Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 2


__ADS_3

"Gila! Kok bisa-bisanya, sih, lo nolak tawaran abang gue?!" teriak Kania dengan heboh ketika Dyandra menceritakan peristiwa yang terjadi kemarin.


Dyandra melempar bantal ke Kania. "Gila lo, ya?! Gue sama abang lo itu gak ada hubungan apa-apa! Ya kali gue nginep di apartemen abang lo! Ini Indonesia, bukan luar negeri! Nanti kalau gue diapa-apain sama abang lo gimana?" cecarnya kesal.


"Gapapa dong! Kalau lo diapa-apain sama abang gue, nanti lo bakal jadi ipar gue. Gue dukung sepenuhnya kalau lo jadi ipar gue."


"Udah sinting lo, ya?!"


Dyandra semakin dibuat badmood dengan obrolan Kania yang seperti itu. Dirinya mencoba memejamkan mata meskipun tidak mengantuk. Dirinya hanya tidak mau membicarakan lebih lanjut mengenai kakak sahabatnya yang sudah lama menjomblo itu.


Sementara Kania, dia tengah membalas pesan dari kakaknya yang menanyakan dirinya ada di mana. Setelah itu, dia melanjutkan menonton drama kesukaannya yang belum sempat dia tonton sampai akhir.


"Kan, lo pengen banget, ya, kita iparan?" tanya Dyandra mengubah posisinya menjadi duduk.


Kania mematikan ponselnya dan menatap Dyandra. "Pengenlah, Dyandra. Siapa juga yang gak mau punya ipar sahabat sendiri? Lagi pula, emangnya lo gak mau sama abang gue? Abang gue ganteng, lho, Dyandra. Banyak cewek yang beraniin diri buat lamar dia. Lah lo? Kayak malah menghindar gitu."


Jawaban Kania membuat Dyandra berpikir keras. Iparan dengan Kania berarti dirinya menjadi istri Arya. 'Apakah pantas?' Itulah yang dirinya pikirkan kala membahas hal tersebut.


Dyandra menghela napas panjang. Dia tiba-tiba saja mengingat tawaran Arya untuk menginap di apartemennya. Dirinya waktu itu menjawab tawaran tersebut dengan tolakan. Jujur, Dyandra melakukan hal tersebut secara alamiah. Yang hanya di pikirannya hanyalah menolak. Tidak ada hal lainnya.


"Gini, ya, Kania. Sejujur-jujurnya gue sebagai cewek normal, gue juga pengen punya suami kayak abang lo. Yang jadi masalahnya adalah abang lo. Emangnya abang lo mau sama gue? Spek cewek-cewek cantik, seksi, pintar, high-class aja dia tolak, apalagi remahan rengginang kayak gue. Lo juga yang bilang, 'kan, kalau abang lo kena desas desus penyuka sesama jenis," jawab Dyandra panjang lebar.


Kania memeluk Dyandra dan menguyel-nguyel sahabat itu. Dia juga tidak tahu bagaimana selera kakaknya itu karena setiap ditanya mengenai cewek, kakaknya itu tidak pernah menjawab dan itu seperti menjadi topik yang sensitif untuknya.


"Jangan-jangan abang lo udah punya cewek, cuma dia gak mau orang-orang tahu sebelum waktunya," ujar Dyandra tiba-tiba terpikirkan oleh hal tersebut karena banyak juga yang menjalin hubungan dengan sembunyi-sembunyi hingga pada akhirnya membuat gempar karena tiba-tiba menyebar undangan pernikahan.


"Gak mungkinlah, Dyandra! Emak gue punya jiwa intel. Dia pasti tahu gerak-gerik abang gue," bantah Kania.


"Serah dah. Abang lo ribet banget bikin pusing semua orang."


"Gimana kalau lo bantuin gue?"


Dyandra mengerutkan keningnya. Filsafatnya mengatakan bahwa ide yang dimiliki sahabatnya itu bukanlah ide yang bagus.


"Gimana kalau lo bantuin buktiin kalau abang gue masih normal? 'Kan, gak lucu kalau tiba-tiba aja abang gue bawa cowok dan mereka akan menikah. Bisa-bisa keluarga gue jantungan semua," ujar Kania dengan raut wajah sumringah.


"Lo kalau punya mulut itu dijaga omongannya!" geram Dyandra yang membungkam mulut sahabatnya yang asal ceplas-ceplos itu. "Emangnya lo pernah mergoki abang lo melakukan hal-hal gak senonoh sama cowok? Gak, 'kan? Kalau gitu ya masih aman aja. Abang lo masih normal."


Kania menatap ke Dyandra. "Emangnya bisa gitu, ya?"


Dyandra hanya memutar kedua matanya malas menanggapi kelakuan sahabatnya itu. Yang bermasalah adalah kakaknya dan dirinya justru malah ikut terseret dalam hal yang tidak berhubungan dengan dirinya sama sekali. Ya memang dirinya bersahabat dengan Kania, tetapi alangkah baiknya dirinya tidak ikut mencampuri urusan keluarga Kania, bukan?

__ADS_1


"Oh ya, Dyandra, gue lupa. Sebenarnya kemarin gue sempat ke rumah sakit buat mastiin keadaan lo setelah gue pulang ke rumah. Nah, waktu gue sampai di sana, gue melihat lo yang ditabrak orang dan lo teriak kesakitan tuh. Lo tahu gak? Waktu itu gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, abang gue balik badan dan gue lihat ekspresi kekhawatirannya! Demi apa pun gue baru pertama kali melihat dia cemas, panik, dan khawatir sama cewek selain gue dan emak gue," jelas Kania panjang lebar.


"Ya bagus dong! Itu berarti abang lo masih normal! Terus lo mau bukti apa lagi?!" sewot Dyandra.


"Bukti itu aja belum cukup, Ra! Bisa aja dia menganggap lo sebagai adiknya karena lo sahabat gue, makanya dia seperti itu," bantah Kania yang ada benarnya juga.


"Terus lo mau apa, hah?!" Kesabaran Dyandra yang setipis tisu, malah dihadapkan dengan masalah tersebut.


"Mau gue lo bantuin buktiin kalau abang gue masih normal, Ra," rengek Kania seperti anak kecil meminta permen kepada ibunya.


"Caranya?"


"Malam ini lo nginep di rumah gue aja. Orang tua gue pergi dan gak akan pulang malam ini, jadi sekalian nemenin gue. Besok, abang gue pasti pulang ke rumah. Nanti akan gue pikirin lagi caranya."


Lagi dan lagi fisarat Dyandra tidak enak. Dirinya tidak yakin hal gila apa yang akan dipikirkan oleh Kania untuk membuktikan bahwa kakaknya itu masih normal atau tidak.


***


Malam harinya, Dyandra dan Kania asyik dengan ponselnya masing-masing. Dyandra memang benar-benar menginap di rumah sahabatnya itu untuk menamaninya sekaligus memancarkan aksinya esok hari.


Dalam hati Dyandra berharap bahwa ada suatu keajaiban tanpa dirinya turun tangan untuk membuktikan kenormalan kakak sahabatnya itu. Dirinya takut jika rencana yang akan diberikan Kania, membuat dirinya menjadi tidak aman atau nantinya berujung menjadi masalah.


"Lo udah nemu caranya belum?" tanya Dyandra yang mulai merasa bosan.


Dyandra menatap tajam ke arah Kania. "Masih waras lo? Gak! Ganti yang lain!"


"Civmnya jangan di bibir. Civm di pipi aja."


"Gak mau, ya, gak mau!"


"Kalau gitu kita putuskan dengan suit. Kalau gue menang, lo harus lakuin ide gue tadi, tapi jika kalau lo yang menang, ganti cara lain."


"Oke. Siapa takut? Ketentuannya adalah tiga kali kemenangan berturut-turut."


Kania dan Dyandra melakukan suit batu gunting kertas. Belum ada yang menang 3 kali berturut-turut. Mentok-mentok 2 kali dan yang ketiganya kalah. Namun, setelah beberapa menit berlalu, sang pemenang keluar, yaitu Kania.


Mau tidak mau Dyandra harus mengikuti ide Kania tadi. Dirinya masih ragu melakukan itu karena bagaimanapun juga taruhannya adalah harga dirinya. Mau di taruh di mana mukanya nanti?


"Oke, fine. Akan gue lakuin," putus Dyandra pasrah.


"Nah, gitu dong. Itu baru namanya sahabat."

__ADS_1


"Bodolah! Gue lapar."


Dyandra keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur yang berada di lantai satu. Namun, saat memasuki dapur, perempuan tersebut dikejutkan dengan seorang laki-laki yang membelakangi dirinya. Laki-laki itu hanya memakai celana selutut, tanpa mengenakan baju dengan handuk yang melingkar di lehernya, dan rambutnya masih tampak basah yang menandakan orang itu baru saja selesai mandi.


Otomatis Dyandra mengerjap dan menelan salivanya dengan susah payah. Jantungnya berdebar tak karuan dan mencoba untuk menjaga pikirannya supaya tetap aman. Alhasil, dia pun membalikkan badannya untuk kembali ke kamar Kania lagi. Namun ....


"Dyandra? Kamu tidak jadi ke dapur?" tanya Arya yang membalikkan badan sehingga melihat Dyandra yang mengendap-endap hendak pergi.


Mampus ketahuan! Dyandra mengerutuki dirinya sendiri karena tadi seharusnya dirinya langsung pergi saja tanpa terpaku terlebih dahulu. Kalau sudah begini, dirinya harus memutar otaknya.


Dyandra tertawa gugup. "Iya, Bang. Ada sesuatu yang tertinggal di kamar, jadinya mau ambil dulu."


"Menangnya apa yang ketinggalan?" Pertanyaan yang dilontarkan Arya membuat Dyandra harus menyusun kebohongan lain lagi.


"Mie instannya ketinggalan, Bang." Dyandra langsung membalikkan badan hendak kembali, tetapi baru saja melangkah satu langkah, Arya sudah mengatakan sesuatu.


"Kebetulan saya membuat sup ayam, kamu mau?"


Dyandra refleks menggeleng. "Tidah usah, Bang. Saya masak mie instan aja."


Saat Dyandra hendak pergi, tangannya ditarik oleh Arya dan tubuhnya didudukkan di kursi. Sementara Arya, dia mengambilkan piring sekaligus mengisinya dengan nasih dan sup ayam buatannya tadi.


"Makan saja," ujar Arya.


Meskipun tidak ada nada pemaksaan dan ancaman, Dyandra merasa tidak enak hati menolak niat baik Arya. Lagi pula cacing-caing di perutnya juga sudah meronta-ronta untuk diberikan makan.


Mereka makan malam berdua di ruangan itu. Tidak ada satu pun obrolan yang keluar dari mulut masing-masing. Hal tersebut justru membuat jantung dan perasaan Dyandra menjadi tidak nyaman alias canggung sekali. Seperti sedang bermusuhan saja.


"Enak. Sup ayam buatan Abang enak," puji Dyandra dengan senyuman tulus.


Arya mengangguk. "Seneng kalau kamu menyukai masakan saya."


"Terima kasih, Bang Arya." Dyandra telah selesai makan. Dia langsung mencuci piring yang digunakannya tadi sekaligus mencuci peralatan masak yang dipakai Arya untuk membuat sup ayam.


Arya sudah melarang, tetapi Dyandra tetap bersikeras mencucinya. Alhasil, Arya mengalah dan membiarkannya. Laki-laki itu memandangi Dyandra yang telaten membersihkan dapur.


Setelah selesai, Dyandra mencuci tangannya. Tepat saat itu, Arya berdiri di samping Dyandra mencuci piringnya. Pikiran Dyandra melayang mengenai ide yang diberikan Kania tadi. Hatinya ragu-ragu apakah harus melakukannya atau tidak.


"Dyandra?" panggil Arya kesekian kalinya karena sebelum-sebelumnya Dyandra tidak merespon.


"Eh, iya, Bang. Kenapa?" jawab Dyandra canggung.

__ADS_1


"Kamu mel--" ucapan Arya terpotong.


"Bang, maaf, ya, Bang," potong Dyandra. Dia menoleh ke Arya dan langsung menarik handuk yang melingkar di leher laki-laki itu supaya wajah Arya menjadi lebih dekat, sembari berjinjit karena Arya lebih tinggi darinya. Dan ya. Satu kecupan mendarat halus di pipi kiri Arya.


__ADS_2