Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 6


__ADS_3

Dyandra tertawa kecil melihat ekspresi wajah Arya. Dia mencubit gemas pipinya. Ketakutannya tiba-tiba saja menghilang entah ke mana.


"Ini bukan cincin lamaran, Bang. Cincin ini Dyandra beli dengan tujuan seperti Abang tadi, bisa Dyandra hindari. Dengan melihat cincin ini, gak ada yang berani menggoda Dyandra." Ups! Dyandra justru keceplosan mengatakan hal tersebut


Arya refleks memeluk Dyandra dengan erat saat itu. Dyandra dapat merasakan kebahagiaan dari laki-laki tersebut. Namun, dirinya juga memaki-maki dirinya sendiri karena justru malah keceplosan berbicara seperti itu tadi. Harusnya dia cukup bilang, "Iya, aku sudah mempunyai calon suami".


Arya memegang kedua pundak Dyandra dan berkata, "Jadi ... Dyandra, maukah kamu menjadi pacarku?"


"Gak!" tolak Dyandra tanpa basa-basi.


Dyandra mendorong tubuh Arya menjauh. Dia mengambil tasnya yang diletakkan di meja tadi. Sudah hampir pukul sembilan pagi, sedangkan dirinya belum sarapan sama sekali. Perutnya sudah meronta-ronta minta diisi.


Sebelum nantinya dihentikan lagi, cepat-cepat Dyandra keluar dari ruangan itu. Dirinya tidak mau memperpanjang masalahnya. Lagi pula, meskipun dirinya mengakui Arya ganteng dan laki-laki idaman, baginya itu tidak cukup berpengaruh karena Arya belum kategori suami idaman.


"Kenapa?" tanya Arya yang berdiri di depan Dyandra.


"Bang, Dyandra itu memang tidak pernah menerima siapapun yang mengajak dia untuk pacaran!" teriak Kania yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka setelah keluar dari ruangan.


Arya dan Dyandra sontak menoleh ke sumber suara. Namun, si empu suara sudah berlari kabur.


Saat Dyandra menatap lurus ke depan lagi, dia dikejutkan dengan Arya yang berlutut di depannya sembari menunjukkan sebuah cincin.


"Dyandra, menikahlah denganku," ujar Arya bersungguh-sungguh.


Dyandra menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Namun, dirinya juga tidak mampu menolak pesona dari Arya Layana Lakshmana.


"Tapi ... aku takut, Bang," ujar Dyandra jujur. "Aku ... aku." Seketika Dyandra blank. Mulutnya tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan baik. Sepertinya antara otak dan mulutnya sedang tidak sinkron.


Arya tersenyum dan dia menarik tangan Dyandra supaya perempuan itu berjongkok di depannya. Tangan Arya mengusap lembut pipi Dyandra. Dia mencoba menenangkan perempuan itu. Memberikan kenyamanan supaya dia merasa tenang.


"Kamu tidak perlu takut, Dyandra. Kita jalani bersama-sama, ya? Kita pupuk cinta di pernikahan kita dengan perlahan-lahan, tetapi pasti. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal lainnya. Semua akan baik-baik saja. Kamu hanya tinggal menjawab ya atau tidak, sisanya serahkan kepadaku."


Dengan ragu-ragu Dyandra mengangguk patah-patah. Namun, itu sudah cukup bagi Arya. Anggukan tersebut mengantarkan kebahagiaan tak terhingga untuk Arya. Dia langsung mengakat tubuh Dyandra tinggi-tinggi dengan senyuman kebahagiaan yang tulus terpancar di wajahnya.


Setelah itu dia memasangkan cincinnya tadi ke jari tengah tangan kiri sebagai tanda tunangan. Posisi cincinnya akan berubah di jari manis ketika nanti mereka lamaran. Kemudian, Arya memeluk erat-erat perempuan yang sekarang berstatus tunangannya itu.


Melihat tawa Arya dan sikapnya yang seperti seorang remaja padahal usianya hampir menginjak 30 tahun, membuat Dyandra juga ikut tertawa dan membalas pelukan laki-laki itu. Dirinya tidak menyangka hal seperti itu saja membuat Arya sangat bahagia.


Di tengah-tengah kebahagiaannya, Arya menatap wajah Dyandra yang berbinar-binar. Lalu, tanpa aba-aba Arya hendak memcium bibir Dyandra. Namun, naasnya kali ini tangan Dyandra bergerak lebih cepat untuk menutup mulut laki-laki itu.

__ADS_1


"No! Tidak ada hal seperti itu atau lebih sebelum resmi menjadi suami istri," tolak Dyandra.


Arya mengangguk tidak mempermasalahkannya. Diterima oleh Dyandra itu sudah lebih dari cukup. Tiba-tiba saja terdengar bunyi perut keroncongan dari kedua insan tersebut. Mereka saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya tertawa bersama-sama.


***


"Eh Dyandra, lo ngapain aja di ruangan kerja abang gue? Kalian gak lakuin hal yang aneh-aneh, 'kan?" tanya Kania berbisik kepada Dyandra yang duduk di ruang makan.


Dyandra memutar matanya ke arah Kania, setelah itu dia fokus kembali ke ponselnya karena dirinya tidak mood untuk menceritakan apa pun yang terjadi. Hari itu adalah hari yang paling melelahkan bagi Dyandra. Jantungnya tidak pernah aman.


Kania menggoyang-goyangkan badan Dyandra supaya perempuan itu menceritakan apa yang terjadi di antara kakaknya dengan sahabatnya itu. Pasalnya, mereka berdua menghabiskan hampir 2 jam an di ruang kerja Arya. Kania menerka tidak mungkin kalau hanya mengobrol saja. Apa tidak bosan mengobrol sampai 2 jam seperti itu?


"Ra, ayolah cerita! Gue penasaran apa yang terjadi di dalam sana. Kalian pasti ngelakuin sesuatu, minimal ciuman mungkin?" tebak Kania yang merengek kepada Dyandra.


"Heh! Sembarangan aja lo! Gara-gara lo nih hidup gue jadi gak aman," keluh Dyandra.


"Maksud lo apa?"


"Kemarin lo minta gue buat nyium abang lo, 'kan? Udah gue lakuin semalam. Sumpah, gue malu banget saat itu. Gue langsung balik tuh ke kamar dan gak bisa tidur. Jam tiga pagi gue mau balik, eh dicegah abang lo. Terus dia mepet gue nanyain kenapa gue lakuin hal itu? Eh kegep sama ortu lo. Jadi, di ruang kerja abang lo, kita cuma meluruskan masalah itu doang," jawab Dyandra.


"Kalian dua jam di sana, tapi gak lakuin apa-apa selain ngobrol? Kok gue gak percaya, ya."


"Serah lo mau percaya atau tidak. Capek gue. Adik dan kakak sama aja ngeselin."


"Mari, saya antar kamu pulang ke rumah," ujar Arya kepada Dyandra.


Dyandra mendongak menatap Arya yang kini penampilannya sangat-sangat rapi.


"Bang, 'kan, cuma nganterin Dyandra pulang, kok, rapi banget kayak mau ketemu calon mertua aja?" tanya Kania sinis.


"Iya memang aku mau ketemu sama calon mertuaku," jawab Arya datar.


Dyandra langsung membulatkan matanya sempurna. Dia mencubit tangan Arya karena laki-laki itu menceploskan hal seenteng itu begitu saja.


Mendapat perlakuan seperti itu, Arya hanya malah menggenggam tangan Dyandra supaya perempuan itu tidak berpikir berlebihan. Setelah itu dia langsung mengajak Dyandra pergi dengan masih mempertahankan genggaman tangannya.


"Ma! Pa! Bang Arya mau nikahin Dyandra!" teriak Kania refleks.


"Pa, sepertinya kita harus menyiapkan hantaran dan mahar untuk lamaran. Mama takut jika Arya tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia tidak sabaran jika menyangkut Dyandra. Takutnya, mereka kebablasan dan membuat kedua orang tua Dyandra mengamuk," ujar Stella yang mengkhawatirkan mereka berdua. Intuisi seorang ibu biasanya tepat.

__ADS_1


"Papa setuju, Ma. Umur Dyandra masih sama dengan putri kita, baru menginjak dua dua tahun. Sementara anak kita, Arya, dia sudah hampir kepala tiga. Semakin cepat semakin baik untuk menikahkan mereka," jawab Divta sepakat.


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, Arya dan Dyandra sudah tiba di kota kelahiran Dyandra, tempat di mana kedua orang tuanya berada.


Sebelum pulang ke rumah, mereka berdua mampir di salah satu tempat makan untuk mendiskusikan sesuatu terlebih dahulu dan juga mengisi perut setelah berkendara lama.


Arya yang sebelumnya duduk di depan Dyandra, beralih tempat duduk di sebelah Dyandra. Setelah sampai di kotanya, perempuan itu tampak gelisah dan lebih banyak diam. Seakan mengerti apa yang di pikirkan Dyandra, Arya menarik tubuh Dyandra ke dalam pelukannya.


"Bang ... apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Dyandra dengan suara yang bergetar.


Arya hanya diam saja.


"Bagaimana jika orang tua Dyandra tidak setuju?" tanyanya sembari mendongak menatap Arya.


Arya tersenyum dan membelai kepala Dyandra dengan lembut. "Tidak apa. Abang akan berusaha meyakinkan mereka dan membuktikan kalau Abang pantas untukmu."


"Jika seperti itu, maka Dyandra yang tidak pantas untuk Abang."


"Itu tidak benar! Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kita bisa saling melengkapi nanti."


"Lalu, bagaimana dengan pendidikanku? Aku belum lulus kuliah, Bang."


"Itu tidak masalah. Kamu tetap akan kuliah seperti biasa. Setelah lulus, jika kamu mau bekerja, Abang mengizinkanmu, dengan syarat tidak jauh dari rumah."


Pesanan mereka datang dan Arya menyuapi Dyandra karena perempuan itu menolak untuk makan dengan alasan tidak merasa lapar. Namun, Arya tetap memaksa supaya pikiran Dyandra bisa teralihkan dan dia akan membahas kelanjutannya nanti.


***


Kini, Dyandra berdiri di depan rumahnya. Perasaan gugup menjalar di seluruh tubuhnya. Meski sudah mempersiapkan diri sebelumnya untuk membuat pengakuan, tetapi tetap samq saja. Dirinya belum pernah membawa seorang laki-laki ke rumah. Makanya dirinya takut.


Walaupun orang tuanya telah mengenal Arya, tetapi perbedaan usianya dengan Arya cukup jauh, yakni terpaut 6 tahun. Dirinya takut tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya. Restu dari kedua orang tua Arya aman, hanya restu dari orang tuanya yang belum.


Dyandra mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumah dan membalikkan badan menuju ke Arya yang baru saja turun dari mobilnya hendak menyusul dirinya.


"Bang Arya, bisakah Abang memberikan waktu kepada Dyandra?" tanya Dyandra dengan ragu-ragu.


Arya mengerti bagaimana perasaan Dyandra saat ini. "Kalau aku tidak mau memberikannya bagaimana?"

__ADS_1


"Kalau tidak mau, ya, Abang cari aja wanita lain untuk menikah dengan Abang. Selesai, 'kan?"


***


__ADS_2