
"Bang Arya, bisakah Abang memberikan waktu kepada Dyandra?" tanya Dyandra dengan ragu-ragu.
Arya mengerti bagaimana perasaan Dyandra saat ini. "Kalau saya tidak mau memberikannya bagaimana?"
"Kalau tidak mau ... ya, Abang cari aja wanita lain untuk menikah dengan Abang. Selesai, 'kan?"
"Kalau saya cari wanita lain, emangnya kamu tidak keberatan?"
Dyandra tepuk tangan dan berkata, "Oh silakan saja. Saya tidak peduli! Saya juga bisa cari laki-laki lain."
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Dyandra langsung berjalan meninggalkan Arya. Namun, Arya langsung menarik tangan perempuan itu. Dirinya tidak mau hubungan yang baru saja dimulai, berakhir saat itu.
"Tiga hari," bisik Arya yang memeluk tubuh Dyandra. Dia melepas pelukan tersebut dan menatap Dyandra. "Setelah tiga hari, saya akan datang untuk ke sini membawa keluarga saya untuk menjadikanmu calon istri."
Dyandra menghadap ke arah lain. Namun, kepalanya langsung diputar oleh Arya sehingga mereka saling tatapan.
"Dan ingat! Jangan coba-coba nencari laki-laki lain! Kamu milkku." Arya mengecup singkat bibir Dyandra yang langsung membuat perempuan itu membulatkan matanya sempurna.
"Bang Arya!" protes Dyandra menatap kesal kepada Arya.
Arya terkekeh melihat tingkah menggemaskan Dyandra. Dia langsung mengusap bibir Dyandra menggunakan tangannya.
"Tunggu saja sampai kita menikah nanti. Akan kupastikan bibirmu tidak akan baik-baik saja setelah itu," ujar Arya yang terdengar seperti ancaman.
Dyandra bergidik ngeri mendengar perkataan Arya. Namun, dia malah langsung memeluk Arya sangat erat. Berada di pelukan Arya membuat dirinya menjadi sangat nyaman dan aman. Semua bebannya seakan-akan menghilang begitu saja.
__ADS_1
"Sudah, sana masuk. Saya akan pulang setelah kamu masuk ke rumah," ujar Arya yang sebenarnya enggan berpisah dengan Dyandra.
Dyandra menurut saja. Saat sampai di depan pintu, dia membalikkan badannya dan melambaikan tangannya kepada Arya. Setelah itu dia baru masuk ke rumah dan Arya pulang kembali ke rumahnya.
***
Arya beserta keluarganya tengah makan malam bersama. Sejak tadi Divta, Stella, dan Kania menatap Arya untuk mendengarkan apa yang akan terjadi berikutnya. Namun, Arya malah diam saja menikmati makan malamnya.
Setelah selesai, Arya membereskan piringnya dan menuju ke kamarnya. Hal tersebut membuat kecewa mereka bertiga karena mereka berpikir bahwa tidak ada kemajuan apa pun dalam hubungannya dengan Dyandra.
"Mama akan berbicara kepadanya nanti," ujar Stella yang langsung membuatkan segelas susu hangat untuk Arya.
Stella mengetuk pintu kamar Arya dan masuk. Dia melihat putranya yang tengah sibuk dengan laptopnya. Namun, melihat kedatangan mamamnya, Arya langsung menghentikan aktivitasnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Sekali-kali beristirahatlah," ujar Stella kepada Arya yang kini meletakkan kepalanya di pangkuannya.
Stella tersenyum ketika putranya bertanya hal tersebut. "Dyandra? Hmm ... memangnya kenapa?"
"Apa Mama tidak keberatan jika Dyandra menjadi istri Arya?"
"Tentu saja tidak. Dyandra anak yang baik. Mama yakin dia bisa mendampingimu."
"Kalau begitu ... tiga hari lagi Arya mau melamarnya."
"Sungguh? Itu berita yang bagus, tapi kamu yakin, Sayang? Apa itu tidak terlalu cepat bagi Dyandra?"
__ADS_1
"Kalau masalah itu, kita bahas setelah orang tua Dyandra memberikan restu mereka."
"Mama hanya bisa berharap kamu tidak kebablasan memperlakukan Dyandra. Jaga dia, bukan merusak dia," tutur Stella.
"Ma, nanti jika Dyandra jadi istri Arya, Arya minta tolong ke Mama untuk menghargainya. Tidak mudah baginya untuk ikut denganku dan meninggalkan keluarganya. Tolong perlakukan dia seperti putri Mama sendiri karena dia juga putri kesayangan di keluarganya," ujar Arya tulus memohon.
"Kamu tenang saja. Bagaimanapun juga, Mama sudah menganggap Dyandra sebagai putri Mama sendiri. Dan Mama minta sama kamu, sayangi, cintai, dan hargai dia. Jangan menyakiti hatinya. Jika kamu menyakitinya, itu sama saja kamu menyakiti Mama. Perlakukan dia dengan baik karena seumur hidup itu sangat lama."
Arya mengangguk. "Arya berjanji kepada Mama akan hal itu. Arya siap menerima konsekuensinya jika sampai membuat Dyandra terluka."
"Bagus. Anak laki-laki itu yang dipegang tindakannya, bukan perkataannya," ujar Divta yang turut masuk ke kamar Arya.
"Jika Dyandra marah, bujuk dia, jangan malah ikutan marah. Jika dia berbuat kesalahan, nasihati dia tanpa harus membentaknya. Jika dia lelah, suruh bercerita, jangan disuruh tidur," nasihat Divta karena dirinya jauh lebih berpengalaman dari putranya itu.
Di lain tempat, Dyandra merebahkan tubuhnya di kasur. Sudah lama dirinya tidak pulang ke sana. Sekalinya pulang, dirinya mendapatkan kabar bahwa orang tuanya tidak bisa pulang. Paling-paling bisa pulang cepat sekitar dini hari.
Dyandra mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin yang melingkar di sana. Tidak ada senyuman di wajahnya. Tangan kanannya malah bergerak melepas cincin tersebut. Entah mengapa hatinya belum yakin sepenuhnya.
Ditambah lagi belakangan ini isu tentang perselingkuhan dan kekerasan rumah tangga tengah santer diberitakan. Tentu saja hal tersebut membuat dia ragu untuk memasuki dunia pernikahan. Lagi pula dia belum mengenal Arya sama sekali.
"Apa gue batalin aja semua ini?" ujar Dyandra.
Kembali ke Arya, dia tidak fokus mengerjakan pekerjaannya. Dia teringat sewaktu di rumah makan tadi yang mana tidak sengaja melihat video yang ditonton oleh Dyandra mengenai seorang perempuan yang menarik bahagia di pernikahannya dan diperlihatkan lantai yang berceceran banyak darah yang membentang cukup jauh. Ya, darah tersebut adalah darah perempuan tadi karena mendapatkan kekerasan dari suaminya.
"Semoga Dyandra tidak berpikir aneh-aneh," harap Arya.
__ADS_1
***