Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 10


__ADS_3

Sebelum pulang ke apartemen, Arya dan Dyandra mampir ke mall terlebih dahulu untuk membeli beberapa bahan makanan. Sebenarnya bahan-bahan di apartemen Arya belum habis, tetapi karena Dyandra juga akan tinggal di sana, jadi harus mempertimbangkan hal tersebut.


Dyandra menggandeng tangan Arya yang mendorong troli belanja, sembari melihat-lihat apa saja yang harus mereka beli untuk kebutuhan ke depannya. Sebenarnya Dyandra tidak tahu apa yang harus dibeli karena dirinya juga baru akan ke apartemen.


"Bang...." Ucapan Dyandra terhenti ketika Arya menatapnya tidak suka. "Mas Arya, aku tidak tahu mau beli apa," ralatnya dengan cepat.


"Kamu tidak mau ambil camilan? Stok aja sebanyak-banyaknya," timpal Arya yang langsung memasukkan camilan satu per satu yang ada di sana ke troli.


Melihat hal tersebut, tentu saja Dyandra membelalakan matanya. Dia langsung mengejar Arya sembari berbisik, "Mas, apa ini gak terlalu banyak? Boros banget ini."


Arya mengelus rambut Dyandra dan menjawab, "Aku sudah melihat di rumahmu tadi. Di sana banyak camilan, mana mungkin aku tega membiarkanmu tanpa camilan."


"Tapi, Mas ...."


"Kamu sekarang sudah jadi istri saya. Tanggung jawab saya adalah menafkahimu. Kamu bisa menggunakan uang saya untuk membeli keperluan kita. Tidak perlu mengkhawatirkan masalah uang. Saya yang bertanggung jawab atas hal itu." Mendengar perkataan Arya, Dyandra merasa sangat senang mempunyai suami yang tidak pelit.


Sebelum berakhir membeli bahan-bahan dapur, mereka juga pergi melihat-lihat ke toko lain seperti toko tas, sepatu, baju, perhiasaan, dan yang lainnya. Namun, Dyandra tidak tertarik untuk membelinya karena dirinya tidak menyukai model yang ada di sana. Meskipun Arya sudah mengatakan akan membelikannya, tetapi tetap saja dia tidak mau.


Dyandra menunjukkan sebuah makanan yang sedang viral belakangan ini, saat itu tiba-tiba saja seorang perempuan menyela obrolan mereka.


"Arya? Lo Arya Layana Lakshmana, 'kan?" tanya seorang perempuan mengenakan tank top v-neck berwarna putih dengan bawahan rok selutut dengan belahan sampai di paha di sebelah kanan. Yang mana pakaiannya itu sangat seksi karena menampilkan hampir semua aset miliknya. Apalagi bahan pakaiannya juga dibilang tidak tebal.


Dyandra melirik ke arah Arya dan hendak melepas gandengan tangannya. Namun, Arya tidak membiarkan hal tersebut terjadi dan malah berganti menggenggam tangannya dengan kuat.


"Jangan bilang lo lupa ama gue. Gue Dini, temen SMA sampai kuliah lo," ujar perempuan itu lagi.


"Oh," ucap Arya singkat.


"Dia ini pacar lo?" tanya Dini dengan tatapan jijik ke Dyandra.


"Memangnya kenapa? Lo punya masalah?" sinis Arya yang tidak menyukai tatapan yang diberikan Dini kepada Dyandra.


"Arya, secara lo, 'kan, udah ganteng, tinggi, kaya, pinter, dan lo itu cowok idaman banget. Masa lo pacaran sama cewek kurus, dekil, dan gak selevel sama lo, sih." Dini menghina Dyandra secara terang-terangan.


"Dilihat dari segi mana pun, dia gak pantes dapetin kamu, Arya. Jangan-jangan lo diguna-guna alias dipelet sama gadis ini. Lo pasti cuma mau diporotin sama dia aja, Arya. Mending lo tinggalin deh cewek kayak gini. Gue bakal ngenalin ke cewek yang jauh lebih baik daripada dia." Dini mengomel-omel seperti ibu-ibu komplek.


Dyandra yang memasang wajah datar ketika dirinya dihina seperti itu pun hanya diam mendengarkan sampai Dini selesai berbicara. Kemudian, dia melihat tepat di manik mata Dini dan memberikan senyum yang tipis sembari berkomentar, "Apakah Anda baik-baik saja?"


Mendapatkan hal tersebut, sontak saja Dini langsung terdiam. Dirinya tidak membayangkan Dyandra akan memberikan reaksi seperti itu. Dia pikir Dyandra akan membalas perkataannya dan terjadilah perdebatan sengit. Namun, dirinya salah besar.

__ADS_1


Arya tersenyum puas mendengar jawaban Dyandra. Dia juga tidak menyangka istrinya itu bisa setenang itu ketika dihadapkan masalah. Dirinya tadi sudah siap-siap jika saja terjadi baku hantam di antara mereka berdua.


Tatapan Arya menatap tajam ke Dini, memberikan intimidasi yang kuat kepadanya. "Lo pikir siapa sehingga berani menilai bagaimana pasangan gue? Lo itu harusnya sadar diri kalau lo itu bukanlah siapa-siapa. Lo juga gak perlu ikut campur dalam standar pasangan gue harus seperti apa. Dan asal lo tahu, Dyandra jauh dari sekadar pantas untuk menjadi pasangan gue dan berada di sisi gue."


Arya melingkarkan tangannya di pinggang Dyandra dan menariknya supaya lebih dekat. "Percuma aja gue jelasin ke lo, buang-buang waktu kami aja."


Tidak lama dari itu, seorang laki-laki memakai jaket berwarna cokelat, kaos putih, dan celana hitam, menghampiri mereka.


"Bro, apa kabar lo bro?" tanya laki-laki itu kepada Arya.


"Erlan? Lo udah balik ke Indo?" jawab Arya dengan pertanyaan.


"Yoi. Rencananya gue mau nikah di sini." Erlan menatap tangan Arya yang melingkar di pinggang Dyandra. "Siapa ini, Bro? Kekasih lo? Cantik banget men. Pinter juga lo cari cewek," puji Erlan tulus ketika melihat Dyandra.


"Kenalin, gue Erlan, temen Arya dari SMP. Nama lo siapa?" Erlan mengulurkan tangannya ke arah Dyandra.


Dyandra menarik tangan Arya dan menjabatkan tangannya ke tangan Erlan tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Erlan.


Erlan tertawa garing karena diabaikan oleh Dyandra. Dia pun menoleh ke arah Dini dan terkejut melihat penampilannya yang sangat-sangat kontroversial.


"Din, gak sekalian aja lo gak usah pakai baju?" sindir Erlan yang geli melihat penampilan Dini.


"Lo gak punya uang, ya, buat beli baju yang pantes?" Lagi dan lagi Erlan mengomentari Dini.


Saat Dini hendak menjawabnya, Erlan mendahuluinya dengan berkata, "Lo mau menggoda siapa, sih? Siapa lagi yang bakal jadi target lo? Dasar buaya betina."


"Lo itu yang buaya!" Setelah mengatakan kalimat tersebut, Dyandra pergi meninggalkan mereka bertiga.


Erlan melambaikan tangannya dengan kepergian Dini. Dia tersenyum puas mengerjai perempuan tersebut.


"Langgeng, ya, Bro. Jangan lupa dateng ke nikahan gue. Ajak kekasih lo juga," ujar Erlan, lalu pamit karena dirinya sudah ditunggu calon istrinya di toko perhiasan untuk memberi cincin pernikahan dan baju pernikahan.


Dyandra hanya geleng-geleng melihat semua drama tadi. Dia berjalan duluan sembari mengambil semua camilan yang manis dan ada rasa cokelatnya. Tidak lupa pula dia mengambil beberapa es krim berbagai rasa dan memasukkan ke keranjang.


Arya tidak protes akan hal tersebut. Dia mengerti bahwa mood istrinya itu sedang tidak baik-baik saja setelah apa yang terjadi barusan. Dia berinisiatif menambah camilan untuknya supaya moodnya segera membaik.


Setelah selesai berbelanja, mobil Arya tiba di apartemennya. Dia pun membawa barang-barang belanjaan dengan dibantu oleh Dyandra. Berbicara soal Dyandra, dari perjalanan pulang sampai tida di perkiraan apartemen, dia hanya diam saja sembari menikmati es krimnya. Beberapa kali juga dia menyuapi Arya, tetapi tetap tidak ada obrolan yang keluar dari mulutnya.


"Kamu bersih-bersih diri dulu. Biar saya menyiapkan makan malam dan menata semua belanjaannya," ujar Arya menyentuh pipi Dyandra.

__ADS_1


"Tapi, Bang, itu seharusnya Dyandra yang melakukannya," protes Dyandra. Dia merasa tidak enak hati karena Arya juga pasti lelah.


"Tidak ada peraturan yang mengharuskan kamu yang masak, Ra. Dan ingat! Mulai sekarang jangan panggil saya Abang lagi. Saya suamimu sekarang, bukan kakakmu." Arya mencubit hidung Dyandra gemas.


Dyandra mengangguk. "Mas tadi udah nyiapin sarapan, kali ini giliran Dyandra yang nyiapin makan malam, bagaimana?"


"Kamu yakin?"


"Seratus persen yakin."


"Ya sudah kalau begitu, saya akan mandi duluan."


Dyandra mulai menyiapkan semua bahan-bahan untuk memasak. Dia sebelumnya sudah bertanya kepada Kania makanan kesukaan Arya dan dia paling suka dengan udang. Maka dari itu, dia akan memasak Fried Threadfin Fish, Kuey Teow Kungfu, Pangsit udang.


Setelah semuanya selesai, dia membuat jus pisang-buah naga tanpa gula dan juga teh lavender hangat untuk Arya. Tepat saat semuanya siap, Arya juga selesai mandi. Dia menyuruh Dyandra untuk mandi terlebih dahulu, baru setelah itu makan malam.


Arya melakukan tugasnya menata barang-barang belanjaan tadi di kulkas, sedangkan untuk snack atau camilan kemasan, dia letakkan di tempat yang berbeda. Tempat khusus untuk mengisi camilan.


Setelah selesai mandi, Dyandra langsung duduk di kursi di mana Arya sudah berada di sana. Dia melihat ke Arya yang tengah meminum teh lavender buatannya.


"Mas, coba cicipi masakan Dyandra," ujar Dyandra antusias. Kekesalan yang Arya lihat sebelumnya di wajah Dyandra, kini menghilang.


Arya mencoba satu per satu masakan Dyandra. Dia mengacungkan jempolnya karena masakannya enak. Namun, saat Dyandra mencoba memakan masakannya sendiri, dirinya masih merasa banyak kurangnya.


"Tidak apa-apa. Besok kita masak bersama-sama, ya," ujar Arya tidak protes dengan masakan Dyandra karena Dyandra memasaknya dengan sepenuh hati.


Dyandra menoleh ke Arya dan tersenyum kecut.


"Ada apa? Sini cerita ke saya." Arya mendekati Dyandra dan membawa perempuan itu ke pelukannya.


Diperlakukan seperti itu membuat Dyandra tidak kuasa menahan tangisnya. Mati-matian dia tadi supaya tidak menangis, tetapi akhirnya tetap luruh juga. Dia bahkan membalas pelukan Arya dengan sangat erat. Dia menumpahkan semuanya di pelukan Arya saat itu.


Arya yang merasakan kesedihan Dyandra, tidak mau melepaskan pelukannya secepat mungkin. Dia menyadari bahwa Dyandra menangis tanpa suara. Hal tersebut pasti menyakitkan bagi Dyandra. Dirinya tidak akan pernah membiarkan Dyandra memendam semuanya sendirian seperti yang dia rasakan dulu.


"Abang bilang suka sama Dyandra, 'kan? Kenapa Abang bisa suka sama Dyandra?" Pertanyaan itu muncul dari bibir Dyandra di sela-sela tangisnya.


"Kamu pengen tahu bagaimana saya bisa suka sama kamu?" Itu sebenarnya bukanlah pertanyaan, tetapi pernyataan. "Baik, saya akan memberitahumu."


***

__ADS_1


__ADS_2