enggan menemui Arya. Yah, ribet memang karena dirinya adalah perempuan.


Mereka seperti bermain petak umpet saja. Dyandra memutuskan untuk pergi ke perpustakaan saja. Dia sengaja menaiki anak tangga menuju ke lantai atas yang lebih sepi karena hari sudah sore dan juga kebanyakan mahasiswa jarang ke lantai atas jika tidak ada keperluan, terkadang mereka lebih memilih di lantai bawah.


"Semoga Mas Arya tidak kemari," ujar Dyandra berharap.


Langkah kaki Dyandra memasuki lantai teratas dari perpustakaan tersebut. Di sana sangat sepi, penerangannya pun cukup terang. Namun, saat dirinya tengah memilih buku, telinganya mendengar suara-suara yang aneh, seperti suara mendesah. Namun, juga suara seperti orang yang berteriak.


Kaki Dyandra mendekat ke arah sumber suara, mencoba mencari tahu apakah ada orang lain di sana. Siapa tahu saja jika ada hantu di sana. Saat berada di balik rak buku, suara tersebut menghilang. Dia pun membalikkan badan karena dirinya berpikir pasti dirinya halusinasi saja.


Baru beberapa langkah, Dyandra tidak sengaja menjatuhkan gantungan kunci boneka yang ada di ponselnya. Dia pun berjongkok untuk mengambilnya. Alangkah terkejutnya dia ketika menyaksikan Cindy yang tengah berhubungan badan dengan dua orang laki-laki sekaligus.


Tubuh Dyandra bergemetar hebat. Dia tidak berani menatap ke arah Cindy yang berjarak beberapa meter darinya. Cepat-cepat dia mengambil gantungan kunci bonekanya dan segera menutup telinganya supaya tidak mendengar suara laknat itu.


Akan tetapi, saat berbalik badan, tubuhnya tidak sengaja menabrak dada bidang seseorang yang membuatnya terpental ke belakang dan hampir jatuh jika saja tangan kekar orang tersebut tidak sigap menangkapnya.


Dyandra mendongak menatap orang tersebut. Mengetahui bahwa orang tersebut adalah Arya, dia langsung menangis tanpa suara dan memeluknya dengan sangat erat.


"Sudah, sudah, ada Mas di sini," bisik Arya sembari menggendong Dyandra yang masih menangis. Namun, mata Arya sempat melihat apa yang dilihat Dyandra sebelumnya. Oleh karena itu dia buru-buru membawa istrinya itu pergi.


Arya membawa Dyandra turun ke lantai bawahnya yang juga sepi. Dia mendudukkan pantatnya di salah satu kursi yang ada, sembari memeluk Dyandra yang masih menangis di pelukannya. Arya mengusap punggung istrinya itu untuk mencoba menenangkannya.


"Sudah, tidak apa. Di sini sudah aman," ujar Arya dengan nada yang lembut.


Dyandra menatap wajah Arya yang menenangkan dengan senyuman manis terukir di sana.


"Kenapa kamu menangis, hmm?" tanya Arya sembari merapikan rambut Dyandra.


"Dyandra tadi gak sengaja melihat mereka. Jika mereka tahu bahwa Dyandra memergoki mereka, lalu mereka mengancam bahkan membunuh Dyandra bagaimana?" jawab Dyandra dengan muka polosnya.


Arya tertawa kecil mendengar jawaban Dyandra. "Jika ada orang yang berani menyentuh dan menyakitimu, Mas tidak akan memberikan ampunan ke mereka."


"Tapi bagaimana Mas tau Dyandra ada di sini?" tanya Dyandra sesegukan.


"Mau seberapa jauh kamu mau melarikan diri dari saya, saya pasti akan menemukanmu. Tidak peduli jika kamu di ujung dunia pun akan saya bawa kamu kembali," jawab Arya yang membuat Dyandra tertawa karena menurutnya itu berlebihan, seperti seorang remaja.

__ADS_1


Arya menyatukan dahinya dengan dahi Dyandra. Kali ini wajahnya sangat serius, membuat Dyandra tidak berani mengucapkan sepatah kata apa pun. Bahkan untuk bernapas pun dia merasa harus berhati-hati.


"Kamu tahu seberapa gilanya saya mencarimu hari ini? Pesan dan panggilan dari saya tidak ada satu pun yang kamu jawab. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu?" ujar Arya mencurahkan isi hati dan pikirannya.


Dyandra yang masih duduk di pangkuan Arya, tangannya mengusap lembut pipi Arya. Wajahnya dia majukan supaya bisa mencium sudut bibir Arya. Setelah itu tatapannya menatap mata Arya dengan lekat.


"Maaf. Dyandra tidak bermaksud membuat Mas Arya khawatir. Dyandra hanya butuh waktu untuk sendiri," ujar Dyandra.


Arya menghapus air mata Dyandra. "Don't cry, Baby. Mas tidak masalah jika kamu butuh waktu, tapi tolong ... sebelumnya bilang dulu ke Mas."


Dyandra mengangguk. Matanya tidak sengaja melihat dua laki-laki yang bersama Cindy tadi. Dengan cepat, Dyandra membenamkan tubuhnya ke dada Arya. Takutnya mereka mengetahui dan mencurigai keberadaan mereka.


"Kenapa kamu setakut itu? Ada Mas di sini. Kamu tidak akan diapa-apakan mereka," ujar Arya gemas melihat tingkah laku istrinya.


"Ish," ujar Dyandra memutar kedua bola matanya malas dan turun dari pangkuan Arya.


Dyandra berjalan menuruni anak tangga dengan diikuti oleh Arya yang sedang menggodanya. Laki-laki itu terus-terusan menggoda Dyandra sehingga membuat pipinya seperti kepiting rebus.


"Lihatlah pipimu yang memerah itu. Bukannya tadi kamu sangat ketakutan," goda Arya. "Oh ... atau kamu mau melakukannya bersama saya? Melanjutkan yang semalam?"


"Mas!" teriak Dyandra yang sudah benar-benar malu digoda oleh Arya.


"Hallo, kenapa?" tanya Arya tanpa ekspresi.


"Pak, bagaimana rapat dengan klien hari ini?" tanya sekretaris Arya.


"Batalkan semua acara hari ini. Saya sedang bersama dengan seseorang yang sangat penting." Arya menoleh ke arah Dyandra dan menggenggam tangan kanan perempuan itu.


"Tapi, Pak ... kerja sama ini sangat penting karena klien kita sangat susah untuk menentukan jadwal."


"Saya bilang batalkan, ya, batalkan saja!" Arya langsung menutup teleponnya.


Dyandra sempat mendengarkan pembicaraan mereka. Dia menunduk karena merasa bersalah. Seharusnya saat ini Arya pergi rapat menemani klien, bukan malah mencari dirinya.


"Maaf," ucap Dyandra pelan, tetapi bisa didengar oleh Arya.

__ADS_1


Arya yang baru saja menyimpan ponselnya, langsung tersentak kaget mendengar perkataan Dyandra. Dia langsung menghapus air mata Dyandra ketika menyaksikan istrinya itu menangis.


"Maafin Dyandra, Mas. Gara-gara Dyandra, Mas harus membatalkan rapat kerja sama dengan klien yang bisa saja mengakibatkan kerugian besar," tutur Dyandra.


"Saya lebih rela kehilangan uang itu daripada kehilangan kamu, Dyandra." Arya memegang pipi Dyandra. "Uang bisa dicari lagi, sedangkan kamu? Kamu hanya ada satu dan satu-satunya bagi saya, Dyandra! Paham?"


Dyandra hanya diam saja.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan masalah itu. Biar saya yang mencari jalan keluarnya. Tenang saja. Selama kamu bersama saya, saya yakin bisa menyelesaikan semua masalah."


"Terima kasih, Mas. Dyandra beruntung punya suami seperti Mas Arya."


"Oke. Sekarang kita pulang, ya?"


Dyandra mengangguk. Arya langsung melajukan mobilnya menuju ke apartemennya. Hari ini mereka tidak tinggal di rumah karena orang tua mereka sudah pulang, jadi Kania tidak sendirian lagi di rumah.


Sesampainya di apartemen, Dyandra menyuruh Arya untuk membersihkan diri terlebih dahulu, tetapi dia malah langsung menggendong Dyandra dan membawanya ke kamar mandi untuk mandi bersama.


Setelah itu, Dyandra membantu Arya memasak meskipun Arya sudah melarangnya. Bagaimanapun juga, Dyandra masih merasa bersalah kepada Arya. Dirinya harus menebus kesalahannya tersebut. Bagaimanapun caranya.


Setelah makan malam, baik Arya dan Dyandra berkutik dengan laptop masing-masing. Namun, setelah beberapa saat, Dyandra merasa haus, jadi dia berjalan mendekati kulkas untuk mengambil minuman. Selepas itu, tiba-tiba saja Arya mengangkat tinggi-tinggi tubuhnya dan berputar dengan ekspresi yang sangat bahagia.


"Dyandra, kamu adalah magnet keberuntungan saya," ujar Arya setelah menurunkan Dyandra dengan posisi kaki Dyandra kini melingkar di punggung Arya.


"Mas, ada apa?" tanya Dyandra penasaran.


"Kamu tahu? Klien yang hendak bekerja sama dengan saya tadi, dia dilaporkan oleh beberapa partnernya karena kasus penggelapan dana dan untung saja kamu hari ini marah kepada saya," jawab Arya dengan wajah bahagianya.


"Jadi?"


"Jadi, berkat dirimu, saya dan perusahaan saya tidak mengalami kerugian. Dan sekarang malah ada perusahaan besar yang bersedia bekerja sama dengan perusahaan."


Dyandra turut bahagia mendengar kabar tersebut. Kecupan demi kecupan Arya berikan kepada istrinya itu. Namun, tiba-tiba saja Dyandra meminta diturunkan dan dia langsung berjongkok memegang perutnya yang terasa sangat sakit.


"Ah, Mas, perutku sakit," ujar Dyandra.

__ADS_1


Arya langsung menggendong tubuh Dyandra dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat supaya mendapatkan penanganan yang tepat.


***


__ADS_2