
Sang surya telah menampakkan sinarnya. Manusia mulai memulai aktivitasnya. Para burung keluar dari sarangnya untuk mencari makanan.
Dyandra membuka matanya ketika mendengar suara ayam jantan berkokok. Meskipun dirinya tinggal di kota, tetapi ada tetangganya yang suka memelihara ayam jantan, sehingga hal tersebut menjadi alarm alami.
Ketika terbangun, dirinya tidak melihat siapa-siapa. Tidak ada yang berubah dari kamarnya itu. Namun, dia merasa seperti ada Arya yang tidur bersamanya.
"Apa itu cuma mimpi, ya? Sampai segitunya mimpinya," ujar Dyandra yang langsung membersihkan diri.
Setelah selesai, dia langsung pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Sejak kecil dirinya dibiasakan oleh kedua orang tuanya untuk menyempatkan diri untuk sarapan. Hal tersebut kini sudah menjadi kebiasaannya.
Akan tetapi, saat hendak membuka kulkas, dirinya bersin-bersin dan sesekali batuk. Dia langsung mengambil tisu untuk membersihkan ingus di hidungnya.
"Dyandra, apa kamu sakit?" tanya Arya panik ketika memdengar Dyandra bersin-bersin disertai batuk.
Laki-laki itu menempelkan tangannya di dahi Dyandra untuk mengecek panas atau tidak. Namun, hasilnya tidak panas sama sekali dan itu masih normal.
Dyandra refleks mengerjap beberaka kali dan langsung mundur ketika melihat Arya ada di hadapannya. "Lho, Bang Arya kok ada di sini?" tanyanya linglung.
"Astaga Dyandra. Apa kamu sudah lupa apa yang terjadi semalam?" tanya Arya mendekati Dyandra.
"Jadi yang semalam itu bukan mimpi?!" beo Dyandra. "Jadi ... kita ...."
"Iya. Kita sudah menikah. Saya sudah resmi jadi suamimu dan kamu resmi jadi istri saya."
"Seriusan, Bang?!"
"Apa perlu saya telepon keluargamu dan keluarga saya untuk konfirmasi, hmm?"
Dyandra menggeleng cepat. Dia masih tidak percaya kalau laki-laki di hadapannya itu sudah menjadi pasangan resminya.
Arya menahan tawanya ketika melihat ekspresi Dyandra yang seperti itu. Dia langsung mendudukkan tubuh Dyandra di kursi ruang makan. Lalu, memberikan jaketnya supaya Dyandra tidak kedinginan.
"Saya buatkan teh hangat dulu, ya. Sarapan sudah tersedia. Kamu makan dulu," ujar Arya.
"Tidak usah, Bang. Dyandra bisa buat teh hangat sendiri." Dyandra bangkit dari tempat duduknya, tetapi Arya tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi.
"Kamu sekarang tanggungjawab saya, Dyandra."
"Bang, tapi, 'kan, Abang udah masak, menyiapkan sarapan. Bagi tugas, Bang. Biar Dyandra yang membuatkan minuman."
Terjadi perdebatan kecil di antara mereka berdua hingga akhirnya menemui titik final yang mana Arya hanya mengambil bahan-bahan untuk membuat teh. Dyandra bersikeras membuat teh sendiri karena dirinya ingin meminum teh bunga telang, bukan teh biasa.
Setelah semuanya siap, mereka lalu sarapan bersama. Itu adalah kali pertama mereka sarapan dengan hubungan status yang baru, yaitu suami istri.
__ADS_1
Sarapan selesai, mereka berdua membersihkan peralatan dengan membagi tugas. Dyandra tidak akan membiarkan Arya mengerjakan semuanya sendiri. Pun sebaliknya dengan Arya.
"Bang, Abang tidak pergi bekerja, kah?" tanya Dyandra karena hari itu bukanlah hari libur.
"Pekerjaan saya bisa saya handle dari sini, Dyandra," jawab Arya. "Kuliah kamu gimana?"
"Hmmm ... kalau soal itu ...." Dyandra bingung mau menjawab bagaimana.
"Jangan bilang kamu bolos!"
Dyandra menggeleng. "Dyandra cuma izin, Bang. Lagi pula, perkuliahan hanya presentasi kelompok. Kelompokku semua matkul sudah presentasi karena aku dapat kelompok pertama."
Arya mengacak-acak rambut Dyandra. "Awas aja kalau kamu sampai bolos."
"Oh ya, ada beberapa hal yang harus kita bahas. Mau kita bahas sekarang atau nanti?" tanya Arya kepada Dyandra.
"Tidak mengganggu waktu Abang kah?" jawab Dyandra dengan pertanyaan.
"Kamu adalah prioritasku."
Dyandra tersenyum dan duduk di ruang keluarga supaya lebih santai. Arya duduk di sebelah Dyandra sembari mendengarkan pembahasan Dyandra terlebih dahulu mengenai tempat tinggal, rencana mempunyai anak, kuliah dan pekerjaan, pengaturan keuangan, manajemen waktu, dll.
Terjadi beberapa perdebatan semua hal tersebut. Namun, dari antara keduanya masih sama-sama menggunakan kepala dingin. Mereka mengutarakan dari sudut pandang masing-masing, keuntungan dan kekurangannya. Beberapa topik sensitif mereka bahas supaya ke depannya tidak terjadi pertengkaran.
Di sela-sela diskusi, ponsel Arya berdering. Dia meminta izin untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, setelah selesai baru dilanjutkan pembahasannya. Mereka juga sempat menyinggung soal perjanjian.
"Ya ampun, Dyandra! Kamu itu udah nikah dan bukan anak lajang lagi!" seru Dian ketika melihat putrinya yang masih seperti biasanya, menonton di ponsel sembari memakan camilan.
"Apa, sih, Ma?" ujar Dyandra tidak mau diganggu.
"Sayang, suami kamu sudah kamu urus belum?" Kali ini Hendra yang bertanya.
"Mas Arya? Dia lagi nyelesain pekerjaannya, Pa," jawab Dyandra tetap fokus ke ponsel dan camilannya.
Arya tidak sengaja mendengar dirinya dipanggil Mas oleh Dyandra. Senyuman di wajahnya terukir jelas. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
Dian melihat Arya menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri dirinya dan suaminya. Laki-laki itu mencium tangan mertuanya secara bergantian.
"Dyandra, kamu sudah masak buat suamimu belum?!" tegur Dian yang merasa malu melihat kelakuan putrinya itu.
"Sudah, Ma. Dyandra sudah memasakkan masakan yang enak untuk Arya. Mama tidak perlu mencemaskan Arya." Arya yang menjawab pertanyaan tersebut.
"Ma, sepertinya putri kita mendapat suami yang baik," ujar Hendra tertawa bangga. Dia berjalan merangkul Arya dan berkata, "Nak, kamu tidak perlu berbohong seperti itu. Kami sudah tinggal bersama Dyandra selama dua puluh dua tahun. Dan kami tahu kalau putri kami itu tidak bisa masak."
__ADS_1
"Apa, sih, Pa? Dyandra juga bisa masak, tapi memang Dyandra akui kemampuan memasak Dyandra tidak sebanding dengan Mas Arya," ujar Dyandra kesal karena dirinya merasa Arya malah menjadi kebanggaan keluarganya.
"Nak, kamu jangan terlalu memanjakan dia dan harap bersabar dengan sifatnya yang kadang masih kayak bocil."
"Ma!"
Arya, Dian, dan Hendra tertawa melihat raut wajah Dyandra yang kesal karena dari tadi dirinya dijadikan bahan bercandaan mereka. Dia pun langsung membawa makanan dan ponselnya, lalu pergi kembali ke kamarnya.
"Dah ah, Dyandra ngambek sama kalian," ujar Dyandra cemberut.
"Ngambek aja. Nanti yang bujuk kamu bukan kami lagi," goda Hendra.
"Nak, bujuk istrimu itu. Dyandra agak susah dibujuk kalau udah marah," ujar Dian kepada Arya.
"Baik, Ma. Arya pamit dulu." Arya menyusul Dyandra ke kamarnya.
Arya melihat Dyandra yang duduk di sofa sembari memakan camilan yang dia bawa tadi. Ponselnya dia letakkan di meja karena tangannya sudah pegal memegang.
"Kamu marah soal tadi?" tanya Arya.
"Nggak," jawab Dyandra yang fokus ke ponsel.
Dyandra tersentak ketika Arya tiba-tiba memajukan tubuhnya, menghilangkan jarak di antara mereka. Untuk sejenak Dyandra menahan napasnya dan jantungnya lagi-lagi tidak aman jika Arya sudah seperti itu.
"Kamu benar-benar tidak marah?" tanya Arya kembali.
Dengan cepat Dyandra mengangguk.
Arya langsung meraih tubuh Dyandra supaya tidak terjatuh. Tangan kanannya menselonjorkan kaki Dyandra sebelum dia gunakan sebagai penompa tubuh mereka. Bibirnya langsung menyambar b1b1r Dyandra.
Kali ini Dyandra tidak memberontak karena bagaimanapun juga Arya adalah suaminya. Dia bisa merasakan c1vman Arya yang lebih lembut daripada waktu itu. Hal tersebut membuatnya terbuai dan tanpa sadar mulai membalas civmannya. Tangannya secara alamiah melingkar di leher Arya.
Civman mereka semakin panas. Lampu hijau yang diberikan Dyandra saat membalas civmannya, membuat Arya tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dia menidurkan tubuh Dyandra pelan-pelan, lalu tangan kananya merayap masuk di baju Dyandra, membelai dengan lembut punggung perempuan itu dan memainkan tangannya di dadanya.
Dyandra membusungkan tubuhnya karena merasa geli saat tangan Arya meraba tubuhnya dengan masih belum melepaskan tautan bibirnya sehingga dadanya menyentuh dada Arya. Hal tersebut membuat Arya mengumpat di dalam hatinya. Namun, dia melepas civmannya saat Dyandra memukul punggungnya karena Dyandra kesulitan mengimbangi civmannya
Mata mereka saling menatap satu sama lain. Tangan Arya menyentuh dengan lembut b1bir Dyandra. "Dyandra, apa yang telah kamu lakukan pada saya?"
Arya tidak memerlukan jawaban dari Dyandra karena sejatinya pertanyaan itu sudah memiliki jawabannya. Dyandra tidak melakukan apa-apa. Dirinya yang telah memulainya duluan. Tangannya menyingkap baju Dyandra di dekat leher dan meninggalkan tanda di tempat yang tidak mudah dilihat.
"Ah, Mas Arya!" teriak Dyandra kesakitan.
Arya menjatuhkan tubuhnya di samping Dyandra dan langsung memeluknya. Dia bisa merasakan detak jantungnya dan jantung Dyandra berpacu cepat.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kamu harus terus memanggil saya dengan kata itu," bisik Arya sensual di telinga Dyandra. Dia membenamkan kepalanya di ceruk leher Dyandra sembari sesekali menj1lat, menc1um, dan mengg1nggitnya sehingga membuat Dyandra menjambak rambut Arya kesal.
***